
Sesampainya aku langsung diarahkan untuk beristirahat. "Duduklah dulu di sini." Ucap pria yang menuntunku sebelumnya. Kemudian dia berjalan ke arah dokter yang ada di ranjang pasien lain. Setelah itu dia kembali lagi padaku. "Sudah kujelaskan keadaanmu pada dokter. Kau tinggal tunggu saja sebentar lagi."
"Terimakasih," balasku. "Ngomong-ngomong, kenapa kau— oh, maaf. Maksudku, kenapa anda menolongku tadi?"
"Jangan terlalu tegang begitu." Ucapnya sambil tersenyum. "Aku mendapat perintah dari atasanku untuk memperhatikan kedua muridnya yang tidak membayar uang sekolah sama sekali."
Tunggu sebentar, aku tahu ini bakalan mengarah ke mana. Ucapku dalam hati.
"Salah satunya memiliki bakat yang sudah terbukti oleh mata kepala beliau sendiri," lanjutnya. "Lalu temannya yang terlihat nyentrik tapi sepertinya tidak bisa diandalkan."
Ughh.... Aku terlalu lemah untuk berenang di lautan fakta ini.
"Setelah melihatmu kesulitan melawan musuh di hadapanmu, aku langsung menganggap orang kedua yang disebut adalah dirimu. Maka dari itu aku segera melindungimu karena kau telah teridentifikasi sebagai murid sekolah ini."
"Jadi ternyata anda yang sebelumnya saya lihat. Terimakasih banyak atas bantuannya."
"Jangan terlalu sungkan padaku. Anggap saja itu kewajibanku sebagai seorang guru."
"Oh, iya. Ngomong-ngomong, sebelum setelah anda melancarkan se—"
"Pasien Den." Ucapanku terpotong oleh dokter sebelumnya. "Teridentifikasi patah tulang di bagian lengan kiri. Sebagai pertolongan pertama, lengannya dibungkus dengan es yang tebal...!" ia mengarahkan tatapan tajam pada 'guru' di sampingku.
Guru tersebut hanya tersenyum dan tertawa kecil. "Ini juga termasuk pertolongan pertama kan?"
"Memang benar... Tapi seharusnya kau tidak memberinya setebal ini. Cukup tempelkan saja seukuran telapak tangan lalu ikat dengan kain." Jawab Dokter.
"Bukannya kurang efektif kalau hanya segitu?" tanya sang guru. "Dia sedang mengalami patah tulang, bahkan dia menjerit kesakitan saat tangannya kulapisi dengan es."
Sontak aku langsung menggelengkan kepala tidak setuju.
"Sakit? Coba kau hilangkan esnya. Aku ingin segera melakukan pemeriksaan padanya."
Dengan menuruti perkataan dokter, akhirnya tangan kiriku bebas dari suhu dingin yang hampir membuatku kebal dingin.
Dokter tersebut kemudian meraba-raba di sekitar tanganku yang patah lalu ia menemukan sesuatu. "Sudah kuduga ini bukan patah tulang. Salah satu saraf otomu robek akibatnya aliran darah tersumbat lalu menggumpal di bagian kecil."
"Oh, jadi yang kuraba itu bagian darah yang menggumpalnya." Ujar pak guru.
"Jadi, apa yang harus kulakukan?" ucapku.
"Tenang saja. Aku akan segera mengobatinya." Lalu dokter tersebut berjalan ke arah lain. Secepatnya dia kembali sambil membawa sekotak peralatan medis.
Ia mengambil suntikan dari kotaknya. "Aku akan membiusmu agar kau tidak panik saat aku melakukan tugasku."
"O—oke?" jawabku.
Setelah diolesi cairan mati rasa dan sesaat sebelum jarumnya dimasukkan, aku tepikirkan bahwa bukannya obat bius ada yang sejenis tablet ya? "Bentar dok—"
...~Π~...
__ADS_1
"Pew pew... Dor dor dor..."
"Kau ga usah ikutan bunyi juga bisa kan?" ucapku pada Zack. "Denger suara tembakan aslinya aja udah ganggu apalagi dari mulut kau."
"Mau gimana lagi. Aku kan belum pernah megang senjata kaya gini. Wajar aja kalo keasyikan." Balas Zack.
"Lah kan kau pernah main game 'HITAM' di PS?"
"Itu mah beda lagi."
"Kan sama aja tembak-tembakan."
"Duh, gimana ya jelasinnya. Ah udahlah, rese ngobrol sama kau mah." Dia mengarahkan senjatanya padaku lalu menembakku tepat di arah kepala.
...~Π~...
"Anjir!" aku terbangun lalu menyadari bahwa sebelumnya adalah mimpi. Kemudian aku melihat sekitar dan kedua orang sebelumnya sudah tidak ada.
Kemudian tirai di sebelah kiriku terbuka. "Akhirnya kau bangun juga." Ucap seseorang yang ternyata Rain.
"Apa udah beres perangnya?" tanyaku.
"Masih belum. Bahkan keadaannya semakin parah. Bala bantuan mereka terus bermunculan hingga aku kehabisan mana untuk mempertahankan bentuk golemku." Jawab Rain.
"Terus si Artex gimana?"
"Dia masih berjuang mati-matian dengan seseorang yang membantu kami. Untung saja sebelum aku tumbang ada beberapa orang lagi yang datang. Dan akhirnya aku dibawa ke sini oleh mereka." Jelas Rain. "Ngomong-ngomong kenapa kau juga ada di sini?"
"Hei, ada apa dengan lenganmu? Apa kau tersandung?"
"Lebih parah dari itu. Aku diselamatkan oleh seseorang yang membantumu dengan cara yang kurang dinikmati."
"Memang bagaimana?"
"Lenganku diseruduk oleh sebuah papan.... Eh anjir beneran papan kah?!" aku malah jadi kepikiran ketika mengingatnya kembali.
"Hah!? Apa maksudmu diseruduk papan?! Apa dirimu sebegitu lemahnya hingga bisa terdorong hanya karena sebatas papan kayu?"
"Aku juga ga tau! Tapi katanya emang papan yang mendorongnya. Aku juga ga sempet liat papan kaya gimana, tiba-tiba aja aku udah pingsan pas diseruduknya."
"*Uhuk." Sepertinya ada seseorang yang merasa terganggu dengan pembicaraan kami yang begitu keras.
"Siapa disana?!" tegas Rain. "Beri aku sebuah tongkat, yang kecil saja." Ucapnya padaku. Setelah menerima tongkatnya dia membuka dua tirai di sebelah kirinya.
"Oh, halo? Maaf, apa aku mengganggu kalian?" ucap seseorang yang ternyata gadis yang berlari bersamaku tadi.
"Ah, tidak. Bukan begitu." Jawabku. "Rain, kau aja yang jawabnya. Yang penasaran kau doang kan."
"Bukan begitu, Nona. Seharusnya kami yang meminta maaf karena mengganggumu beristirahat." Ucap Rain.
__ADS_1
"Tidak apa kok, malah aku menikmati pembicaraan kalian. Ngomong-ngomong, kalau kalian sedang membahas kejadian tadi, papan yang kalian maksud bukan sekedar papan kayu. Melainkan papan seluncur yang terbuat dari bahan yang langka. Tuan Teka memang suka mengoleksi benda langka sebagai kesenangan tersendiri. Bahkan beliau berani membayar semahal apapun demi mendapatkannya."
"Oke-oke cukup." Sela Rain. "Aku mengerti kebanggaanmu atas Tuanmu. Dan juga aku mengerti kenapa orang ini bisa terluka seperti ini."
"Oh, tolong jangan berpikir seperti itu! Tuan Teka tidak sengaja mengenai tangannya. Awalnya beliau bermaksud mengincar punggungnya untuk mendorongnya agar tidak terinjak golem. Namun karena hal yang tak diduga malah mengenai tangannya dan berakhir seperti ini."
Rain menatapku dengan tatapan sinis.
"Apa jir?! Emang gitu kejadiannya." Ujarku.
Namun Rain malah mengkerutkan alisnya.
"Apa lagi? Yang bikin aku kaya gini kan golem kau juga."
Lalu dia memasang muka terkejut dan mengalihkan pandangan dariku.
"Apaan sih!"
"Oh, iya.... Emm.... Ngomong-ngomong siapa kau tadi?" Ucap Rain pada gadis di sebelah.
"Ah, maaf aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Yowa Lynn. Aku juga merupakan murid dari sekolah ini, kau tahu."
Di tengah perkenalan yang hangat darinya, tiba-tiba terasa getaran hebat yang menghentikan ucapannya.
"Apa itu?!" ujar Rain. Dia berjalan ke arah jendela di sebelah Lynn. "Sepertinya pertempurannya makin menjadi. Den, coba kau lihat kesini."
"Sebentar." Sambil memaksakan diri aku berjalan mendekati Rain. Terlihat sebuah bola meteor yang terbakar di depan bangunan ini. Jauh di depan kami juga terlihat sekawanan burung yang mungkin itu musuh yang sedang kami lawan.
"Apa kau bisa menjangkaunya dari sini?" tanya Rain.
"Pastinya tidak." Jawabku.
"Kalau begitu aku akan ke sana sekarang juga." Ucap Rain.
"Ya jangan dong." Aku menghalang jalan keluarnya agar dia tidak bisa pergi. "Emang kau kesini buat apa?"
"Untuk apa lagi? Tentunya untuk mengisi ma—ah, benar juga. Apa kau punya cara untuk menyerangnya?"
"Kalau dilihat dari jarak sejauh ini sih, harusnya ada. Cuman aku ga bisa makenya kalau pake satu tangan."
"Apapun itu lakukan saja. Aku akan membantumu sebisa mungkin."
"Ya udah." Kemudian aku meletakkan sebuah sniper di atas jendela. "Coba kau pegang bagiannn... bentar, gimana ya? Kau tahan aja deh di belakang biar aku ga kedorong."
"Jadi intinya aku bersiaga di belakang untuk menahanmu?"
"Ya, gitu." Setelah posisi siap, mataku langsung mengunci musuh menggunakan teropong pada snipernya. Dudukan sudah pada posisi di luar jendela untuk menahan dorongan. Pelatuk sudah siap untuk digunakan. Terakhir tinggal menyesuaikan crosshair agar membidik ke arah yang sesuai. "Siap?! Dalam hitungan ketiga aku akan menembaknya. Sembilan... bagi... tiga!"
Meskipun sudah ditahan oleh dua alat—dudukan di depan jendela dan juga seseorang yang berdiri di belakangku, masih saja kami terdorong mundur akibat gaya reaksi dari Hukum Newton.
__ADS_1
"Anying, anying, anying, anying!" jeritku kesakitan karena lenganku menabrak ranjang di belakang.