The House

The House
Butuh Kesempatan


__ADS_3

Kesempatan, itu yang dibutuhkan oleh Madison. Dia butuh kesempatan untuk menjauh dari Adel. Dia membutuhkannya karena dia ingin pergi ke lantai basemen yang gelap dan menakutkan itu. Meski dia takut tapi dia yakin dia akan menemukan jawaban di tempat gelap itu.


Iblis yang tanpa sengaja dia lepaskan, kemunculan Adel dari lantai basemen. Semua ada hubungannya dan dia yakin dia bisa mendapatkan sesuatu. Sesungguhnya dia takut, benar-benar takut dan jika memiliki pilihan dia tidak akan mau ke basemen lagi meski dia harus terkurung di sana untuk seumur hidup tapi dia harus melawan rasa takut itu nanti jika dia sudah memiliki kesempatan.


Yang membuatnya ingin ke lantai basemen bukan karena benda-benda yang ada di dalam ruangan tapi ruangan di mana iblis itu dilepaskan. Dia melihat ada sebuah ruangan lain di lubang itu. Dia curiga ada sesuatu di dalamnya dan dia harus mencari tahu tapi bagaimana dia harus menghindari Adel yang selalu mengikutinya tanpa henti?


Adel seperti biasa, duduk di dekat jendela. Madison pun sama. Mereka berdua menghabiskan waktu yang seperti itu tanpa berkata apa-apa, Madison sedang mencari alasan agar dia bisa keluar tanpa dicurigai oleh Adel dan agar Adel tidak selalu mengikuti dirinya.


"Apa kau lapar, Adel?" tanya Madison dan itu adalah pertanyaan paling bodoh.


"Kenapa kau bertanya demikian? Kau sudah tahu dan aku rasa kita tidak perlu pergi ke dapur untuk melihatnya lagi!"


"Dari pada kita hanya duduk diam saja, bagaimana jika kita membuat sesuatu untuk di makan?" mungkin dia bisa mengalihkan perhatian Adel dengan hal ini.


"Apa kau ingin membuat makanan dari bahan-bahan yang sudah busuk itu?" tanya Adel pula.


"Ayolah, kita cari jamur di sekitar hutan itu. Pasti ada apalagi hanya jamur saja!" ucap Madison.


"Kenapa, Madi? Apa kau sudah tidak takut lagi?" tanya Adel, yang sudah berpaling dan menatapnya dengan tatapan aneh yang tidak Madison ketahui dan seandainya dia melihat senyuman aneh itu pun, dia tidak ada akan pernah mengerti.


"Aku takut tapi tanpa melakukan apa pun lebih membuat aku takut. Aku takut kehampaan yang aku rasakan justru membuat aku cepat menjadi gila oleh sebab itu, ayo kita melakukan sesuatu meskipun gelap. Mungkin dengan melakukan sesuatu kita bisa melupakan ketakutan yang kita alami dan mungkin saja, kita bisa menemukan jalan keluar untuk pergi dari tempat ini!" ucap Madison. Sebisa mungkin dia harus mencoba membujuk Adel agar mau melakukan apa yang dia ucapkan karena dia berniat meninggalkan Adel ke hutan lalu kembali ke rumah itu seorang diri sehingga dia bisa masuk ke lantai basemen seorang diri.


Adel justru menatapnya dengan tatapan curiga. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Madison mendadak mengajaknya mencari jamur padahal sudah jelas-jelas tidak mungkin ada apalagi hutan itu sangat menakutkan.


"Tidak ada jamur jadi jangan melakukan hal yang sia-sia!" tolak Adel.

__ADS_1


"Ada, aku yakin itu. Hujan terus menerus turun tanpa henti, biasanya jamur akan tumbuh dengan cepat di tanah dan batang kayu yang lembab oleh sebab itu kita pasti menemukannya!"


Adel belum menjawab, dia justru sedang memikirkan perkataan Madison. Madi berusaha membujuk, dia butuh kesempatan. Benar-Benar butuh kesempatan.


"Ayolah, dari pada kita berada di kamar ini dan menjadi gila lebih baik kita melakukan hal yang menyenangkan!"


"Baiklah, tapi jika ada hantu di hutan itu, jangan meminta tolong padaku!" ucap Adel.


"Aku harap tidak ada!" Madi melihat ke arah hutan dan menelan ludah. Demi tujuan, dia harus melawan rasa takut yang dia rasakan.


"Baiklah, ayo pergi. Kau bawa pelita ini dan aku bawa yang lain!" ucap Adel.


"Terima kasih, Adel. Aku ingin kita berdua seperti sahabat pada umumnya dan mulai melakukan banyak hal yang menyenangkan agar kita bisa melawan rasa takut karena berada di rumah aneh ini!"


"Sebelum itu terjadi, aku harus memanfaatkan waktu karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah iblis itu mendapatkan jiwaku!"


"Baiklah, ayo kita pergi mencari jamur!" ucap Adel.


"Kau bersedia?" Madison tersenyum, kesempatan yang tidak boleh dia sia-siakan.


Pelita diambil, mereka berdua keluar dari kamar. Pelita yang lain diambil lalu dinyalakan dan setelah itu mereka keluar untuk mencari jamur. Hutan benar-benar sepi, tidak ada suara binatang hutan sama sekali. Sepertinya binatang malam pun tidak mau mendekati rumah itu.


Madison dan Adel melangkah mendekati hutan namun Madison berpaling sejenak karena tiba-tiba ingin melihat rumah itu. Rumah yang sangat gelap, rumah itu bahkan seperti monster yang menakutkan.


"Kau cari ke kanan dan aku cari ke kiri. Tidak perlu banyak-banyak dan setelah dapat, kita kembali!" ucap Adel.

__ADS_1


Madison mengangguk, ludah ditelan dengan susah payah. Adel sudah melangkah pergi, Madison pun melakukan hal yang sama namun dia berpaling sesekali untuk melihat ke arah Adel. Kesempatan, Adel sudah cukup menjauh jadi ini kesempatan untuknya kembali ke dalam rumah dan pergi ke lantai basemen. Madison bergerak dengan perlahan, agar tidak ketahuan oleh Adel dia mendekati rumah gelap itu dengan cara mengendap-endap namun dia tidak tahu jika para hantu yang ada di luar sana mengetahui apa yang sedang dia lakukan.


Angin kencang berhembus, asap-asap putih tampak keluar dari bawah tanah dan terbang ke atas. Kabut tebal mulai berkumpul, menjadi gumpalan asap tebal yang mulai menutupi atas tanah. Madison mengumpat, lagi-lagi hal seperti itu terjadi. Dia kembali melihat ke arah Adel yang sedang mencari jamur. Sejauh ini masih aman jadi dia harus bergegas. Madison kembali bergerak mendekati rumah, sedikit lagi dia tiba. Mendadak jantungnya berdebar saat satu kakinya menginjak anak tangga pertama. Masih aman namun dia tidak lagi melihat ke arah Adel oleh sebab itu dia tidak tahu apakah Adel masih berada di hutan untuk mencari jamur atau tidak.


Setelah melewati tangga pertama, Madison merasa jika dia pasti berhasil oleh sebab itu, dia berlari menuju pintu untuk masuk ke dalam.


"Kau berhasil, Madison!" ucapnya pada diri sendiri. Kedua tangan sudah berada di daun pintu, dia akan masuk ke dalam tapi entah kenapa mendadak pintu itu tidak bisa dia buka. Madison kembali mendorong tapi yang dia lakukan sia-sia. Pintu itu mendadak menjadi berat seperti ada puluhan batu yang menahannya.


"Sial, apa yang terjadi dengan pintu menyebalkan ini!" Madison masih berusaha mendorong sekuat tenaga tapi usahanya sia-sia akibat pintu yang begitu berat dan sepertinya rumah itu tahu apa yang hendak di lakukan dan dia rasa rumah itu tidak mengijinkan dirinya untuk pergi ke mana pun.


"Sial, kenapa begitu sulit membukanya?" Madison sangat kesal dan terus mendorong pintu yang mendadak tidak bis dibuka itu.


"Mau ke mana kau, Madison?" pertanyaan Adel mengejutkan Madison. Madi berpaling dan terkejut karena Adel sudah berada di belakangnya.


"Mau ke mana? Kenapa kau meninggalkan aku?" tanya Adel lagi.


"Mi-Minyak pelitaku sudah mau habis," dusta Madison.


"Benarkah?" Adel tampak tidak percaya.


"A-Aku tidak bohong!" jawab Madison.


"Baiklah, ini jamur yang kau inginkan!" Adel meletakkan jamur yang dia dapatkan lalu melangkah melewati Madison.


Madison diam namun dia terkejut saat Adel mendorong daun pintu dengan satu tangan dan membukanya dengan mudah. Mulut Madison menganga, bagus sekali. Rumah terkutuk itu benar-benar mempermainkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2