The House

The House
Pintu Yang Tak Bisa Dibuka Dan Iblis Yang Kembali


__ADS_3

Jamur yang didapatkan oleh Adel dibersihkan, meski dia tidak lapar dan tidak tahu apakah jamur yang sedang dia cuci saat ini bisa dikonsumsi atau tidak, Madison tetap membersihkannya agar Adel tidak curiga. Adel berada di dapur, melihat apa yang sedang dia lakukan. Adel bahkan menatapnya dengan tatapan curiga karena sikap Madison yang sangat mencurigakan.


Madison berusaha untuk tidak melakukan kontak mata dengan Adel, dia merasa Adel mengetahui apa yang ingin dia lakukan oleh sebab itu Adel tidak pergi ke mana pun dan terus mengikutinya. Entah harus menggunakan cara apalagi, Madison benar-benar kehabisan akal.


"Apa kau yakin ingin memakan jamur itu?" tanya Adel.


"Kenapa? Ini bukan jamur beracun, bukan?" tanya Madison pula.


"Tentu saja tidak, jika memang tidak lapar untuk apa memaksakan dirimu?!" ucap Adel.


"Jika begitu pergilah, aku ingin menikmati waktuku agar aku tetap menjadi manusia normal pada umumnya meski aku terkurung di tempat ini!"


"Ck, apa yang kau lakukan sia-sia saja!"


"Kenapa kau berkata demikian, Adel? Seharusnya kau memberi aku semangat agar aku tidak merasa takut dan agar aku bersemangat untuk mencari jalan keluarnya!"


"Aku bukannya ingin menakuti tapi aku sudah melewati semuanya jadi aku tahu bagaimana rasanya dan yang kau lakukan saat ini hanya sia-sia saja!"


"Sekalipun yang aku lakukan adalah sia-sia, aku tidak mempermasalahkannya yang penting aku merasa jika aku masih hidup!" pisau diambil, Madison memotong jamur itu satu persatu. Dia berpura-pura tidak mempedulikan Adel dan sibuk dengan jamurnya.


"Terserah kau saja!" ucap Adel.


Madison diam saja, dia bisa merasakan Adel sedang melangkah pergi. Dia sangat senang, Adel akhirnya meninggalkan dirinya. Suara langkah kaki Adel terdengar, Madison memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan apakah Adel sudah pergi atau tidak dan dalam hitungan detik saja, suara langkah kaki Adel sudah tidak terdengar lagi.


Madison berpaling, melihat ke belakang. Adel sudah tidak terlihat lagi oleh sebab itu, Madison bergegas pergi dengan sebilah pisau di tangannya juga pelita. Yang dia tuju sudah pasti basemen, dia harap Adel tidak kembali dan melihat apa yang sedang dia lakukan.


Sejauh itu masih aman, Madison sudah berdiri di depan pintu basemen yang tertutup rapat. Pisau dicengkeram dengan erat begitu juga dengan pelita. Dia siap turun ke bawah, dia sangat siap oleh sebab itu Madison menarik pintu agar terbuka tapi sayangnya pintu itu tidak bisa dibuka sama sekali.


"Sial! Jangan katakan pintu ini juga sama seperti pintu tadi!" Madison masih mencoba menarik pintu tapi apa yang dia lakukan sia-sia. Padahal pintu itu tidak terkunci sama sekali apalagi pintu itu ditarik masuk, bukan didorong keluar. Aneh, rumah itu semakin aneh saja. Apa sebenarnya yang terjadi pada pintu-pintu yang ada di rumah itu?

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Madison masih menarik pintu dengan sekuat tenaga. Pelita bahkan dia simpan di atas lantai agar dia mudah menarik pintu itu tapi sekuat apa pun dia menarik pintu penghubung lantai basemen, dia tidak bisa membukanya.


"Sial, buka..buka pintunya!" Madison tidak peduli lagi, pisau yang ada di tangan pun dihujamkan ke atas daun pintu dengan emosi melanda. Entah apa yang terjadi karena semua pintu yang ada di rumah itu mendadak tidak bisa dia buka sama sekali padahal ini adalah kesempatan emasnya.


"Buka, sialan. Buka!" Madison masih saja menghujamkan pisau ke atas daun pintu yang terbuat dari kayu namun pintu itu tidak mendapatkan kerusakan yang berarti.


"Sial, sial!" dia hanya bisa mengumpat dan sesekali menarik daun pintu yang tidak bisa dia buka sama sekali. Semua yang terjadi benar-benar sulit dia pahami. Madison kembali menghujam daun pintu sambil berteriak dengan keras, "Buka pintu ini, sialan!" lalu ujung pisau yang runcing menancap pada daun pintu namun pada saat yang bersamaan, pelita yang ada di atas lantai mendadak padam.


Madison terkejut, buru-buru berbalik tapi rumah itu begitu gelap. Kini kedua kakinya gemetar, Madison masih berusaha membuka pintu lantai basemen tapi sia-sia.


Krriittttt! Suara yang sudah lama tidak dia dengar kini kembali dia dengar. Tadinya dia sangat berharap diganggu lagi agar dia bisa melarikan diri ke lantai basemen dengan sebuah pelita tapi kini, dia tidak memiliki pelita dan pintu basemen yang tidak bisa dia buka sama sekali membuatnya tidak bisa masuk ke dalam.


"Madi, di mana kau?" terdengar suara panggilan Adel.


Madi ingin menjawab namun suaranya mendadak tidak ada. Kedua kaki pun sulit dia gerakkan seolah-olah ada yang sedang memegangi kedua kakinya.


"Apa kau bersenang-senang, Madison?"  suara itu terdengar di telinga bagian kanannya, dia bahkan bisa merasakan ada yang menyentuh rambutnya dan memainkannya. Rasa takut kembali dia rasakan, napasnya pun memburu, rasanya sangat ingin lari dari tempat itu namun seperti ada yang mencegah.


"Jiwamu semakin menggoda saja, Madison," kuku panjang menyentuh lehernya lalu bermain di wajahnya.


"Pe-Pergi!" pinta Madison dengan suara gemetar.


"Pergi?" mendadak sosok yang tidak bisa dia lihat itu sudah berada di hadapannya. Meski dia tidak bisa melihat namun dia bisa merasakan sosok itu berada tepat di depan wajahnya.


"Aku akan pergi setelah mendapatkan jiwamu, Madison. Hi... Hi... Hi.. Hi...!" permintaannya justru ditertawakan.


"Aku tidak sudi!" teriak Madison. Meski dia tidak bisa melihat namun Madison menghujamkan pisau yang ada di tangan ke depan dan berharap mengenai iblis yang selalu menginginkan jiwanya itu namun dia tidak mengenai apa pun.


"Apa yang kau lakukan sia-sia saja, Madison. Sia-sia! H.. Ha.... Ha... Ha....!" tawa mengerikanya menggema memenuhi rumah itu.

__ADS_1


"Diam kau, diam!" kini pisau yang ada di tangan disabetkan ke udara. Madison melangkah maju sambil menyabetkan pisaunya. Dia juga berteriak agar makhluk yang mengganggunya segera pergi dan jangan mengganggu dirinya lagi.


"kau akan segera bergabung dengan kami, Madison. Akan segera bergabung!"


"Tidak akan, tidak akan!" Madison terus melangkah maju sambil mengayunkan pisaunya, "Aku tidak takut dengan kalian lagi, aku tidak takut!" teriaknya.


"Jangan menipu diri, Madison. Sesungguhnya kau takut, kau takut apalagi para sahabatmu tidak peduli lagi padamu lagi. Kau takut tapi kau menipu dirimu sendiri!"


"Diam kau, diam!" teriak Madison.


"Oh, Madison yang malang. Jeremy telah membencimu lalu Hana juga membenci dirimu," iblis itu mulai menyerang kelemahannya.


"Kau memang pantas membusuk di dalam neraka, Madi!" teriakan iblis itu kembali terdengar. Bagaikan ada beberapa iblis yang sedang menyerang kelemahannya agar rasa takut itu kembali lagi padanya.


"Diam!" teriak Madison.


"Kau hanya penipu, Madison!" iblis itu terasa ada di dekatnya dan terbang mengitarinya.


"Kau penipu, Madison. Kau bilang ingin sembuh dari pengaruh obat tapi kau membawa obat itu. Lihatlah apa yang telah kau perbuat?" bisik iblis itu yang masih saja menyerang perasaan bersalah Madison yang sudah menipu para sahabatnya dan yang telah membuat mereka kecewa.


"Kau sudah menipu mereka Madison, oleh sebab itu mereka membenci dirimu dan meninggalkan dirimu di rumah ini. Mereka tidak peduli lagi padamu, tidak peduli!" teriak iblis itu lantang.


"Diam.. Diam... Diam!" Madison jatuh berlutut sambil menutup kedua telinganya.


"Hana membenci dirimu, Madison. Dia tidak peduli lagi padamu!"


"Hana tidak membenci aku, tidak membenci aku!" teriak Madison.


Madison menangis dengan keras. Dia sangat menyesal, benar-benar menyesal karena sudah menipu para sahabatnya dengan membawa obat terkutuk itu. Tawa iblis-iblis itu terdengar menggema, mereka menertawakan keadaan Madison yang sedang menyesali perbuatannya. Madison menangia meraung, dia tidak peduli dengan apa pun lagi dan para iblis itu menertawakan dirinya tanpa henti hingga membuat Madison putus asa.

__ADS_1


__ADS_2