
Madison berlari sekuat tenaga untuk keluar dari lantai basemen. Meski gelap gulita, dia berlari menuju tangga menggunakan instingnya. Adel yang menginginkan jiwanya hari itu juga terbang menembus lantai dan mengejarnya. Madison tidak akan pernah lolos karena Madison sudah menjadi bagian dari rumah itu meski dia belum mendapatkan jiwa Madison.
Barang-Barang yang ada di rumah itu beterbangan akibat kekuatan Adel. Madison berlari mendekati tangga namun pada saat itu, sebuah benda berat melayang ke arahnya dan menghantam tubuhnya dengan keras. Madison berteriak, akibat benturan benda itu membuat tubuhnya terpental dan membentur dinding.
"Kau tidak akan bisa lari, Madison. Tidak akan bisa mau seberapa kerasnya kau berusaha!" ucap Adel.
"Pergi kau, iblis!" teriak Madison.
"Larilah sekuat tenagaku, kau pasti akan kembali lagi dan lagi!" teriak Adel dan lagi-lagi, sebuah benda terbang dan menghantam tubuh Madison.
Madison yang tidak ingin menyerah kembali berlari, dia tidak peduli dengan benda-benda terbang yang menghantam tubuhnya karena yang dia inginkan lari dari kengerian itu. Dia pun akan membakar rumah itu, mungkin dengan demikian jiwa Adel akan lenyap bersama dengan hancurnya rumah tersebut,
"Teruslah lari, Madison!" suara Adel terdengar tidak jauh darinya.
Tangga terakhir sudah dicapai, Madison berlari keluar dari lantai basemen. Dia pergi ke dapur untuk mencari pemantik api. Madison meraba di atas meja dan menjatuhkan beberapa benda sehingga berantakan. Madison panik luar biasa, dia terus meraba meja karena dia ingat jika pemantik api ada di sana.
"Ma..di..son," Adel kembali memanggil namanya.
"Iblis gila sialan!" umpat Madison sambil meraba sampai akhirnya dia dapat menemukan keberadaan pemantik api yang dia butuhkan.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Madison kembali berlari mengikuti instingnya. Apa pun akan dia lakukan untuk keluar dari rumah terkutuk itu. Suara tawa Adel terdengar nyaring, Adel sepertinya mempermainkan dirinya dan mempermainkan rasa takut yang dia miliki.
"I can smell you, Madi," ucap Adel. Kejadian yang pernah terjadi kini dia alami lagi. Semua kejadian yang dia alami di rumah itu memang seperti diulang namun dengan situasi yang berbeda dan semua itu terjadi tanpa Madison sadari.
"Aku juga bisa mencium bau busuk jiwa jahatmu!" teriak Madison.
__ADS_1
"Percuma kau lari, Madison. Bergabunglah dengan para sahabatku yang tidak berguna. Bergabunglah dengan mereka!" Adel mengangkat kedua tangan, suasana mendadak semakin mencekam. Tawa-Tawa mengerikan dari para hantu yang ada di luar sana terdengar, suara ketukan dan garukan kuku di kaca kembali terdengar. Benda-Benda yang ada di dalam ruangan kembali terbang lalu menghantam tubuh Madison.
"Kau iblis pengecut, Adel!" teriak Madison. Apa yang dia alami sudah berada diambang batas. Seandainya dia bisa memukul Adel, dia pasti sudah memukulnya sampai kepalanya hancur.
Keadaan gelap membuat Madison tidak bisa menghindari benda yang terus menghantam tubuhnya. Satu persatu benda yang diterbangkan oleh Adel tak bisa dia hindari, Madison berusaha menyalakan pemantik api karena dia ingin mencari drum minyak yang ditaruh Adel entah ke mana.
"Menyerahlah, Madison. Bergabunglah dengan kami!"
"Hanya iblis yang akan bergabung denganmu dan aku, bukan Iblis!" jawab Madison sambil berteriak lantang. Madison terus mencari keberadaan drum minyak sambil berusaha menghindari benda yang melayang ke arahnya. Benda itu ternyata berada tidak jauh darinya dan sepertinya benda itulah yang menghantam tubuhnya. Tanpa membuang waktu, Madison berlari mengambil drum tersebut.
Kini apa yang dia inginkan sudah berada di tangannya. Madison segera berlari keluar karena dia ingin melakukan apa yang dia mau. Penutup drum minyak dibuka, Madi menuang minyak ke atas lantai sambil melangkah mundur.
Adel muncul dari kegelapan dengan wajah yang mengerikan. Dia tidak mencegah Madison melalukan apa yang dia mau, dia pun tidak menutup pintu sehingga membuat Madison bisa keluar dengan mudah. Adel ingin melihat Madison putus asa karena apa pun yang dia lakukan akan sia-sia saja.
"Aku akan membakarmu dengan rumah ini!" ucap Madison seraya melempar drum kosong ke atas lantai.
"Aku tidak peduli!" Madison melangkah mundur, pemantik api sudah menyala. Dia menunggu Adel berada di tengan-tengah minyak yang ada di atas lantai barulah dia akan melemparkan pemantik api itu.
Bagaikan tahu apa yang dipikirkan oleh Madison, Adel melihat lantai yang basah oleh minyak. Seringai jahat kembali menghiasi wajahnya dan setelah itu, Adel terbang ke tengah-tengah minyak lalu berhenti. Madison pun tidak menyia-nyiakan kesempatan karena memang itulah yang dia inginkan. Pemantik api yang sedari tadi menyala dilemparkan ke arah Adel dan pada saat itu, Bruussshhhh!! Api menyambar lantai yang dipenuhi oleh minyak lalu menyambar ke tubuh Adel.
"Matilah kau dalam api itu!" teriak Madison namun suara tawa Adel justru terdengar.
"Hi.. Hi... Hi...," Adel mengangkat wajahnya lalu dia kembali tertawa dengan keras, "Ha.. Ha... Ha.. Ha..!" tawanya semakin keras padahal tubuhnya terbakar oleh api.
Madison melangkah mundur, tidak mungkin. Apa yang dia lihat tidak mungkin terjadi karena Adel tidak bisa terbakar bahkan api yang menjilati lantai serat membakar tubuhnya, padam seketika. Tawa Adel semakin nyaring terdengar, Madison tidak mempercayai apa yang dia lihat.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Madison memilih melarikan diri. Dia harus lari dari dunia yang kemungkinan diciptakan oleh Adel dan dia terjebak di dalamnya. Angin bertiup dengan kencang, asap tebal menyelimuti hutan yang Madison lalui. Madison berpaling, melihat ke arah belakang. Madison berlari sekuat tenaga menghindari Adel juga iblis yang mengejar dirinya.
"Jangan, jangan mengejar aku!" teriak Madison.
Angin semakin bertiup kencang, asap tebal pun semakin menyelimuti hutan. Dedaunan kering yang ada terbang ditiup oleh angin. Madison terus berlari, berlari dengan sekuat tenaga. Dedaunan kering seperti mengejar dirinya, suara bisikan mengerikan terdengar di telinganya.
"Bergabunglah... Bergabunglah dengan kami!" suara bisikan itu terus terdengar sehingga membuat Madison semakin ketakutan.
"Tidak, biarkan aku pergi Adel!" Madison kembali berteriak ketakutan. Dia tidak peduli dan terus lari, lari dari sesuatu yang terus mengejarnya namun sesuatu itu tidak terlihat.
"Kau tidak akan bisa lari, Madison!" teriak Adel dan suara teriakannya menggema di dalam hutan.
"Hi.. Hi... Hi... Hi!" tawa mengerikan dari para iblis yang mengejarnya juga menggema di dalam hutan. Madison terus berlari, napasnya pun sudah memburu. Dia tidak tahu sudah berlari seberapa jauh tapi dia harus lari sejauh mungkin.
Dia semakin tampak panik, asap tebal menghalangi pandangannya dari hutan yang hanya disinari oleh sinar bulan saja. Madison berlari semakin kencang mungkin namun naas, dia harus terjatuh karena kakinya tersandung akar pohon. Dia hendak beranjak namun sesosok wanita dengan wajah mengerikan berdiri tepat di hadapannya.
"Tidak! Biarkan aku pergi, Adel. Biarkan aku pergi!" pintas Madison memohon sambil memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Kau harus menjadi bagian dari kami, Madison, Kemarilah!" sosok mengerikan Adel kembali berteriak sehingga suaranya melengking di tengah hutan.
"Tidak, aku tidak mau!" Madison terus memundurkan tubuhnya namun dia dikejutkan oleh akar pohon yang tiba-tiba menjerat lehernya.
"Kau akan bergabung dengan kami, hi.. hi.. hi...!" suara mengerikan terdengar banyak, teriakan Madison kalah oleh suara tawa mengerikan itu. Tubuhnya ditarik oleh akar pohon yang menjerat lehernya, menariknya kembali ke rumah yang baru saja dia tinggalkan.
"Tidak, aku tidak mau!" Madison hanya bisa berteriak nyaring saat tubuhnya ditarik masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Aku tidak mau!" teriak Madison keras namun pada saat itu. Brraaakkkk!! Angin kencang sudah menutup daun pintu rumah tersebut. Suasana di luar mendadak sunyi, tapi suara teriakan Madison terdengar dari dalam rumah. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Madison, tidak ada pula yang melihat apa yang sedang dia alami secara berulang-ulang.
"Lepaskan aku!" teriakan Madison terdengar begitu keras namun tidak ada suara apa pun dan keadaan hutan kembali sunyi seperti tidak terjadi apa pun sebelumnya. Pada akhirnya dia kembali lagi dan lagi ke dalam rumah terkutuk itu tanpa bisa menemukan jalan keluarnya.