
Setelah terjebak macet selama beberapa menit karena aktivitas orang-orang di pagi yang sibuk ini akhirnya Felicia, Elyza, El dan Ara sampai di gedung perusahaan Adijaya.
Mereka berempat segera masuk kedalam lobby yang tampak sepi karena semua orang di perusahaan itu diliburkan, kok bisa?
Ya bisa aja orang yang megang perusahan itu pamannya Juna kok alias adik mamanya Juna jadi karena ada si kapten semuanya jadi mudah deh.
"Semua pegawai benar-benar libur ya?" tanya Elyza
"Iya, kayak kita yang libur seenaknya, ucap Felicia senang.
"Alah bocah, kalian libur seenaknya gue dulu sekolah dipaksa, gak dikasih libur," ucap El.
"Hari minggu sama sabtu gak libur juga ya kak?" tanya Elyza polos.
"Ya, liburlah orang full day juga sekolah swastakan, beda sama negeri, ya, bapak gue seenak aja nyuruh pulang sore," ucap El.
"Shut El orangtua sendiri dikatain dosa tau! "seru Ara memperingati.
"Iya gue juga tau," ucap El.
"Is, is, kakak ini ya, susah loh kalau nanti mau dapatin cewek yang agamanya kuat soalnya menurut mereka kakak belum pantes jadi imam karena kebanyakan dosa,"ucap Felicia yang entah mengapa membuat El diam tertegu.
"Oke kalau gitu ayo kita ke tkp pertama," ucap Felicia ceria lalu pergi diikuti Elyza juga Ara dan El yang mengikuti di belakang mereka.
Ting~
Pintu lift terbuka membuat ke 4 orang itu berjalan keluar dan segera menuju ruangan tim korban.
"Jadi ini Tkp pertama kita?" tanya Elyza.
"Yap, jadi ayo kita cari petunjuk disini," ucap Felicia dengan semangat 45 lalu mereka segera meneliti dan mencari kalau kalau ada petunjuk lainnya.
Ara membuka sebuah laci yang entah laci siapa kan tadi Felicia nyuruh nyari pentujuk di ruangan itu otomatis ya semua yang ada diruangan tersebuat, bukan hanya milik korban saja.
"Apa ini? Sebuah obat?" gumam Ara bingung ketika mendapati sebuah pil di dalam sebuah toples kecil, lalu mengamatinya.
"Fe, Ly, lo berdua dapat petunjuk baru gak? Gue gak ada dapat nih," ucap El memberi tau.
"Sama kak Ely juga gak dapat," ucap Elyza menyahuti.
'Hm kira-kira siapa saja yang bisa dijadiin tersangka, ya? Satu udah dan tinggal di interogasi aja jadi gimana cara dapat yang lain, masa harus mewawancarai satu kantor' batin Felicia sambil duduk berpikir di kursi yang entah milik siapa.
"Yailah, nih anak malah enakan duduk santai aja bukannya bantuin. Oi Fe!" seru El kesal menyadarkan Felicia.
"Diam kak, Fea juga bantuin nih," ucap Felicia.
"Bantu apa? Dari tadi kamu duduk disana juga," ucap Elyza yang juga kesal.
"Bantu mikir," balas Felicia dengan polosnya yang membuat El dan Elyza gemes ingin mencakar gadis itu.
"Fe, nih gue ketemu ini di laci meja, gak tau deh punya siapa, ini obat apa ya?" tanya Ara memberikan obat tadi pada Felicia.
Felicia mengambil botol obat dari tangan Ara dan memperhatikannya, Felicia mebuka botolnya lalu mencium baunya untuk mengetahui obat apa itu.
Wajah Felicia agak terkejut namun ia kembali menormalkan diri dan berpikir keras tentang seseorang yang kiranya berkaitan dengan obat yang ditemukan itu
"Kok gue rasanya gak asing ya sama obat itu?" gumam El tanpa suara sambil melihat lekat obat yang ada ditangan Felicia tadi.
"Jadi, itu obat apa?" tanya Elyza, sebelum Felicia sempat menjawab, seorang pria datang menghampiri mereka.
"Hm maaf, sebelumnya perkenalkan saya Bima, ketua divisi ini dan saya sudah tau tentang pemeriksaan oleh kalian dari Pak Adib, maaf menganggu saya hanya ingin mengambil berkas yang ketinggalan," ucap pria bernama Bima itu.
"Oh, gitu ya ok Pak Bima salam kenal juga, saya Scarleet dan ini Gemini juga ada Black Wolf dan Fox Lady kami dari WE," ucap Felicia memperkenalkan dirinya juga El, Elyza dan Ara dengan nama mereka di anggota WE.
Dan yang pasti tidak akan ada yang tau identitas mereka karena ia dan Elyza memakai masker, kecuali El dan Ara yang sudah banyak yang tau nama aslinya.
"Oke, senang berkenalan dengan kalian," ucap Bima berjabat tangan dengan Felicia.
"Hm baiklah kalau gitu Pak Bima, saya ingin bertanya-tanya sedikit pada anda, apa boleh?" tanya Felicia.
"Selama itu bisa membantu menemukan pelaku penculikannya, tentu saja," jawab Bima.
"Oke baiklah silakan duduk dulu," ucap Felicia pada Bima untuk duduk dikursi yang entah dari mana datangnya, Bima duduk disana menghadap Felicia.
Felicia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Bima berpikir sambil mengelilingi Bima yang membuat Bima menjadi keringat dingin.
'Dia sepertinya bisa jadi petunjuk penting, berkeringat dingin tanpa sebab aku yakin dia bisa jadi petunjuk yang berguna,' batin Felicia berpikir.
"Jika aku boleh bertanya? Itu meja siapa?" tanya Felicia menunjuk meja tempat Ara menemukan obat tadi.
"Oh, itu meja Fiona," jawab Bima.
"jadi itu meja korban," gumam Elyza sambil mengangguk angguk paham.
"Lalu menurut anda, Fiona orang yang bagaimana?" tanya Felicia lagi.
"Entahlah aku juga kurang tau, yang aku tau dia hanya gadis ceria yang murah senyum juga gadis manis, baik dan cerdas, dia juga menyukai kopi dan sering pergi ke pantry untuk membuatnya," ucap Bima.
"Lalu apa anda tau tentang obat ini? Apa ini milik Fiona?" tanya Felicia lagi.
"Oh, obat itu saya juga kurang tau yang saya tau Fiona sering meminumnya katanya itu obat sakitnya tapi saya juga tak tau pasti," Jawab Bima.
'kalau benar dugaan gue tentang obat itu masa iya korban...,' batin El berpikir.
"Sudah berapa lama korban memakai obat ini?" tanya El
"Hampir setahun," jawab Bima, membuat Felicia kembali berpikir.
"Oh, begitu baikalah terimakasih telah membantu," ucap Felicia sambil tersenyum.
"Saya rasa kami memerlukan nomor telpon anda, kalau semisalnya ada hal ingin kami tanya lagi, karena anda adalah ketua divisi, mungkin?" ucap Felicia.
Bima memberikan nomor telponnya kepada El sedangkan Felicia masih memperhatikan obat tadi dengan seksama.
"Ayo Fe kita udah selesai," ucap El memberi tau.
"Baiklah kalau begitu pak Bima kami pamit dulu," ucap Felicia berpamitan pada Bima yang hanya di balas anggukan oleh pria itu.
"Ayo cepat!" seru Felicia pada El, Elyza dan Ara.
Lalu 4 orang itu segera pergi meninggalkan Bima di ruangan tersebut.
"Huf...ini mengejutkan mereka meminta agen untuk menyelidiki kasus ini dan itu adalah agen WE" ucap Bima lalu mengambil berkas yang ia cari.
.
.
.
"Baiklah sekarang kita akan kemana?" tanya El yang mengemudikan mobil.
"Ke tempat tersangka selanjutnya, kalian buat janji di mana?" tanya Felicia.
"Di kafe yang tak jauh dari sini," jawab Ara.
__ADS_1
"Baiklah kita akan kesana, ayo temukan bukti selanjutnya!" seru Felicia dengan semangat.
Di kafe tempat tujuan....
Felicia , El, Elyza dan Ara memasuki kafe itu dan melihat seorang wanita yang sedang duduk termenung di sebuah meja, keempat orang itu segera menghampiri wanita tersebut.
"Maaf mengganggu tapi apa benar anda adalah Fella Akshaya?" tanya Felicia pada wanita tersebut.
"Ya, itu saya," jawab wanita bernama Fella itu.
"Oh, baiklah perkenalkan saya Scarlett disamping saya ada Gemini, Black Wolf juga Fox Lady," ucap Felicia memperkenalkan diri mereka.
"Oh, ya, saya Fella Akshaya panggil aja Fella" ucap Fella memperkenalkan dirinya dengan rona merah diwajahnya ketika melihat El.
'Demi apa? Dia...,' batin Elyza.
'Tersipu karena kak El?!' batin Felicia seakan menyambung batin Elyza tadi.
"Baik kalau gitu apa kami boleh duduk?" tanya Ara dengan ramah walau sebenarnya Felicia dapat melihat wajah kesal dari wanita itu.
"Oh ya, silakan," ucap Fella.
Felicia segera duduk di kursi sebrang Fella dengan Elyza dan El sedangkan Ara duduk di samping Fella.
Felicia memberi kode pada Elyza untuk bertanya karena dialah yang akan mengintrogasi kali ini, Elyza mendapat kode itu segera mengangguk lalu mengangkat suara.
"Maaf sebelumnya kami menganggu waktu kak Fella," ucap Elyza dengan binar mata sedih yang entah membuatnya menjadi menggemaskan di depan Fella walau kini ia memakai masker.
"Ng-gak kok, gak ganggu sama sekali lagian saya juga gak ada yang mau dikerjain," ucap Fella tersenyum manis, El memandang Fella bukan terpesona tapi hanya pandangan datar dan bingung.
"Akh-," ringis El membuat semua mata menoleh kearahnya.
"Ada apa Black?" tanya Ara sambil dengan khawatir ralat pura-pura karena sebenarnya ialah yang menyebabkan El meringis.
"Tidak, tidak apa-apa cuma sepertinya kaki saya sakitnya kambuh," ucap El tersenyum pada Ara.
'So! Suaranya maskulin' batin Fella menjerit girang dalam hati.
"Oh, gimana nih? Apa kita harus kedokter?" tanya Ara pura-pura khawatir.
"Gak usah saya disini saja sama kamu, kalau lihat kamu senyum udah sembuh kok," ucap El tersenyum dengan manis membuat Ara melotot kesal padanya. Felicia dan Elyza hanya memandang El dan Ara datar.
'Haduh pasangan ini malah drama lagi," batin Elyza.
'Kalau suka ya bilang, gak usah cemburuan gitu. Dua duanya sama aja,' batin Felicia, lalu saling pandang dengan Elyza untuk menyambung interogasi.
"Khm, baiklah kak Fella saya boleh nanya?" tanya Elyza membuat semua perhatian beralih padanya.
"Ya,silakan," jawab Fella ramah.
"Gini kak, saya ingin menanyakan tentang kakak saya Fiona," ucap Elyza yang kini berperan menjadi adik Fiona ya sekedar pura-pura. Tapi mendengar ucapan Elyza tadi wajah Fella menjadi suram seketika.
"Saya dengar kakak adalah sahabat baik kak Fiona maka dari itu saya menemui kakak," ucap Elyza melanjutkan, "apa kakak bisa membantu saya?" tanya Elyza dengan nada memohon.
"Tentu, apa yang bisa saya bantu?" tanya Fella mempertahankan senyum ramahnya.
'dugaanku betul tersangka pertama dan korban beberapa waktu ini tidak memiliki hubungan baik' batin Felicia.
Tiba-tiba Felicia membelalakan mata saat melihat sosok yang tak asing dimatanya.
'Itukan...bagaimana mungkin dia baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi?' batin Felicia bingung.
"Gini kak, menurut kakak, kak Fiona itu gimana?" tanya Elyza membuat Felicia memandang ke pada kedua orang itu.
"Hm...Gimana ya menurutku Fiona adalah gadis yang ceria dan baik ya itu sebelumnya," ucap Fella diakhiri gumaman.
"Scar, tahan dulu," ucap Elyza, membuat Felicia mengangguk.
"Ya maaf," ucap Felicia suara kecil.
"Baiklah Kak, bisa Kakak jelaskan apa maksud Kakak dengan sebelumnya itu?" tanya Elyza, Fella ragu-ragu ingin menjawab.
"Tenang kami akan ada di pihakmu, jadi katakan apa pendapatmu," ucap Ara lembut memegang bahu Fella.
"Hm... Sebenarnya sebelunya aku benar-benar berteman baik dengan Fiona, tapi beberapa bulan ini dia berubah," ucap Fella.
"Berubah gimana?" tanya Elyza.
"Entahlah tapi yang pasti dia sering ke klub, suka membully juga telah merebut pacarku," ucap Fella dengan merintikan air mata.
"Sering klub malam?" gumam Felicia, "Apa sebelumnya dia juga punya pacar?" tanya Felicia.
"Ya, dia putus dengan pacarnya sebulan yang lalu, kepribadian Fiona sering berubah kadang dia sering meminta maaf padaku lalu hari berikutnya ia memandangku dengan sinis," jawab Fella.
"Dengan siapa dia akrab?" tanya Felicia lagi.
"Aku juga kurang tau soal itu, yang aku tau dia kini memang agak akrab dengan Pak Bima juga Ami,"jawab Fella.
'Bima yang itu? Sepertinya ada yang salah, apa ada yang aku lupakan ya?' batin Felicia.
"Lalu apa lagi yang kau ketahui?" tanya Felicia.
"Tak banyak tapi yang pasti dua minggu belakangan ini dia aneh," ucap Fella.
"Dua minggu belakangan ini?" tanya Elyza mengulang ucapan Fella.
"Dia pergi kekantor?" tanya El.
"Hen...ya," jawab Fella mengiyakan.
'Benar-benar ini ada yang gak beres,' Felicia berpikir lalu seakan teringat sesuatu melintas di pikirannya.
'selama itu bisa membantu menemukan penculiknya tentu'
Ucapan Bima tadi yang tergiang pikitan Felicia.
'Bagaimana dia tau tentang kasus itu? Bukannya semua orang kantor tidak ada yang tau? Lalu korban dua minggu selalu hadir kekantor?bukankah dia sudah hilang selama itu? Kecuali korban...,' batin Felicia berpikir.
"Lawan atau kawan, sial!" seru Felicia mengumpat kecil.
"Terima kasih atas info dari anda kalau boleh saya tau siapa nama mantan anda dan mantan Fiona?" tanya Felicia.
"Mirza dan Fandi," jawab Fella.
"Baiklah kalau begitu terima kasih atas waktu anda, kami pamit dulu, ada urusan penting yang harus di kerjakan," ucap Felicia lalu segera pergi diikuti yang lain.
"Yasudah kak terima kasih," ucap Elyza lalu mengikuti Felicia.
"Terima kasih Fella, jika ada sesuatu yang ingin kami butuhkan aku harap kamu siap menerima telpon dari kami," ucap Ara pada Fella lalu ingin melangkah pergi di ikuti El.
"Eh tunggu, hm... Boleh aku meminta nomor telponmu?" tanya Fella pada El membuat Ara kesal.
"Oh, cepat Black, Scarlett telah menunggu kita," ucap Ara sambil menarik tangan El yang malah mebuat El tersenyum, lalu mereka segera pergi keluar.
"Sebenarnya ada apa sih Fe?" tanya El ketika mereka berada di luar.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya saja kita harus kembali kekantor perusahan Adijaya," bukan Felicia yang menjawab melainkan Elyza.
"Kalian masih ingat Bimakan?" tanya Felicia ketika di dalam mobil yang membuat Elyza, El dan Ara mengangguk.
"Aku rasa dia tau sesuatu, kalian ingat ucapannya tadi dia ada mengatakan penculikan, padahal tidak ada orang kantor yang tau sekalipun sedangkan kata Fella, Fiona ada di kartor dua minggu ini jadi bagaimana mungkin dia tau," ucap Felicia.
"Tapi Fe, dua minggu ini bukannya korban menghilang bagaimana mungkin dia berada di kantor?" tanya Ara.
"Ya, Fea, juga binggung tentang itu tapi sepertinya kita harus menginterogasi 4 orang untuk menemukan petunjuk teman Fiona belakangan ini Ami, ketua divisinya, Bima juga mantan pacarnya Fandi dan pacar Fiona Mirza," ucap Felicia.
"Juga keluarga korban karena Fea memiliki beberapa dugaan, ya itu hanya dugaan," ucap Felicia diakhiri gumaman.
"Baiklah kita sudah sampai," ucap El membuat semua mendogak melihat gedung perusahaan Adijaya yang merupakan tujuan mereka.
"Baiklah ayo!" seru Felicia lalu meteka turun dan segera memasuki gedung tersebut.
Mereka berempat naik ke lantai ruang korban berkerja dan tak menemukan Bima sama sekali.
"Dia sudah pergi kayaknya," ucap Ara.
Felicia memutar otaknya seakan mencari sesuatu lalu melihat seorang Ob dan segera menghampirinya.
"Maaf pak sebelumnya, apa bapak ada nampak Pak Bima?" tanya Felicia pada pak Ob tersebut.
"Ya, tapi dia sudah pergi dari tadi," ucap sang Ob.
"Kita telat," ucap El.
"Baik pak terima kasih tapi apa boleh saya bertanya? "tanya Felicia
"Ya, silakan saja"ucap si Ob mempersilakan.
"Hm... Apakah dikantor belakangan ini ada yang mencurigakan atau ganjal atau mungkin berbeda?" tanya Felicia membuat si Ob enggan menjawab.
"Pak, mohon kasih tau saya karena ini penting," ucap Felicia.
"Hm... Sebenarnya saya merasa menganjal pada gudang dan gang di belakang," ucap si Ob, "saya merasa ada bau amis menyegat di kedua tempat itu.
"Oh gitu, makasih pak kalau gitu kami pergi dulu wassalamualaikum," ucap Felicia yang di jawab oleh Ob tersebut lalu sang Ob segera pergi.
"Ok, ayo kita ke Tkp berikutnya ke gudang belakang," ucap Felicia dengan semangat.
...****...
Sesampainya di gudang....
"Benar kata si bapak tadi disini amis,"ucap Ara lalu mereka berempat segera masuk kegudang tersebut.
"Allahuakbar, apa ini? Darah!?" seru Elyza kaget ketika melihat darah kering yang berceceran di lantai gudang.
"Ya, sepertinya ayo cepat periksa gudang ini!" seru Felicia membuat mereka memeriksa gudang itu.
Ara mencari di dekat rak rak di gudang dan menemukan sarung tangan yang di penuhi darah kering.
"Pembunuhnya adalah orang amatir," gumam Ara.
"Fe, gue dapat nih, sarung tangan berdarah," ucap Ara mendekati Felicia.
"Gue juga nih tas, kayaknya tas cewek ya?" tanya El melihatkan tas wanita yang lumayan bermerek.
"Ya iyalah bego, gak nampak apa itu tas cewek!" seru Ara kesal.
"Nyantai Neng gak usah ngegas," balas El.
"Udah ih, nih Ely mau nanya jepit rambut ini penting gak?" tanya Elyza memperlihatkan sebuah jepit rambut pada mereka bertiga.
"Pasti dan sepertinya pembunuhnya adalah orang kaya, aku yakin itu tas pembunuhnya dan yang pasti ini adalah tempat pembunuhannya," ucap Felicia.
"Ok, sepertinya cukup kita harus memeriksa satu tempat lagi," ucap Felicia lalu berjalan riang keluar gudang begitu juga dengan El, Ara dan Elyza.
Mereka bertiga segera menuju gang yang di sebut si Ob tadi.
"Oh ya ampun bau amisnya lebih menyegat disini," ucap El.
"Ayo kita lihat apa yang bisa temukan di dalam," ucap Felicia.
"Uh makin kedalam baunya makin menyengat," keluh El.
Tiba-tiba Felicia berhenti membuat Ara, El maupun Elyza ikut berhenti lalu melihat apa yang dipandang Felicia.
"Oh, ya Allah," ucap Ara ketika melihat pemandangan di depan mereka.
Tubuh Felicia gemetar, matanya yang ke emasan berubah menjadi ungu pekat, walau telah memakai masker bau darah masih tercium olehnya.
Melihat pemandangan di depannya membuat dia memutar kejadian beberapa tahun yang lalu.
Mereka menemukan hal yang tak terduga, sebelah tangan terpotong tergeletak di lantai tampa jari, lalu kaki, kedua benda itu di penuhi darah kering, juga baju koyak.
Plastik hitam besar berada disana dengan jari di sela selanya,usus tubuh manusia, hati juga jantung berserakan dan yang terakhir kepala seorang wanita tergantung di dinding.
Dan yang lebih mengejutkan lagi kepala serta badan itu adalah....
Korban...
Fiona...
"I-tu m-mayat k... Korban, di-dia di- mut...ti...lasi," ucap Felicia gemetar.
Darah kering berserakan di sana menambah kesan ngeri, hal yang malang yang terjadi pada sang korban wanita berumur 24 tahun yang baru memulai karirnya.
Fiona Putri Urmila, mati dengan nasib yang menganaskan, di mutilasi!
...'semangat menghampiri...
...Tercium aroma yang khas...
...Perlahan namun pasti...
...Inti kasus mulai jelas'...
^^^Bersambung...^^^
2 September 2019
Noveltoon : 26 Desember 2020
Assalamualaikum Wr. Wb
Terima kasih bagi yang baca cerita ini
Jangan lupa vote dan commen
Tunggu part selanjutnya senin depan
Salam dari🙏
__ADS_1
Alyaciya
Wassalamualaikum