
Dengan cepat aku mengayuh sepeda gunung rakitanku. Sebelumnya kupikir menggunakan motor akan lebih cepat, namun jejak yang ditinggalkan para golem membuatku berpikir dua kali. Juga jalan yang kutapaki bukanlah aspal, melainkan tanah yang hanya akan menghambat pergerakan motor.
Setelah cukup capek mengayuh, akhirnya aku dapat mencapai para golem besar yang sedang berlari. Di saat itu juga aku berniat untuk maju lebih dekat lagi namun melihat musuh terus-terusan menembakkan panah ledakannya, aku berniat untuk melawannya di jarak ini saja.
Kali ini aku berpikir lagi cara paling ampuh untuk melawannya. "Kalo di jarak segini kayanya bisa lah pake panah lagi." Kemudian aku membidik ke arahnya menggunakan busur. Dalam percobaan kali ini juga panahku gagal untuk mencapainya.
"Masih gagal... Pake apa ya biar sampe panahnya. Terus kok dia bisa cepet gitu panahnya." Aku mencoba mengintip dengan teropong lagi. Setelah kuamati ternyata dia menggunakan ledakan kecil untuk mendorong panahnya agar melesat. "Oh, jadi gitu caranya." Itu membuatku berpikir dan berpikir tentang alat yang mempunyai mekanisme yang sama.
"Kalo pasang bom buat lemparin batu, pastinya aku bakalan kena dampak bomnya. Kalo misal pake api? Oh iya, gimana kalo pake prinsip kaya roket. Ada yang versi sangat kecilnya juga. Mudah-mudahan bisa." Lantas aku membuat mercon sebagai prototipe. Namun hasilnya sama saja, belum mencapai jarak 20 meter sudah meledak duluan.
"Duh, gimana coba. Mereka udah pada deket banget, aku masih diem di sini mikirin cara nyerangnya. Apa ga ada gitu teknologi yang sama kaya punya dia, yang lebih canggih kalo bisa? Tapi kalo bisa ledakannya yang tertutup biar aku ga kena dampaknya, kaya meriam gitu.
Eh bentar, meriam... ledakan tertutup... versi canggihnya... lebih cepet dari panah... Kan ada pistol?! Ya elah malah gak kepikiran." Sesaat setelah terpikirkan ide brilian, aku langsung membidiknya dengan sniper. "Semoga raja iblismu mengampuni kekalahanmu, tapi tidak denganku." Pada saat itu juga aku menekan trigger dan menembakkan peluru yang melesat cepat tepat ke arah kepalanya.
Yah... jauh dari dugaanku, ternyata dia berhasil menghalaunya dengan sesuatu merah melingkar, meskipun dia sedang sibuk menembakkan panahnya. Namun sontak aku langsung panik setelah dia menyadariku. "Woaah, anjir! Dia ngarahinnya ke sini." Dengan sangat panik dan gemetar aku membuat dinding untuk melindungi diri.
Sambil berlindung aku menyempatkan diri untuk me-reload peluru sniper-nya. Jelas-jelas berjuang tanpa perlindungan itu menegangkan, bahkan keringat dingin dengan cepatnya mengalir ke sekujur tubuhku. Sembari memastikan, aku memberanikan diri untuk membidiknya lagi dengan scope pada sniper.
"Goblok banyak banget!" teriakku panik. "Rain, minta bantuan di sini!" aku tahu dia tidak akan menjawabnya. Dinding sebelumnya kupertebal lagi agar tidak bisa ditembus oleh ledakan panahnya.
Sekali lagi aku mengintip ke arahnya setelah tidak getarannya hilang. Nampak golem dinosaurus yang ditunggangi Rain mulai menyatukan diri dengan golem-golem lainnya. Golem-golem kecil memecah diri lalu beterbangan ke bagian depan, atas dan samping.
Perlahan-lahan dinosaurus-nya memanjang dan membentuk sesosok manusia yang lebih besar. Dia bangkit perlahan lalu memunculkan sebuah tombak di tangannya. Namun ada satu hal yang membuatku terheran-heran, kenapa coba harus ada jendolan di dadanya?! Yah itu tak masalah selagi golemnya efektif untuk melawan musuh.
"Kayanya sekarang bisa lah nembak lagi." Aku berhasil menembak untuk kedua kalinya, namun lagi-lagi dia menahannya dengan sihirnya. Aku berpikir bahwa dia akan terus menyadari seranganku selagi posisiku terungkap. Lantas aku berlari ke sisi kanan dengan tujuan menyembunyikan posisi.
Selagi berlarian, aku melihat golem besar itu mengayunkan tombaknya. "Lambatnya..." Dia terus mengayunkan tombaknya meskipun tahu itu tidak akan kena sedikit pun karena terus-terusan menghindar dengan kecepatan terbangnya.
Namun demikian, setelah cukup lama aku menyaksikan aksi berulang tersebut, kini tontonanku bertemu dengan akhirnya. Dari kejauhan Artex berhasil melayangkan pukulannya di atas angin lalu terjun bebas tanpa adanya alat bantuan.
"Lah, lah, cok?! Kok malah gini?!" aku mengubah arah menuju padanya. "Anjir ga bakalan sempet ini mah kalo modal sepeda doang!" aku terus mengayuh sepeda sampai otot-otot betisku berkontraksi secara penuh. Aku tak peduli dengan kram otot asalkan aku bisa mencapainya lalu menyelamatkannya.
"Rain, liat si Artex!" teriakku keras dengan napas seadanya. Namun Rain tak sedikit pun menghiraukannya. "Malah ga denger si tai." Geramku.
Sejalan dengan hukum percepatan, semakin lama Artex semakin cepat jatuh ke bawah. Begitu juga denganku yang semakin panik tak karuan. Aku bergegas merubah bentuk sepedaku menjadi motor. Tak peduli dengan jalan tanahnya asalkan aku bisa menggapainya sesegera mungkin.
Dengan kecepatan yang lebih tinggi mungkin aku bisa mengejarnya dengan tepat waktu. Jarak yang terlalu jauh membuatku jadi ragu untuk mencapainya. "Sial, sial, sial, sial!" gumamku panik.
__ADS_1
Kini ketinggiannya sudah mencapai di kaki si golem. Meskipun dia sedang di ambang kematian, tetapi ekspresinya tidak menunjukkan ketakutan. Malah dia hanya berdiri tegap menatapku sambil menusukkan pisau ke perut sampingnya.
Aku jadi bingung harus tenang atau makin panik melihatnya. "Terobos aja lah, kita mah ga tau ke depannya gimana." Ujarku. Aku memantapkan tekadku untuk terus menarik gas hingga mencapai posisi yang tepat.
Setelah berada beberapa puluh meter di belakang si golem raksasa, tiba-tiba aku melihat kakinya bergerak. Yang menakutkannya, dia mundur ke arahku dan siap untuk menginjakku.
"Duh malah jadi dua..." Aku berpikir bahwa diriku juga akan mengalami hal serupa dengan Artex. Sudah tak ada lagi yang bisa kukhawatirkan selain batu besar yang akan menimpaku dalam beberapa detik lagi.
Sekitar sepuluh meter telapak kakinya berada di atasku, aku langsung membanting stang ke arah kiri dengan harapan bisa menghindarinya. Namun tepat setelah aku berbelok, seketika tubuhku merasakan hantaman kuat yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
...~Π~...
Dari kejauhan aku melihat sosok diriku yang sedang terburu-buru saat mengendarai motor. "Lah kok? Kok ada dua sih?" ujarku kebingungan. Jauh di atasnya aku melihat sebuah replika kaki dari batu yang sangat besar sedang menuju padanya.
"Wah jadi ayam geprek nih dia." Ujarku kegirangan. Namun dalam sekejap mata aku berada di posisinya. "Lah, lah kok gini?!" dengan kecepatan yang sangat tinggi batu besar tadi menghantam ke tanah menumpaskan semua yang ada di bawahnya termasuk aku.
Hal itu membuatku terbangun dari tidur dengan napas terengah-engah. "Hah, hah, hah—Untung cuman mimpi." Aku menghadap ke depan lalu mendapati bahwa aku sedang berada di kamarku sendiri. Kini aku lega karena semua yang kualami barusan hanyalah mimpi.
Namun kesenanganku langsung terganggu oleh gempa yang kurasakan ini, gempa yang sangat besar hingga membuat semua benda bergetar dan bergoyang. Aku lari keluar kamarku namun saat ingin mencapai pintu luar, kakiku serasa melambat dan juga jarak antara aku dengan pintu terlihat lebih jauh.
Seisi rumah berguncang hingga aku melihat atap yang retak. Dengan cepat retakan merambat ke seluruh sudut atap dan membuat pola persegi yang tidak simetris. Aku berlari sekuat tenaga namun sama saja—pergerakanku tidak lebih cepat dari jalan biasa. Retakan sebelumnya membuat bagian persegi tersebut jatuh lalu menimpa diriku.
...
"Kumohon jangan banyak bergerak." Ucap seorang wanita di sampingku yang bersiaga menangkapku.
"Ada apa ini?" ujarku.
"Kau mengalami patah tulang di bagian lengan kirimu. Aku membalutnya sebisaku agar tidak bergeser lebih banyak." Jawabnya.
Aku langsung melihat dan menyadari bahwa tanganku terasa begitu kaku saat ingin kugerakkan. "Kenapa bisa begini?"
Dia membalas, "Baru saja tuan Teka menyelamatkamu. Namun disayangkan saat kau berbalik papan milik tuan Teka menabrak lenganmu. 'Andai saja kau tidak berbalik, maka peluangmu untuk terluka akan lebih kecil,' begitulah katanya."
Aku menutup mata dengan tanganku lalu memikirkan nasibku sejenak. "Andai saja aku tidak berbalik, ya?" gumamku. Setelah Itu aku langsung teringat dengan Artex. "Lalu bagaimana dengan temanku?"
"Ah, maksudmu yang tadi sedang terjun bebas?" balasnya. "Tenang saja, dia sedang ikut bertarung dengan tuan Teka di depan sana."
__ADS_1
Aku lega setelah mendengarnya dan kembali menutup mataku untuk bersedih. "Memang kurang berguna ya aku ini."
"Hmm, kenapa?"
"Tidak ada. Aku hanya sedang merenung karena diriku yang tidak bisa diandalkan."
"Oh, begitu ya. Maaf, aku tidak bisa menyemangati dirimu untuk itu."
"Tidak perlu. Aku juga tidak berharap disemangati. Dan juga sebaiknya kau ikut membantu mereka. Tinggalkan saja aku di sini." Ucapku.
"Ah, tidak. Sejujurnya aku juga merasa kurang berguna ketika ada pertempuran. Aku berada di sampingnya karena tugasku adalah sebagai sekretaris baginya. Oleh karena itu, kau jangan terlalu memaksakan diri untuk ikut bertarung. Sesekali kau juga harus berada di dalam lindungan rekanmu."
Mendengar ucapannya membuatku makin bersedih. "Tolong jangan asal menyamakan peranku dengan dirimu. Dalam perang ini, seharusnya aku yang berkontribusi lebih banyak dan tidak merepotkan yang lain.
Dari awal aku sudah berlatih untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi. Dan bukannya mempercayakan masalah itu pada orang lain. Dan juga tugas utamaku adalah menjadi penyelamat, bukan orang yang diselamatkan."
Sepertinya dia tidak menjawab lagi setelah apa yang kukatakan barusan. Namun setelahnya terdengar suara laki-laki yang tidak begitu jernih. "Bawalah orang itu dan pergi ke bangunan pusat untuk meminta bantuan!" suaranya terdengar seperti rekaman radio.
"Sudah dengar kan? Ayo segera pergi dari sini. Tuan Teka sepertinya sedikit kesulitan melawannya." Ucapnya.
"Kau pergi saja sendiri, aku akan diam di sini. Lagipula aku tidak bisa banyak gerak kalau lenganku sedang patah kan?"
"Lihat itu!"
Aku mengangkat tanganku lalu melihat apa yang sedang dia tunjuk. Apa yang ditunjuknya benar-benar membuatku terkejut, tercengang dan sedikit ketakutan.
"Ayo cepat kita pergi dari sini."
"Kau benar." Kemudian aku bangkit dengan terburu-buru.
"Tunggu dulu! Lenganmu harus ditahan dulu agar tidak mengalami pergeseran."
"Masuk akal."
"Tapi saat ini kita tidak punya sebuah papan untuk menahannya."
Aku langsung memberinya sepasang papan untuknya direkatkan padaku. "Sekarang tolong rekatkan padaku."
__ADS_1
"Serahkan padaku." Tanpa basa-basi dia langsung melapisi tanganku dengan dua papan yang kuberikan. Kemudian kami berlari ke arah gedung sekolah untuk meminta bantuan.