
Ponsel yang sudah tidak menyala berada di tangan. Madison memegangi benda itu dan termenung. Sudah berapa lama? Pertanyaan itu tidak bisa dia jawab sama sekali karena dia tidak tahu sudah berapa lama dia berada di rumah itu.
Dia pun jadi ingin tahu, kenapa Hana tidak pernah datang mencarinya. Apa Hana tidak mengkhawatirkan keadaannya? Apa Hana juga seperti Jeremy yang mulai muak dengannya? Sekarang dia benar-benar tidak memiliki siapa pun lagi bahkan Milo hilang entah ke mana.
Rindu, dia sangat merindukan anjing kesayangannya. Jika Milo tersesat di dalam hutan karena takut, dia harap Milo kembali ke rumah itu dan menemani dirinya dan jika Milo menemukan jalan keluar, dia pun berharap Milo diselamatkan oleh seseorang.
Madison duduk di depan jendela, tatapan mata selalu tertuju pada hutan yang gelap. Selama ini dia tidak makan, tidak minum bahkan tidak tidur. Dia tidak melakukannya karena dia tidak merasa lapar dan haus lagi, dia juga tidak mengantuk sama sekali. Memang aneh, dia yakin waktu terhenti oleh sebab itu dia tidak merasakan hal-hal seperti itu lagi.
"Milo," Madison berucap lirih, meski semua sahabatnya pergi darinya tapi anjing kesayangannya tidak akan pergi. Milo akan selalu bersama dengannya tapi semenjak hari itu, dia tidak melihat Milo lagi. Entah apa yang terjadi, Milo pun pada akhirnya pergi meninggalkan dirinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Adel, yang sedang melangkah mendekat lalu duduk di sisinya.
"Aku rindu dengan teman-temanku dan anjing kesayanganku," Jawa Madison.
"Teman-Temanmu? Apa mereka tahu kau berada di sini?" tanya Adel.
"Tentu saja, Adel. Merekalah yang telah mengantar aku ke rumah ini. Mereka yang selalu memberikan aku dukungan agar aku berhenti mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu. Aku ingin berubah berkat dorongan dari mereka tapi sampai sekarang, tidak ada satu pun dari mereka yang datang mencari aku. Apa mereka tidak tahu jika aku terjebak di dalam rumah gelap dan menyeramkan ini?"
__ADS_1
"Teman? Hng!" Adel tersenyum dengan ekspresi sinis, Madison melihat ke arahnya sejenak lalu dia kembali melihat ke arah hutan.
"Kenapa? Apa kau dulu juga memiliki teman? Apa mereka mengkhianati dirimu?" tanya Madison.
"Tentu saja aku punya tapi mereka semua hanyalah sampah. Mereka begitu membenci aku, mereka mengkhianati aku dan tidak peduli denganku!" jawab Adel.
"Apa yang terjadi, Adel? Apa telah terjadi sesuatu antara kau dan para sahabatmu? Madison kembali memandanginya, dia ingin tahu apalah Adel adalah wanita yang dia lihat dan yang telah membunuh banyak orang? Semoga saja Adel tidak curiga dengan pertanyaannya.
"Mereka sama, Madison. Para sahabatku dan sahabatmu sama. Mereka hanya baik di depan kita saja tapi di belakang kita?" Adel kembali tersenyum dengan ekspresi sinis, "Mereka tidak lebih dari pada monster karena mereka membenci kita tanpa kita ketahui. Mereka semua terlihat baik tapi nyatanya, mereka sangat membenci kita lebih dari yang kita tahu!" ucap Adel lagi.
"Apakah benar?" Madison menunduk dan terlihat sedih. Apakah yang diucapkan oleh Adel adalah benar?
"Jika mereka sahabatmu dan peduli padamu, mereka pasti sudah datang mencarimu dan tidak akan membiarkan kau seorang diri di tempat ini tapi lihatlah keadaanmu? Tidak ada yang peduli padamu karena sampai sekarang memang tidak ada yang mencarimu. Sahabatmu tidak jauh berbeda dengan para sahabatku, mereka hanya baik saat berada di hadapanmu saja tapi nyatanya, mereka tidak peduli sama sekali. Jika mereka peduli, seharusnya mereka sudah datang untuk mencarimu apalagi kau sudah tidak bisa dihubungi lagi!"
Madison menunduk, apa yang dikatakan oleh Adel sangatlah benar. Tanpa dia sadari, air mata menetes begitu saja. Jeremy memang sudah jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya saat terakhir kali mereka bertemu. Meski Erick tidak datang lagi waktu itu tapi dia yakin jika Erick juga sama dengan Jeremy. Hana memang sahabat paling baik yang dia miliki tapi dia rasa jika Hana pasti mulai jenuh dan menjauhi dirinya seperti yang lain.
Air mata dihapus dengan perlahan. Dia tahu kenapa para sahabatnya bisa begitu kecewa dan membenci dirinya. Semua pasti karena kesalahan yang dia lakukan. Mereka pasti marah dan kecewa karena dia masih saja membawa obat terkutuk itu padahal dia sudah berniat untuk sembuh. Jeremy kecewa juga karena hal itu dan dia yakin Hana pun mulai kecewa padanya seperti Jeremy.
__ADS_1
"Kau benar, Adel. Mereka pasti kecewa padaku dan tidak mau mempedulikan aku lagi. Semua karena kebodohan dan kesalahan yang telah aku lakukan, akulah yang telah membuat mereka kecewa sehingga mereka menjauh dariku!" Madison berusaha untuk tersenyum, semua akibat kesalahan yang dia lakukan jadi dia tidak boleh menyalahkan siapa pun. Dia memang pantas ditinggalkan di sini dan dia hampir melupakan tujuannya datang ke rumah itu. Dia akan membuktikan pada Adel dan kedua sahabatnya jika dia bisa sembuh dari pengaruh obat. Dia akan kembali lalu bekerja kembali bahkan dia akan memperbaiki hidupnya jauh lebih baik lagi.
"Mereka berpura-pura kecewa padamu, Madison. Mereka pura-pura kecewa tapi nyatanya mereka sengaja meninggalkan dirimu di rumah ini agar kau mati membusuk di rumah ini!" ucap Adel.
"Tidak benar, apa yang kau katakan tidak benar. Aku yang telah salah, Hana dan Jeremy tidak salah. Mereka pasti datang untuk mencari aku nanti!"
"Ha... Ha.., aku ingin tertawa mendengarnya," cibir Adel.
"Tidak semua orang sama, Adel. Para sahabatku tidak sama dengan para sahabat yang kau benci!" ucap Madison. Meski apa yang dikatakan oleh Adel ada benarnya tapi dia yakin ketiga sahabatnya tidak seperti itu meski ada perasaan ragu di dalam hatinya.
"Jangan munafik, kau berkata demikian tapi sesungguhnya kau menipu dirimu sendiri. Seandainya mereka marah, seandainya mereka kecewa tapi jika mereka benar-benar sahabat baikmu mereka pasti akan datang untuk melihat keadaanmu tapi apa buktinya, sampai sekarang tidak ada yang datang untuk tahu keadaanmu bahkan mereka tidak peduli meski kau mati membusuk di rumah terkutuk ini!"
"Mereka tidak seperti itu!" ucap Madison namun air matanya kembali mengalir tanpa dia inginkan.
"Tidak perlu menipu diri, kita berdua mengalami hal yang sama. Dulu aku juga berharap ada yang datang menolong aku dari basemen yang gelap itu tapi tidak ada satu pun dari mereka yang datang. Semula aku menaruh harapan besar pada mereka tapi aku harus menelan kekecewaan karena tidak ada satu pun yang peduli padaku. Jadi jangan menaruh harapan apa pun pada sahabatmu karena kau hanya akan mendapatkan kekecewaan saja!"
Madison hanya diam, semua yang dikatakan oleh Adel sangat benar. Tidak ada yang mencarinya sama sekali. Sepertinya tidak ada yang menghubunginya selama ini untuk mencari tahu bagaimana dengan keadaannya karena jika ada yang melakukannya, Hana atau Jeremy atau pun Erick pasti akan datang mencari karena ponsel yang sudah tidak bisa dihubungi lagi. Meski dia sudah mengecewakan, dia yakin mereka pasti akan mencari tapi sampai sekarang, tidak ada yang datang.
__ADS_1
"Mereka sudah tidak menginginkan aku lagi!" Madison menyembunyikan wajahnya di balik lengan. Tangisannya terdengar, Adel mengusap punggung Madi untuk menghibur. Dia tahu bagaimana rasanya karena dia sudah melewatinya.
Ponsel yang ada di tangan dicengkeram dengan erat, sekarang dia tidak boleh berharap lagi jika akan ada sahabatnya yang datang untuk membantunya karena sekarang dia sadar jika sudah tidak ada yang peduli pada dirinya lagi.