The House

The House
Semakin Curiga


__ADS_3

Perasaan sedih yang dia rasakan karena tidak ada yang peduli lagi membuat Madison melupakan teror mengerikan di rumah itu untuk sesaat. Dia memang sibuk melarikan diri dari teror-teror yang mengerikan dan lupa dengan para sahabatnya tapi entah kenapa malam ini dia justru teringat dengan mereka.


Apa yang dikatakan oleh Adel memang sangat benar tapi dia yakin para sahabatnya tidak seperti sahabat Adel karena mereka kecewa akibat perbuatan bodoh yang dia lakukan. Meski tidak ada yang peduli, dia tidak bisa menyalahkan para sahabatnya apalagi mereka memiliki kehidupan pribadi dan dia tidak boleh bersikap egois seolah-olah hanya dia saja yang membutuhkan perhatian dari mereka.


Dari pada sedih dan sok kecewa karena tidak ada yang peduli padahal semua akibat ulahnya sendiri sebaiknya dia mulai mencari informasi dari wanita yang ada di sampingnya itu. Dia harus mencoba mendekati Adel, mengorek informasi atas apa yang dia lihat dan mencari tahu lebih banyak dari wanita misterius itu.


"Sudahlah, jangan menangis seperti itu. percuma karena mereka tidak akan datang," ucap Adel.


"Kau benar, Adel. Mereka semua sama dan mereka tidak peduli denganku lagi," ucap Madison mengiyakan.


"Memang itu yang terjadi, kenyataan tidak selalu indah. Mereka semua adalah orang-orang munafik jadi kau tidak perlu berharap pada mereka."


"Aku tidak berharap. Sekarang katakan padaku, apa yang terjadi padamu di lantai basemen?" tanya Madison.


"Aku terkurung, tidak ada yang peduli padaku padahal semua sahabatku berada di luar sana."


"Kenapa kau terkurung, apa ada yang mengurungmu?" tanya Madison lagi.


Adel tidak menjawab, wanita itu justru memandanginya. Madison menunggu jawaban darinya, dia harap Adel menjawab namun suara keras dari luar mengejutkan mereka berdua. Suara itu tidak saja terdengar satu kali, suara itu bahkan terdengar beberapa kali.


"Apa itu?" tanya Adel.


"Aku tidak mau melihatnya!" tolak Madison.


"Jangan begitu, bagaimana jika ada binatang liar? Kita harus melihatnya!" ucap Adel.


Binatang liar? Madison ingin tertawa mendengarnya. Mana mungkin ada binatang di rumah itu karena tidak ada siapa pun yang ada di rumah itu selain mereka berdua dan dia yakin tidak ada binatang yang berani mendekat.


"Oh, tidak. Wolfy!" Adel beranjak dari tempat duduk.


"Wolfy? Bukankah kau berkata jika kau sudah membunuh dan membakarnya?" tanya Madison.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda saja, ayo bantu aku mencarinya. Dia pasti sudah kembali!" ajak Adel.


"Aku di sini saja!" tolak Madison karena dia tidak mau keluar dan mengalami hal menakutkan lagi.


"Jika begitu berikan aku pelitanya. Aku yang akan mencari Wolfy seorang diri!" pinta Adel.


"Apa? Aku tidak mau gelap-gelapan di dalam kamar!" tolak Madison.


"Aku tidak bisa lama, Madi. Bagaimana jika Wolfy menghilang lagi jadi berikan atau kau ikut denganku!" ucap Adel.


Madison sangat tidak mau keluar dari kamar itu tapi dia juga tidak mau sendirian di dalam kamar dalam keadaan gelap. Walau kamar itu saja yang aman tapi belum tentu para iblis itu tidak masuk ke dalam.


Mau tidak mau, Madison terpaksa untuk mengikuti Adel keluar untuk mencari anjingnya yang belum tentu ada di luar sana. Dia justru berharap jika Milo-lah yang ada di luar agar dia memiliki teman selain teman seperti Adel yang justru harus dia waspadai melebihi teror mengerikan yang ada di rumah itu karena sikap Adel yang sangat mencurigakan.


Adel berjalan di depan dengan pelita di tangan, sedangkan Madison mengikuti dan memegangi bahunya. Jangan sampai terpisah karena dia tahu hal buruk akan dia dapatkan lagi jika dia terpisah dengan Adel. Sekarang dia baru sadar, sepertinya hanya dirinya saja yang mendapatkan teror mengerikan sedangkan Adel tidak.


"Jangan menarik aku!" ucap Adel sambil menarik bahunya agar Madison tidak menarik bahunya.


"Aku tidak mau terpisah denganmu!" ucap Madison.


"Baiklah, tapi jangan jauh-jauh!" pinta Madison.


"Wolfy, di mana kau?" Adel memanggil anjingnya yang dia yakini ada di luar.


"Wolfy," Madison juga memanggil. Dia harap Adel segera menemukan Wolfy agar mereka bisa kembali ke dalam kamar karena dia ingin menyendiri untuk memikirkan banyak hal. Mereka terus mencari Wolfy di bawah kursi dan di tempat-tempat gelap. Madison mengusap tengkuk karena angin dingin mendadak berhembus mengenai dirinya.


"Adel, mungkin itu bukan Wolfy," ucap Madison.


"Itu pasti anjingku!"


"Bagaimana kau bisa tahu?"

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu!" Adel melangkah pergi untuk mencari anjingnya di tempat lain.


"Tunggu!" Madison hendak mendekati Adel namun angin dingin kembali berhembus mengenai dirinya.


"Hana?" Madison berbalik, entah kenapa dia merasakan keberadaan Hana di rumah itu namun di belakangnya tidak ada apa pun.


Madison melihat sekitar, suara langkah kaki kembali terdengar. Entah karena apa, Madison melangkah meninggalkan Adel yang masih mencari Wolfy. Walau gelap karena dia tidak membawa pelita, Madison melangkah menuju kamar dan membuka pintu. Madi berdiri di depan pintu dan menatap ke dalam kamar yang gelap gulita.


Dia merasakannya, dia merasa ada Hana di dalam sana. Tidak saja Hana tapi dia juga merasa ada Jeremy di dalam kamar itu.


"Hana, Jeremy," Madi memanggil kedua sahabatnya yang tidak dia lihat. Dia hanya merasakan jika ada mereka berdua di dalam kamar.


"Brakk!!" suara keras mengejutkan Madison. Madison berpaling, angin kembali melewatinya seolah-olah ada yang melewati dirinya namun tidak ada siapa pun.


"Hana, Jerry. Tunggu!" teriak Madison yang sudah berlari menuju pintu keluar. Dia yakin para sahabatnya ada di rumah itu.  Dia yakin mereka pasti datang untuk mencari keberadaannya oleh sebab itu Madison keluar dari rumah itu sambil berteriak memanggil kedua sahabatnya.


Aneh, tidak ada siapa pun. Dia sangat yakin jika dia merasakan keberadaan kedua sahabatnya tapi kedua sahabatnya tidak ada sama sekali. Madison menunduk, dia terlihat sedih. Ternyata benar-benar hanya perasaannya saja dan bodohnya dia, mana mungkin kedua sahabatnya bisa berada di sana?


Madison kembali masuk ke dalam, dia mencari keberadaan Adel yang masih mencari keberadaan Wolfy dan anehnya, Adel tidak menghilang seperti yang sudah-sudah. Sungguh semakin terasa aneh, jangan-jangan Adel sengaja tidak menghilang karena dia ingin menjadi mata-mata.


"Adel, apa kau menemukannya?" tanya Madison.


"Tidak, seperti yang kau katakan, sepertinya bukan Wolfy."


"Bagaimana dengan lantai basemen? Mungkin saja Wolfy ke sana untuk mencarimu karena dia mengira kau ada di lantai basemen," Madison menanyakan pertanyaan itu dengan sengaja.


"Wolfy tidak mungkin ada di basemen. Lupakan saja, dia tidak ada!" Adel sudah melangkah pergi menuju kamar.


Madison menatap punggung Adel, lalu dia melihat ke arah basemen. Kenapa dia semakin curiga saja?


"Cepat, Madi. Jangan sampai mereka menarikmu ke dalam basemen yang gelap itu karena mungkin saja kau tidak akan bisa keluar lagi dari sana sehingga kau mati dan membusuk di dalam basemen itu bersama dengan para iblis yang mengerikan!" ucap Adel.

__ADS_1


"Tidak, tunggu!" Madison berlari mengejar Adel karena dia takut. Dia tidak sudi berada di lantai basemen itu lagi dan mengalami kengerian yang tak bisa dia lupakan. Mulai sekarang dia tidak mau berada di dalam ruangan apa pun selain kamar karena dia tahu para iblis itu berada di tempat gelap dan sempit.


Madison dan Adel masuk ke dalam kamar tanpa menyadari jika suara yang dia dengar hanya untuk mengalihkan perhatiannya saja, mengalihkan dari sesuatu yang tidak boleh dia tahu sama sekali.


__ADS_2