The House

The House
Semakin Tidak Beres


__ADS_3

Milo, Madison sangat merindukan anjing kesayangannya yang entah berada di sana. Meski tidak ada sinar matahari, meski hutan tertutup oleh kabut asap yang cukup tebal sehingga menghalangi jarak pandangnya, Madison tetap mencari keberadaan Milo karena dia sangat membutuhkan saat  Milo.


Dia tidak mau tahu lagi dengan apa yang terjadi di dalam rumah aneh itu, dia benar-benar bisa gila karenanya oleh sebab itu dia harus mencari keberadaan Milo agar dia tetap waras sampai dia sembuh dari kecanduan obat namun sudah tiga jam Madison berada di luar untuk mencari keberadaan Milo, Madison tidak menemukan keberadaannya sama sekali. Udara yang cukup dingin, membuatnya menggigil apalagi pakaian yang dia kenakan cukup tipis. Madi hanya bisa mengusir rasa dingin yang dia rasakan dengan menggosok kedua telapak tangan dan meniupnya serta menggosok lengannya.


"Milo!" Madison berteriak memanggil anjing kesayangannya yang sudah tidak dia lihat selama beberapa hari belakangan.


"Milo!" Madison kembali berteriak sambil melangkah melewati pepohonan besar yang tumbuh di hutan. Kedua kaki sudah terasa sakit, dia sudah tidak mampu berjalan lagi apalagi sejauh apa pun dia melangkah, pada akhirnya dia kembali lagi dan lagi ke rumah itu.


Madison berhenti di dekat sebatang pohon besar. Napasnya terengah dan keringat mengalir dari dahinya. Lelah, dia harus istirahat sebentar. Madison mendongak, melihat ke atas. Matahari seperti tidak ada apalagi langit di selimuti awan gelap sedari tadi. Dia tidak tahu jam berapa sekarang, dia benar-benar tidak tahu waktu karena semua jam yang ada di rumah mati. Ponselnya juga mati, tidak ada listrik sehingga dia tidak bisa menyalakannya.


Sebuah batu besar menjadi pilihan untuk duduk, dia sudah berputar-putar di hutan itu tapi Milo tidak juga ada. Apakah Milo bisa keluar dari hutan dan rumah terkutuk itu? Apa Milo sudah lari saat dia ketakutan dan berhasil pergi dari tempat menyeramkan itu?


Keringat di seka, semakin banyak pertanyaan di dalam hatinya semakin dia merasa aneh dan takut karena dia tidak akan menemukan jawaban atas banyaknya pertanyaan yang ada di dalam hati. Setelah cukup beristirahat, Madison kembali melangkah untuk kembali ke rumah yang sama sekali tidak ingin dia tinggali tapi dia terpaksa karena cuaca mendadak memburuk dan kilat sudah menyambar di atas sana.


Perut Madison berbunyi karena lapar, Madi mengusapnya agar suara perutnya tidak berbunyi lagi. Dia takut untuk makan, jujur saja dia masih tidak bisa melupakan makanan terakhir yang dia makan. Dia takut semua makanan yang ada di dalam kulkas sudah menjadi belatung apalagi tidak ada listrik sama sekali, Sebaiknya dia tidak makan apa pun namun mendadak Madi jatuh berlutut akibat lemas tidak bertenaga. Sial, kini dia harus dihadapkan dengan makanan yang mengerikan karena dia butuh.


Madison tidak memiliki pilihan selain pergi ke dapur. Kulkas dibuka, bau tidak sedap pun tercium karena beberapa daging sudah membusuk. Pintu kulkas ditutup dengan cepat akibat perasaan mual akan bau yang tidak menyenangkan itu. Madi mengumpat, jika demikian dia hanya bisa menikmati makanan instan saja dan itu tidaklah banyak.


Meski enggan membuka kulkas karena baunya tapi mau tidak mau dia harus memilah makanan yang bisa dia makan dan tidak. Madi membuang semua makanan yang sudah membusuk dan mengumpulkan makanan yang bisa dia makan.


Makanan yang bisa dia makan hanya sedikit saja, dia harus berhemat tapi bagaimana dengan Adel? Sepertinya mulai sekarang dia harus berbagi makanan dengan Adel dan mereka harus berhemat sebisa mungkin untuk menghemat makanan selama mereka terjebak di rumah itu meski dia tidak tahu Adel nyata atau tidak.

__ADS_1


Semua makanan yang sudah rusak dibuang, Madi membuat makanan seadanya dan lagi-lagi dia memasukkan makanan ke dalam microwave dan menyalakan benda itu yang sesungguhnya tidak menyala sama sekali tapi dia menganggap benda itu bisa bekerja. Madi meninggalkan makanannya di dalam microwave karena dia ingin mencari keberadaan Adel yang mungkin saja sedang lapar seperti dirinya saat ini.


"Adel," Madison sudah berdiri di depan pintu basemen dan memanggil Adel karena dia mengira wanita itu berada di sana.


"Adel," dia kembali memanggil karena tidak ada jawaban.


Madison menelan ludah, haruskah dia turun ke bawah untuk mencari keberadaan Adel? Jujur saja dia takut untuk turun ke bawah karena dia takut terjadi hal yang tidak menyenangkan di bawah sana. Bagaimanapun kejadian mengerikan yang dia alami di basemen sulit dia lupakan.


"Adel," Madison kembali memanggil lalu membuka sedikit pintu basemen yang sebelumnya tidak bisa dia buka. Semua keanehan yang terjadi seperti sudah terbiasa dia alami.


Suasana hening, Madi justru takut dengan keheningan yang terjadi karena keheningan seperti itu justru membuatnya merasa akan ada hal yang menakutkan lagi terjadi di rumah itu.


"Adel, apa kau berada di bawah sana?" sebaiknya dia mencari tahu dari pada dia turun ke bawah dan bertemu dengan iblis yang mengerikan.


Kriitttt! Suara papan yang terinjak terdengar, Madi menelan ludah dan pada saat itu, Braakkk!! Suara keras terdengar tapi bukan dari lantai basemen melainkan dari luar sana. Madi terkejut, dia tidak jadi untuk menginjak anak tangga yang kedua akibat suara keras itu. Madi melangkah mundur, apa Adel ada di luar?


Madi naik dengan perlahan, dia ingin kembali memanggil Adel namun niatnya terhenti karena suara langkah kaki yang terdengar banyak di atas lantai menghentikan langkahnya. Jantung Madison berdebar, dia merasa ada yang tidak beres karena selain suara langkah kaki, dia juga mendengar suara pintu yang dibuka dengan keras. Seperti yang dia duga, situasi sunyi bukanlah keadaan yang menyenangkan.


Madi melangkah perlahan untuk keluar dan melihat apa yang terjadi. Suara langkah kaki kembali terdengar tapi tidak ada siapa pun. Suara pintu yang seperti terbuka dan tertutup pun terdengar tapi tidak ada satu pun pintu yang terbuka atau tertutup bahkan dia bisa merasakan jika seperti ada yang melewati dirinya. Angin dingin berhembus, seperti ada orang lain di dalam rumah itu selain dirinya tapi kenapa tidak ada siapa pun yang terlihat?


Madison melihat ke kanan lalu melihat ke kiri, dia bahkan melangkah berputar seperti mencari sesuatu. Kenapa dia merasa seperti ada yang melewatinya tanpa henti? Madison benar-benar bingung dengan situasi yang terjadi dan di tengah perasaan bingung yang dia alami, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya dari belakang.

__ADS_1


Teriakan Madison terdengar akibat terkejut, Madi buru-buru berpaling dan mendapati Adel berdiri di belakangnya dan sedang menatapnya dengan tatapan heran.


"Adel! Kau membuat aku terkejut!" teriak Madison, kedua tangan sudah berada di dada. Wanita misterius itu benar-benar datang dan pergi sesuka hatinya bagaikan hantu.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau terkejut seperti itu?" tanya Adela.


"Dari mana saja kau? Aku mencarimu ke mana-mana tapi kenapa kau tidak terlihat?" tanya Madison curiga.


"Aku berada di dapur, apa kau tidak melihat?" tanya Adel pula.


Madison mengernyitkan dahi, di dapur? Dia baru saja dari dapur lalu bagaimana mungkin Adel bisa datang dari sana. Semakin tidak beres, dia yakin itu dan dia harus mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi jika dia tidak mau menjadi orang gila di rumah itu apalagi keanehan yang terjadi sangatlah tidak masuk akal.


"Kenapa, apa kau tidak percaya? Aku benar-benar baru saja dari dapur!" ucap Adel.


"Baiklah, bukannya aku tidak percaya. Aku hanya terkejut gara-gara kau yang mengejutkan aku," jawab Madison, dia berusaha tersenyum pada wanita aneh itu.


"Maaf, kau diam saja jadi aku sengaja mengejutkan dirimu."


"Sudahlah, sekarang kita makan bersama. Bagaimana?" ajak Madison. Dia harap kali ini makanannya tidak berubah menjadi belatung atau apa pun.


"Boleh, aku pun sudah lapar karena tidak makan beberapa hari belakangan!" ucap Adel.

__ADS_1


"Bagus, aku senang ada yang menemani aku makan!" meski keberadaan Adel cukup mencurigakan, tapi sekarang dia harus mencoba mencerna situasi dan mencari tahu atas keanehan yang sedang terjadi. Mungkin saja dia mendapatkan petunjuk bagaimana caranya pergi dari rumah dan hutan mengerikan itu.


Makanan yang ada di dalam microwave dikeluarkan, tidak panas karena microwave dalam keadaan mati. Madi tidak mau melihat makanan yang sedang dia makan, kedua matanya bahkan terpejam setiap kali makanan masuk ke dalam mulutnya. Mau cacing atau belatung dia tidak peduli karena dia harus makan agar dia memiliki tenaga.


__ADS_2