
Madison masih berada di ujung anak tangga. Dia sangat ingin pergi dari tempat itu tapi dia tidak bisa mengabaikan teriakan Adel yang terus terdengar dari lantai basemen. Madison ketakutan, entah apa yang sedang terjadi dengan Adel yang pasti Adel terdengar kesakitan di sela teriakannya yang memohon.
Tidak, dia tidak bisa meninggalkan Adel begitu saja terlepas dia manusia atau hantu. Madison melihat ke atas lantai, di mana ada sebuah senjata api. Entah dari mana senjata api itu, sepertinya benda itu dia yang meninggalkannya.
Teriakan Adel yang ketakutan kembali terdengar, Madison beranjak dan menghampiri senjata api itu. Luka di kakinya tidak ada, entah apa yang terjadi. Entah dia sedang berhalusinasi atau tidak, dia tidak tahu. Senjata api sudah diambil, Madison pun mencari penerangan. Masih ada satu lampu emergency masih belum dia gunakan dan benda itu bisa dia gunakan untuk turun ke bawah dan menyelamatkan Adel.
Walau sesungguhnya dia sangatlah takut, tapi dia rasa dia harus menolong Adel lalu mencari tahu apa sebenarnya yang sedang mereka alami. Jujur saja dia takut, jika apa yang dia alami saat ini hanya halusinasinya saja dan jika memang demikian, berarti dia benar-benar sudah gila.
Madison berdiri di depan pintu, senjata api laras panjang yang ada di tangan di cengkeram dengan erat. Kedua tangannya gemetar, sungguh dia tidak mau tapi dia harus berani jika dia ingin menyelamatkan Adel dari lantai basemen itu. Dia harap setelah ini mereka bisa kembali berbincang, mungkin dengan demikian dia bisa mendapatkan petunjuk.
Madison memberanikan dirinya untuk turun ke bawah. Suara anak tangga yang berbunyi saat diinjak masih saja membuat merinding. Suara Adel mendadak sirna, suasana menjadi sunyi sepi. Madison menghentikan langkahnya, dia takut untuk melangkah lebih jauh dari pada itu.
"Adel!" Madison memanggil, dia harap Adel menjawab panggilan darinya.
"Adel," dia kembali memanggil Adel yang saat ini entah ada atau tidak.
"Adel, apa kau berada di bawah?" tanyanya sambil berteriak namun tidak terdengar jawaban dari Adel. Ruang basemen begitu sunyi, tidak ada apa pun bahkan dia tidak merasakan adanya kehidupan. Madison mengangkat lampu emergency setinggi mungkin, untuk melihat apakah Adel ada atau tidak namun dia tidak melihat apa pun akibat gelap yang begitu pekat. Itulah yang paling tidak dia inginkan, dia tidak suka dengan keadaan itu dan lantai basemen adalah tempat yang paling dia takuti di rumah itu.
"Adel," Madi melihat sekitar sambil memanggil karena dia mendengar suara dan suara itu sangat tidak asing baginya.
Srekkk... Srekk.... Srek..., Madi melangkah mundur, firasat buruk apalagi dia kembali mendengar suara itu lagi. Langkahnya naik ke atas dengan perlahan, suara itu semakin dekat diiringi suara papan yang terinjak sehingga membuatnya semakin takut.
Lampu emergency di arahkan ke anak tangga, dia merasa ada yang sedang menaiki anak tangga. Madison mengarahkan senjata apinya, dia akan menembak jika memang ada hantu atau apa pun.
Krieeett! Suara papan bagian paling bawah terdengar seperti ada yang menginjaknya.
"A-Adel," Madison masih mengarahkan lampu emergency ke arah tangga. Jantungnya berdebar, suasana hening. Dia merasa ada sesuatu yang sedang melihatnya dari anak tangga yang gelap di mana cahaya dari lampu emergency tidak bisa meneranginya.
__ADS_1
"Ja-Jangan menakuti aku, Adel. Ini tidak lucu sama sekali!" ucap Madison.
Kriieett! Suara kembali berbunyi, Madison diam dan tidak mencoba melangkah mundur karena dia ingin tahu apakah yang ada di anak tangga itu adalah Adel atau bukan.
"Berhenti bermain-main, Adel!" ucap Madi kesal.
"Adel tidak ada, Madi," suara itu terdengar di susul dengan wajah mengerikan yang muncul dari kegelapan dengan seringai mengerikan terukir di wajahnya yang menakutkan.
"Ti-Tidak!" Kini Madison mencoba melangkahkan kakinya yang gemetar.
"Yes, Madi. Dia sudah tidak ada lagi dan kau, akan bergabung dengannya tidak lama lagi!"
"Kau bohong!" teriak Madison.
"Hi.. Hi... Hi... Hi.. Bergabunglah dengan kami, Masison!" tiba-tiba saja sosok mengerikan itu merangkak dengan cepat ke arah Madison.
Madison berteriak, senjata api sudah terangkat lalu Madi menembak secara spontan. Tembakan itu mengenai wajah iblis yang sedang merangkak mendekat, akibat tembakan itu wajahnya yang mengerikan terbelah menjadi dua tapi iblis itu justru menyeringai dengan wajahnya yang semakin menakutkan.
Suara tembakan kembali terdengar, Madison menembak tanpa henti sambil melangkah mundur. Tidak peduli iblis itu semakin menakutkan atau tidak yang pasti dia harus mengalahkannya. Madison bahkan terus menembak sambil berteriak, kini dia melangkah maju dan tidak menunjukkan rasa takut lagi.
"Aku akan mengirimmu kembali ke neraka!" Teriak Madison yang tak henti menebaki sosok mengerikan yang ada di bawah sana.
"Aku tidak akan takut lagi padamu dan aku akan mencari cara untuk keluar dari rumah ini!" teriak Madison lagi. Dia masih menembak namun keberuntungannya berakhir akibat peluru senjata api yang habis.
Iblis itu sudah babak belur dan tidak terbentuk namun wujudnya kembali utuh dan senyuman mengerikannya kembali ke wajahnya yang mengerikan.
"Kau semakin menarik saja, Madison. Apa kau tidak mendengar suara bayimu yang sedang menangis?"
__ADS_1
"Tidak ada, jangan asal bicara!" teriak Madison.
"Dengarlah itu, Madi. Bayimu mencarimu dan ingin bertemu denganmu," ucap Iblis itu lalu suara tangisan bayi terdengar.
"Tidak ada, tidak ada!" Madison memutar langkah dan berlari. Kedua telinganya pun ditutup karena dia tidak mau mendengar apa pun.
"Bayimu menunggu Madison, dia menunggu. Ha... Ha.... Ha...!"
"Tidak... Tidak!" Madison berlari keluar dari basemen.
Apa yang dikatakan oleh iblis itu tidak benar, apa yang dikatakannya tidaklah benar dan tangisan bayi itu tidaklah nyata. Madison berlari keluar dari rumah, dia tidak mau mendengar apa pun tapi suara tangisan bayi justru terdengar semakin dekat dengannya.
"Bayimu yang kau bunuh menunggumu, Madison!" teriakan itu kembali terdengar di susul dengan suara tangisan bayi yang keras.
"Tidak, aku tidak membunuhnya!" Madison jatuh terduduk di atas tanah, dia berteriak dan menangis dengan keras di bawah guyuran air hujan. Suara tangisan bayi seperti berputar, terdengar dari segala penjuru dan hal itu, semakin membuatnya ketakutan.
"Pergi kalian, pergi!" teriak Madison histeris.
"Dengarkan itu, Madi!" iblis itu terbang mendekatinya lalu berada di samping telinganya, "Bayimu, apa kau tidak bisa merasakannya?"
"Tidak, dia tidak ada!" Madison menggeleng, dia tidak mau mendengar apa pun.
"Dia mati gara-gara kau, Madi. Bayi itu berhak hidup tapi kau justru membunuhnya!" iblis itu menyerang kelemahan Madison yang paling dalam karena iblis itu menginginkan jiwa Madison yang lemah, ketakutan dan tidak berdaya.
"Aku tidak membunuhnya!" teriak Madi lagi.
"Lihat itu, Madison," mendadak ada bayi di depan mata Madison tentunya itu adalah islusi yang diciptakan oleh iblis itu.
__ADS_1
"Aku tidak melihatnya, aku tidak melihatnya!" Madison menutup kedua mata rapat karena dia tidak mau meliat namun tangisan bayi yang tak henti terdengar membuat Madison merasa sangat bersalah dan ketakutan sehingga iblis yang ada di dekatnya, semakin sengaja menyerang kelemahan Madison dan akan membuatnya semakin ketakutan sehingga dia bisa menelan jiwa penuh dosa milik Madison.
Madison menangis dan berteriak histris, dia tidak berniat membunuh bayinya. Dia tidak berniat namun dosa yang dia lakukan, yang telah mengambil nyawa yang seharusnya memiliki kehidupan tidak bisa dia lupakan dan dosa itu akan menghantuinya sepanjang waktu akibat rasa bersalah karena dia sudah membunuh bayinya sendiri.