The House

The House
Jangan Sampai Tertipu


__ADS_3

Suasana sudah kembali seperti semula tanpa Madison sadari. Keadaan rumah sudah gelap gulita seperti sedia kala. Madison bahkan masih pingsan di teras rumah itu. Dia baru saja melihat sesuatu yang akan memberikan jawaban atas apa yang terjadi jika dia memikirkannya dengan baik dan jika dia menganggap apa yang dia lihat adalah sebuah petunjuk.


Tangan Madison berada di kepala saat dia sadar. Tidak ada apa pun yang bisa dia lihat karena gelap. Madison meraba lantai seperti mencari sesuatu, dia pun belum mengingat apa pun. Tubuhnya terasa membeku, itu karena dia berbaring di sana cukup lama dengan cuaca yang cukup dingin.


"Madi, di mana kau?" terdengar suara teriakan Adel dari dalam rumah. Dengan menggunakan satu tangan, Madison menumpu tubuhnya karena dia hendak bangun dari atas lantai yang dingin.


"Madi!" Adel kembali berteriak memanggil.


"Aku di luar!" jawab Madison. Apa yang terjadi dengannya? Madison mengusap bagian kepalanya yang terbentur, dia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi dengannya. Pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya. Adel keluar dari ruangan dengan sebuah pelita, dia segera berlari menghampiri Madison yang terlihat masih linglung.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau berada di luar?" tanya Adel.


"A-Aku," Madison seperti orang linglung.


"Aku menunggumu di dalam kamar sedari tadi tapi kau tidak ada. Apa yang kau lakukan di luar dan kenapa kau duduk di atas lantai yang dingin?"


"Aku terjatuh," jawab Madison.


"Terjatuh? Apa yang kau lakukan di luar dan mana pelitamu?"


"Uhm," Madison melihat ke atas lantai di mana pelitanya berada. Dia masih terlihat linglung, Adel mendekatinya dan berjongkok di dekatnya. Pelita diletakkan di atas lantai, Adel mengusap lengan Madison.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Adel.

__ADS_1


"Tidak, aku pikir hendak menyalakan perapian dan mencari kayu bakar tapi aku terjatuh karena lantai yang licin," dusta Madison.


"Bodoh, kenapa kau tidak mengajak aku? Kenapa kau harus melakukannya seorang diri?"


"Aku pikir aku tidak lama tapi lantai begitu licin sehingga aku terpeleset tanpa sengaja," dusta Madison.


"Sudahlah, ayo masuk ke dalam. Kau penakut, jangan sampai kau melihat sesuatu yang tidak nyata sehingga kau menganggap apa yang kau lihat itu nyata!" Adel hendak membantu Madison tapi Madison mengambil pelitanya terlebih dahulu. Dia kira akan terjadi kebakaran tapi api pun tidak berniat menghancurkan rumah itu. Tapi apakah benar? Tidak ada yang tidak habis oleh api tapi rumah itu seperti memiliki pertahanan sendiri. Padahal api sudah di dekat minyak, tidak mungkin tidak menyambar. Sungguh luar biasa.


"kau lihat itu, kau membuang-buang minyak padahal kau tahu persediaan minyak kita sudah tinggal sedikit!"


"Maafkan aku," Madison tampak tidak enak hati karena dia sudah membuang minyak yang sangat mereka butuhkan.


"Lain kali jika ingin mencari kayu atau apa pun ajak aku!" ucap Adel.


"Tentu saja, apa kau mempercayai apa yang kau lihat, Madi? Kau jangan sampai tertipu karena apa yang kau lihat itu tidak nyata. Kau hanya berhalusinasi dan kau sedang dibuat bingung oleh para iblis itu agar kau semakin lemah sehingga jiwamu begitu mudah diambil olehnya jadi jangan percaya dengan apa yang kau lihat begitu saja karena itu bisa menyesatkan dirimu!"


"Baiklah, terima kasih atas nasehatmu. Berarti suara langkah kaki dan suara-suara aneh yang aku dengar tidaklah nyata."


"Benar, rumah ini menyimpan banyak misteri jadi jangan mudah tergoda oleh penglihatan apa pun. Aku sudah menjalaninya begitu lama dan aku mengerti dengan apa yang kau alami. Sekarang masuk ke dalam, nanti kita cari kayu bersama!"


Madison mengangguk mengiyakan, jadi semua penglihatan yang dia lihat barusan adalah tipu muslihat iblis? Apakah yang diucapkan oleh Adel adalah benar? Kejadian buruk yang dia alami secara berulang-ulang, apa itu juga tipu muslihat iblis? Rasa takut yang dia rasakan, apakah semua itu tidak nyata dan Adel yang ada di depan matanya ini, apa juga tidak nyata?


Tidak, semua kejadian yang dia alami secara berulang-ulang memang ingin membuatnya semakin ketakutan. Iblis itu menginginkan jiwa lemahnya, dia yakin iblis akan melakukan apa pun untuk membuatnya semakin ketakutan dan penglihatan yang dia lihat, mungkin saja ada yang ingin membantunya. Apa pun itu dia harus mencari tahu apa arti dari penglihatan itu.

__ADS_1


Madison sudah masuk ke dalam bersama dengan Adel, mereka duduk di depan perapian sambil membakar buku yang Madi bawa agar mereka merasa hangat. Seharusnya dia melakukan hal itu tanpa perlu berada di luar tapi jika dia melakukannya, apa dia akan mendapatkan penglihatan aneh itu?


"Sudah berapa lama kau terkurung di rumah ini, Adel?" tanya Madison.


"Entahlah, waktu terasa berhenti bagiku. Seperti yang kau alami saat ini, aku juga mengalaminya. Semuanya gelap, tidak ada cahaya. Sinar matahari tidak aku lihat lagi setelah hari itu. Aku berusaha pergi dari rumah ini tapi aku kembali lagi dan lagi. Tidak ada tempat bagiku, aku sudah terikat dengan rumah ini. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa berada di rumah terkutuk ini!"


"Kau tidak ingat?" Madison memandangi Adel sejenak lalu kembali merobek lembaran buku sebelum melemparkannya ke dalam api.


"Entahlah, sudah aku katakan aku tidak ingat sama sekali. Segala situasi yang aku alami selalu sama. Kau pun akan berasakah hal yang sama yaitu tidak tahu sudah berapa lama kau berada di rumah ini!"


"Jika begitu katakan padaku, bagaimana kau bisa berada di rumah ini? Aku yakin kau tidak mungkin tinggal di rumah ini sebelumnya karena letak rumah ini cukup jauh dari kota dan jauh dari mana pun!" tanya Madison lagi.


"Kenapa kau bertanya demikian?" Adel menatapnya dengan tatapan curiga.


"A-Aku hanya ingin tahu saja. Tidak mungkin kau terlempar dari dimensi lain, bukan? Kau pasti datang dari suatu tempat, pasti kau datang ke sini dengan sebuah alasan. Jadi katakan, kenapa kau bisa berada di rumah ini?" sungguh dia sangat ingin tahu.


"Entahlah, aku tidak tahu!" Adel menghela napas, dia tidak ingat datang dari mana.


"Apa maksudmu tidak tahu? Apa kau hilang ingatan?" Madison semakin penasaran.


"Aku memang tidak tahu, aku selalu terbangun di basemen yang gelap. Apa yang aku alami selalu terjadi secara berulang-ulang. Aku tidak tahu dari mana aku datang, kenapa aku bisa berada di sini dan kenapa aku bisa terkurung di rumah ini. Aku juga seperti dirimu, mengalami hal yang sama tanpa henti. Yang aku ingat hanya bagaimana aku membunuh adikku dan kedua orang tuaku saja. Hanya itu yang aku ingin dan apa kau tahu bagaimana rasanya? Aku benar-benar gila menghadapi setiap situasi yang sama!"


Adel menunduk, dia tampak sedih. Madison hanya memperhatikan, semua yang dia lihat di rumah itu tidak nyata, itu yang Adel katakan namun dia yakin apa yang dia dengar dari Adel bukanlah halusinasinya saja. Tawa Adel mulai terdengar, semakin lama semakin keras. Madison menutup kedua telinga dengan rapat, sepertinya Adel ingin membuatnya gila seperti dirinya dan dia harus bisa menemukan cara sebelum dia menjadi gila seperti Adel.

__ADS_1


__ADS_2