
Gelap, hanya ada kegelapan saja yang dialami oleh Madison selama dia berada di rumah itu. Dia lupa kapan terakhir dia melihat cahaya, dia pun lupa kapan dia makan dan minum yang pasti dia sudah tidak melakukannya lagi setelah dia kembali dari hutan.
Kegelapan itu tidak akan pernah berakhir dan dia tidak tahu bagaimana dia bisa melarikan diri dari kegelapan yang terus menyelimuti dirinya sepanjang waktu. Dia sudah lelah dipermainkan, benar-benar lelah dipermainkan oleh kegelapan juga iblis yang selalu mengejar dirinya.
Seandainya dia sedang bermimpi, dia harap segera terbangun dari mimpi buruk yang tak kunjung usai. Lelah dengan semua yang terjadi. Madison tidak bisa lagi berpikir jernih. Lagi dan lagi, dia kembali lagi ke rumah terkutuk itu. Seolah tidak ada jalan, dia tidak tahu harus bagaimana lagi mencari jalan keluarnya karena setiap kali dia lari, pada akhirnya dia kembali lagi dan lagi ke rumah terkutuk itu.
Apakah dia masih hidup? Ataukah dia sudah mati? Dia benar-benar tidak tahu lagi. Madison berada di atas lantai yang dingin, dia belum sadarkan diri akibat kejadian buruk yang selalu saja menimpa dirinya. Rumah itu hidup, seperti tidak mengijinkan Madison pergi dari tempat itu. Mungkin saja rumah itu memang selalu mengambil mangsa yang datang ke rumah itu dan dia adalah orang sial yang mendatangi rumah itu tanpa tahu apa pun.
Guk... Guk... Guk...! Suara gonggongan anjing menyadarkan Madison. Dia terbangun, Madison kira dia akan mendapatkan kegelapan lagi yang tidak menyenangkan tapi ternyata, tidak ada kegelapan lagi. Barang-Barang yang seharusnya terbang akibat ulah Adel, ternyata berada di tempatnya. Tidak ada satu pun barang yang rusak dan berantakan.
Madison beranjak dengan terburu-buru, dia sangat senang. Ternyata hanya mimpi saja, ternyata semua yang dia alami hanya mimpi saja. Madison tertawa dan melihat kedua telapak tangan, dia bahkan memegangi wajahnya. Semua yang dia alami mimpi, benar-benar mimpi.
Guk.. Guk.. Guk! Suara gonggongan anjing kembali terdengar, Madison buru-buru berlari menuju datangnya suara, itu pasti Milo. Anjing kesayangannya pasti tidak mati. Milo pasti masih hidup dan sedang bermain di luar sana. Hantu yang dia lihat juga tidak ada. Adel hanya sosok palsu yang ada di dalam mimpinya. Semua yang dia alami pasti hanya mimpi.
"Milo!" Madison berteriak memanggil anjingnya, dia sangat yakin jika yang sedang bergonggong saat itu adalah Milo.
Madison berlari keluar dengan wajah berseri, dia sangat berharap melihat Milo namun anjing yang ada di depan rumah tampak asing. Itu bukan anjing ras Chihuahua seperti Milo, anjing itu seperti anjing pelacak. Anjing itu bergonggong ke arah rumah, seperti melihat sesuatu yang tidak dia sukai. Madison mengerutkan dahi, dia bahkan berpaling ke belakang untuk melihat apakah ada orang lain atau tidak di belakangnya namun tidak ada siapa pun. Madison kembali berpaling, melihat ke arah anjing yang masih saja menggonggong dan ketika seorang pria asing yang tidak dia kenal menghampiri anjing itu, Madison tampak keheranan. Siapa pria itu? Pertanyaan itu muncul di hati Madison.
Suara gonggongan anjing masih saja terdengar, anjing itu bahkan menggeram melihat ke arahnya. Madison melangkah mundur, dia jadi takut pada anjing itu. Madison benar-benar heran dan bertanya dalam hati, dari mana datangnya anjing dan pria itu?
__ADS_1
"Apa yang kau lihat?" pria itu memegangi kalung anjingnya agar tidak lari. Anjing itu tidak saja menggeram namun menggonggong tiada henti. Pria itu bahkan melihat ke arah Madison tapi dia seperti tidak melihat Madison berdiri di sana.
"Apa yang kau lihat?" pria itu kembali menanyakan hal yang sama pada anjingnya yang semula jinak.
Madison semakin dibuat tidak mengerti, entah kenapa dia kembali melihat kedua telapak tangannya. Apa yang sedang terjadi? Apa dia berada di dunia lain yang diciptakan oleh Adel lagi? Madison melangkah masuk dengan terburu-buru, dia juga menutup pintu karena dia takut anjing yang ada di luar masuk ke dalam dan menggigitnya.
"Apa lagi yang sedang terjadi padamu, Madi?" tanya Madison pada diri sendiri. Dia benar-benar tidak mengerti dan tidak paham. Apakah ada satu orang saja yang menjelaskan padanya apa sebenarnya yang sedang terjadi dengannya?
Madison berdiri di depan jendela, menatap keluar. Dia pun mencoba mengingat apa yang sedang terjadi padanya di rumah itu. Dia ingat jika dia melarikan diri setelah membakar Adel namun dia kembali ditarik ke dalam rumah itu lagi. Seharusnya dia berada di dalam kegelapan dan membusuk dengan Adel tapi apa yang sedang terjadi dengannya? Apa dia masih berada di waktu yang sama setelah dia ditarik masuk ke dalam rumah itu?
Di saat dia sedang dilanda dengan rasa kebingungan, Madison terkejut melihat Jeremy dan Hana yang melangkah mendekati rumah tersebut. Madison sangat senang, ekspresi wajahnya terlihat berseri. Dia benar-benar sudah sangat merindukan kedua sahabatnya meski keadaan Hana terlihat aneh.
"Hana, Jeremy," Madison melangkah menuju pintu, dia sangat senang apalagi saat daun pintu terbuka dan ketika Hana juga Jeremy masuk ke dalam.
"Tolong maafkan aku, Jeremy. Aku tahu aku salah, aku tahu tidak seharusnya aku membawa obat terkutuk itu padahal aku sudah berniat untuk sembuh. Tolong maafkan aku, aku benar-benar tidak berniat menipu kalian berdua!" ucapnya lagi namun Hana dan Jeremy berlalu pergi, seperti tidak mempedulikan dirinya.
Madison sangat heran. Apa Hana dan Jeremy tidak mau mempedulikan dirinya lagi akibat rasa kecewa yang mereka rasakan? Tidak mau menerka lagi karena lelah dengan semua itu, Madison berlari mengejar Hana dan Jeremy yang masuk ke dalam kamar.
"Apa kalian tidak mendengar aku? Apa kalian mengabaikan aku karena kalian masih merasa kecewa padaku?" teriak Madison.
__ADS_1
"Sudahlah, Hana. Jangan menyalahkan dirimu," ucap Jeremy seraya mengusap punggung Hana untuk menghiburnya. Hana seperti menangis, dia pun seperti menyesali akan seuatu.
"Semua salahku, Jeremy. Seharusnya aku tidak meninggal dirinya. Seharusnya tidak!" ucap Hana.
"Apa yang sedang kalian lakukan, ada apa ini?" tanya Madison tidak mengerti namun kedua sahabatnya hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.
"Hana, Jeremy, semua ini tidaklah lucu. Jangan menakuti aku seperti ini!" ucap Madison.
"Kenapa kalian mengabaikan aku?" teriaknya namun tidak ada yang mendengarkan dirinya.
"Aku di sini, Hana. Aku berada di depan matamu. Apa kalian sengaja ingin menakuti aku karena aku sudah menipu kalian?" teriak Madison lantang. Air mata sudah berderai, dia tidak suka dengan sikap diam yang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu. Dia tidak suka kedua sahabatnya mengabaikan dirinya seperti itu.
"Please, jangan perlakukan aku seperti ini. Sudah cukup bercandanya. Aku minta maaf, aku minta maaf padamu Jeremy. Aku bersumpah tidak akan menyentuh obat terkutuk itu lagi. Aku bersumpah pada kalian berdua karena aku benar-benar ingin berubah jadi tolong maafkan aku, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal!" Madison jatuh terduduk sambil menangis terisak. Dia sangat berharap kedua sahabatnya mendengar apa yang dia katakan dan dia harap kedua sahabatnya tahu betapa besar penyesalan yang dia rasakan setelah kejadian itu.
"Tolong maafkan aku dan jangan tinggalkan aku lagi. Bawa aku pergi dari rumah mengerikan ini, aku akan menjalani rehabilitasi untuk sembuh jadi tolong bawa aku pergi dari tempat menakutkan ini!" pinta Madison. Dia sangat berharap Hana dan Jeremy menjawab lalu membawanya pergi dari tempat itu tapi mereka berdua masih saja seperti tidak mendengarnya dan tidak melihat keberadaan dirinya.
Madison sangat kesal. Apa kesalahan yang dia perbuat begitu fatal sehingga membuat kedua sahabatnya begitu membenci dirinya dan tidak mau menganggapnya ada?
"Kenapa kalian berdua diam saja?! Jawab aku, Hana. Jawab aku, Jeremy!" pinta Madison sambil berteriak tapi aneh, sekeras apa pun dia berteriak, sekeras apa pun dia memanggil kedua sahabatnya, mereka berdua masih saja seperti tidak melihat keberadaan dirinya.
__ADS_1
Madison beranjak, apakah mereka berdua nyata? Ataukah dia yang tidak nyata? Karena dia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dan kenapa sedari tadi Hana dan Jeremy tidak menyadari serta mendengarkan apa yang dia ucapkan, Madison melangkah maju dengan perasaan takut.
"Hana," Madi memanggil Hana yang masih menangis lalu memegangi bahu Hana namun tangannya tidak bisa menyentuh Hana karena tangannya menembusi tubuh Hana. Madison melangkah mundur dengan ekspresi ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Apakah dia kembali berhalusinasi? Apakah kedua sahabatnya itu tidak nyata ataukah dia yang tidak nyata?!