The House

The House
Teror Di Gudang Gelap


__ADS_3

"Adel," Madison kembali memanggil Adel yang mendadak hilang dari ruangan itu. Jika Adel membantunya mencari minyak yang mereka butuhkan pasti ada suara barang yang di geser atau apa pun tapi ruangan itu begitu sunyi dan sepi. Sungguh dia semakin curiga dengan Adel. Jangan katakan jika Adel sengaja membawanya ke dalam ruangan itu untuk menakuti dirinya karena Adel adalah budak si iblis.


Hawa dingin berhembus di bagian tengkuk, Madison mengusapnya karena bulu romanya meremang akibat hawa dingin yang tidak menyenangkan. Madison bahkan berpaling ke kanan lalu berpaling ke kiri seperti mencari sesuatu. Sial, perasaannya semakin tidak nyaman akibat hawa dingin itu. Sebaiknya dia segera mencari minyak yang dibutuhkan lalu keluar dari tempat itu. Sungguh dia tidak mau terlalu lama berada di dalam ruangan gelap yang menakutkan. Lagi pula Adel terkadang ada dan tidak, dia akan menampakkan diri nanti seperti biasanya.


Madison kembali melangkahkan kakinya dengan napas memburu, jantungnya berdegup cepat karena perasaan takut memenuhi hatinya. Angin dingin menerjang dirinya, itu karena sosok- sosok seram terbang dan menembus tubuhnya karena mereka menakuti Madison.


"Jangan takut, Madison. Jangan takut!" ucap Madison pada dirinya sendiri. Dia tahu jika dia semakin takut, maka iblis dengan sosok mengerikan yang meneror dirinya akan muncul lagi dan akan semakin senang dengan ketakutan yang dia rasakan.


Madison menarik napas, dia mencoba mengabaikan sosok mengerikan yang dia rasa ada tidak jauh darinya. Dia mulai mencari dari tumpukan barang yang ada di rak. Dia terus mencari namun tubuhnya membeku saat melihat sesuatu. Madi memejamkan kedua mata saat melihat wajah mengerikan dari balik kaleng cat yang sedang dia periksa.


"Kau tidak melihatnya, tidak melihatnya!" ucap Madison. Dia pura-pura sibuk dan mencari di tempat lain tapi benda yang tiba-tiba jatuh mengejutkan dirinya. Madison berteriak, namun dia tidak berani berpaling karena benda yang jatuh itu ada di belakangnya bahkan menggelinding di bawah kakinya.


Kedua kaki gemetar, Madison membasahi tenggorokannya yang terasa begitu kering. Dia bahkan tidak berani melihat ke bawah di mana dia bisa merasakan ada sesuatu benda yang menempel pada kakinya. Madison memejamkan mata, cukup satu langkah saja lalu dia akan lari namun kakinya tidak bisa dia gerakkan sama sekali.


"Kau bisa, Madison. Angkat dan lari!" dia kembali menyemangati dirinya sendiri agar dia bisa melakukannya namun sebelum dia bisa mengangkat kakinya yang gemetar hebat akibat takut, Madison harus dikejutkan oleh tangan yang mencengkeram kedua kakinya. Kedua mata Madison melotot, dengan perlahan dan perasaan takut Madison memberanikan diri untuk melihat apa yang sedang memegangi kedua pergelangan kakinya.


"Please, No. Please!" pinta Madison memohon dan ketika melihat tangan dengan kuku-kuku yang panjang dan mengerikan sedang mencengkeram kedua kakinya, Madison berteriak. Dia berusaha meronta dan memohon agar kedua kakinya dilepaskan namun tiba-tiba saja, kedua kakinya ditarik hingga terjatuh dan lagi-lagi Madison berteriak dengan keras.


"Tidak! Lepaskan kakiku!" Madison berusaha menggapai sesuatu, agar dia bisa menarik tubuhnya tapi sayangnya, tubuhnya sudah ditarik oleh makhluk yang tidak bisa dia lihat di kegelapan.

__ADS_1


"Tidak, lepaskan aku!" teriak Madison sambil berusaha menggapai apa pun. Kegelapan membuatnya buta, lampu emergency terjatuh ke atas lantai saat dia terjatuh sehingga dia hanya bisa melihat cahaya lampu yang semakin menjauh darinya.


"Lepaskan aku, aku mohon. Tolong lepaskan!" teriak Madison memohon. Tubuhnya entah ditarik ke mana, dia tidak tahu. Dia terus berteriak memohon sampai akhirnya kedua kakinya dilepaskan. Madison merangkak di atas lantai dengan cepat menuju cahaya dengan perasaan takut luar biasa. Air matanya bahkan mengalir akibat rasa takut, kedua kakinya terasa lemas sehingga dia tidak bisa berdiri dan jatuh beberapa kali.


Madison berjuang dengan susah payah hanya untuk mencapai lampu yang dia jatuhkan, dia terus berlari dan berlari sampai akhirnya dia mendapatkan lampu emergency yang ada di atas lantai. Madison berlari, dia harus keluar dari ruangan itu tapi dia kembali berteriak karena sosok mengerikan tiba-tiba muncul di hadapannya. Sosok itu berdiri membelakangi, Madison berhenti mendadak sehingga membuatnya terjatuh.


Lampu emergency kembali terjatuh dari tangan, Madison mengambil lampu itu dan memundurkan tubuhnya dengan cepat. Air mata semakin mengalir dengan deras, kedua mata melotot apalagi sosok itu berpaling dengan perlahan dan memperlihatkan senyumannya yang sangat menakutkan.


"Ma...di... son," namanya di panggil, Madison benci namanya di panggil seperti itu.


"Let me go, please," pinta Madison memohon dengan suara gemetar. Kedua tangannya pun gemetar hebat, begitu juga dengan kedua kakinya yang terasa lemas.


"I wan your soul, Madi," sosok seram itu mendekatinya dengan perlahan, senyum menakutkan masih dia perlihatkan. Madi tidak bisa bergerak, kini dia merasa ada yang memegangi kedua tangannya.


"Hi... Hi... Hi... Hi...!" tawa mengerikan justru dia dapatkan.


Kuku panjang iblis mengerikan itu sudah berada di wajahnya, Madison memejamkan kedua matanya dengan rapat. Lagi dan lagi, dia harus menghadapi situasi menyeramkan itu.


"Semakin hari, jiwamu semakin terasa nikmat, Madison," lidah panjang menjilati wajahnya, Madison merasa jika dia akan ditelan oleh makhluk mengerikan itu. Tidak, dia tidak akan membiarkan iblis itu mendapatkan jiwanya, dia tidak boleh kalah.

__ADS_1


Lampu yang ada di tangan di cengkeram dengan erat, Madison memberanikan diri untuk melawan rasa takut. Entah mendapatkan keberanian dari mana, Madison mengayunkan lampu itu ke sosok makhluk mengerikan yang ada di depan matanya.


"Pergi kau, iblis sialan!" teriaknya. Lampu itu mengenai iblis itu namun sosok itu asap hitam saja sehingga lampu yang dia ayunkan tidak mengenai apa pun.


"Kau seperti kucing kecil yang mulai melawan, Madison. Hi... Hi... Hi... Hi..!" perlawanan yang dia lakukan justru ditertawakan. Tidak saja tawa sosok itu yang terdengar, terdapat tawa lainnya di dalam ruangan itu sehingga tawa mereka menggema memenuhi ruangan.


"Pergi kalian semua, jangan mengganggu aku!" Madison menutup kedua telinganya agar dia tidak mendengar tawa mengerikan yang terdengar banyak.


"Bergabunglah dengan kami, Madison. Bergabunglah!"


"Tidak!" Madison berteriak, dia berusaha beranjak dan setelah itu Madison berlari melewati rak besi yang cukup tinggi.  Dia tidak peduli lagi dengan minyak, yang harus dia lakukan adalah keluar dari tempat mengerikan itu. Adel pun tidak ada, dia yakin Adel sengaja meninggalkan dirinya di dalam kegelapan yang mengerikan itu.


Madison terus berlari, makhluk yang ada di dalam gudang menampakkan dirinya sesekali untuk meneror dirinya. Teriakannya terdengar setiap kali Makhluk mengerikan itu menampakkan diri dan mempermainkan dirinya. Madison berlari tanpa tahu tujuan arah, mendadak dia merasa tersesat dan lupa dengan pintu keluarnya.


Ruangan gelap benar-benar membuatnya tidak bisa melihat apa pun. Dia berlari berputar di tempat yang sama. Madison sudah terlihat frustasi, para hantu itu benar-benar mempermainkan dirinya. Dia kembali berlari, dan berlari namun dia kembali lagi dan lagi ke tempat yang sama.


"Biarkan aku pergi!" teriak Madison namun dijawab dengan suara tawa.


"Hi... Hi... Hi... Hi... Hi...!

__ADS_1


"Ha... Ha.... Ha... Ha.... Ha...!"


Ketidakberdayaannya justru ditertawakan. Madison jatuh berlutut dan menangis dengan keras, apa dia benar-benar akan berakhir di rumah itu? Madison kembali berlari, dia harap menemukan jalan keluar dari ruangan gelap yang seperti mengurung dirinya.


__ADS_2