
Adel membawa Madison meringkuk di sisi ruangan. Suara-Suara mengerikan terdengar dari luar sana, pintu pun digebrak dengan keras bahkan tawa mengerikan masih terdengar dari luar sana. Adel menangis ketakutan, lengan Madison dipeluk dengan erat akibat rasa takut yang dia rasakan.
Madison juga takut seperti dirinya tapi satu hal yang dia sadari, dia berada di ruang basemen yang paling tidak ingin dia datangi lagi apalagi tanpa adanya cahaya apa pun. Suasana begitu gelap, Madison bahkan tidak bisa melihat wajah Adel yang berada di dekatnya. Sekarang dia memiliki problem baru, dan dia harus melawan rasa takutnya berada di tempat itu.
"Ma...di.. son, where are you?" namanya di panggil dan suara itu terdengar dekat. Madison menahan napas, berharap keberadaannya tidak diketahui oleh sosok yang kembali menerornya lagi.
"Come on, Madi. Come to play with me," suara itu seperti bisikan, napas Madison masih tertahan tapi satu hal yang tidak dia sadari akibat rasa takut, sosok itu hanya mencari dirinya saja, tidak dengan Adel.
"Aku tahu kau sedang bersembunyi, Madi. Apa ini caramu bermain denganku?" sosok seram itu terasa semakin dekat, itu terdengar dari suaranya. Madison menutup mulut dengan rapat dan memundurkan tubuhnya secara perlahan. Kini dia merasa Adel tidak ada di sampingnya lagi. Rasanya ingin memanggil Adel tapi dia takut iblis mengerikan itu menemukan keberadaan dirinya.
"Where are you, Madi?" sosok itu seperti tidak tahu keberadaan dirinya tapi sesungguhnya dia tahu karena dia ingin bermain dengan Madi.
Madison mengumpat dalam hati, Adel benar-benar makhluk mengerikan yang datang dan pergi. Jika wanita itu muncul lagi, akan dia pukul untuk membuktikan apakah Adel manusia atau hantu.
"Ma.. di.. son. I can smell you, Madi."
"No, please. Let me go!" pinta Madison dalam hati. Dia berusaha untuk memundurkan tubuhnya namun dia sudah membentur dinding sehingga dia tidak memiliki ruang untuk bergerak.
"Madi, kemarilah!" terdengar suara bisikan Adel.
"Adel?" Madi terdengar tidak percaya wanita itu masih berada di sana.
"Cepat, ke arah kanan!" ucap Adel pelan.
Madi bergeser dengan perlahan, dia berharap makhluk mengerikan itu tidak mengetahui keberadaannya tapi sayangnya, dia justru merasa jika dia sudah ketahuan.
__ADS_1
"Di sana kau rupanya, Madi!" sosok yang sedari tadi bermain-main dengannya justru sudah menemukan keberadaan dirinya. Jantung Madison berdegup kencang, jujur saja dia sangat takut apalagi di situasi yang gelap gulita sehingga dia tidak bisa melihat apa pun itu. Madi memejamkan kedua matanya, dia merasa ada yang mengendus wajahnya bahkan sebuah kuku panjang bermain di wajahnya.
"Aku menginginkan jiwamu, Madi. Semakin hari jiwamu semakin terasa lezat dan aku sudah tidak sabar untuk melahapnya!" sebuah lidah panjang menjilati wajah Madison. Madison berteriak, rasa takut melanda dirinya. Seolah-olah mimpi yang dia alami menjadi nyata, rasa yang dia takutkan tidak jauh berbeda dengan rasa takut yang dia alami waktu itu. Madison memohon sambil menangis, dia benci situasi seperti ini apalagi harus dia alami sepanjang hari di rumah aneh dan menakutkan itu.
"Tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini!" pintanya di sela tangisannya.
"Kau tidak akan bisa pergi ke mana pun, Madi," ucapan itu terdengar, lalu sebuah kuku panjang kembali bermain di wajahnya. Tubuh Madi gemetar ketakutan, suaranya bahkan tidak bisa dia keluarkan. Ruangan gelap yang membuatnya tidak bisa berbuat apa pun, membuat otaknya secara otomatis membayangkan hal mengerikan yang ada di depan matanya dan karena hal itu, membuat perasaan takut yang dia alami semakin menjadi.
Seringai mengerikan terukir di wajah mengerikan yang ada di kegelapan. Semakin Madison ketakutan, semakin cepat jiwanya bisa ditelan dan dia akan bergabung dengan yang lainnya.
"Yes, Madison. Teruslah merasa takut seperti itu. Jiwamu akan semakin terasa lezat, Madi," bisik sosok mengerikan yang tidak bisa dia lihat sama sekali.
"Please, let me go!" Madison hanya bisa menangis ketakutan, dia harap ada yang membantu dan bisa membawanya pergi dari tempat itu.
"Tidak!" Madi berteriak sambil menutup telinga. Suara tawa menggema di lantai basemen bahkan barang-barang yang ada di sana berbunyi tanpa sebab. Ada yang beterbangan dan jatuh menghantam lantai, ada pula yang menghantam tubuh Madison. Suara laci yang di buka tutup, suara pintu-pintu lemari yang ada juga tak henti terdengar sehingga membuat Madison semakin ketakutan.
Bagaikan ada gempa berkekuatan besar yang melanda, Madison merasa semua benda yang ada di dalam ruangan itu bergerak sehingga menimbulkan suara gaduh. Suara benda itu pun diiringi dengan suara tawa sosok mengerikan yang sedari tadi tidak melepaskan dirinya.
"Pergi dariku, aku lelah dengan semua ini. Aku lelah!" ucap Madison sambil menangis. Madison sudah meringkuk di atas lantai, kedua telinga masih tertutup dengan rapat.
"Pergi dariku!" teriaknya lantang dan pada saat itu juga, suasana gaduh mendadak hening namun sosok yang belum bisa dia lihat di kegelapan mendekati dirinya, melayang di atas tubuhnya. Madi bisa merasakan rambut dari sosok itu jatuh dan mengenai wajahnya. Dia pun bisa merasakan kuku panjang berada di wajah tapi kini kuku itu menggores wajahnya sehingga membuat Madi merasakan perih.
"Berikan jiwamu Madison, maka kau tidak akan mengalami hal mengerikan seperti ini lagi!"
"Jangan, Madi!" terdengar suara teriakan Adel tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Adel?" Madi memanggil, wanita misterius yang terkadang ada dan terkadang tidak ada itu.
"Jangan menyerahkan jiwamu padanya, Madi. Kau akan membusuk di dalam neraka untuk selama-lamanya jadi jangan berikan jiwamu padanya!" teriak Adel lagi.
"Diam kau!" iblis itu terdengar marah lalu suara teriakan Adel terdengar dan dia seperti sedang kesakitan karena memang saat itu, tubuh Adel melayang di antara langit-langit ruangan serta dengan leher yang tercekik karena iblis itu memang sedang mencekik lehernya.
"Pergi, aarrgg...!" Adel kesulitan bicara akibat leher yang tercekik.
"Adel, di mana kau?" Madison panik luar biasa, dia mencoba meraba untuk mencari keberadaan Adel tapi usahanya sia-sia.
"Adel!" Madison kembali berteriak memanggil.
"Pergi, tangga di sebelah kiri!" ucap Adel dengan susah payah.
"Budak yang lancang!" iblis itu terdengar marah, suara teriakan Adel kembali terdengar.
"Lari Madi!" teriak Adel lagi.
Madison tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia berlari dalam gelap untuk mencari tangga. Benda-Benda yang ada di atas lantai mempersulit dirinya, Madison jatuh beberapa kali akibat tersandung, teriakan kesakitan terdengar akibat kakinya menginjak sesuatu.
"Jangan lari kau, Madison!" iblis itu benar-benar marah namun Madison tidak peduli meski dia kembali menginjak sesuatu. Madi berlari untuk mencari anak tangga dengan istingnya. Cahaya petir di luar sana dapat dia lihat dari ujung tangga karena pintu yang tidak tertutup. Madison merangkak menaiki anak tangga dengan kedua telapak kaki bercucuran darah. Suara teriakan penuh amarah terdengar memenuhi lantai basemen yang gelap gulita.
"Aku akan membakarmu, membakarmu menjadi serpihan dan kau tidak akan mati!" iblis itu benar-benar marah.
Madison terus merangkak naik di setiap anak tangga, sedikit lagi. Sedikit lagi dia akan berhasil mencapai pintu dan setelah dia berhasil, pintu basemen tertutup dengan sendirinya lalu suara teriakan Adel terdengar dari bawah sana. Tubuh Madison gemetar hebat, apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi? Perasaan takut benar-benar melanda dirinya, mendadak kekuatannya sirna dan teriakan Adel yang kesakitan lambat laun terdengar menjauh karena Madison jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1