
Hana dan kedua sahabatnya sudah kembali ke rumah untuk mengeringkan tubuh. Mereka sudah berganti pakaian dan duduk di depan perapian untuk menghangatkan diri. Mereka menunggu tim penyelamat selesai mengevakuasi Madison dari dasar tebing yang cukup dalam.
Hana menangis tiada henti, Jeremy dan Erick hanya diam sambil melihat perapian. Tidak ada yang bersuara, mereka justru tenggelam dalam perasaan bersalah karena sudah meninggalkan Madison di tempat terpencil itu seorang diri namun di antara kedua pria itu, Hana adalah orang yang paling merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Madison.
"Seharusnya kita membawa Madison pulang saat itu juga, Jeremy. Mungkin dengan demikian Madison tidak akan berakhir seperti itu!" ucap Hana dengan penuh penyesalan.
"Jangan menyesal seperti itu, Hana. Kita berdua tidak tahu apa yang akan terjadi padanya oleh sebab itu jangan menyalahkan diri sendiri!" hibur Jeremy.
Hana menangis tersedu, dia benar-benar menyesal. Padahal Madison sudah mengatakan jika ada yang menakuti dirinya saat malam, padahal Madison sudah menunjukkan jika dia takut tapi mereka tidak peka sama sekali dan masih saja meninggalkan Madison.
Madison pasti dikejar oleh penjahat oleh sebab itulah dia lari ke hutan dan jatuh terperosok ke dalam jurang. Tidak ada dugaan lain selain hal itu karena mereka tidak merasakan keangkeran rumah tersebut dan mereka pun tidak merasakan keberadaan iblis di rumah itu padahal sesungguhnya yang terjadi bukanlah demikian.
Meski Hana dapat merasakan kehadiran Madison tapi dia masih saja tidak bisa melihat keberadaan Madison. Mereka menunggu tim evakuasi karena para petugas itu berkata akan membawa Madison ke rumah itu nanti.
"Sekarang bagaimana, apa kita harus memberitahu keluarganya akan keadaan Madison?" tanya Erick.
"Sudah pasti harus, bukan? Bagaimanapun kedua orangtuanya harus tahu jika Madison sudah tiada," jawab Jeremy.
"Aku yang akan menghubungi mereka, tolong berikan ponselku," pinta Hana.
Meski kedua orangtua Madison benci dengan Madison dan telah membuangnya, tapi mereka harus tetap tahu. Erick sudah memberikan ponsel Hana, Hana menatap ke arah kedua sahabatnya sebelum menghubungi kedua orangtua Madison.
Hana pun melihat ke arah lain, seperti melihat sesuatu. Entah kenapa dia selalu merasa jika Madison bersama dengan mereka saat ini. Apa hanya perasaannya saja ataukah arwah Madison benar-benar sedang bersama dengan mereka saat ini?
"Siapa ini?" terdengar suara seorang wanita dan itu adalah ibu Madison.
__ADS_1
"Ini aku, Hana. Aku sahabat baik Madison," jawab Hana.
"Ada apa? Jangan katakan apa pun tentang Madison karena aku tidak mau mendengar apa pun lagi tentangnya!" ucap ibu Madison.
"Maaf, Aunty. Tapi aku rasa kau harus tahu jika Madison meninggal akibat jatuh dari tebing," ucap Hana.
"Apa, meninggal?" Hana mengira ibu Madison terkejut seperti itu lalu akan bersedih tapi semua yang terjadi di luar dugaannya karena suara tawa ibu Madison justru terdengar nyaring.
"Apa kau bilang? Dia meninggal?" tanya ibu Madison di sela tawanya.
"Kenapa kau tertawa, Aunty? Apa kau tidak peduli dengannya?" tanya Hana.
"Tidak, aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Dia hanya anak yang membuat masalah, aku tidak peduli dengannya lagi. Bagus jika dia mati, dia tidak akan mempersulit serta mempermalukan kami lagi. Jika kau memang sahabat baiknya, kuburkan saja dia dengan layak. Tidak perlu mengatakan apa pun padaku karena dia sudah lama mati bagiku!"
"Sudahlah, kita yang akan memakamkannya dengan layak. Mungkin mereka sudah teramat sangat kecewa pada Madison oleh sebab itu, kita yang akan memakamkan Madison!" ucap Jeremy.
Hana mengangguk, mereka memang harus memakamkan Madison dengan layak. Mereka kembali diam, sambil menunggu kabar dari tim penyelamat yang masih mengevakuasi Madison di tengah cuaca yang semakin buruk saja.
"Aku ingin membuat minuman," ucap Hana seraya beranjak.
Hana melangkah menuju dapur, namun langkahnya terhenti. Hana mengusap tengkuknya, dia merasa ada yang mengikuti dirinya. Hana bahkan berpaling untuk melihat siapa yang ada di belakangnya tapi dia tidak mendapati siapa pun.
"Aneh!" gumam Hana yang kembali melangkah. Dia tidak tahu jika Madison sedang berusaha memanggil dirinya.
Cuaca yang begitu buruk membuat mereka menunggu cukup lama. Tim evakuasi yang mengalami kesulitan akibat lebatnya pohon dan besarnya pohon-pohon yang tumbuh di hutan semakin mempersulit mereka untuk mengangkat Madison ke atas.
__ADS_1
Hujan yang tadinya deras sudah berhenti namun cuaca masih saja buruk karena langit yang begiu gelap dan petir menyambar-nyambar di atas sana. Hana dan kedua sahabatnya menunggu di luar, hari sudah beranjak sore tanpa mereka sadari dan mereka tidak bisa terlalu lama lagi berada di sana karena mereka harus segera kembali.
"Kenapa tim penyelamat belum juga selesai?" tanya Hana.
"Mereka pasti sedang berusaha, mungkin saja sebentar lagi akan selesai!" ucap Jeremy.
"Jika begitu sebaiknya aku membereskan semua barang-barang milik Madison. Kita harus membawa semuanya karena tidak mungkin kita meninggalkan semua barang miliknya di sini."
"Lakukanlah, kita berdua akan membantu!" ucap Erick.
Mereka sepakat untuk membereskan semua barang-barang milik Madison. Buku-Buku yang mereka bawa serta pakaian tidak mereka lupakan. Obat penenang serta makanan Milo juga tidak mereka lupakan. Hana melihat tempat tidur Milo sambil menitikkan air mata. Milo benar-benar anjing yang setia bahkan dia menemani Madison ke mana pun Madison berada sampai akhir hayat. Semoga saja Milo sudah bersama dengan Madison saat ini dan semoga saja Madison sudah tenang dan damai karena dia tidak perlu tersiksa lagi akibat obat-obatan terlarang.
"Guys, mereka sudah berhasil membawa Madison!" ucap Jeremy yang mendapatkan kabar terlebih dahulu karena dia sedang memasukkan barang-barang milik Madison yang akan mereka bawa.
Hana dan Erick berlari keluar, kali ini mereka sudah bisa melihat keadaan Madison. Hana yang masih berharap Madison dalam keadaan baik-baik saja berlari lebih cepat. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk mlihat keadaan Madison.
Jalanan yang licin tidak dia pedulikan, dia terus berlari tiada henti meski hampir jatuh sesekali. Erick dan Jeremy memintanya berhati-hati, jangan sampai terjadi hal buruk pada Hana akibat tidak sabar. Mereka bertiga bergegas menuju helikopter yang sedang menurunkan tubuh Madiso dengan perlahan dari sebuah tandu.
"Madi, Madison!" teriak Hana.
"Sabar, Nona. Tunggu kami selesai menurunkannya," dua orang petugas menahan Hana agar Hana tidak gegabah.
Hana menahan diri, dia sudah sangat ingin melihat namun tandu masih diturunkan dengan perlahan ke atas tanah. Jeremy dan Erick sudah berdiri di sisi hana, mereka berdua ingin melihatnya oleh sebab itu ketika tandu sudah berada di atas tanah dan tali yang mengikat sudah dilepaskah, mereka bertiga langsung berlari menghampiri Madison.
Hana berteriak dengan keras, tubuh Madison yang dingin dipeluk dengan erat. Tangisan akan kepergian sahabat baiknya terdengar menyayat hati. Jeremy dan Erick berjongkok di sisi Hana untuk menenangkan Hana. Mereka pun terlihat sedih, meski Madison sudah mengambil jalan yang salah tapi dia tetaplah sahabat baik mereka. Sesungguhnya apa yang terjadi? Tidak ada yang tahu jawaban dari pertanyaan itu karena tidak ada yang melihat dan tahu apa yang telah terjadi di rumah itu.
__ADS_1