The House

The House
Misteri In The Dark Basemen


__ADS_3

Madison tidak menduga, akhirnya dia bisa berada di dalam ruangan paling bawah dari rumah itu akibat depresi setelah apa yang menimpa dirinya. Saat ini juga, dia akan mencari tahu apa yang telah terjadi dengannya. Kenapa dia selalu mengalami kejadian yang terus berulang seolah-olah apa yang terjadi dengannya tidak akan berakhir? Dia akan mencari tahu kenapa dia selalu diteror, kenapa dia selalu mengalami penglihatan aneh dan yang paling penting dari semua itu, kenapa dia tidak bisa pergi dari rumah terkutuk itu.


Ruangan yang begitu gelap, berbau tidak sedap. Madison terus melangkah maju menyelusuri lorong yang sempit juga lembab. Dia tidak menyangka ada ruangan seperti itu di rumah itu. Entah digunakan untuk apa ruangan itu yang pasti dia memiliki firasat buruk.


Suara tetesan air terdengar, Madison mengangkat pelitanya sedikit tinggi untuk melihat apa yang ada di depannya. Mendadak dia merasa kesulitan bernapas akibat oksigen yang semakin menipis. Sial, sepertinya ruangan itu digunakan oleh pemilik rumah sebagai tempat penyimpan barang saja tapi bau busuk yang semakin tercium membuatnya semakin kesulitan bernapas.


Hening, tempat itu mendadak hening. Madison bahkan berpaling untuk melihat ke belakang. Jujur saja dia takut ada yang mengikuti, dia takut hantu-hantu menakutkan itu ada di belakangnya. Akibat pikirannya itu membuat Madison mempercepat langkah menyelusuri lorong lembab dan gelap itu.


Kedua kakinya terus melangkah sampai akhirnya dia berada di ujung lorong sampai dia tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan itu adalah satu-satunya ruangan yang ada.  Madison menelan ludah, hidung pun ditutup rapat karena bau busuk yang sangat menyengat semakin tercium.


Bau busuk itu seperti bangkai. Entah bangkai apa yang jelas bau itu membuatnya mual. Dengan napas tertahan, Madison melangkahkan kakinya karena dia ingin melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Semoga dia mendapatkan petunjuk dari tempat itu sehingga dia bisa mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi dan sehingga dia tahu, siapa Adel sebenarnya.


Suara napas seseorang terdengar tidak jauh darinya, Madison terkejut lalu memalingkan wajah. Suara napas kembali terdengar dari sisi lain, dia kembali terkejut dan berpaling.


"Siapa?" tanya Madison, pelita kembali diangkat tinggi.


Suara langkah kaki, suara teriakan tak henti terdengar membuat Madison panik sehingga membuatnya melangkah berputar.


"Hentikan, jangan perlakukan aku seperti ini!" teriakan itu terdengar. Madi mencari sumber suara yang dia yakin tidak jauh darinya.


"Apa? Apa yang ingin kau perlihatkan padaku?" tanya Madison dengan lirih.


"Apa yang terjadi, aku butuh jawabannya!" ucapnya lagi dan di tengah kepanikannya, mendadak ruangan itu menjadi terang. Sekarang Madison bisa melihat dari mana sumber suara yang dia dengar. Tampak seorang wanita diseret menuju sebuah tiang oleh seorang pria dan dua orang wanita. Sepertinya itu adalah kelanjutan dari penglihatan yang dia lihat.


"Kalian semua baj*ngan, lepaskan aku!" teriak wanita yang hendak diikat ke sebuah tiang. Madison melangkah mendekat, kini dia bisa melihat jelas wajah wanita itu dan tentunya hal itu membuatnya terkejut.


"Adel!" nama itu terucap, dia tidak menduga jika yang dia lihat saat ini adalah Adel.


"Kau sudah keterlaluan, Adel. Kau ingin sembuh tapi kau justru membunuh teman-teman kita!" teriak salah seorang sahabat wanitanya.

__ADS_1


"Bukan aku, iblis yang ada di rumah ini yang memerintahkan aku untuk membunuh mereka!" teriak Adel membela diri.


"Tidak perlu menipu, kaulah iblis itu dan kau berpura-pura menjadi malaikat untuk menipu kami semua!"


"Tidak! Sudah aku katakan ada iblis di rumah ini. Iblis itu berada di dalam kegelapan tanpa kalian tahu, dia mengintai kita lalu dia mengincar jiwaku yang penuh dosa lalu mengendalikan aku!" teriak Adel.


Madison melangkah mundur, apa yang Adel katakan sama seperti yang dia alami. Iblis itu mengincar jiwanya yang dipenuhi oleh dosa dan selalu menyerang kelemahan yang dia miliki bahkan kejadian yang hampir sama selalu dia alami secara berulang-ulang.


"Jangan mengatakan hal yang berulang-ulang karena kaulah iblisnya!" sebuah rantai sudah diambil, Adel pun didirikan di depan sebuah tiang. Dua sahabat wanitanya memegangi Adel, sedangkan yang pria merantai tubuh Adel di tiang itu.


"Aku tidak bohong pada kalian, aku tidak berbohong. Iblis itu yang memerintahkan aku untuk membunuh kalian, semua gara-gara iblis yang berada di rumah ini!" teriak Adel sambil meronta.


"Diam, kaulah iblis itu!" wajah Adel dipukul dengan keras oleh sahabat prianya.


"Beraninya kau memukul aku? Beraninya kalian memperlakukan aku seperti ini?" teriak Adel penuh emosi.


"Cepat!" dua wanita itu mulai ketakutan.


"Hentikan, Adel. Kau benar-benar gila!"


"Wahai iblis yang ada di kegelapan, aku menjual jiwaku padamu!" teriak Adel dengan lantang dan pada saat itu juga, "Brakkk!!" suara keras terdengar di dalam ruangan itu bahkan suara itu kembali terdengar.


Brak... Brak.. Brak.. Brak..


Ketiga sahabat Adel ketakutan. Rantai yang mengikat Adel mendadak terlepas lalu Adel melayang di udara dengan kedua tangan yang terikat.


"VENDO ANIMAM MEAM, VENI AD ME!" Adel mengucapkan sebuah mantra dalam bahasa latin yang artinya dia menjual jiwanya pada sang iblis dan meminta iblis itu untuk datang padanya. Angin kencang berhembus di dalam ruangan tertutup itu, Adel tertawa terbahak-bahak sedangkan ketiga sahabatnya ketakutan melihat kelakuannya yang semakin aneh.


"Dia sudah gila, dia sudah gila!" ketiga sahabatnya yang ketakutan, berlari untuk keluar dari ruangan tersebut. Mereka harus memanjati tangga untuk naik ke atas namun mereka justru berebut saat hendak memanjati tangga itu karena tidak ada yang mau berada di belakang. Tidak ada yang mau karena mereka semua takut dengan Adel.

__ADS_1


Adel yang sudah dirasuki oleh iblis, terbang ke arah mereka sambil berteriak, "Aku akan membunuh kalian semua!" teriakan itu diiringi dengan tawa yang mengerikan sehingga membuat ketiga sahabatnya semakin ketakutan.


"Cepat!" teriak salah satu dari sahabatnya, mereka semua panik. Salah seorang wanita sudah naik ke atas, disusul dengan yang pria. Tersisa satu orang lagi yang berusaha menggapai anak tanggap terakhir namun naas, sebelum tangannya diraih oleh kedua sahabatnya yang hendak membantu, dia sudah tertangkap oleh Adel yang langsung membawanya kembali ke dalam ruangan itu.


"Tidak, lepaskan aku!" teriakan itu membuat kedua sahabat Adel yang berada di atas panik luar biasa.


"Lepaskan aku Adel!" pinta sahabatnya namun dengan kejinya, kretekkk!!! Adel mematahkan leher sahabatnya sendiri lalu tubuh mayatnya yang tidak bernyawa di lemparkan ke samping.


"Sekarang giliran kalian!" teriak Adel.


"Cepat tutup!" teriak yang wanita ketakutan, jangan sampai Adel juga menangkap mereka karena dia tidak mau berakhir seperti sahabatnya yang lain. Pintu yang terbuat dari papan itu pun ditutup dengan cepat lalu rantai diambil untuk mengunci pintu itu agar Adel tidak bisa keluar dari ruangan itu.


"Buka.. Buka.. pintu ini!" Adel berusaha mendobrak pintu itu namun kedua sahabatnya masih berusaha merantai pintu itu.


"Kau gila, Adel. kau gila!" ucap sahabatnya yang ketakutan di luar sana.


"Kalian jahat padaku, aku hanya bersenang-senang saja tapi kalian begitu tega padaku," ucap Adel dengan suara memelas.


"Kau psikopat gila, kau membunuh sahabat kita untuk bersenang-senang? Kau benar-benar iblis!"


"Buka pintunya, please," Adel masih meminta dengan suara memohon.


"Sebaiknya kau mati dan membusuk di bawah sana. Aku harap tidak akan ada yang membuka pintu terkutuk ini!"


"Sialan, cepat buka dan keluarkan aku dari tempat ini!" teriak Adel sambil memukul pintu yang sudah dikunci dengan rantai.


"Tidak akan ada yang membuka pintu itu untuk menyelamatkan dirimu!" teriak sahabatnya lagi.


"Sialan kalian berdua, aku bersumpah akan membunuh kalian. Aku mengutuk kalian berdua, aku juga mengutuk rumah ini. Mulai sekarang, siapa pun yang datang ke rumah ini tidak akan pernah bisa keluar lagi dan mereka yang mati di tanganku, akan menjadi hantu yang tidak akan bisa keluar dari rumah ini karena mereka akan menemani aku!" teriak Adel dan ketika kutukannya itu sudah terucap, pepohonan yang tumbuh sekitar rumah mendadak menjadi kering juga rerumputan yang tumbuh sekitar rumah mendadak mati dan membentuk lingkaran mengelilingi rumah itu.

__ADS_1


Kedua sahabatnya pergi, meninggalkan Adel yang masih berusaha memukul pintu agar terbuka. Mereka menguburkan mayat-mayat para korban yang dibunuh oleh Adel dan pergi dari rumah yang sudah dikutuk oleh Adel. Tidak ada yang berani mengatakan apa yang terjadi pada siapa pun karena mereka takut menjadi tersangka apalagi apa yang terjadi tidak masuk diakal. Setelah mereka pergi, rumah itu memang pernah didatangi dan ditinggali oleh beberapa anak muda namun iblis mempengaruhi mereka sehingga mereka saling bunuh dan semua itu akibat kutukan yang diucapkan oleh Adel dan setelah itu, rumah itu ditutup dan tidak ada yang pernah datang ke rumah itu lagi, tidak pernah ada kecuali Madison.


Setelah melihat penglihatan itu, Madison bagai tersadar dari mimpi. Suasana yang tadinya terang mendadak kembali gelap dan hanya cahaya dari pelitanya saja yang menjadi penerang. Napas Madison memburu, tangan pun gemetar. Sial, kedua kaki sulit untuk digerakkan dan tanpa Madison sadari, arwah Adel sudah berada di dekatnya dengan seringai jahat menghiasi wajahnya.


__ADS_2