
Keanehan-Keanehan yang terjadi di rumah itu benar-benar membuat Madison harus mencari cara seorang diri karena rasa curiganya pada Adel. Cuaca buruk yang tidak bersahabat membuatnya tidak bisa melakukan apa pun. Rumah yang sangat gelap membuat Madison kesulitan untuk melihat padahal dia ingin mencari sesuatu. Lampu minyak sudah padam akibat minyak yang sudah habis. Senter pun sudah padam dan yang tersisa hanya lampu emergency saja dan itu pun sudah mau padam.
Sepertinya dia harus mulai bertindak, di rumah itu mungkin ada minyak yang bisa dia gunakan untuk menyalakan pelita. Yeah, dia tidak boleh diam saja sampai tidak ada penerangan sama sekali di rumah itu karena dia tidak tahu sampai kapan kegelapan itu harus dia alami. Meski dia tidak percaya pada Adel tapi kali ini dia membutuhkan bantuan. Semoga Adel bisa membantunya meski dia enggan bertanya pada Adel karena wanita itu lebih menakutkan saat ini tapi dia harus bertanya karena dia yakin wanita itu tahu sesuatu.
"A-Adel," Madison mendekati Adel yang sedang memandangi lilin yang sudah mau habis.
"Ada apa?" Adel menatapnya dengan ekspresi tidak senang karena ketenangannya terganggu.
"Apa kau tahu di mana minyak berada?" Madison benar-benar memberanikan diri.
"Minyak? Jangan katakan kau ingin membakar rumah ini!"
"Tentu saja tidak, kita harus menemukan minyak agar kita dapat menyalakan pelita. Itu lilin yang terakhir, rumah ini benar-benar akan gelap karena tidak ada cahaya. Lampu emergency yang ada di luar pun sebentar lagi mati oleh sebab itu, katakan padaku apakah ada minyak yang bisa kita gunakan untuk menyalakan pelita karena hanya itu saja yang kita miliki!"
Adel masih memandanginya, Madison pun menatapnya. Dia berharap Adel mau memberitahunya ada atau tidaknya minyak di rumah itu. Meski Adel sedang terlihat begitu jahat saat ini tapi dia sangat berharap Adel mau bekerja sama dengannya.
"Tolong katakan padaku, Adel. Kau pasti tahu!"
"Baiklah, sepertinya ada di ruangan yang diujung lorong!" ucap Adel.
"Ujung lorong?" Madison mengernyitkan dahi, dia tidak tahu ada ruangan di ujung lorong tapi dia memang belum pernah melihat di ujung lorong ada apa.
"Yeah, di sana gudang. Kau bisa mencarinya di sana!"
"Baiklah, apa kau mau menemani aku?" pinta Madison.
"Aku tidak mau, aku ingin berada di sini saja!" ucap Adel.
"Please, Adel. Tolong temani aku. Rumah ini begitu gelap, dan kau yang paling tahu akan rumah ini jadi tolong temani aku!"
__ADS_1
"Kau benar-benar menyebalkan! Apa kau tidak bisa membiarkan aku menikmati waktuku walau sejenak?" Adel beranjak, mau tidak mau dia harus menemani Madison.
Mereka berdua melangkah bersama, pintu kamar dibuka dengan perlahan dan mereka berdua mengintip dari balik pintu. Gelap, hanya ada kegelapan saja di rumah itu bahkan api lilin yang mereka bawa sudah mau mati. Madison memegangi bahu Adel karena dia takut, Adel melangkah maju terlebih dahulu disusul dengan Madison.
"Hati-Hati!" ucap Madison.
"Aku tahu, jangan bersuara!"
Madison mengangguk, mereka melangkah dengan perlahan. Lampu emergency berada di atas meja, di mana obat penenangnya berada. Madison berlari untuk mengambilnya, berkat cahaya lilin yang tinggal sedikit tapi cukup menjadi penerang.
Tap.. Tap.. Tap! Suara langkah kaki kembali terdengar disusul dengan suara pintu yang dibuka. Madison melihat sekitar, tidak ada apa pun selain Adel yang sedang menunggunya.
"Cepat," ucap Adel sambil melambai.
"Apa kau mendengarnya, Adel?"
"Mendengar apa?" tanya Adel tidak mengerti.
"Apa sih yang kau bicarakan? Ayo cepat!"
"Aku mendengarnya dengan jelas, Adel. Suara langkah kaki dan suara pintu yang terbuka dan tertutup, apa kau tidak mendengarnya sama sekali?" tanya Madison.
"Tidak, aku tidak mendengar apa pun. Sepertinya kau mulai berhalusinasi, sebaiknya berhati-hati karena kau akan menganggap apa yang sedang kau alami adalah nyata!"
"Jadi, apa yang sedang kita alami saat ini tidak nyata?"
"Kau bisa membedakannya sendiri, Madison. Jangan banyak bertanya dan lebih baik kita temukan minyak yang kau inginkan!"
"Baiklah," sepertinya yang dikatakan oleh Adel sangat benar. Suara langkah kaki dan pintu yang terbuka tutup itu pasti hanya halusinasinya saja. Lagi pula sudah lama dia tidak berada di bawah pengaruh obat, mungkin saja tanpa dia sadari dia mengalaminya apalagi beberapa kejadian sulit diterima dengan akal sehat.
__ADS_1
Mereka menyelusuri lorong yang belum pernah Madison telusuri. Lorong itu tidak terlalu panjang dan dia tidak menduga jika ada sebuah ruangan lagi di dalam sana. Cahaya dari lampu emergency semakin redup saja, membuat jarak pandang mereka menjadi minim.
Pintu ruangan itu tidak dikunci sehingga mereka bisa membukanya dengan mudah. Madison mengintip dari balik pintu, ludah ditelan dengan susah payah karena gelap. Jujur saja, dia benci dengan gelap. Madison memberanikan masuk ke dalam, Adel mengikuti. Lampu emergency diangkat, agar mereka bisa melihat benda-benda yang ada di dalam.
"Apa kau yakin?" tanya Madison.
"Aku tidak tahu, semoga saja ada di dalam jadi kita harus mencarinya!"
"Baiklah, jangan sampai terpisah," ucap Madison.
Mereka melangkah masuk dan menutup pintu. Suara pintu yang tertutup mengejutkan Madison sehingga membuat Madison melihat ke belakang sambil memegangi dadanya. Ternyata hanya suara pintu saja, sepertinya akhir-akhir ini dia mudah terkejut.
"Ayo jalan!" ucap Adel.
Madison mengangguk, kakinya mulai melangkah dengan perlahan. Cahaya dari lampu emergency menyinari sedikit dari ruangan itu. Bau pengap tercium, bau itu menunjukkan jika ruangan itu sudah lama tidak pernah dibuka oleh siapa pun.
Madison berpaling ke kanan dan ke kiri, untuk mencari apa yang mereka inginkan tapi barang-barang yang ada begitu banyak apalagi ada rak besi yang cukup tinggi. Entah untuk apa yang pasti dia bisa menebak jika begitu banyak barang di dalam ruangan itu.
"Sebaiknya kita berpencar!" ucap Adel.
"Apa? Jangan. Ruangan gelap seperti ini, apa yang bisa kau dapatkan?"
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan gelap!" Adel melangkah pergi ke sebuah lorong di mana kanan dan kirinya terdapat rak besi yang tinggi.
"Tunggu Adel!" pinta Madison yang mengejarnya namun Adel sudah tidak ada. Madison menelan ludah, mendadak ditinggal seorang diri di dalam ruangan gelap itu membuatnya merinding karena takut.
"A-Adel!" Madison memanggil sambil melangkah maju. Sungguh aneh, Adel hilang dalam sekejap mata padahal tempat itu gelap. Apa karena Adel sudah terbiasa dan sudah tahu seluk beluk ruangan itu?
Madison kembali melangkah, sebaiknya dia mencari keberadaan minyak yang dia butuhkan. Meski dia tidak tahu keberadaan minyak itu ada atau tidak tapi dia harus berusaha menemukannya.
__ADS_1
"Adel," Madison kembali memanggil dan berharap bertemu dengan Adel. Berada di dalam ruangan gelap dengan pencahayaan yang minim sungguh tidak menyenangkan. Kedua kaki melangkah maju, lampu emergency dia gunakan untuk menerangi setiap rak yang dia lewati.
Madison mencari dengan teliti, dia tidak tahu sudah melewati beberapa makhluk mengerikan yang berada di dalam kegelapan. Sebuah wajah mengerikan yang berada di balik tumpukan buku, sosok hitam yang ada di sisi kirinya, mereka memperhatikan Madison bahkan tanpa Madi sadari, dia sudah di kelilingi dengan sosok sosok mengerikan yang akan menakuti dirinya agar jiwanya semakin lemah dan dipenuhi dengan rasa takut sehingga mereka bisa melahap jiwa Madison dan menjadikan Madison bagian dari mereka.