
Gelap, hanya itu saja yang dilihat oleh Madison. Kegelapan yang menyelimuti dirinya benar-benar tidak bisa dia singkirkan sama sekali. Entah apa yang terjadi, Madison buta dengan sekitarnya. terkadang dia bisa melihat keberadaan Hana dan Jeremy tapi terkadang tidak.
Dia benar-benar dipermainkan dan dia tahu semua itu pasti ulah Adel, iblis jahat itu pasti sengaja ingin menakuti dirinya dan membuatnya bingung dengan situasi yang ada. Dia yakin Adel melakukan hal itu agar Hana dan Jeremy tidak bisa melihatnya sehingga mereka tidak bisa membawanya pergi dari tempat itu.
Madison seperti berputar di tempat, dia sedang mencari Hana yang menghilang dari pandangannya. Dia bisa merasakan keberadaan Hana tapi dia tidak bisa melihat bahkan dia tidak bisa menyentuh Hana sama sekali dan dia semakin yakin semua itu adalah ulah Adel.
"Kenapa kau mempermainkan aku seperti ini, Adel?!" teriak Madison. Rumah gelap itu benar-benar membuatnya tidak bisa melihat apa pun.
"Adel, kau benar-benar iblis terkutuk. Segera keluar kau!" teriak Madison lagi. Dia benar-benar marah, kejadian yang berulang justru membuat dirinya muak tapi sesungguhnya dia akan terus mengalami hal yang sama secara berulang-ulang.
"Adel!" Madison berteriak dengan keras untuk memanggil Adel. Suara benda-benda yang jatuh ke atas lantai dan angin yang bertiup dengan keras menandakan jika Adel sudah hadir di tempat itu. Sesungguhnya dia memang sudah ada, dia selalu ada di tempat gelap yang menakutkan.
"Kenapa kau mencari aku, Madison?" tanpa Madison sadari, Adel sudah berada di belakangnya dan kuku panjangnya berada di bawah leher Madison.
"Apa kau rindu dengan teror yang aku berikan, Madison?" tanya Adel lagi.
"Jangan basa basi, iblis sialan. Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau menghalangi pandanganku sehingga para sahabatku tidak bisa melihat aku?" tanya Madison.
"Apa kau belum sadar, Madison?"
"Apa maksud perkataanmu?" tanya Madison tidak mengerti.
"Hi... Hi... Hi...!" Adel justru tertawa sehingga Madison semakin heran dibuatnya.
"Jangan tertawa, sekarang juga singkirkan halusinasi yang kau ciptakan ini!" teriak Madison marah.
"Ha... Ha... Ha... Ha..!" Adel tertawa dengan keras. Dia memang menghalangi pandangan Madison agar dia tidak melihat apa yang terjadi tapi Madison mengira semua adalah halusinasi yang dia ciptakan. Jika memang demikian, biarkan saja Madison beranggapan demikian.
"Berhentilah tertawa, aku sudah muak dengan semua ini. Sampai kapan pun kau tidak akan bisa mendapatkan jiwaku sekalipun aku terkurung si rumah ini tapi kau tidak akan pernah mendapatkan jiwaku!"
"Menarik, Madison. Cobalah kau cari tahu apa yang terjadi, mendapatkan jiwamu bukanlah perkara sulit bagiku dan aku akan tetap mendapatkan jiwamu yang dipenuhi oleh dosa itu. Kau pasti menjadi budakku, Madison. Hanya menunggu waktu saja karena kau sudah terikat denganku!" ucap Adel.
"Aku tidak sudi, aku tidak sudi terikat denganmu!" teriak Madison tanpa tahu akan situasi yang sedang dia alami saat ini.
"Ha.. Ha... Ha.... Ha..!" Adel justru tertawa dengan kerasnya.
__ADS_1
Dia memang sengaja menghalangi pandangan Madison agar Madi tidak bisa melihat sahabatnya terlalu lama di rumah itu. Hal itu Adel lakukan agar Madison tidak tahu jika dia sudah mati.
Madison memang sudah tidak bernyawa lagi setelah jatuh ke dasar tebing. Yang kembali adalah jiwanya, dia memang tidak bisa pergi ke mana pun dan akan selalu kembali ke rumah itu sesuai dengan kutukan yang Adel ucapkan yang menyebutkan jika orang membuka pintu kecil itu dan yang membebaskan dirinya tidak akan bisa pergi dari rumah itu. Orang tang melakukannya akan terikat dengan rumah itu untuk selamanya dan orang yang melakukannya adalah Madison oleh sebab itu, Madison kembali lagi dan lagi ke rumah itu tanpa bisa pergi karena mulai malam itu, di mana dia membuka pintu dan membebaskan Adel, dia sudah menerima kutukannya.
Setiap kali kejadian menakutkan yang dia alami, itu memang dia dapatkan dari para iblis yang ada di rumah itu. Suara langkah kaki yang dia dengar adalah suara langkah kaki Hana dan Jeremy yang sudah datang sebelumnya untuk mencari dirinya. Suara pintu yang terbuka dan tertutup juga ulah mereka berdua yang mencari Madison di setiap ruangan yang ada. Madi merasa dirinya di teror oleh para hantu karena suara langkah kaki itu dan suara pintu yang terbuka dan tertutup padahal suara itu ditimbulkan oleh kedua temannya yang sedang mencari keberadaan dirinya.
Rumah itu sudah mengikat dirinya oleh sebab itu seberapa keras Madison mencoba melarikan diri dari rumah terkutuk itu, dia akan terus kembali dan apa yang akan dia alami akan terus terjadi secara berulang-ulang sampai Adel berhasil mendapatkan jiwa penuh dosanya karena sampai sekarang, Adel memang belum mendapatkan jiwanya.
Tentunya Madison belum tahu jika dia sudah mati. Dia masih menganggap jika dia masih hidup dan berada di dunia pararel ciptaan Adel yang membingungkan apalagi dia merasa apa yang dia alami antara nyata dan halusinasinya saja akibat pengaruh obat.
Madison yang malang, dia bahkan tidak tahu jika keberadaan para sahabatnya di sana untuk mencari keberadaan dirinya dan tidak tahu apa pun yang terjadi pada dirinya sendiri. Jerat iblis memang sulit dihindari dan dia sudah terjerumus ke dalamnya, dia juga sudah terjebak di rumah itu tanpa dia inginkan tentunya dia tidak akan bisa pergi ke mana pun.
Tidak ingin mengandalkan Adel yang sudah pasti tidak akan memberikan apa yang dia inginkan, Madison berusaha mencari jalan keluarnya agar dia bisa bertemu dengan Hana dan Jeremy sehingga kedua sahabatnya bisa menolongnya dan membawanya pergi.
"Hana, Jeremy!" Madison berteriak memanggil kedua sahabatnya. Dia harap Hana dan Jeremy mendengar. Adel tertawa terbahak, dan seperti menertawakan kebodohan Madison serta ingin mempermainkan dirinya. Adel membiarkan Madison bisa melihat para sahabatnya di rumah itu. Madison sangat senang, ternyata Erick juga datang. Setelah ini dia pasti bisa pergi dari rumah itu.
"Hana!" Madison berlari ke arah Hana, "Jeremy, Erick!" dia pun memanggil kedua sahabatnya yang lain. Madison meneteskan air mata, perasaan bahagia memenuhi hati. Madison berlari sambil merentangkan kedua tangan, hendak memeluk Hana namun Hana melangkah pergi dan menembus tubuhnya begitu saja.
"Hana?" Madison seperti kebingungan, Hana berpaling dan mengusap tengkuk. Kejadian itu terjadi saat Hana hendak membuat minuman di dapur. Madison mengikuti Hana dan berusaha menyentuhnya tapi hal sia-sia yang dia dapatkan. Dia pun sudah berusaha memanggil Hana tapi sahabat baiknya itu tidak mendengarkan suaranya.
Dia benar-benar dibuat bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Hana tidak bisa mendengar panggilan darinya dan kenapa Hana melewatinya begitu saja?
"Menyerahlah, Madison. Mereka tidak membutuhkan dirimu!" ucap Adel.
"Diam!" teriak Madison lantang.
"Hi... Hi... Hi.... Hi....!" Adel tertawa, di susul dengan suara-suara tawa para iblis yang ada di rumah itu.
"Hentikan tawa kalian, hentikan!" teriak Madison. Dia tahu semua ini tidak nyata, semua tidak nyata.
Madison berlari menuju pintu karena ketiga sahabatnya keluar dari rumah terkutuk itu. Dia berteriak dan meminta mereka untuk menunggu tapi ketiga sahabatnya tidak mendengar. Madison semakin putus asa, dia sangat ingin tahu jawaban dari apa yang sedang terjadi.
"Apa kau ingin tahu apa yang sedang terjadi, Madison?" bisik Adel.
"Semua ini gara-gara kau!" teriak Madison.
__ADS_1
"Berikan jiwamu maka kau akan tahu!"
"Aku tidak sudi!" teriak Adel.
"Hi... Hi... Hi.. Hi, jiwamu pasti akan menjadi milikku!" ucap Adel sambil tertawa.
Madison muak dengan iblis itu, dia ingin keluar dari rumah tersebut tapi anehnya tidak bisa. Madison mendorong sekuat tenaga dauan pintu namun tidak bisa terbuka sama sekali.
"Buka pintu ini, Adel!" teriak Madison.
"Kau tidak akan bisa membuka pintu itu lagi untuk selamanya, Madison!"
"Jangan bercanda, buka!" teriak Madison.
Madison berusaha dengan keras, tapi dia tidak bisa membukanya. Suara sahabatnya kembali terdengar di luar sana, Madison berteriak dengan keras memanggil Hana. Madison bahkan berlari menuju jendela dan memukul kaca sambil berteriak memanggil Hana.
"Hana, aku di sini. Jangan tinggalkan aku!" teriaknya. Saat itu, Hana dan kedua sahabatnya sudah memutuskan untuk pergi dari rumah itu karena tubuh Madison sudah ditemukan.
"Hana, apa kau tidak bisa mendengar aku? Buka pintu itu untukku!" Madison masih berteriak sambil memukul kaca jendala.
"Madison!" Hana melihat ke arah jendela, dia merasa Madison berada di sana.
"Apa yang kau katakan? Madi sudah tiada dan kau tahu jasadnya sudah akan dibawa jadi jangan mengada-ada!" ucap Jeremy.
"Aku merasa Madison memanggil dan dia berada di sana." ucap Hana sambil menunjuk ke arah Jendela.
"Itu hanya perasaanmu saja. Kau masih terpukul karena baru saja kehilangan Madison. Ayo kita pergi, sebentar lagi gelap!" ajak Erick.
Hana masih melihat ke arah jendela tapi pada akhirnya dia mengangguk sambil mengusap air mata, mereka masuk ke dalam mobil sedangkan Madison terus berteriak memanggil mereka tanpa tahu jika dia sudah mati dan arwahnya akan terus terjebak di rumah itu.
"Jangan tinggalkan aku, Hana. Jangan tinggalkan aku!" teriak Madison sekeras mungkin tapi mobil yang dibawa oleh Jeremy sudah berjalan pergi. Madison terus berteriak, memohon mereka kembali namun sia-sia. Kegelapan itu kembali lagi, menyelimuti dirinya.
"Tidak... Tidak!" Madison memukul kaca sekuat tenaga namu sia-sia apalagi kegelapan kembali menghantui dirinya.
"Tidak!" teriak Madison lantang dan seringai jahat Adel kembali terukir di kegelapan karena Adel tidak akan berhenti sebelum jiwa Madison dia dapatkan.
__ADS_1