The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Akhir dari Tujuan


__ADS_3

Kami berhenti sejenak.


"*huff, huff*" sepertinya gadis ini kelelahan setelah mengejar Artex. "Kenapa kau pergi begitu saja?"


Artex mendekatinya lalu menarik kerah bajunya, "Sebenarnya apa maumu?! Hah?!"


"Wowowow!" aku berusaha menghentikan aksinya "Dia ini seorang perempuan, bersikaplah baik padanya. Tidakkah kau diajarkan untuk tidak menyakiti perempuan?"


Akhirnya Artex melepaskannya. "Baiklah. Maafkan aku, seringkali aku lupa dengan tata krama ketika sedang marah."


"Kau jahat sekali! Padahal kita baru saja kenalan." Ucap gadis itu.


"Justru karena itu aku marah! Tiba-tiba kau menyekapku dan berbicara panjang lebar tanpa bahasan yang jelas. Orang mana yang tidak kesal setelah begitu?!"


Sang gadis menangis karena dibentak oleh Artex. "Padahal aku hanya ingin ada teman mengobrol. Kenapa setiap kali aku mengajak seseorang ke kamarku mereka akan lari begitu saja, *hiks*"


Dalam hati aku berkata, Ya jelas sih kalau 'mengajak'nya dalam artian menculik. Siapa juga yang mau diculik dan ditahan dalam ruangan.


"Ya jelas lah! Siapa juga yang mau diculik lalu ditahan dan diam begitu saja?!" Artex kembali membentak.


Wah, rupanya pemikiran kita sama.


Dia menangis makin kencang dibuat Artex. "Kenapa aku diperlakukan seperti ini! Padahal aku ini seorang Putri! Tidak boleh ada yang memperlakukanku begini!"


Aku mencoba menenangkannya, "Tenanglah gadis kecil—"


"Gadis kecil?!" potongnya "Aku ini sudah dewasa, tahu! Tahun ini aku akan menginjak umur lima belas tahun, dan sebentar lagi aku akan tumbuh menjadi putri yang cantik."


Aku berubah pikiran. Aku berbisik pada Artex, "Mungkin ucapanmu benar. Sepertinya bocah ini memiliki gangguan jiwa dan menganggap dirinya dewasa."


"Kubilang juga apa." Balas Artex.


"Kalau begitu, mari kita pergi saja ke tempat penitipan." Ucapku pada gadis itu sambil tersenyum.


"Sudah kubilang aku ini bukan anak kecil!" balasnya. Dia mengambil secarik kertas di dalam tas selendangnya dan menuliskan sesuatu. "Lihat! Aku sudah bisa menulis namaku. Inilah bukti aku sudah dewasa."


Aku mengambil kertasnya dan kubaca, "Lailaiana? Nama macam apa ini?"


"Bukan itu! Yang benar Liliana! Kau ini bisa baca atau tidak sih?!"


"Yang seharusnya bertanya itu aku. Kau ini sebenarnya bisa menulis atau tidak? Lagipula anak umur tujuh tahun pun sudah bisa menulis seperti ini. Sudahi saja aktingmu itu."


Dia tersipu malu. "Ma—mana mungkin anak tujuh tahun sudah bisa menulis?! Bukankah menulis diajarkan saat umur sepuluh tahun?"


"Sepuluh tahun itu terlalu lama. Bahkan di tempat asalku, umur lima tahun pun sudah diajarkan untuk menulis."


Tiba-tiba ekspresinya berubah seketika. "Eh? Jadi kau bukan penduduk sini?"


"Tentu saja bukan. Bahkan tempat ini pun aku tidak tahu jika sekarang aku tidak ke sini."


"Aku juga." Sahut Artex.


"Kalau begitu ceritanya, untuk apa kalian datang kemari?"


"Tentu saja untuk—" jika dipikir-pikir lagi, aku lupa apa tujuanku datang kemari. "Sial aku lupa alasanku datang ke sini."


Artex mencoba mengingatkanku "Bukankah kau ada urusan dengan temanmu itu?"


Seketika aku teringat kembali. "Oh, iya! Virie kan sedang ditugaskan untuk mengajak desa lain bersekutu."

__ADS_1


"Virie?!" gadis kecil Liliana kegirangan mendengar nama Virie. "Maksudmu Kak Virie dari Desa Urias itu?"


"Ya, memangnya kenapa?" balasku.


"Di mana dia sekarang? Aku ingin menemuinya!"


"Sebelum aku datang ke sini, dia masih berbicara dengan seseorang. Mungkin orang itu adalah Raja di sini. Aku juga tidak yakin dia itu siapa."


"Itu pasti Ayah. Baiklah, aku akan pergi ke sana sekarang!"


"Hei, tunggu! Kami juga ikut."


...~Π~...


Kami berjalan cepat mengikuti langkah Liliana. Kami mengikutinya karena hanya dia yang dapat menuntun kami ke tempat Virie. Sejujurnya, aku lupa dengan rute yang sudah aku lalui. Apalagi Artex yang dibawa tanpa kesigapannya.


"Kak Virie!" teriak Liliana gembira.


Di tengah pembicaraan, Virie terpaksa memotong ucapannya dengan alasan kehadiran Liliana. "Oh, halo Liliana. Apa kabar?" ucapnya.


"Kak Virie, ayo kita main ke luar!"


"Baiklah, tapi tunggu dulu aku selesai berbicara dengan Raja. Masih ada urusan penting yang harus kami selesaikan."


"Baiklah, aku mengerti!"


"Jika kau mau, ajak saja Nena untuk bermain denganmu."


Liliana melirik ke arah Nena dan langsung menarik tangannya, mengajaknya pergi ke luar untuk bermain.


Kami yang tidak ada urusan lagi langsung duduk di samping Virie.


"Tetapi jangan lupakan syaratku. Aku akan segera memisahkan diri lagi dari persekutuanmu setelah perang ini usai." Balas sang Raja.


"Baiklah," jawab Virie, "Terima kasih atas kerja samanya."


...~Π~...


Di luar kami sedikit berbincang mengenai tugas Virie. "Jadi, selanjutnya kita akan pergi ke mana?" tanyaku pada Virie.


"Tidak, tugasku sudah sampai sini saja." Jawabnya.


"Memangnya kenapa? Kita kan baru menemui dua desa."


"Aku malu mengatakannya, tetapi aku sedang melalaikan kewajibanku."


"Maksudnya?"


"Maksudku aku melemparkan tugasku untuk bersekutu dengan desa lain. Karena keegoisanku, aku menyerahkan tugasnya pada Raja Arvin. Sebagai gantinya aku akan memasok persenjataan bagi Desa Arvi."


"Lalu sekarang kita harus bagaimana?"


"Aku akan kembali ke desa untuk menyampaikan informasi ini dan mempersiapkan pasukan untuk dikerahkan."


"Kalau begitu kami ikut."


"Lebih baik kalian meningkatkan kekuatan kalian. Aku juga tidak ingin melibatkan kalian setelah ayahku mengetahui kesalahanku."


"Ba—baiklah kalau begitu."

__ADS_1


"Aku akan membawa Nena bersamaku agar kalian tidak terganggu. Biar kuatasi soal biaya hidupnya." Virie pun menghampiri Nena yang sedang bermain dengan Liliana. Entah apa yang diucapkannya, tetapi saat dia tersenyum Liliana malah terlihat sedih.


Virie kembali "Baiklah, kita akan pergi terlebih dahulu ke Kota Compass untuk mengantar kalian."


"Kak Virie, Kak Virie!" sahut Liliana.


"Ada apa Liliana?" balas Virie.


"Kalau mau, kuantarkan saja dengan kereta kuda!"


Dalam lubuk hatiku, setelah mendengar apa yang diucapkan Liliana aku merasa sangat senang.


"Terimakasih atas tawaranmu, tetapi kami tidak bisa menerimanya. Aku takut ayahmu akan marah jika kami menggunakannya tanpa seizinnya."


Mendengar balasan Virie perasaanku berputar 180 derajat.


"Tidak apa-apa kok. Lagipula kusir kami sudah menganggur selama beberapa minggu. Ayah tidak akan marah jika tidak ada kepentingan yang mengganggu sang kusir."


Sepertinya berputar 180 derajat lagi.


"Baiklah. Akan kuterima kalau kau memaksa."


"Yaay! Jalan-jalan bersama Kak Virie!" teriaknya kegirangan. "Tunggu di sini. Aku akan menyiapkan kudanya." Liliana berlari ke arah rumahnya.


...~Π~...


Liliana nongol dari jendela kereta, "Ayo Kak Virie! Kita naik sekarang."


Kami berempat menaiki kereta kudanya dengan posisi aku duduk dengan Artex dan Virie dengan anak-anak. Artex yang tidak ada kegiatan lain meminjam bukuku untuk ia baca. Sedangkan aku hanya bisa menyandarkan tanganku pada dinding kereta dan memejamkan mataku.


Setelah beberapa lama mataku tertutup, tiba-tiba pahaku terasa berat. Saat kulihat, ternyata Nena yang sedang duduk di atasnya. Entah apa alasan dibalik kelakuannya ini. Aku tak menghiraukan hal tersebut dan segera melanjutkan kembali tidurku.


...~Π~...


Sesampainya di Compass, kami berpamitan dengan Liliana. Virie yang memutuskan akan pergi ke Desa Urias segera membuatkan portal untuk dirinya.


"Kalau begitu, kami akan pergi ke desa dan memberikan informasinya. Jaga dirimu baik-baik sampai kita bertemu." Ucap Virie.


"Ya, aku akan mengingat nasihatmu. Jangan lupa untuk memberi makan Nena." Balasku.


"Papa! Aku ini bukan hewan peliharaan, tahu!" bentak Nena.


"Nena, aku ini bukan ayahmu, tahu." Balasku.


Virie tertawa kecil. "Sampai jumpa, sayangku." Dia menutup portalnya.


"Satu lagi untukmu, Virie. Aku ini bukan suamimu." Gumamku.


"Jadi, sekarang apa rencanamu?" tanya Artex.


"Entahlah. Alasanku datang ke dunia ini hanya untuk bertarung bersama dengan Virie. Setelah dia pulang, rasanya tidak ada gunanya aku di sini."


"Kalau begitu, ikut aku untuk bersiap-siap atas kehadirannya."


"Ikut ke mana?"


"Ke tempat di mana kita akan berlatih dan meningkatkan persiapan kita melawan musuh. Tetapi sebelumnya mari kita pulang terlebih dahulu. Kita perlu beristirahat untuk memulihkan tenaga."


"Baiklah."

__ADS_1


Kami pun pergi ke rumah Artex dan bermalam di sana.


__ADS_2