The House

The House
Terperosok Semakin Dalam


__ADS_3

"Hana tidak membenci aku, dia tidak membenci aku!" Madison mengucapkan perkataan itu secara berulang-ulang karena pengaruh iblis yang ingin menjebaknya dan menjerumuskan dirinya ke dalam penyesalan. Apa yang dilakukan oleh iblis itu sedikit demi sedikit mulai mempengaruhi Madison yang saat itu memang berada di dalam keadaan lemah, seorang diri di tempat gelap dan menakutkan di mana tidak ada satu orang pun yang mendukungnya. Meski dia percaya Hana akan menolongnya namun kepercayaan itu lambat laun akan runtuh karena Hana tidak ada bersama dengannya.


Rasa putus asa semakin dia rasakan, iblis-iblis itu berhasil mempengaruhi dirinya sehingga membuat Madison putus asa dan bergumam tanpa henti. Madison bahkan duduk di atas lantai, tatapannya kosong namun tawa para iblis itu masih bisa dia dengar dan mereka masih saja tidak berhenti.


"Hana benci denganmu karena dia kecewa padamu, Madison," bisikan itu masih bisa dia dengar.


"Tidak! Tidak! Tidak!" Madison bergumam sambil menggeleng. Tidak benar, semua itu tidak benar. Hana peduli dengannya meskipun Jeremy sudah tidak peduli akibat kecewa.


"kau menipu diri, Madison. Jika dia peduli padamu maka dia akan datang dan membawamu pergi dari tempat ini!" suara yang meneriakkan hal itu menggema.


"Tidak mungkin, Hana selalu baik padaku!" Madison menjambak rambutnya sendiri lalu menangis dengan keras dan setelah itu Madison jatuh ke atas lantai sanbil berteriak dengan keras.


"Maafkan aku, Hana. Maafkan aku!" Madi memeluk tubuhnya. Di dalam hatinya dipenuhi dengan penyesalan, dia benar-benar menyesal karena telah mengecewakan sahabat-sahabat baiknya padahal hanya mereka saja yang dia miliki.


"Madison," mendadak dia mendengar Hana memanggil dirinya dari kegelapan pekat yang membuatnya buta.


"Hana," Madison melihat ke arah datangnya suara, dia pun duduk di atas lantai. Air mata dihapus, Madison memasang telinga baik-baik untuk mendengar apakah itu suara Hana atau bukan.


"Madison, apa kau baik-baik saja?" dia kembali mendengar suara Hana dan kali ini dia yakin jika itu Hana.


"Hana, aku di sini!" Madison beranjak dan berlari ke luar ke arah sumber suara. Dia sangat senang, wajahnya bahkan berseri. Akhirnya Hana datang untuk membawanya pergi dari rumah terkutuk itu. Madison menghentikan langkah dan mencari Hana namun dia tidak menemukan siapa pun apalagi gelap.


"Hana, aku di sini! Di mana kau?" Madison kembali mencari keberadaan Hana. Dia berlari kian ke mari untuk mencari keberadaan sahabat baik yang hanya bisa dia dengar suaranya saja namun tidak dia temukan. Madison semakin depresi, mau di mana pun dia mencari keberadaan Hana tapi hasilnya sama.


"Maafkan aku, Hana. Aku yang telah salah. Tidak seharusnya aku mengecewakan kalian, tidak seharusnya aku membawa obat itu dan membuat kalian kecewa. Maafkanku!" pintanya memohon. Madison berputar-putar di tempat yang sama tanpa dia sadari, dia terus memanggil sahabatnya yang sesungguhnya tidak ada.


"Please, di mana kau berada!" Madison kembali menghentikan langkahnya, berharap dapat kembali mendengar suara Hana.

__ADS_1


"Jangan pedulikan dia, Hana!" kini terdengar suara teriakan Jeremy dari sisi lain.


"Jeremy, aku minta maaf!" teriak Madison seraya berlari menuju arah datangnya suara.


"Kita tidak bisa meninggalkan Madi dalam keadaan seperti ini, Jeremy!" suara Hana kembali terdengar dan Madison panik mencari keberadaan mereka sambil mendengar suara-suara kedua sahabatnya.


"Dia penipu, dia menipu kita!" teriak Jeremy.


"Jangan berbicara seperti itu, Madi tidak bermaksud demikian!"


"Kau bodoh, Hana. Dia datang ke tempat sepi ini agar dia bebas mengkonsumsi obat terkutuk itu tanpa kita ketahui. Untuk itulah dia datang ke tempat terpencil ini agar kita tidak tahu dan dia berpura-putra ingin sembuh!" ucap Jeremy.


"Madi tidak seperti itu, jangan asal bicara. Dia datang untuk sembuh dan untuk menjauhi obat-obatan itu!" teriak Hana.


"Kau sungguh bodoh, Hana. Dia penipu, seharusnya dia menjalani rehabilitasi jika ingin sembuh bukan menyendiri di tengah hutan seperti ini!"


"Percayalah, dia hanya menipu kita saja jadi jangan pedulikan dia lagi. Jika dia ingin sembuh dia pasti tidak akan membawa obat terkutuk itu. Dia berniat mengkonsumsinya saat kita tidak ada.  Apa kau tidak kecewa padanya? Aku benar-benar kecewa. Kita sudah memberinya dukungan, membantunya dalam segala hal tapi apa yang kita dapat? Kita ingin dia berubah tapi dia tidak mau berubah!" ucap Jeremy dan perkataannya itu seolah-olah menyakinkan Hana untuk tidak mempedulikan Madison lagi.


"Aku tidak menipu kalian, Jeremy. Aku tidak menipu!" Madison berbicara seorang diri dan berusaha membela dirinya.


"Maaf, Madi," suara Hana terdengar putus asa dan kecewa.


"Tidak, Hana. Tidak!" Madison berteriak dan kembali mencari kedua sahabatnya agar mereka tidak kecewa padanya.


"Yang dikatakan oleh Jeremy sangat benar, kau hanya menipu kami, Madison."


"Aku tidak menipu kalian berdua, Hana. Tolong jangan tinggalkan aku dan bawa aku pergi dari tempat ini!"

__ADS_1


"Tidak, kami tidak akan kembali lagi. Kami tidak akan datang lagi karena kau benar-benar mengecewakan kami!" ucap Hana.


"Jangan... Jangan pergi!" Madison kembali berlari, seperti mengejar kedua sahabatnya tanpa tahu jika dia sudah masuk ke dalam perangkap iblis yang semakin melemahkan jiwanya.


"Kita pergi sekarang, tidak ada gunanya berbelas kasihan pada orang seperti dirinya!" setiap ucapan yang dia dengar dan dibicarakan oleh Jeremy membuatnya terperosok semakin dalam ke dalam perasaan bersalah.


"Jangan Jeremy, aku minta maaf!" teriak Madison.


"Good bye, Madi. Kau benar-benar mengecewakan aku!" perkataan Hana pun semakin membuatnya jatuh semakin dalam karena Hana saja yang paling mempedulikan dirinya tapi kini Hana pun sudah tidak mau peduli lagi dengannya.


"Jangan pergi, jangan pergi!" Madison jatuh terduduk, dia kembali menangis. Suasana mendadak hening, tidak terdengar suara kedua sahabatnya lagi yang dia yakini sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Mereka sudah pergi, Madi. Mereka sudah pergi! Hi.. Hi.. Hi...!" sekarang para iblis kembali berperan untuk membuatnya jatuh semakin dalam ke dalam rasa bersalah.


"Hana sudah tidak mempedulikan dirimu, lagi. Sekarang sudah tidak ada yang peduli denganmu lagi, Madison!"


"Tidak ada, tidak ada lagi," gumam Madison.


"Yes, tidak ada lagi!" seringai mengerikan terukir dari wajah iblis mengerikan yang sedang mempengaruhi dirinya di dalam kegelapan.


"Sudah tidak ada lagi, hi.. hi.. hi.. hi..!" Madi semakin terpengaruh dan sudah seperti orang gila akibat putus asa.


"Sudah tidak ada lagi! Ha.. Ha... Ha... Ha..!" kini dia sudah berdiri, Madison tertawa keras sambil berputar-putar di tengah ruangan gelap. "Sudah tidak ada lagi!" teriaknya lalgi lalu dia kembali tertawa dengan keras.


"Aku tidak butuh kalian, aku tidak butuh. Aku tidak butuh kau, Hana. Aku juga tidak butuh kau Jeremy. Kalian bisa pergi, tidak perlu kembali lagi karena aku sudah tidak butuh. Ha... Ha.... Ha... Ha...!" Madison terus berputar dan berteriak, dia benar-benar merasa tidak membutuhkan sahabatnya lagi apalagi mereka berdua sudah pergi dan tidak peduli lagi dengannya.


Madison terus melakukan hal itu, berputar di dalam kegelapan dan terus berteriak. Seandainya ada yang melihat apa yang sedang dia lakukan maka dia akan dianggap orang gila dan keadaannya saat ini, tidak jauh berbeda dengan orang yang mengalami depresi berat.

__ADS_1


__ADS_2