The House

The House
Kerangka-Kerangka Yang Ditemukan


__ADS_3

Jeremy dan Erick menemani Hana yang menunggu hasil tim pencari memberi kabar. Sesungguhnya mereka ingin mengajak Hana kembali tapi Hana menolak karena dia yakin jika Madison tidak seperti yang kedua sahabatnya katakan. Dia justru tetap merasakan kehadiran Madison di rumah itu namun dia tidak bisa melihatnya.


Madison yang bagaikan tersesat terus berteriak memanggil mereka tapi semua yang dia lakukan sia-sia. Hana dan Jeremy juga Erick tidak mendengar sekeras apa pun dia berteriak. Dia bahkan berusaha menyentuh Hana dengan cara mengibas-kibaskan kedua tangannya tapi dia tidak bisa menyentuh Hana sama sekali. Aneh, dia takut untuk menerka apa yang telah terjadi padanya. Sangat takut.


Hujan turun dengan derasnya di luar sana. Cuaca mendadak menjadi buruk. Para tim pencari mengalami kesulitan karena jarak pandang yang minim akibat kabut tebal yang menyelimuti hutan itu. Udara dingin pun membuat mereka menggigil dan anjing pelacak jadi kesulitan melacak aroma Madison yang mereka endus dari pakaian bekas yang Madi kenakan. Tidak saja satu anjing, beberapa anjing dikerahkan untuk mencari keberadaan Madison.


Tim pencari menyebar agar pekerjaan mereka cepat selesai, mereka tetap mencari meski cuaca buruk dan udara yang begitu dingin. Para anjing yang membantu pun masih menyelusuri hutan juga sekitar rumah itu. Semua tempat tidak tertinggal sampai pada akhirnya seekor anjing berlari ke arah rumah sambil menggonggong.


Seorang petugas yang menemani anjing itu pun berlari mengejar anjing yang seperti menemukan sesuatu apalagi anjing itu mulai menggali sebuah gundukan tanah menggunakan kedua kaki depannya.


"Dia menemukan sesuatu!" teriak petugas yang menemani anjing tersebut.


Beberapa petugas berlari ke arahnya, mereka sangat heran mendapati beberapa gundukan tanah seperti kuburan di belakang rumah tersebut. Para petugas itu saling pandang dengan ekspresi heran sedangkan anjing terus menggali menggunakan kedua kakinya sampai anjing itu menggigit sebuah tulang dan itu adalah tulang lengan manusia.


"Gali" perintahkan itu diberikan. Para petugas itu mulai sibuk menggali, mereka menemukan beberapa tulang manusia. Tentunya penemuan itu membuat petugas lain yang ada di sekitar rumah berlari ke arah lokasi. Mereka berbondong-bondong untuk pergi ke belakang rumah untuk melihat apa yang ditemukan oleh rekan-rekan mereka.


Hana dan Jeremy, juga Erick bergegas pergi ke belakang rumah itu untuk melihat apa yang ditemukan. Meski hujan begitu deras, mereka tidak peduli karena mereka berharap yang ditemukan oleh tim pencari itu adalah Madison tapi ketika melihat beberapa kerangka manusia membuat mereka terkejut dan Hana ketakutan.


"Bagaimana bisa ada tulang manusia di sana?" tanya Jeremy pada polisi yang sedang mengamankan tempat itu.


"Kami tidak tahu tapi sepertinya mereka korban pembunuhan yang di makamkan di tempat ini."


"Korban pembunuhan?" Jeremy terkejut mendengar itu begitu juga dengan Erick.


"Tidak mungkin, tidak!" Hana justru ketakutan.


"Jangan takut, sepertinya mereka korban yang sudah lama di makamkan di tempat itu. Sepertinya dulu rumah ini dijadikan tempat oleh seorang pembunuh untuk melancarkan aksinya," ucap petugas yang sedang memeriksa keadaan itu.

__ADS_1


"Jangan-Jangan Madi juga dibunuh!" ucap Hana.


"Kenapa kau berkata demikian, Hana?" tanya Jeremy.


"Aku ingat sekarang, dia pernah menghubungi aku. Itu terjadi saat malam pertama dia di rumah ini dan ketika kita menemukan keberadaannya yang sedang pingsan. Dia mengatakan padaku jika saat malam dia mendengar teriakan juga tawa di luar rumah. Dia berkata jika itu suara orang yang ingin menakuti dirinya tapi aku takut yang mengganggunya adalah pembunuh. Bagaimana jika dia diincar oleh pembunuh selama ini?" jujur saja setelah melihat kerangka manusia itu dia takut Madison ditangkap oleh pembunuh dan sudah dihabisi.


"Tapi di sekitar ini tidak ada rumah siapa pun. Bagaimana bisa ada yang membunuhnya?" ucap Erick.


"Bagaimana jika ada psikopat yang bersembunyi di dalam hutan? Bagaimana jika Madison sudah dibunuh oleh psikopat itu? Jujur saja, aku selalu merasa Madison berada di dekat kita."


"Jangan mengada-ada sehingga memperkeruh suasana. Jika ada psikopat apa kau kira dia tidak bisa melarikan diri? Aku sangat yakin Madison sudah pergi dari tempat terpencil ini. Saat ini jangan membuat bingung petugas. Ayo kembali, biarkan mereka mencari Madison. Jika sampai malam tidak ada, maka kita akan kembali!" ucap Jerry.


"Aku setuju dengan Jerry," Erick melangkah pergi, menyusul Jerry yang sudah melangkah pergi terlebih dahulu. Dia tidak akan terlalu lama berada di rumah yang ada di tengah hutan itu apalagi tidak ada penerangan karena listriknya memang sudah mati akibat sambaran petir.


Hana memandangi tulang belulang yang sedang di evakuasi. Entah siapa yang telah menjadi korban, dia harap Madison tidak berakhir seperti itu. Hana pun mengejar kedua sahabatnya yang sudah melangkah menuju rumah. Hana bahkan melihat rumah itu sejenak, dia merasa ada yang memperhatikan. Seseorang seperti melihat dirinya dari jendela.


"Tunggu aku!" Hana berlari mengejar Jeremy dan Erick. Tiba-Tiba dia merasa merinding dan takut.


"Madi?" Hana berpaling, dia merasa ada Madison berada di dekatnya.


Seseorang seperti berbisik di telinga Hana, entah karena apa kedua kakinya melangkah dengan sendirinya menuju lantai basemen. Hana membawa ponselnya untuk menjadi penerang, Jeremy dan Erick sangat heran melihat tingkahnya.


"Hana, mau pergi ke mana?" tanya Jeremy tapi Hana tidak menjawab.


"Hana!" Erick pun mengikuti.


Hana masih saja tidak menjawab, dia masih saja menuruni lantai basemen yang gelap. Erick dan Jeremy pun menggunakan ponsel mereka untuk dijadikan penerangan agar mereka bisa melihat apa yang ada di dalam lantai basemen itu.

__ADS_1


"Tunggu di sini!" Jeremy melangkah mendekati generator listrik yang sesungguhnya memang ada di lantai basemen.


Hana masih saja terus melangkah menuju sebuah pintu kecil yang terbuka. Jeremy menyalakan lampu setelah dia berhasil membuka penutup generator sehingga lantai basemen menjadi terang menderang.


"Astaga, apa yang terjadi di tempat ini?" Erick dan Jeremy melihat gudang yang begitu berantakan dan berbau tidak sedap.


"Apa yang kau temukan, Hana?" Jeremy dan Erick melangkah mendekati Hana yang diam mematung di sisi pintu yang terbuka. Hana masih tidak menjawab, dia seperti dirasuki sesuatu namun Hana menunjuk ke dalam lantai yang gelap namun ada sedikit cahaya dari tempat itu.


"Apa yang kau lihat?" tanya Jeremy.


"Aku akan turun!" Erick berinisiatif untuk turun ke bawah. Dengan bermodalkan senter dari ponsel, Erick turun ke bawah dan mencari tahu apa yang terjadi namun tidak lama karena dia kembali naik ke atas dengan wajah yang pucat.


"Ada apa, Erick?" tanya Jeremy.


"Dua tengkorak dan juga Milo," jawab Erick.


"Sial!" umpat Jeremy. Jangan katakan jika tebakan Hana sangat benar jika Madison sudah dibunuh oleh psikopat.


"Kita harus melaporkan hal ini pada petugas!" tangan Hana ditarik, mereka akan mencari petugas di luar sana. Hana berbalik, seperti melihat sesuatu namun dia tidak tahu apa.


"Hana, apa kau baik-baik saja?" tanya Jeremy.


"Oh, hm," Hana mendadak jadi linglung.


"Bagaimana kau bisa tahu tempat itu," tanya Erick.


"Entahlah, aku tidak tahu!" jawab Hana karena dia memang tidak tahu.

__ADS_1


Mereka memanggil beberapa petugas untuk mengatakan apa yang mereka lihat namun pada saat itu, suara teriakan dari seorang petugas yang ada di hutan mengejutkan mereka semua.


"Kami menemukan dirinya, kami menemukannya!" teriakan itu tentu membuat Hana senang begitu juga dengan Jeremy dan Erick. Mereka bergegas mengikuti dan berharap yang petugas itu temukan benar-benar Madison dan mereka juga berharap, Madison baik-baik saja apalagi mereka mulai setuju dengan dugaan Hana jika Madison bertemu dengan psikopat dan melarikan diri ke dalam hutan untuk menyelamatkan dirinya.


__ADS_2