
Suasana yang mencekam dan kegelapan yang tak kunjung berhenti kembali datang. Asap tebal menyelimuti rumah tersebut. Ranting-Ranting pohon yang sudah mati bergerak digoyang oleh angin kencang. Suara-Suara gaduh kembali berdengar bahkan kegelapan menyelimuti sehingga membuat Madison ketakutan.
Meski dia sudah tahu semua suara itu dari Adel juga dari para antek-anteknya yang selalu mengejarnya namun rasa takut itu masih saja tetap dia rasakan. Madison berlari keluar dari rumah dengan sebuah pelita, dia pasti bisa menemukan jalan keluarnya karena Hana dan kedua sahabatnya bisa datang dan juga bisa pergi berarti dia juga bisa menemukan jalan keluarnya untuk pergi dari tempat itu.
Madison yang belum tahu jika dia sudah mati, tidak berputus asa untuk mencari jalan keluar dari rumah terkutuk dan mengerikan itu. Seperti Hana dan yang lainnya bisa pergi, dia pun bisa pergi dari rumah mengerikan dan penuh dengan teror itu.
"Tolong biarkan aku pergi, biarkan aku pergi!" teriak Madison yang berlari melewati jalanan setapak yang mendadak ada.
Pelita yang ada di tangan tak dilepaskan, Madison terus berlari ke jalan setapak yang tampak berputar. Angin kencang berhembus di belakangnya, asap tebal pun menggulung-gulung di atas tanah seperti mengikuti dirinya. Dedaunan kering pun mengikuti angin yang berhembus, seperti mengejarnya.
Suara bisikan-bisikan terdengar dari hutan, Madison berpaling dan terkejut mendapati sosok-sosok putih yang melambai ke arahnya. Mereka seperti mengajak Madison untuk bergabung dengan mereka.
"Kau tidak akan bisa lari dariku, Madison!" teriakan Adel terdengar.
"Kau hanya jiwa terkutuk, aku tidak akan tunduk padamu sampai kapan pun juga!" teriak Madison yang terus berlari menyelusuri jalan yang berkabut.
"Run... Run, Madison!"
"Hi.... Hi.... Hi.... Hi....!" tawa itu menggema ke seluruh hutan.
Madison terus lari dan lari, dia tidak peduli dengan apa pun. Suara tawa yang mengerikan, pepohonan yang bergerak ditiup oleh angin pun seolah hidup. Madison terus berlari menyelusuri jalanan setapak, suara-suara tawa mengerikan terus terdengar mengikutinya dari belakang.
"Aku pasti bisa pergi, aku pasti bisa pergi dari rumah dan hutan terkutuk ini!" ucap Madison yang terus mempercepat larinya.
__ADS_1
"Come on, Madison. Come with us," ucap Adel yang terbang mengikuti dirinya.
"Pergi, kau. Pergi!" teriak Madison.
"Hi... Hi.... Hi... Hi...!" suara tawa kembali terdengar, para iblis itu terus mengejar dan mengikuti Madison.
"Sial.... Sial!" teriak Madison karena dia kehilangan jalan setapak yang baru saja dia lalui. Madison mulai kebingungan, dia berlari berputar karena dia mulai tersesat di hutan yang mendadak membingungkan. Madison berlari ke kanan, lalu dia berlari ke kiri. Lagi, lagi-lagi dia tersesat di hutan dan lagi-lagi kejadian yang pernah dia alami kembali dia alami.
"Apa yang kau inginkan dariku?" teriak Madison putus asa.
"I wan your soul," ucap Adel yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Kuku-Kuku Adel berada di bawah leher Madison dan menggores bawah leher Madison.
"Pe-Pergi kau!" pinta Madison. Kedua mata melirik ke arah kanan di mana Adel sedang mengendus wajahnya. Sosok mengerikan Adel terlihat, wajah menakutkannya membuat tubuhnya gemetar. Kedua kaki pun gemetar, keringat mengalir dari dahinya. Adel tersenyum lebar, menyadari ketakutan yang dialami oleh Madison.
"Menyerahlah, Madison. Serahkan jiwamu padaku," bisik Adel.
"Kau tidak akan bisa pergi, Madison. Seberapa keras kau berlari, kau tidak akan pernah bisa pergi dariku!" ucap Adel lagi, kini tangannya sedang menggores wajah Madison.
"Kau tidak akan pernah mendapatkan aku!" setelah berkata demikian, pelita yang berada di tangan dipukulkan ke belakang sehingga mengenai Adel tapi Adel berupa kabut hitam tipis.
"Kau tidak akan bisa lari, Madison. Kau tidak akan bisa lari!"
"Aku muak dengan perkataanmu itu!" teriak Madison yang sudah berlari pergi. Dia tidak peduli dengan apa pun lagi meski tersesat asal dia bisa menemukan jalan keluar di mana dia bisa kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Madison yang terus berlari tanpa sengaja mendengar suara gonggongan anjing. Apa lagi sekarang, apa semua itu halusinasi?
Guk... Guk....! Suara gonggongan semakin nyaring terdengar.
"Milo!" ucap Madison, Itu suara gonggongan Milo, dia tidak salah dan dia yakin itu adalah suara gonggongan Milo. Madison mempercepat larinya, dia sudah sangat senang karena mendengar suara Milo. Milo pasti masih hidup tapi ketika dia melihat rumah yang sudah dia tinggalkan, Madison tertawa dengan keras.
Apa? Lagi-Lagi dia sudah kembali ke rumah itu lagi. Madison tidak tahu lagi, dia hampir putus asa. Adel sudah berada di depan mata, dia seperti sedang menunggu Madison. Adel memperlihatkan seringai lebar dan menakutkannya, seperti yang selalu dia ucapkan, Madison tidak akan pernah bisa pergi karena dia sudah terikat dengan rumah itu dan dirinya.
"Pergi kau, iblis!" Madison melemparkan pelita yang ada di tangan, lalu berlari pergi namun sekeras apa pun dia berlari, dia selalu diikuti dan dikejar oleh iblis-iblis yang menakutkan. Iblis itu terbang di antara pepohonan, tertawa cekikikan.
Mereka menertawakan usaha Madison yang sia-sia, mereka seperti memperolok dirinya. Madison sudah merasa lelah, dia pun sudah kehilangan arah. Semakin jauh dia berlari, para hantu yang ada di hutan pun berkumpul dan menertawakan dirinya.
Sesuatu bergerak cepat di atas tanah, saat Madison menghentikan larinya karena dia lelah. Asap tebal menghalangi pandangannya, dia hanya berputar di tempat untuk mencari apa yang sedang mendekati dirinya. Angin dingin yang berhembus pun menerpa dirinya, kini dia putus asa, sangat putus asa.
Kabut semakin tebal, menutupi pandangannya. Sesuatu yang dia rasa bergerak di atas tanah bergerak cepat ke arahnya. Madison berpaling ke kanan, lalu ke kiri tapi tidak ada yang bisa dia lihat akibat kabut tebal itu.
"Pergi dariku!" teriak Madison. Dia kembali berlari namun kabut tebal yang menghalangi pandangan membuat Madison tersandung akar pohon. Madison berteriak keras saat terjatuh, dia menoleh ke belakang karena dia merasa ada sesuatu bergerak di atas tanah dan menuju ke arahnya dengan cepat.
"Tidak... Tidak, go away from me!" ucap Madison sambil memundurkan tubuhnya.
Madison berteriak, dia hendak lari tapi sesuatu menangkap pergelangan kakinya. Suara teriakan Madison nyaring terdengar, tubuhnya ditarik di atas tanah oleh akar-akar pohon yang menjerat pergelangan kakinya. Madison berusaha mencari pegangan tapi hanya ada rerumputan.
Pintu rumah sudah terbuka lebar, akar-akar pohon itu berasal dari rumah. Kabut asap memenuhi rumah, lampu berwarna merah yang entah datang dari mana membuat rumah itu semakin menakutkan saja.
__ADS_1
"Tidak!" Madison berteriak nyaring saat tubuhnya di tarik masuk ke dalam rumah dan, Brakkk!! pintu tertutup dengan sendirinya sedangkan Madison ditarik menuju kegelapan yang paling dalam.
Suasana mendadak sunyi, pepohonan berhenti bergoyang dan suara tawa mengerikan itu tidak terdengar lagi. Rumah itu pun gelap gulita, tidak terlihat ada apa pun bahkan suara teriakan apa pun tidak terdengar lagi. Kabut tebal yang tadinya menyelimuti sudah tidak terlihat karena kini, rumah itu terlihat damai seolah-olah tidak terjadi apa pun di rumah itu sebelumnya.