
"Apa kau menemukan sesuatu, Madison?" pertanyaan Adel membuat Madison terkejut di tengah rasa tidak percaya yang sedang dia alami akibat penglihatan yang baru saja dia lihat. Madison berpaling, kedua kaki melangkah mundur dengan perlahan saat melihat Adel berada tidak jauh di belakangnya.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan sesuatu?" tanya Adel lagi. kali ini kedua kakinya tidak menapak lantai, dia justru melayang mendekati Madison.
"Ka-Kau ternyata iblisnya," ucap Madison.
"Yeah, aku memang iblisnya. Aku menjual jiwaku, sehingga aku bersatu dengan iblis itu."
"Kau gila, Adel. Apa yang kau lakukan padaku dan apa maksudnya kau mengejar aku?" tanya Madison.
"Aku menginginkan jiwamu, Madison. Kau yang telah membuka rantai itu dan kau memiliki jiwa yang istimewa," jawab Adel tanpa ragu.
"Jangan bercanda, lepaskan aku dari sini!" pinta Freya.
"Melepaskan dirimu?" Adel melihat ke arahnya lalu tertawa dengan perlahan, "Kau tidak bisa menghindari takdirmu, Madison," ucapnya lagi.
"Jangan membual, kau yang telah membuat aku terkurung di dalam rumah yang kau kutuk ini!"
"Hi... Hi... Hi... Hi...!" Adel justru tertawa. Madison kembali melangkah mundur karena Adel mendekatinya, sekarang dia benar-benar takut dengan roh psikopat gila yang ada di hadapannya itu.
Kedua kaki masih saja melangkah mundur dan tanpa sengaja, Kraakkk! Madison menginjak sesuatu. Pelita yang ada di tangan diturunkan karena dia ingin melihat apa yang dia injak. Madison terkejut karena yang dia injak saat itu adalah tengkorak manusia. kedua kakinya melangkah mundur dengan cepat dan tatapan matanya tidak lepas dari tengkorak manusia yang tergeletak di bawah. Jujur saja dia takut, sangat takut tapi dia berusaha untuk melawan rasa takutnya.
"Oh, itu sahabatku yang malang," ucap Adel, "Dan dia semakin malang karena terinjak olehmu!" ucapnya lagi.
"Tolong biarkan aku pergi, Adel," pinta Madison, kali ini dia memohon agar Adel melepaskan dirinya.
"Pergi? Apa kau tidak ingin menemani anjingmu?"
__ADS_1
"Apa maksud perkataanmu?"
"Lihat itu, Madison," Adel menunjuk ke sisi ruangan yang gelap. Madison tidak dapat melihat apa pun, oleh sebab itu dia melangkah mendekati sisi ruangan untuk melihat apakah Milo sedang dikurung oleh Adel di sana ataukah anjingnya sedang ketakutan namun semakin dia mendekat, bau bangkai semakin kuat tercium.
"Tidak mungkin, tidak mungkin!" ucap Madison. Kedua kaki terasa lemas, dia bahkan jatuh berlutut lalu Madison merangkak mendekati sumber baunya. Pelita di dekatkan, Madison tak kuasa lagi menahan diri saat melihat Milo sudah mati dan membusuk dengan belatung memenuhi bangkainya.
"Milo!" Madison berteriak keras, lalu dia menangis meraung. Bagaimana bisa? Pantas saja dia tidak bisa menemukan keberadaan Milo di mana pun. Dia tidak menduga jika Milo sudah mati dan berada di dalam ruangan gelap itu tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?
Sewaktu Madison meminta Milo untuk bersembunyi, Milo memang melakukannya. Madison melupakan anjingnya cukup lama akibat teror menakutkan yang dia alami di lantai basemen. Milo yang mengkhawatirkan keadaan Madison menggonggong di depan pintu basemen namun sebuah tangan hitam yang mengerikan tiba-tiba menangkap Milo dan menarik anjing malang itu ke basemen lalu menariknya masuk ke dalam pintu kecil yang sudah dibuka oleh Madison.
Sesungguhnya Wolfy adalah roh Milo tapi karena Adel menggunakan tipu dayanya sehingga Milo tunduk padanya dan sekarang Milo sudah lenyap entah ke mana.
"Apa yang terjadi denganmu, Milo. Apa yang terjadi?" Madison mengangkat bangkai anjing kesayangannya dan memeluknya. Dia tidak peduli dengan bau busuk dari bangkai Milo, dia pun tidak peduli dengan belatung yang menggerogoti bangkai Milo.
"Milo!" Madison berteriak keras, menangisi kematian anjing kesayangannya.
"Apa yang kau lakukan padanya?" teriak Madison.
"Aku hanya meminum sedikit darahnya," jawab Adel dengan suara memelas sambil memperlihatkan seringai mengerikannya.
"Kau iblis, kau benar-benar iblis!"
"Aku memang iblis, Madison. Aku memang iblis, ha.. ha.. ha.. ha...!" Adel tertawa dengan keras, dia menyukai aroma jiwa ketakutan dan putus asa yang dimiliki oleh Madison. Dia menyukainya, sangat menyukainya.
"Kau iblis terkutuk, aku akan melemparmu ke dalam neraka!" teriak Madison. Milo diletakkan ke atas lantai, Madi kembali mengambil pelitanya lalu melangkah maju mendekati Adel.
"Ingin melemparkan aku ke dalam neraka?" Adel tampak mencibir dengan perkataan Madison, "Dengan cara apa, Madison? Kau hanyalah wanita penuh dosa seperti aku. Kita berdua sama, Madison. Apa kau memiliki Tuhan sehingga kau bisa mengalahkan aku?" dia kembali bertanya mengejek.
__ADS_1
Langkah Madison terhenti, benar. Dengan cara apa dia bisa mengalahkan Adel? Dia bukan orang yang taat beragama, satu doa pun tidak pernah dia hapalkan. Seandainya dia taat dan mempercayai Tuhan, dia tidak akan terjerumus ke dalam kubangan dosa dengan membunuh bayinya sendiri lalu jatuh ke dalam jerat obat terlarang. Sekarang dia menyesal, menyesal tidak memiliki kehidupan yang lebih baik karena kehidupannya hancur gara-gara perbuatannya sendiri.
"Jangan dengarkan dia, segera pergi!" seseorang berteriak untuk menyadarkan Madison. Samar-samar sosok putih berada di sisi ruangan, Madison dapat melihat seorang wanita berdiri di sana dan itu adalah jiwa sahabat Adel yang terperangkap di ruangan itu bersama dengan Adel.
"Sahabat kurang ajar!" Adel mengarahkan satu tangannya ke arah sosok putih itu sambil mencengkeramkan tangannya seolah-olah dia sedang mencengkeram sesuatu dan sosok putih itu tampak kesakitan.
"Ternyata pengkhianat ini yang memperlihatkan penglihatan itu padamu" ucap Adel. Memang sahabat Adel'lah yang telah berbisik saat Madi berada di luar agar Madi melihat penglihatan di mana Adel telah membunuh para sahabatnya dan penglihatan yang Madison lihat barusan juga dari sosok itu yang memberi penglihatan terakhir agar Madison tahu siapa sesungguhnya Adel.
"La.. ri!" ucap roh sahabat Adel yang tampak kesakitan namun jiwanya mulai diserap oleh Adel dengan perlahan karena Adel ingin jiwa sahabatnya itu bersatu dengannya.
"Lepaskan dia!" teriak Madison.
"Sebentar lagi, Madison. Sebentar lagi kau akan bergabung denganku seperti dirinya dan kalian semua akan menjadi bagian dariku lalu kita akan menjadi penghuni rumah ini untuk selamanya!" teriak Adel. Jiwa sahabatnya benar-benar sudah diserap habis olehnya dan setelah itu, Adel mengulurkan satu tangannya ke arah Madison.
Tubuh Madison terangkat ke atas secara tiba-tiba, Madison berusaha meronta. Dia merasa ada yang sedang mencekik lehernya, dia bahkan merasa tenaganya mendadak tidak ada karena Adel sedang menyerap jiwanya.
"Kau istimewa, Madison. Jiwamu yang sangat lezat," ucap Adel.
"Le..Lepas!" Madison meronta tiada henti.
"Jiwamu jadi milikku, Madison!" teriak Adel. Angin berhembus dengan keras, suara gaduh terdengar karena suara pintu-pintu dan jendela yang ada di rumah itu mendadak terbuka dan tertutup. Jiwa Madison semakin diserap oleh Adel, Madison sudah semakin menipis namun dia harus melawan, dia harus melawan Adel. Pelita yang ada di tangan dilemparkan ke arah Adel namun pelita itu justru menembus tubuh Adel dan menghantam dinding lalu api menjilati minyak yang tumpah sehingga Madison bisa melihat Adel yang memperlihatkan rupanya, sosok mengerikan yang selalu menakuti dirinya.
"Lepaskan aku!" teriak Madison dan karena teriaknya itu, membuat arwah Adel terpental secara mendadak.
Madison jatuh ke atas lantai, lehernya terasa sakit. Dengan sisa tenaga yang ada, Madison berusaha untuk bangkit berdiri. Entah apa yang terjadi, dia tidak tahu. Sebaiknya dia keluar dari tempat gelap itu dan setelah ini dia akan membakar rumah terkutuk itu.
"Larilah, Madison. Larilah sebisa mungkin tapi kau akan kembali lagi dan lagi!" teriak Adel.
__ADS_1
Madison terus berlari menuju lorong yang gelap, yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah memusnahkan rumah itu dan pergi dari tempat itu namun sesungguhnya, selama ini dia tidak menyadari apa yang telah terjadi padanya.