
Malam yang tidak pernah pergi membuat Madison merasa jika dia seperti terjebak di waktu yang sama. Malam itu begitu dingin, kabut tebal menggumpal di atas permukaan tanah. Suasana rumah begitu mencekam apalagi hawa dingin yang begitu menusuk tulang dan malam itu terasa sangat hening karena tidak terdengar suara apa pun.
Madison sedang berada di depan perapian dengan sebuah pelita. Rasa dingin begitu menusuk tulang sehingga membuatnya tidak tahan dan dia sangat ingin menyalakan perapian untuk menghangatkan tubuhnya tapi sayangnya kayu bakar hanya tersisa dua saja. Itu tidak akan cukup dan dia membutuhkan lebih banyak kayu jika dia ingin menyalakan perapian.
Rumah yang tadinya gelap gulita akibat penerangan yang tidak ada kini mendapatkan penerangan walau tidak begitu banyak. Karena harus menghemat minyak, Madison hanya menyalakan satu pelita saja yang akan dia bawa ke mana pun dia pergi.
Madi masih berada di depan perapian sambil menumpuk kayu bakar yang tersisa. Jika dia menyalakan perapian bukankah rumah itu akan mendapatkan pencahayaan yang cukup? Dia pun bisa menghemat minyak lebih banyak selain dapat menghangatkan tubuhnya. Sepertinya bukan ide buruk. Madison beranjak dan melangkah menuju jendela karena dia ingin melihat keluar yang sangat gelap. Tengkuk diusap karena di luar tampak menakutkan apalagi hutan yang gelap dan sunyi.
Jika dia tahu akan sedingin ini maka dia akan membawa beberapa pakaian hangat agar dia tidak kedinginan apalagi cuaca buruk yang tak juga kunjung pergi. Setelah melihat keadaan di luar, Madison kembali melangkah masuk ke dalam karena dia ingin mengajak Adel mencari kayu bakar di hutan yang gelap itu. Setidaknya tidak sedang hujan dan dia yakin dia bisa mendapatkannya dari pepohonan yang ada di dekat rumah itu.
"Adel!" Madison memanggil. Dia meninggalkan Adel di dalam kamar saat mengecek perapian. Meski dia tidak mempercayai wanita itu tapi dia tidak boleh menunjukkannya sikap yang berbeda agar Adel tidak curiga. Dia harus berpura-pura bodoh meski dia takut.
"Adel, di mana kau?" tanya Madison karena Adel tidak menjawab sama sekali.
__ADS_1
Rasanya sudah tidak aneh karena Adel hilang secara mendadak. Dia merasa sudah terbiasa dengan keadaan itu. Adel benar-benar tidak ada di dalam kamar, padahal dia tidak melihat Adel keluar karena perapian tidak jauh dari kamar itu.
"Aku tahu situasi ini aneh dan aku akan berusaha bertahan sampai aku menemukan kebenarannya yang bisa membawa aku pergi dari tempat terkutuk ini!" ucap Madison. Dari pada dia kembali ketakutan padahal ada Adel, lebih baik dia ketakutan sendiri di dalam hutan agar tidak ada yang mengira dia sedang gila.
Suara langkah kaki kembali terdengar di luar sana disusul dengan banyaknya suara orang yang berbicara. Madi memasang telinga baik-baik, namun dia tidak bisa mendengar dengan jelas karena suara itu seperti dengungan yang tidak jelas. Semakin lama dia merasa ada rahasia besar yang telah terjadi di rumah tersebut.
Sebelum keluar. Madi memakai dua lapis baju agar tidak terlalu dingin. Sekarang dia tidak mau peduli lagi dengan suara langkah kaki juga dengan suara-suara aneh yang jika dicari sumber suaranya tidak akan ada. Madi mengangkat lentera, dia sedang mencari keberadaan Adel di ruang tamu tapi sayangnya wanita itu tidak ada.
Sudahlah, dia pun tidak akan lama dan hanya akan mencari kayu di sekitar rumah. Mungkin saja ada ranting yang jatuh dari pohon kering yang ada di sisi rumah. Madison sudah berada di luar, ludah ditelan dengan susah payah saat melihat asap tebal yang menutupi tanah. Dia jadi teringat dengan makhluk mengerikan yang muncul dari permukaan tanah. Semoga kali ini tidak ada makhluk seperti itu.
Madison memberanikan diri melangkahkan kakinya menuruni tangga yang tertutup oleh asap tebal. Dia berusaha untuk tidak takut. Hanya kayu bakar, dia akan kembali setelah mendapatkannya karena lebih baik di dalam rumah dari pada di dalam hutan apalagi dia tidak mau tersesat lagi di hutan itu.
Yang dia tuju adalah samping rumah di mana pohon mati masih berdiri dengan kokohnya. Jujur saja dia sangat takut tapi Madison berusaha melawan rasa takut yang dia rasakan. Madi sudah berada di bawah sebuah pohon besar yang sudah mati. Dia mencari ranting di bawah pohon besar itu tapi tidak ada apa pun. Aneh, padahal hujan mengguyur dengan derasnya, angin kencang pun bertiup serta guntur dan petir tapi kenapa tidak ada satu ranting pun yang jatuh dari pohon yang sudah mati itu?
__ADS_1
Madison berpindah ke pohon mati yang lain tapi tidak satu ranting pun yang dia temukan. Sungguh aneh, sepertinya tidak rumah itu saja yang dikutuk tapi pepohonan yang ada juga dikutuk. Sambil mengusap tengkuk, Madison kembali mencari kayu bakar sambil melihat sekitar dan juga melihat rumah yang gelap. Rumah itu di kelilingi dengan jendela kaca yang membuat para penghuni bisa melihat hutan. Memang sangat bagus tapi untuk siang hari tapi untuk malam apalagi dengan situasi yang mencekam, rumah itu sangat menyeramkan.
Langkah Madison terhenti karena dia sudah hampir tiba di gundukan tanah aneh yang ada di belakang rumah. Sebaiknya dia tidak sampai ke gundukan tanah itu karena dia takut. Bayangan akan mayat hidup yang keluar dari gundukan tanah menakuti dirinya jadi sebaiknya dia mencari kayu bakar yang dia inginkan di hutan yang tidak jauh dari rumah. Dengan bermodalkan pelita di tangan, Madison memutuskan untuk melangkah menuju hutan. Dia harap kali ini dia menemukan beberapa batang kayu.
Madison sudah melangkah pergi namun dia dikejutkan oleh suara benda keras dari dalam rumah. Madison terkejut, buru-buru berpaling tapi dia kembali dikejutkan dengan rumah yang mendadak terang disertai dengan suara teriakan yang terdengar tidak asing.
"Kalian semua tidak berguna!" itu adalah suara teriakan wanita.
Madison mengucek matanya berkali-kali, apakah yang dia lihat saat ini adalah nyata ataukah hanya halusinasi belaka? Madison berdiri mematung di tempatnya, kedua kaki pun sulit untuk digerakkan. Dia masih mencoba mencari tahu apakah dia sedang berhalusinasi atau tidak. Suara teriakan seorang wanita kembali terdengar disusul dengan suara keras. Rumah itu masih terang, diterangi oleh lampu. Rasanya ingin tertawa karena dia yakin jika dia sudah gila.
"Pergilah dan lihatlah Madison. Ini kesempatanmu!" tiba-tiba ada yang berbisik di telinganya dan suara itu terdengar sangat dekat.
Madison berpaling, mencari sosok yang berbisik di telinganya tapi tiada ada siapa pun. Kedua kakinya gemetar, rasa takut kembali dia rasakan. Apa ini seperti sebuah petunjuk dan ada yang hendak memberitahunya apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah itu?
__ADS_1
"Cepat, Madison!" suara itu kembali terdengar. Madison semakin yakin jika itu adalah sebuah petunjuk. Kedua kaki sudah melangkah, untuk kembali ke rumah itu karena dia ingin tahu apa yang terjadi dan dia harap itu bukan halusinasi akan tetapi itu sebuah penglihatan yang akan memberinya petunjuk untuk mencari jawaban atas semua keanehan yang sedang dia alami selama berada di dalam rumah itu.