The House

The House
She's Gone


__ADS_3

Hujan yang semakin mengguyur dengan deras membuat jalan setapak di hutan menjadi sangat licin. Jarak pandang yang semakin minim akibat kabut tebal yang semakin menyelimuti hutan membuat mereka harus berhati-hati. Situasi seperti itu sangat memudahkan seseorang untuk tersesat oleh sebab itu, Hana dan kedua sahabatnya selalu bersama dan tidak berpencar agar hal yang tidak diinginkan terjadi.


Alat penerangan digunakan agar mereka bisa melihat tim yang ada di depan mereka. Hana memegangi tangan Jeremy dengan eratnya akibat licin, Erick berjalan di belakang untuk menjaga Hana agar tidak terjatuh. Mereka mengikuti tim yang akan membawa mereka ke lokasi di mana mereka sudah menemukan apa yang mereka cari.


Sebelum mengikuti tim itu, Jeremy sudah melaporkan apa yang mereka temukan di lantai basemen pada petugas yang baru selesai mengevakuasi tulang belulang yang mereka temukan di belakang rumah itu. Tentunya para petugas yang mendapatkan laporan bergerak cepat untuk melihat apakah yang dikatakan oleh Jeremy benar atau tidak.


"Ke sini!" seseorang berteriak dan menggerakkan lampu senter agar petugas yang sedang membawa Hana dan kedua sahabatnya bisa melihat keberadaan mereka yang akan menuntun mereka menuju sisi tebing.


"Apa yang kalian temukan?" tanya Hana pada petugas yang berjalan di depannya.


"Kedua rekan menemukan seseorang di tempat curam itu," jawab petugas itu.


"Apakah itu Madison?" tanya Jerry.


"Kami belum memastikannya karena medan yang sulit untuk dituruni."


"Apa dia masih hidup?" tanya Hana, firasat buruk dan dia harap jika yang mereka temukan benar-benar Madison, semoga dia masih dalam keadaan hidup meski harus mengalami Hipotermia dan beberapa luka. Seandainya Madison mengalami hilang ingatan pun, dia tidak keberatan yang penting Madison ditemukan dalam keadaan hidup.


"Kami tidak tahu, Nona. Untuk itulah Kami meminta kalian datang untuk melihat apakah yang kami temukan itu benar-benar sahabat kalian atau tidak. Jika benar maka kami akan menghentikan pencarian dan fokus untuk melakukan evakuasi tapi jika bukan, kami akan menyebar sebagian untuk mencari dan sebagian untuk melakukan evakuasi."


Hana tidak menjawab lagi, felling yang dia miliki mengatakan seratus persen jika yang ditemukan oleh tim pencari memang Madison. Mereka sudah tiba di sisi tebing yang sangat curam, sehingga mereka tidak bisa melihat ke bawah sana akibat semak belukar serta kabut tebal yang menyelimuti.


"Salah satu dari kalian harus ikut kami untuk memastikan!" ucap seorang petugas yang hendak turun ke bawah.


"Begitu dalam, bagaimana kalian menemukannya?" tanya Hana.


"Dua orang tim kami yang ada di bawah yang menemukannya jadi siapa yang akan ikut kami turun?"


"Aku!" jawab Jeremy.

__ADS_1


"Aku saja!" ucap Erick.


"Tidak perlu, Erick. Aku yang turun, kau temani Hana dan jaga dia baik-baik!"


"Baiklah. Berhati-hatilah, Jeremy!" ucap Erick.


"Aku akan segera kembali!"


"Ikut aku sekarang!" ucap petugas yang sudah menunggu.


"Tunggu di sini, Hana. Aku akan ke bawah untuk memastikan jadi jangan melakukan tindakan yang gegabah. Aku harap itu bukan Madison, aku harap dia sudah menipu kita dan pergi dari tempat ini!" ucap Jeremy. Meski dia kecewa pada Madison tapi dia tidak ingin Madison mati dengan cara yang mengenaskan. Dia lebih suka Madison sudah pergi dari tempat itu dan baik-baik saja berada di tempat lain.


"Aku juga harap demikian!" ucap Hana.


"Cepat!" teriak petugas itu lagi.


Hana dan Erick menunggu, sedangkan Jeremy turun ke bawah untuk memastikan. Empat orang petugas berada di bawah, mereka sedang mengamankan temuan yang mereka dapatkan. Jeremy yang sudah turun ke bawah segera dibawa mendekat ke empat petugas yang sedang sibuk. Jantung Jeremy berdegup kencang, dia bahkan menutup hidung.


Jeremy melangkah semakin mendekat, mayat seorang wanita berada di atas tumpukan daun. Jeremy menelan ludah, semoga bukan Madison, semoga saja bukan namun ketika dia melihat wajah yang sudah sedikit sulit dikenali itu, Jeremy terkejut.


"Madi!" nama Madison terucap, Jeremy jatuh berlutut karena yang ditemukan oleh petugas itu benar-benar Madison.


"Sudah kita temukan, hentikan pencarian!" seorang petugas lain memberi perintah pada yang lain melalui alat talkie walkie


"Segera bersiap untuk melakukan evakuasi. Turunkan sebuah helikopter karena korban berada di dalam jurang yang cukup dalam!" perintah itu kembali diberikan.


"Madison, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau bisa berakhir seperti ini?" tanya Jeremy. Dia masih tidak mempercayai jika Madison akan berakhir seperti itu.


"Aku akan mengantarmu ke atas dan ajak kedua temanmu menunggu di rumah itu. kami akan memberitahu kalian jika kami sudah mengevakuasi sahabat kalian!"

__ADS_1


Jeremy hanya bisa mengangguk saja.  Dia masih berada dalam keadaan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Hana pasti akan sangat sedih setelah tahu. Jeremy kembali dikawal oleh dua petugas untuk naik ke atas. Jalan yang licin membuat mereka kesulitan untuk naik ke atas. Hujan tak juga kunjung berhenti, kini petir mulai menyambar disertai guntur. Kabut pun semakin tebal tentunya tim penyelamat akan mengalami kendala saat melakukan evakuasi.


Perjuangan untuk naik sungguh berat, saat turun tidak ada kendala berarti tapi untuk naik, Jeremy mengalami kesulitan. Hana sudah menggigil, dia sudah tidak sabar Jeremy kembali dan memberi mereka kabar apakah yang ada di bawah sana benar-benar Madison atau bukan.


"Aku harap itu bukan Madison, aku harap bukan!" ucap Hana.


"Kita hanya bisa berharap, Hana. Tapi semua itu sudah ditentukan."


"Aku menyesal, Erick. Aku menyesal telah meninggalkan dirinya yang sedang seperti itu. Dia tidak tahu antara halusinasi dan nyata saat dia sedang berada di bawah pengaruh obat oleh sebab itu seharusnya kita tidak meninggalkan dirinya!"


"Tidak perlu menyalahkan diri, tidak ada satu orang pun yang tahu apa yang akan terjadi jadi semua bukan karena kesalahanmu!" hibur Erick.


Hana mengusap air mata yang bercampur air hujan dari wajahnya. Meski Erick berkata demikian tapi sebagai sahabat Madison, dia merasa sangat bersalah. Sekarang mereka hanya bisa menunggu Jeremy kembali dan memberikan kabar baik untuk mereka.


Mereka menunggu cukup lama sampai akhirnya Jeremy kembali ke atas bersama dengan kedua petugas yang membantunya. Hana dan Erick segera menghampiri Jeremy yang terlihat lesu. Lari mereka terhenti saat melihat ekspresi wajah Jeremy.


"Jeremy, jangan katakan?" Hana tak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Bagaimana Jeremy? Apa yang ada di bawah sana Madison? Apa dia baik-baik saja?" tanya Erick.


"She's gone!" jawab Jeremy.


"No.. No," Hana melangkah mundur dengan air mata yang mengalir semakin derasnya, "Katakan jika kau salah melihat?" pinta Hana.


"Sorry, Hana. She's gone!" jawab Jeremy dengan ekspresi wajah sedih.


"Tidak, Madison!" Hana berteriak keras dan jatuh berlutut.


"Madi!" Hana kembali berteriak dengan keras, menangisi sahabat baiknya. Jeremy dan Erick pun tak kuasa menahan air mata. Mereka tidak menduga mereka harus kehilangan sahabat mereka yang hendak sembuh dari pengaruh obat tapi dia harus pergi bukan karena obat-obatan.

__ADS_1


Hana masih menangis meraung, Jeremy dan Erick memeluknya dan berusaha untuk memenangkan Hana. Rasa sedih dan bersalah mereka rasakan. Seharusnya mereka tidak membawa Madi ke tempat itu dan meninggalkan dirinya seorang diri. Seharusnya tidak namun semua yang terjadi tak bisa diperbaiki apalagi nasi sudah menjadi bubur.


__ADS_2