
Putus asa akibat merasa tidak dipedulikan lagi oleh para sahabatnya membuat Madison benar-benar seperti orang gila. Madison tenggelam dalam keputusasaan, pikiran-pikiran buruk semakin memperparah keadaannya. Tidak ada yang menghiburnya, tidak ada yang memberikan kata-kata penyemangat untuknya karena dia sendirian, benar-benar sendirian. Hana sudah pergi, Jeremy apalagi. Tidak ada yang peduli dengannya lagi, pada akhirnya para sahabatnya pergi meninggalkan dirinya.
Rasa putus asa itu pula membuatnya tertawa seperti orang gila, setelah dia tertawa lalu dia menangis meraung. Sepi, dia merasa begitu kesepian. Dia membutuhkan seseorang, dia butuh dukungan tapi tidak ada lagi yang peduli dengannya. Hana satu-satunya sahabat yang sangat peduli pun sudah tidak mempedulikan dirinya lagi.
Madi masih tertawa pelan di atas lantai. Keadaan jiwanya semakin memprihatinkan. Kini dia berbicara seorang diri, seolah-olah ada yang menemaninya padahal tidak ada siapa pun selain dirinya di rumah yang gelap gulita itu tanpa adanya penerangan apa pun.
"Mereka pergi meninggalkan aku seperti kedua orangtuaku, hi..hi..hi!" Madi mulai merangkak di kegelapan.
"Apa kau bilang? Tidak ada yang peduli lagi padaku?" dia berbicara dengan diri sendiri.
"Yes, Madison. Tidak ada lagi yang akan mempedulikan dirimu jadi jangan berharap pada siapa pun lagi karena Hana tidak mungkin datang mencari dirimu lagi seperti kedua orangtuamu yang kecewa lalu membuang dirimu!"
"Apakah artinya aku akan membusuk di rumah ini untuk selamanya?"
"Yeah, kau tidak akan bisa lari dari iblis itu. Dia akan terus mengejarmu dan kau akan mengalami hal yang sama secara berulang-ulang sampai kau bosan dan sampai kau muak dengan teror yang diberikan oleh mereka!"
"Sampai aku bosan, sampai aku bosan. Hi.. Hi.. Hi..!"
"Yes, sampai kau bosan jadi tidak ada gunanya kau lari dari iblis itu karena apa yang kau lakukan hanya sia-sia saja!"
"Jika begitu, bagaimana jika kita hancurkan saja pintunya?" Madison masih berbicara pada dirinya sendiri.
"Yeah, hancurkan lalu kita bakar rumah ini!"
"Ayo kita bakar!" Madison beranjak dengan seringai lebar lalu dia melangkah menuju basemen. Padahal gelap tapi dia bisa menemukan jalannya. Itu akibat rasa putus asa yang dia alami. Dia bahkan berjalan menuju basemen sambil tertawa cekikikan bahkan tawanya tak kalah mengerikan dari pada tawa hantu-hantu yang selalu menganggunya.
__ADS_1
"Kita bakar pintunya, kita bakar!" ucap Madison yang mulai mencari pelita yang dia tinggalkan di atas lantai.
"Madi, di mana kau?" terdengar suara Adel memanggilnya. Lagi-Lagi wanita itu datang tiba-tiba dan dia bosan dengan kejadian yang dia alami secara berulang-ulang.
"Dia datang, Madison. Wanita aneh itu datang lagi jadi segera bakar pintu itu!" Madison masih berbicara pada diri sendiri dan merangkak mencari pelitanya, dia tidak peduli dengan apa pun karena dia memang sudah gila.
"Madison, apa kau tidak mendengar aku?" teriak Adel. Dia mencari di dapur tapi Madison tidak ada dan setelah itu, Adel kembali mencari namun langkahnya terhenti saat dia melihat Madison sedang merangkak di depan basemen setelah mengangkat pelita yang ada di tangan.
"Apa yang sedang kau cari?" tanya Adel seraya melangkah mendekati dirinya.
"Dia datang, Madi. Dia datang!" gumam Madison yang sudah berhenti merangkak.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tidak memanggil aku jika kau kehilangan pelitamu?" tanya Adel seraya melangkah mendekatinya.
"Siapa?"
"Pergi kau, pengganggu!" teriak Madison seraya beranjak dan setelah itu, Madison merebut pelita yang ada di tangan Adel dan mendorong wanita itu dengan keras hingga membuat Adel jatuh ke atas lantai.
"Apa yang kau lakukan, Madison!" teriak Adel marah.
"Aku ingin," pelita yang sudah dia dapatkan diangkat, seringai lebar menghiasi wajahnya, "Membakar rumah ini!" teriak Madison seraya melemparkan pelitanya ke arah pintu basemen yang tidak bisa dia buka sebelumnya.
"Jangan!" teriak Adel namun terlambat karena pelita yang dilemparkan oleh Madison sudah menghantam daun pintu. Akibat minyak yang tumpah, api langsung membakar daun pintu. Madison justru tertawa melihatnya seolah-olah dia baru saja melakukan sesuatu yang menyenangkan.
"Terbakar, akhirnya terbakar!" teriak Madison di sela tawanya.
__ADS_1
"Kau sudah gila, Madison!" teriak Adel murka.
"Aku memang sudah gila!" Madison mengambil pelita yang lain dan menyalakannya. Api melahap pintu itu dengan cepat, Adel berlari ke dapur untuk mengambil air dan tampak panik.
"Segera padamkan apinya, Madison!" teriak Adel. Dia masih berusaha mempengaruhi Madison agar Madi mau memadamkan api yang menyala bersama dengannya tapi ternyata Madison sudah berada diambang batas kewarasan yang dia miliki.
Madison menendang pintu yang terbakar api tanpa mempedulikan apa pun. Madison melakukannya sambil berteriak juga sambil tertawa dengan keras.
"Buka pintunya! Ha.... Ha... Ha..! Buka!" dia terus berteriak sambil menendang sampai akhirnya satu papan patah di mana tadi dia menghujamkan pisau tiada henti dan akibat tendangan kakinya.
"Madison, kau benar-benar sudah gila!" teriak Adel yang kembali berlari menghampirinya.
Madison menarik papan yang sudah patah dua, dia menariknya dengan sekuat tenaga hingga satu bagian terlepas. Dengan tubuh kecil dan kurus yang dia miliki, Madison masuk ke dalam celah pintu meski sulit namun dia bisa masuk melalui celah itu lalu berlari ke bawah.
"Madison!" Adel sudah berdiri di depan pintu, dengan satu kali kibasan tangan api yang membakar pintu padam dan keadaan pintu itu tidak mengalami rusak bakar selain satu papan yang patah. Seringai menghiasi wajah Adel, wanita itu melangkah maju dan pada saat itu, pintu justru terbuka dengan sendirinya seolah-olah mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam.
Suara langkah kaki Adel membuat Madison panik, dia berpaling ke kanan dan ke kiri untuk mencari lubang di mana dia melepaskan iblis yang terkunci di bawahnya. Madison seperti lupa di mana letaknya apalagi dia sedang dalam keadaan kacau dan panik.
Derit papan tangga yang terinjak terdengar, Madison semakin panik luar biasa. Dia berlari ke arah kanan, sepertinya memang di sana tempatnya. Madison terus mencari sampai akhirnya dia melihat kapak yang dia tinggalkan. Benda itu diambil dan setelah itu Madison kembali mencari pintu kecil yang ada di atas lantai.
"Ma..di.. son!" suara derit lantai sudah tidak terdengar lagi, Madi justru semakin panik karena dia tahu akan ada yang tidak beres.
"Di mana, di mana?" tanyanya sambil melihat lantai. Madison melangkah cepat, itu dia, pintu yang dia cari. Tidak mau membuang waktu, Madison membuka penutup yang terbuat dari papan itu dan menyinari ruangan gelap itu dengan pelita yang dia bawa. Ternyata ada tangga yang bisa dia gunakan untuk turun ke lantai di bawah basemen itu.
Kapak yang dia bawa dilemparkan ke bawah, suara jatuh tidak terdengar. Madison menelan ludah, sepertinya cukup dalam. Madison mulai merasakan keberadaan iblis itu bergegas turun ke bawah, gelap dan bau namun dia tidak punya pilihan. Penutup ruangan ditutup dengan perlahan agar siapa pun yang sedang mencarinya tidak melihat namun sebelum penutup itu tertutup semua, Madi melihat kaki yang melayang mendekatinya. Madison menutup mulut rapat, pelita pun diturunkan. Dia sudah berada sejauh itu dan dia harap, iblis atau apa pun tidak ada yang mengetahui keberadaannya sampai dia melihat apa yang ada di ruangan paling bawah dari rumah itu.
__ADS_1