The House

The House
Tidak Ada Cara


__ADS_3

Sebatang lilin sudah menyala, Madison dan Adel duduk di hadapan lilin itu. Mereka berdua diam namun suara langkah kaki terdengar di luar sana di susul dengan suara pintu yang terbuka dan tertutup. Madison tidak mau mempedulikannya bahkan dia merasa jika hanya dia saja yang mendengar suara-suara aneh tersebut.


Adel sudah terlihat biasa saja, dia bahkan tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa pun sebelumnya. Mereka memangĀ  belum mulai berbicara, entah harus memulai dari mana tapi semua mendadak berubah apalagi suasana terasa mencekam.


Api lilin bergerak ditiup oleh angin, udara begitu dingin karena hujan yang tak kunjung berhenti. Kilat pun menyambar di atas langit, meski tidak ada suara petir tapi cahaya kilat sangatlah tidak menyenangkan apalagi awan gelap menyelimuti langit sehingga membuat pagi seolah-olah tidak ada lagi. Sampai sekarang Madison tidak tahu jam berapa, dia pun tidak tahu sudah berapa hari dia berada di rumah itu dan tidak tahu apakah hari sudah berganti atau tidak.


Api lilin semakin bergerak akibat hembusan angin yang masuk melalui jendela. Madison beranjak, mendadak dia merasa tempat aman yang ada di rumah itu hanyalah kamar itu saja karena hal-hal mengerikan selalu terjadi di luar apalagi lantai basemen yang menakutkan dan mengerikan.


"Ke mana anjingmu, Adel?" tanyanya basa basi setelah merapatkan daun jendela serta menutup gorden.


"Wolfy akan menemani aku saat aku sedang butuh."


"Kalian benar-benar datang dari dimensi yang sangat berbeda denganku. Katakan sudah berapa lama kau berada di rumah ini dan apa yang telah terjadi denganmu?" Madison kembali duduk di dekat Adel. Ini kesempatan langka dan dia harus memanfaatkan kesempatan langka itu sebaik mungkin.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu!" jawab Adel.


"Apa maksudmu tidak tahu?" tanya Madison.


"Aku tidak tahu, semua yang ada di rumah ini membuat aku bingung. Aku tidak tahu apa pun lagi saat aku terjebak di rumah ini!" jawab Adel.


"Apa yang terjadi padamu, Adel? Kenapa kau bisa berada di rumah ini dan kenapa kau terkadang ada dan terkadang kau pergi? Kenapa kau selalu berada di lantai basemen padahal ruangan itu menakutkan!"

__ADS_1


"Seperti dirimu, Madi. Aku juga dipenuhi oleh dosa dan aku justru jatuh semakin dalam sehingga iblis itu mendapatkan aku dan menjadikan aku sebagai budaknya. Aku lelah, aku tidak bisa pergi ke mana pun dan rumah ini, mengikat aku untuk selamanya!"


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Adel?" kini Madison ingin tahu masa lalu Adel yang membuatnya harus berada di rumah itu dan terjebak di dalamnya.


Adel menatap Madison, dia seperti enggan mengatakan apa yang telah terjadi padanya dan dia pun enggan mengatakan dosa-dosa yang dia lakukan dulu karena dosa-dosa itulah, dia justru menjadi budak dari si iblis yang bersemayam di rumah angker itu.


"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu?" tanya Madison yang semakin ingin tahu.


"Aku adalah seorang pembunuh, Madi," Adel menunduk sedangkan Madison terkejut.


"Aku pembunuh, aku mencuri lalu aku membunuh orang-orang yang menghalangi jalanku. Aku bahkan membunuh siapa saja dan yang paling aku sesalkan adalah, aku membunuh kedua orangtuaku dan adikku sendiri!"


"Apa?" Madison terkejut mendengar perkataan Adel.


"A-Apa yang kau lakukan, kenapa kau membunuh keluargamu, Adel?" rasanya tidak ingin percaya tapi memang ada yang melakukan hal itu.


"Aku tidak ingat tapi aku melakukannya tanpa ragu. Aku membunuh mereka sambil tertawa, aku merasa jika yang aku lakukan sangatlah menyenangkan bahkan aku merasa ingin lagi dan lagi!" ekspresi wajah Adel berubah, Madison memundurkan tubuhnya karena dia takut melihat ekspresi wajah Adel yang mendadak seperti psikopat.


"Aku masih mengingatnya, mengingat bagaimana aku membunuh ibuku. Aku menusuk jantungnya lalu menggorok lehernya. Rasanya luar biasa!" Adel kembali terlihat menakutkan bahkan wajahnya lebih mengerikan dari pada hantu yang mengejar Madison selama ini. Kedua mata Adel bahkan melotot, dia tampak menikmati setiap perkataan yang dia ucapkan. Madison semakin ketakutan, sekarang tidak saja terjebak dengan iblis yang menakutkan tapi dia juga terjebak dengan psikopat yang menakutkan walau Adel seperti tidak nyata.


"Aku membakar mereka, Madison. Aku membakar mereka. Ha... Ha.... Ha...!" Adel tertawa dengan penuh kepuasan.

__ADS_1


"Oleh sebab itu aku dikurung di basemen gelap dan terkutuk itu!" teriak Adel lalu tawa mengerikannya terdengar.


"Ji-Jika begitu katakan padaku apa yang terjadi dengan rumah ini agar aku menemukan cara untuk keluar dari rumah ini!" pinta Madison. Dia tidak mau membicarakan masa lalu Adel lagi karena apa yang dia katakan sangat menakutkan.


"Tidak ada cara, Madison. Aku juga sama seperti dirimu, berusaha menemukan cara untuk keluar dari rumah terkutuk ini agar aku bisa membalas mereka tapi aku tidak menemukan caranya!" jawab Adel.


"Tidak mungkin tidak ada, Adel. Pasti ada caranya, aku yakin itu!"


"Tidak ada, sejak awal tidak ada caranya. Kau akan membusuk di sini bersama denganku dan kita berdua akan abadi di dalam rumah ini!" ucap Adel.


"Kau bohong, aku yakin pasti ada caranya!" Madison sungguh tidak percaya jika tidak ada caranya.


"Sudah aku katakan tidak ada!" teriak Adel dan teriakannya membuat Madison takut.


"Aku sudah berusaha, aku mencari jalan keluar tapi aku kembali lagi dan lagi sehingga aku terjebak di rumah ini. Apa kau kira aku diam saja selama ini? Aku bahkan telah melakukan banyak hal tapi semuanya sia-sia!"


"Baiklah, jika begitu katakan padaku apa yang terjadi dengan rumah ini? Kenapa rumah ini begitu menyeramkan dan sosok yang ada di luar sana?" Madison memeluk lengan, jujur saja dia sangat takut jika mengingat iblis yang mengejarnya dan rasa takutnya semakin menjadi karena dia bersama dengan psikopat yang entah masih hidup atau sudah menjadi arwah. Semua yang terjadi di rumah itu sulit dia percaya dan ucapan Adel pun entah benar atau tidak.


"Mana aku tahu, aku terkurung di rumah ini. Itulah yang aku tahu jadi jangan banyak bertanya, aku tidak bisa mengatakan terlalu banyak padamu! Jika kau ingin tahu, carilah tahu seorang diri karena aku tidak memiliki hak apa pun untuk mengatakan padamu!" jawab Adel sinis.


Madison memperhatikan Adel dengan penuh selidik, mendadak Adel menjadi orang lain. Dia tidak seperti Adel yang penakut sebelumnya bahkan dia merasa sikap Adel pun jadi berubah setelah dia menceritakan kisahnya yang adalah seorang psikopat.

__ADS_1


Tidak ada lagi pertanyaan dari Madison, dia justru duduk di sisi ruangan dan memandangi air hujan yang tak juga kunjung berhenti. Sebaiknya dia tidak banyak bertanya, sebaiknya dia mencari tahu sendiri. Sekarang dia mendadak curiga dengan Adel. Jangan-Jangan wanita itu adalah budak yang ditugaskan untuk memantau gerak geriknya tapi untuk apa?


Iblis tidak butuh hal seperti itu, iblis bisa melihat apa saja dan dia tidak percaya Adel ditugaskan untuk mengawasi. Sungguh, dia semakin sakit kepala karena memikirkan hal itu apalagi semua yang sedang dia alami entah nyata atau tidak bahkan dia masih berpikir jika apa yang dia alami selama ini hanyalah halusinasi semata karena obat-obatan yang dia konsumsi. Semoga dia tidak gila, dia sangat berharap Hana atau Jeremy atau sahabatnya yang lain datang mencarinya dan dia harap Milo segera dia temukan agar dia tetap waras dari semua kejadian gila yang dia alami.


__ADS_2