
Tidak ada jalan, itu yang dikatakan oleh Adel tapi Madison tidak percaya jika tidak ada jalan untuknya pergi dari rumah aneh itu. Dia yakin pasti ada jalan keluarnya dan dia harus mencarinya sendiri meski dia tidak tahu bagaimana cara mencari jalan keluarnya.
Madison menunggu datangnya pagi, rumah yang gelap membuatnya tidak leluasa melakukan apa pun. Dia harap setelah malam itu berlalu dan setelah hujan reda matahari menampakkan dirinya agar dia bisa mencari sesuatu di dalam hutan atau mencari sesuatu di rumah itu namun dia sudah menunggu cukup lama, hujan tidak juga reda dan langit masih saja gelap seperti sedia kala,
Napas berat di hembuskan, Madison menatap ke atas langit dan tampak putus asa. Kenapa cuaca buruk itu tidak juga pergi? Hujan pun tak kunjung reda, waktu serasa berhenti sehingga dia merasa jika dia terjebak di waktu yang sama. Seandainya ada penunjuk waktu maka dia tidak akan berpikir seperti itu.
"Kenapa cuaca buruk ini tidak juga pergi? Kapan matahari akan menunjukkan dirinya?" keluh Madison tanpa melepaskan pandangannya dari langit yang semakin gelap saja. Matahari seolah-olah lenyap dari bumi sehingga hanya ada kegelapan saja.
"Langit itu akan tetap seperti itu, Madison. Matahari tidak akan bersinar lagi dan kau akan mengalami situasi yang sama terus menerus!" ucap Adel.
"Kenapa, apa kita terjebak di dimensi yang sama, Adel? Apakah waktu telah berhenti?" tanya Madison.
"Tidak, waktu terus berputar seperti biasanya tapi keadaan akan tetap gelap sehingga kau tidak akan tahu apa pun selain ketakutan yang akan semakin kau rasakan!"
"Jika begitu, kenapa jamnya mati? Apa kau bisa menjelaskannya padaku?"
"Jangan banyak bertanya, Madison. Sebaiknya kau mulai membiasakan diri dengan keadaan ini!" ucap Adel.
"Apa maksud dari perkataanmu? Kenapa sikapmu berubah-rubah seperti itu?" Madison menatapnya dengan tatapan curiga. Terkadang Adel sangat baik, terkadang dia ketakutan dan terkadang dia pun terlihat memperlihatkan ekspresi menakutkan. Entah apa yang terjadi pada Adel, dia benar-benar mencurigakan apalagi saat ini dia bagaikan psikopat yang harus dia hindari.
"Apa kau tidak mengerti? Apa pun yang kau lakukan tidak ada gunanya. Kau hanya akan diteror sepanjang hari, kau pun akan menjadi seperti aku pada akhirnya. Kita berdua akan terjebak di rumah ini untuk selamanya, Madison!"
"Aku tidak percaya akan hal itu. Aku pasti akan pergi. Sekarang katakan padaku, apakah ada generator listrik di rumah ini?"
__ADS_1
"Tidak ada yang seperti itu. Kau lihat rumah ini, di tengah hutan. Bagaimana mungkin ada yang seperti itu!" jawab Adel dengan sinis.
"Tidak mungkin, justru rumah di tengah hutan seperti ini ada generator listriknya. Katakan padaku, apa di lantai basemen ada generator listrik?" Adel selalu berada di sana dan dia yakin Adel pasti tahu.
"Sudah aku katakan tidak ada yang seperti itu dan jika aku tidak mau kembali diteror, sebaiknya kau tidak turun ke bawah lagi!" teriak Adel marah. Madison terkejut, tatapan mata Adel tidak bersahabat sama sekali.
Adel menatapnya dengan tajam lalu wanita itu menunduk namun tawanya terdengar sehingga membuat Madison semakin ketakutan.
"Aku jadi ingat sesuatu," ucap Adel, dia kembali tertawa seraya mengangkat wajah.
"Apa yang kau ingat? Apa kau sudah mengingat di mana generator listriknya?" tanya Madison. Meski Adel bersikap menakutkan tapi dia harus mencari tahu akan keberadaan generator agar dia bisa menyalakan listrik di rumah itu kembali karena dia sangat ingin menyalakan ponselnya lalu menghubungi Hana.
"Tidak, bukan. Aku ingat bagaimana dulu aku membentak adikku sebelum aku membunuhnya," Adel tersenyum sinis, sedangkan Madison mengusap lengan karena dia sangat tidak ingin mendengar apa yang Adel lakukan pada adiknya sendiri.
"Tidak, aku ingin sedikit bercerita padamu. Aku mengingat bagaimana ekspresi takut yang dia tunjukkan, aku pun mengingat ketika aku membentak dirinya!" Kedua mata Adel terbuka lebar saat mengatakan hal itu, semua jari-jariĀ tangan ditekuk dan dia memperlihatkan seringai lebar serta ekspresi wajah yang menunjukkan jika dia sangat puas.
"A-Apa yang kau lakukan padanya?" pertanyaan itu terucap di bibir. Entah kenapa dia bertanya seperti itu padahal dia tidak ingin tahu. Sungguh bodoh, seharusnya dia tidak bertanya.
"Dia tidak mau mendengarkan aku, dia tidak mau mengikuti aku oleh sebab itu aku mengambil kapak milik ayahku lalu aku memotong kedua kakinya!" jawab Adel, seringai lebarnya kembali terukir di bibir.
"A-Apa?" Madison memeluk dirinya sendiri. Jujur dia lebih takut dengan Adel saat ini.
"Aku memotong kaki kanannya terlebih dahulu lalu dia menjerit kesakitan," Adel menghentikan ucapannya sejenak, dia seperti mengingat kejadian itu, "Ha... Ha... Ha... Ha..!" kini Adel tertawa terbahak, kedua matanya seperti akan keluar akibat tertawa bahkan tubuhnya maju ke depan. Tentunya hal itu semakin membuat Madison ketakutan.
__ADS_1
"Oh, aku sangat ingat bagaimana ekspresi yang dia tunjukkan saat dia sedang memohon!" Kini Adel mengangkat wajahnya sedikit, jarinya bermain di leher seolah-olah dia sedang haus.
"Apa kau tidak iba? Dia adikmu sendiri!" Madison kembali menatap hutan yang gelap. Jujur dia takut melihat ekspresi psikopat yang ditunjukkan oleh Adel.
"Tidak, aku sangat puas setiap kali aku memotong bagian tubuhnya. Ha... Ha... Ha... Ha...!" dia kembali tertawa terbahak. Madison menutup telinga, saat ini Adel lebih menakutkan dari pada hantu.
"Setelah aku memotong tubuh adikku, kedua orangtua itu pun begitu berisik. Aku tidak mau membunuh mereka, Madi. Tidak mau," kini Adel menunduk dan memperlihatkan ekspresi sedih.
"Aku hanya ingin mengajak mereka untuk ikut bersama denganku. Aku ingin mereka pergi denganku tapi mereka justru menolak dan memaki aku!" kini Adel berteriak keras sehingga suaranya menggema namun Adel kembali memperlihatkan ekspresi sedih.
"Aku tidak mau menyakiti mereka, Madison. Aku tidak ingin membunuh mereka tapi mereka menolak dan menghina aku. Aku menyesal telah membunuh mereka, sangat menyesal!" Adel semakin sedih, dia bahkan menangis.
"Tidak seharusnya aku membunuhnya, Madi. Tidak seharusnya tapi mereka begitu jahat oleh sebab itu aku membakar mereka. Karena itu aku terjebak di rumah sialan ini!" teriaknya. Adel melihat ke arah Madison dengan ekspresi anehnya, "Dan kau, akan berakhir sama denganku karena kau sudah membunuh bayimu!" ucapnya lagi.
"Aku tidak mau berakhir seperti dirimu, aku akan mencari cara untuk pergi dari rumah ini!" teriak Madison. Dia benci dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Adel. Wanita itu benar-benar psikopat sejati.
"Kau sama seperti adikku, tidak mau mendengarkan perkataanku. Kalian berdua orang bodoh yang sama-sama keras kepala!" Adel pun berteriak. Mereka berdua saling pandang, Adel kembali tertawa pelan. Dia kembali mengatakan bagaimana dia membunuh anggota keluarganya dan dia sangat puas karena sudah menyingkirkan mereka.
Madison kembali berpaling karena dia tidak mau melihat ekspresi seram yang ditunjukkan oleh Adel. Wanita itu masih tertawa namun tawanya berubah menjadi tangisan dan juga diikuti rasa penyesalan karena telah membunuh keluarganya. Adel mengulangi ucapannya berkali-kali, entah dia sadar atau tidak dengan apa yang dia lakukan, Madison tidak mengerti.
Madison pun tidak mengerti dengan sikap Adel yang selalu berubah-ubah. Adel bahkan masih menangis dan tangisannya semakin menjadi. Sesungguhnya apa yang terjadi, apa Adel menjadi gila karena tidak bisa keluar dari rumah terkutuk itu? Tatapan mata menerawang memandangi hutan yang gelap, hujan masih juga tak kunjung reda. Apakah dia akan seperti Adel nantinya? Menjadi gila seperti Adel dan menunjukkan sikap seperti yang Adel tunjukkan padanya saat ini?
"Kau tidak akan bisa pergi dari rumah ini, Madison. Tidak akan pernah bisa pergi," ucap Adel.
__ADS_1
Madison diam saja, bisa atau tidaknya dia akan berusaha karena dia tidak mau berada di rumah itu untuk selamanya dan dia tidak mau menjadi gila seperti Adel tapi sepertinya Adel tidak mau membantunya. Sebaiknya dia mencari tahu sendiri tanpa melibatkan orang lain apalagi dia curiga dengan Adel.