The House

The House
Dia Akan Menangkap Jiwamu


__ADS_3

Suara tangisan bayi menghantui Madison. Madison menutupi kedua telinganya, dia tidak mau mendengarnya, tidak mau. Tangisan bayi itu tak juga berhenti seolah-olah mengingatkan apa yang dia lakukan. Mengingatkan ketika dia memutuskan untuk melakukan aborsi karena dia tidak siap memiliki anak apalagi Rian mendesaknya untuk menggugurkan bayi mereka.


Betapa bodohnya, dia sudah melakukan dosa yang sangat fatal. Tidak seharusnya dia membunuh darah dagingnya sendiri, tidak seharusnya dia mengikuti perkataan Rian. Seandainya dulu dia lebih pintar dan tidak terperangkap dalam permainan cinta Rian, mungkin dia tidak akan berada di tempat mengerikan itu. Sekarang bukan ketenangan yang dia dapat melainkan teror tiada henti juga perasaan takut karena dosa-dosa yang telah dia lakukan.


"I'm sorry... I'm sorry!" teriak Madison sambil memegangi perutnya. Dia masih berada di luar, berbaring di atas rerumputan yang basah dan berada di bawah guyuran air hujan yang tiada henti.


"Bayimu memanggil, Madison. Dia ingin kau datang menemani dirinya sebagai penebus dosa yang telah kau lakukan karena telah membunuhnya!" iblis itu tidak juga pergi, iblis itu menggoda dirinya agar Madison menyerah karena dosa-dosa yang dia lakukan.


"Aku tidak melakukannya, tidak melakukannya!" ucap Madison.


"Lihatlah itu, Madison!" ilusi akan keberadaan bayinya kembali di perlihatkan, "Lihatlah bayimu yang sangat membutuhkan dirimu, sekarang pergilah karena dia ingin kau menggendongnya!"


"Bayiku," Madison terbuai, dia percaya jika yang dia lihat adalah bayi yang telah dia bunuh.


"Yes, pergilah dan gendong bayimu. Dia akan tenang jika kau bersama dengannya!" iblis itu berbisik, mendorong Madison agar masuk ke dalam jebakannya.


"Bayiku, bayiku!" Madison melangkah terhuyung mendekati sosok bayi yang sesungguhnya tidak ada sama sekali.


"Perilah bersama dengannya, Madi. Pergilah!"


"Haa.... aha... Ha.. Ha... Ha!" Madi mulai tertawa, dia akan menyusul bayinya. Dia akan menebus semua kesalahan yang dia lakukan.


Madison berlari memasuki rumah, seutas tali yang entah datang dari mana sudah dia dapatkan. Madison juga menarik kursi serta mengikat tali itu di kayu yang ada di langit-langit ruangan. Dia benar-benar menganggap jika yang dia lihat itu benar-benar bayinya. Madison bahkan tertawa sambil mengikat tali.


"Mommy datang, Honey. Kau tidak akan sendirian lagi, tidak akan karena Mommy akan bersama denganmu mulai saat ini!" ucapnya. Tali sudah selesai diikat, Madison sudah memasukkan kepala ke dalam tali. Dia tertawa saat melakukannya, dia pasti akan datang dan menemani bayinya.


"Do it, Madison!" bisikan itu terdengar di telinganya.

__ADS_1


Tali yang sudah menjerat leher di genggam, dia sudah siap. Madi teperdaya dengan bisikan iblis itu, dia benar-benar akan melakukan bunuh diri namun sebelum hal itu terjadi, Madi mendengar teriakan Adel yang mencegah dirinya untuk tidak melakukan tindakan itu.


"Hentikan, Madison. Hentikan!" teriak Adel.


"Biarkan aku pergi, biarkan aku pergi menemani bayiku."


"Jangan bodoh, jika kau melakukannya maka kau benar-benar akan bergabung dengannya!"


"Diam, budak kurang ajar!" iblis itu sangat marah lalu angin kencang menerjang Adel dan menghempaskan tubuhnya.


"Jangan menyerahkan jiwamu padanya, Madi. Sadarlah!" teriak Adel.


"Diam kau!" amarah semakin menjadi karena Adel menggagalkan rencana padahal tinggal sedikit lagi. Tubuh Adel terangkat ke atas, teriakan Adel menyadarkan Madison.


Madison melihat sekitar, bayi yang dia lihat tidak ada lagi dan yang ada hanya ada Adel yang sedang kesakitan. Madison melompat turun dari atas kursi lalu dia mengambil kursi itu dan melemparkannya ke iblis yang sedang berdiri tidak jauh dari Adel.


"Beraninya kalian?"


"La-Lari!" ucap Adel sambil memegangi lehernya yang sakit.


"Aku akan mengambil jiwamu, Madison!" iblis itu berteriak di susul dengan suara benda yang berbunyi. Semua pintu kembali terbuka dan tertutup. Kursi-kursi beterbangan ke atas disusul dengan benda lainnya.


Madi melihat ke arah Adel lalu melihat sosok mengerikan yang terlihat marah itu. Adel pun memundurkan tubuhnya, Madi kembali melihatnya lalu melihat iblis jahat yang menginginkan jiwanya.


"Kau akan menjadi budakku, Madison!" sosok mengerikan itu terbang ke arahnya namun Madison sudah berlari ke arah Adel dan meraih tangannya, "Lari!" teriaknya.


"Aku tidak akan melepaskan dirimu!" iblis itu berbalik, mengejar Madison yang sudah berlari menuju kamar bersama dengan Adel.

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa lari dariku, Madison!" iblis itu mengejar, jiwa Madison harus dia dapatkan.


Madison menutup pintu dengan rapat, dia mengajak Adel masuk ke dalam lemari dan bersembunyi di dalamnya. Suara teriakan iblis itu terdengar di luar, menakuti mereka berdua. Madison memeluk Adel dengan erat, kali ini dia tidak akan membiarkan Adel menghilang lagi dari hadapannya karena banyak yang ingin dia tanyakan pada Adel. Dia akan memaksa Adel untuk mengatakan padanya mengenai rumah aneh itu.


"Teruslah bersembunyi, Madison. Teruslah lari karena pada akhirnya kau akan aku dapatkan!"


Madison menutup mulut rapat, meski gelap tapi dia berusaha untuk tidak takut karena dia merasa, iblis itu sangat menyukai rasa takut yang dia rasakan. Dia tidak bisa terus bermain di lingkaran setan. Dia sudah berlari tapi dia justru kembali lagi dan lagi sehingga membuatnya terjebak di rumah itu tanpa bisa pergi ke mana pun.


Satu hal pula yang dia sadari, meski Adel bersama dengannya, iblis itu tidak menginginkan jiwa Adel. Sejak awal dia sudah tahu ada yang salah, keberadaan Adel yang ada dan tidak membuatnya curiga jika Adel bukan manusia melainkan arwah dan dia menebak jika Adel adalah arwah yang terjebak di rumah itu dan jangan katakan jika dia juga rawah seperti Adel.


Suara iblis itu sudah pergi, Madison bernapas lega. Akhirnya teror itu pergi, semoga kali ini dan dan Adel memiliki waktu untuk berbicara sehingga dia bisa tahu apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang harus dia lakukan. Pintu lemari dibuka dengan perlahan, Madison mengintip keluar dari celah pintu lemari. Tidak ada, sepertinya tidak ada karena kamar yang begitu gelap sehingga dia tidak bisa melihat apa pun meski begitu, dia tidak berani keluar dari dalam lemari.


"Percuma. Madison. Dia tidak akan pernah melepaskan dirimu dan akan selalu mengejar ke mana pun kau pergi!"


"Kenapa, Adel? Kenapa dia hanya menginginkan aku dan kau tidak? Apa kau nyata ataukah kita berdua tidak nyata?" tanya Madison.


"Kau nyata, Madison. Tapi dia sudah mendapatkan aku dan sekarang, dia menginginkan dirimu saja!" jawab Adel.


"Itu sebabnya kau dipanggil budak olehnya?"


"Aku tidak mau, aku sungguh tidak mau!" Adel terdengar frustasi, dia juga terdengar ketakutan. Dia seperti sudah melewati hal menakutkan selama dia berada di rumah itu.


"Jangan takut, kau tidak sendiri karena ada aku!" Madison memeluk Adel, dia harus menenangkan Adel terlebih dahulu jika dia ingin berbicara dengannya karena Adel selalu ketakutan lalu menghilang.


"Dia akan menangkap jiwamu, jadi jangan sampai dia menangkapmu seperti dia menangkap aku!" ucap Adel.


"Tidak akan, dia tidak akan bisa menangkapku jika kau bersama denganku dan mengatakan padaku apa yang terjadi!" ucap Madison sambil menenangkan Adel. Dia harap Adel bisa diajak bekerja sama dan tidak menghilang lagi seperti yang sudah sudah.

__ADS_1


__ADS_2