
Kring~
Bel istirahat telah berbunyi sehingga seluruh siswa siswi berhamburan keluar kelas.
Ray, Abil, Rafan, seorang gadis yang mirip Alan dan satu gadis lainnya memasuki kelas XII IPA A menjemput tiga teman mereka yang lainnya.
Saat mereka masuk kelas mereka disuguhi pemandangan yang luar biasa aneh, Alan yang biasanya dingin kini lesu begitu juga Zain yang biasanya menatap orang tajam, mereka tak seperti biasanya.
"Mereka kenapa sih? "tanya gadis yang mirip dengan Alan, kembarannya Alan, Alana namanya.
"Gara gara kemarin mungkin, " jawab Rafan.
"Emang kemarin kenapa? "tanya gadis satu lagi Nuri namanya.
Pertanyaan Nuri tak dihiraukan oleh mereka dan malah pergi menghampiri Alan, Zain dan seorang cowok yang memandang bosan kedua orang yang tak ada semangat untuk hidup. Nuri dan Alana saling pandang lalu mengikuti mereka mendekat kesana.
"Hai, bro kok pada lesu, mana pangeran sekolah kita nih? "ucap Ray memegang Alan.
"Jangan sentuh gue," ucap Alan tajam, dingin dan penuh penekanan.
"Er.... Ok," balas Ray lalu menjauhkan tangannya.
"Heran deh kalian itu kenapa sih?kalau gak punya tujuan hidup sini gue bunuh aja kalian," ucap cowok satu lagi bernama Zaeem sepupu Alan.
"Ide bagus Zae, bunuh aja gue," ucap Zain.
"Iya Zae, gue gak pantas hidup lagi, " tambah Alan.
"Lebay kalian, gara-gara kemarin aja kalian jadi berubah gini," ucap Rafan.
"Arg! ini semua salah Kak Arman!" seru Alan berteriak kesal 'Awas aja nanti' batin Alan penuh dendam dan tanpa sadar mengeluarkan aura yang membuat orang mengelidik ngeri.
"Emang sebenarnya kemarin ada apa sih?" tanya Nuri.
"Gak kenapa, cuman seperti yang Alan katakan tadi yang buat mereka berdua lesu itu perkataan Kak Arman," jawab Abil.
"Emang Kak Arman ngomong apa? Ceritanya gimana?" tanya Alana.
"Jadi gini kemarin tuhkan, Kak Arman kesal karena handphonenya rusak sama Fea," ucap Ray.
"Cia ngerusain Hp Kak Arman?" tanya Alana bingung.
"Gak " jawab Rafan, Ray dan Abil kompak.
"Lah terus?" tanya Nuri jadi bingung.
"Kak Arman yang ngebanting Hpnya sendiri karena kesal sama Fea," ucap Abil.
"Terus ini hubungan sama mereka apaan?" tanya Alana heran sambil menunjuk Zain dan Alan.
"Ya, saking kesalnya dan berhubung Alan dan Zain sering pergi ke markas WE yang ganggu orang orang disana Kak Arman nyebut mereka L-"
"Arg...udah jangan dibilangin oi, lama-lama lo gue bunuh nanti," ucap Zain berteriak kesal memotong ucapan Ray.
"Udah, sekarang bilangin ke gue, gimana caranya agar Fea gak manggil gue kayak gitu lagi," ucap Alan membuat semua menoleh kearahnya.
"Mau tau aja atau mau tau banget? " tanya Abil berniat menggoda Alan.
"Bilang sekarang atau lo mati sekarang juga," ucap Alan dengan aura mengerikan membuat Abil menelan salivanya dengan susah payah.
"Eh, ah itu kenapa kita gak bantu Fea nyelesain kasusnya aja," ucap Abil.
"Hah lo gila?" tanya Zain membuat Abil menjadi cemberut.
"Tadi minta saran, gue kasih saran lo nyebut gue gila," ucap Abil.
"Lagian lo nya sih tau bunda gue gak bisa di ganguin tentang hal yang itu, lo sarannin, nanti mereka dibilang pengangu lagi," ucap Rafan.
"Ya Allah maksud gue itu gini kan si Fea punya urusan tentang kasus putri perusahan Urmila tuh kenapa kita gak bantuin cari info aja," ucap Abil menyarankan.
"Info gimana sih?" tanya Zaeem jadi penasaran dan ikut-ikutan.
"Nih ya, disinikan ada tuh putri bungsu keluarga Urmila kenapa gak tanyain dia aja," ucap Abil nemberi saran.
"Masa sih kok gue baru tau tuh," ucap Alan bingung.
"Gue juga," ucap Zain dan Zaeem serentak.
"Gimana kalian mau tau kalau tiap hari kalian cuek sama sekitar," ucap Ray.
"Lagian dia juga ada dikelas inikan?" ucap Nuri.
"Masa sih?" tanya Zain tak percaya.
"Udah ah jadi mana tuh anak biar langsung kita interogasi,"ucap Alan
"Wih, kayaknya seru tuh," ucap Zaeem semangat.
"Sekarang dia dimana?" tanya Zain.
"Kayaknya di kantin," jawab Rafan.
Lalu kedelapan remaja itu segera pergi kekantin.
Sesampainya di kantin....
Kantin sekolah menjadi ribut tak kala melihat Alan, Zain, Zaeem, Abil, Ray, Rafan, Nuri dan Alana yang notabenya siswa dan siswi populer di sekolah itu.
Alan, Zain, Zaeem mengedarkan pandangannya mencari orang yang mereka cari.
"Mana sih orangnya?" tanya Zain bingung.
"Yaelah tau gak pernah liat, sok sokan nyari lagi, tuh dia, tuh yang duduk sendiri disana," ucap Ray menunjuk gadis yang diam duduk sendiri sambil memakan bakso dengan dandanan nerd.
"Hah?! Lo yakin, diakan dari keluarga terpandang kok penampilannya gitu?" tanya Zaeem bingung.
"Ye, makanya jangan liat dari penampilan doang dong," ucap Nuri.
"Udah ngapain ribut kalian cepat samperin biar Fea gak marah sama gue lagi," ucap Alan.
"Ya, mending kalau dia mangil gue Sayang, Hubby atau Kakak ganteng guenya gak masalah lah ini," lanjut Alan membuat yang lain cengong.
"Lan, lo sehat?" tanya Alana pada kembarannya itu.
"Ya masih lah, emang napa sih?" tanya Alan bingung.
"Abis lo aneh gak kayak biasa," ucap Alana.
"Lan, gue gak nyangka, lo, lo suka sama Fea?!" tanya Zaeem berseru tak percaya.
"NO WAY AND BIG NO!!!" seru Zain dan Rafan berteriak bersamaan tak terima, yang malah membuat semua orang menatap mereka.
"Gue gak setuju lo jadi Adik Ipar gue!" seru Zain.
"Gue juga gak setuju lo jadi Ayah gue!" seru Rafan menambah.
"Yang minta persetujuan kalian siapa? Lagian kalau Fea terima Alhamdulillah, kalau nolak ya usaha dan jangan sampai diambil orang," ucap Alan.
"Gila lo! Lo mau buat adek gue jauh dari jodohnya? "tanya Zain.
"Ya gak mungkin kan jodohnya gue," jawab Alan dengan pedenya.
Ucapan Alan tersebut tambah membuat Zain dan Rafan kesal dan tidak menyadari bahwa Ray, Abil, Zaeem, Alana dan Nuri sudah di meja orang yang mereka cari.
"Hai cantik nama kamu Faiyaz ya?" tanya Ray membuat gadis bernama Faiyaz itu menjadi tersipu malu.
"I-iya," jawab Faiyaz dengan gugup.
"Gak usah gugup gitu dong, ngomong-ngomong kamu cantik ya" Ucap Abil ikut-ikutan mengoda.
__ADS_1
Zaeem dan Nuri menepuk jidatnya capek 'Ya ampun malah godain anak orang lagi nih berdua' batin mereka kompak.
"Woi itu anak orang jangan di godain ngapa!" seru Alana.
"Khm, hai Faiyaz ini pertama kali kita saling sapa ya," ucap Alana basa-basi dengan manis.
"Jangan godain anak orang," ucap Abil mengejek.
"Bah dianya sok manisan," tambah Ray, yang kini mendapat tatapan tajam dari Alana.
"Hm.... Gini Faiyaz kami nanya nanya dikit boleh?" tanya Nuri angkat suara.
"Boleh kok," jawab Faiyaz.
"Hm... Jadi gini, gimana ngomongnya ya," ucap Nuri bingung sendiri.
"Ah, udah kelamaan kalian," ucap Zain yang entah sejak kapan ada di dekat mereka bersama Rafan dan Alan.
Brakk!
"Sekarang jawab apa yang kakak lo lakuin selama 2 minggu ini?" tanya Alan to the point sambil mendobrak meja membuat Faiyaz takut dan orang-orang memandang mereka bingung.
"Oi, Lan, tenang dikin ngapa lo buat dia takut tuh," ucap Ray.
"Emang gue peduli," ucap Alan acuh tak acuh.
"Anak satu ini, kalaupun lo dapat infonya nanti gue bakal bilang sama Cia gak usah maafin lo kalau kelakuan lo kayak gini!" seru Alana kesal.
"Awas aja kalau berani," ucap Alan memandang tajam kembarannya itu.
"Hei! patutnyakan gue yang bilang gitu awas aja kalau berani bersikap gitu lagi, lo taukan Cia orangnya kayak mana," balas Alana.
"Diam, ingat Na, hormati yang lebih tua," ucap Alan penuh tekatanan.
"Kan lo cuma lebih tua 3 menit doang," balas Alana.
Pertengkaran kedua saudara kembar itu membuat suasana kantin jadi tegang.
"Parah ya kalau kembaran ini udah kelahi," bisik Ray diangguki yang lain.
"Udah diam gak lo berdua, kelahi lagi gue bilang sama Cia gak usah ketemu kalian lagi!" seru Zain menghentikan pertengkaran mereka berdua, Alan dan Alana membuang muka mereka.
"Dan lo bilang sekarang apa yang terjadi pada kakak lo yang namanya Fiona?" tanya Zain pada Faiyaz.
"Kak Fiona dia hilang udah dua minggu," jawab Faiyaz.
"Apa yang terjadi di antara keluarga kalian?" Tanya Alan.
"Gak ada kok," jawab Faiyaz cepat.
"Ni gue heran ya, mungkin kalau Cia baru tau hari ini, kalau gue tau dari kemarin kemari, gue mau nanya apa kakak lo punya saudara kembar?" tanya Zain, membuat Faiyaz diam dengan yang lain bingung kecuali Alan.
"G-gak gak ada," jawab Faiyaz gugup dan takut.
"Jangan bohong lo!" seru Alan dengan dingin dan tajam membuat Faiyaz tambah takut.
"Gue gak bohong kok! K-kak Fiona gak punya saudara kembar," jawab Faiyaz.
"Bohong lagi lo tau apa akibatnya dengan keluarga lo, bisa-bisa detik ini juga keluarga lo akan hancur," ucap Alan penuh tekanan.
"Sekarang jawab dengan jujur!" pinta Zain.
"Huh... Fai, bilang sekarang juga dengan jujur, ini semua demi keluarga lo kalau lo bilang sama kita kakak lo akan ketemu dan pelakunya akan ketangkap," ucap Nuri, membuat Faiyaz terdiam berpikir.
"Please Fai, bilang sekarang juga karena suatu yang kecil kayak gini bisa jadi petunjuk," ucap Alana.
"Ka-kalau gue bilang apa kalian bisa nemuin kakak gue, kan bukan kalian yang nyelesain kasus itu," ucap Faiyaz dengan berani.
"Heh, jadi lo mau buat kesepakatan?" tanya Alan membuat Faiyaz mengangkat satu alisnya bingung.
"Ok, apa kesepakatannya?" tanya Faiyaz.
"Lo bantu gue buat Fea maafin gue dan gue bantu lo untuk nemukan kakak lo dengan lo ngasih info ke Fea," ucap Alan.
"Gue belum selesai kalau yang tadi untungnya gue 2 lo 1, nah tambahannya kalau lo menuhin yang gue omongin tadi gue akan bantu perusahaan keluarga lo gimana?" tanya Alan, Faiyaz hanya diam berpikir.
"Oke gini aja bukan gue aja yang bantu lo tapi juga Zain, Abil, Zaeem, Nuri, Rafan sama Ray juga," ucap Alan membuat keenam temannya melotot kaget.
"Alan! Lo gila," seru mereka bersamaan.
"Apa?" tanya Alan polos pertanyan doang yang polos tapi mukanya datar.
"Mikir dikit ngapa lo, gimana cara supaya kita bilang sama bokap kita," ucap Abil.
"Iya lo mah enak tinggal bilang 'Pa calon mantu Papa ngabek ke Alan bantuin Alan ya' lah kita, lagian lo juga punya Kak Juna gak lo yang ngomong Kak Juna juga bisa," ucap Nuri.
"Iya betul noh," ucap Ray membenarkan ucapan Nuri.
"Tuh iya lagian gue harus bilang apa ke bokap gue nantinya," tambah Zain.
"Udah ribet lo pada, mikir untungnya juga ngapa kalau kita nologin untung ke perusahaan juga banyak kali," ucap Alan kesal.
"Tuh bereskan, untuk lo Zain bilang aja ke Ayah lo kalau Fea ngambek sama lo otomatis juga Ayah lo nolongin kok, kalau ayah lo deal bokap Rafan nanti juga deal dong," ucap Alan.
"Iya juga sih, dan kalau bokap lo nantinya deal berarti bokap gue juga nantinya deal dong," ucap Zaeem pada Alan.
"Tuh ngerti lo pada," balas Alan.
"Nah sekarang tinggal lo deal atau gak?" tanya Alan pada Faiyaz.
"Oke gue deal tapi gue harus ngomong langsung ke yang jalanin kasusnya bukan sama kalian," putus Faiyaz.
"Oke, Zain telpon Fea!" pinta Alan yang langsung dituruti oleh Zain.
Beberapa menit Zain menelpon Felicia tapi hasinya nihil gak kesambung, kesambung kesambung sih tapi gak diangkat.
"Kemana sih tuh anak di telpon gak diangkat," ucap Zain kesal.
"Coba terus Roul," ucap Rafan.
Zain mencoba menelpon menelpon Felicia dan untung saja diangkat oleh Felicia.
"Besarin volumenya Zain,"ucap Zaeem diangguki oleh Zain.
'Assalamualaikum, Hallo siapa ya?'
"Wa'alaikumsalam salam Cia adek Abang yang paling manis melebihi gula gak usah pura pura gak kenal gitu," ucap Zain.
'Maaf tapi ini siapa ya? Mungkin anda salah sambung nama saya Amira bukan Cia' ucap Felicia diujung sana.
"Iya Felicia Amira Lashira Av-khm, masih pura-pura gak tau nih padahal Abang ada info penting nih," ucap Zain yang awalnya hampir saja kecoplosan.
'Heh... Emang apa info yang lintah kayak kalian bisa dapat? ' tanya Felicia yang membuat Alana, Nuri dan Zaeem menahan tawa.
"Prff-jadi kalian kesal karena di panggil prff-"ucap Alana menahan tawa.
"Prff- dipanggil lintah? "tanya Zaeem lalu mereka bertiga tertawa lepas.
"DIAM!" bentak Zain membuat ketiganya menjadi diam walau masih menahan tawa.
"Please, Ci gue dapat info tentang keluarga korban," ucap Zain.
'Masa?' tanya Felicia tak percaya.
"Serius Fe, lo boleh gak percaya omangan Zain kalau omangan gue harus," ucap Alan mengambil handphone Zain membuat si empuh mendengus kesal.
'Kenapa harus coba? Lagian, lintah kayak kalian itu mana bisa di percaya' ucap Felicia membuat Zain dan Alan menjadi murung seketika.
'Hm.... Oke, kasih handphonenya ke dia!' pinta Felicia.
__ADS_1
"Gak sebelum lo bilang 'kak Alan ganteng' gimana?" tanya Alan.
"Lan, lo waras?" tanya Zaeem memandang aneh sepupunya itu.
"Gimana?" tanya Alan pada Felicia tak mempedulikan pertanyaan Zaeem.
'Gak, sekali lintah tetap lintah, kalau kalian mau Fea maafin dan julukan itu hilang kasih handphonenya kedia.'
'Kalian kira urusan Fea apaan banyak kali gak lagi 6 orang yang harus di introgasi terus sekitar satu sampai dua Tkp lagi yang harus di periksa.' ucap Felicia panjang lebar.
"Fea, Fea lo mau interogasi orang?" tanya Zaeem.
'Iya emang napa?' tanya Felicia balik.
"Gue ikut ya!" seru Zaeem.
'Ogah, belajar sana yang benar,' balas Felicia.
"Lah terus gimana kabarnya dengan lo masih kelas lapan udah bolos aja," ucap Zaeem kesal.
'Kak Zaeem yang cuek banget, Fea itu bukan bolos tapi izin nyelesain tugas,' ucap Felicia.
'Jadi gimana kasih handphonenya atau Fea tutup sambungannya urusan Fea masih banyak ini,' ucap Felicia.
"Yaudah tanya Zain dulu inikan handphone punya dia," ucap Alan yang menjadi acuh.
"Gue gak mau enak aja handphone gue di pegang orang," ucap Zain.
"Jadi maksud lo gue bukan orang gitu?" tanya Alan kesal.
"Bukan lo kan manusia," jawab Zain.
"Pe'ak bedanya di mana coba,"ucap Alana.
"kan dihuruf," balas Nuri dengan polosnya.
'Hei, hei kalian kira Fea gak tau apa? Kalian tuh lagi di kantin dan Volumenya kalian besarin otomatis dia bisa dengar tanpa dia megangpun dia bisa ngomong sama Fea kan,' ucap Felicia yang menjadi kesal sendiri.
"Iya sih," ucap Zain membenarkan lalu melirik ke Faiyaz.
"Hm... Ya halo lo yang jalanin kasus kakak gue ya?" tanya Faiyaz.
'Yap, anda bisa memanggil saya scarlett Nona muda Urmila bukan kah begitu nona Faiyaz putri Urmaila' ucap Felicia.
"Lo, lo scarlett!" seru Faiyaz tak percaya.
'Ya? Apa ada masalah?' tanya Felicia.
"Gak cuman kakak gue sama gue penggemar berat lo," ucap Faiyaz.
"Hah?! Lo gila," seru Alan dan yang lainnya serentak.
"Gak kok," jawab Faiyaz tersenyum manis.
'Hehe terima kasih dan saya harap kakak anda di alam sana tenang ketika tau kalau sayalah yang menjalankan kasusnya' ucap Felicia.
'Jadi bisakah anda menceritakan tentang keluarga anda, kakak anda Fiona atau Fiana? "tanya Felicia misterius.
'Atau mungkin juga dengan itu semua anda ingin tau keberadaan kakak laki laki anda?' tanya Felicia lagi.
"Bisa kita bicarakan ini di tempat lain secara langsung?" tanya Faiyaz.
'Ide bagus kalau begini berarti anda setuju menceritakan semua tanpa ada yang ditinggalkan bukan' ucap Felicia.
'Ci, hasil tentang mayat korban sudah keluar semua membusuk di perkirakan semua potangan tubuh baik juga organ dalam sudah tergeletak di lantai selama seminggu' ucap suara Elyza membuat Faiyaz gemetar, juga Alan, Zain dan yang lain kaget mendengar itu.
'Eh, maaf kamu lagi nelpon sama orang ya, apa itu insp-'ucapan Elyza terpotong.
'Ah iya aku lagi nelpon para lintah tadi mereka ganggu banget juga salah satu keluarga korban' ucap Felicia.
'Jadi Nona Faiyaz bagaimana?' tanya Felicia.
"Apa maksud lo tadi mayat korban itu kakak gue di-dia mati terpotong, di dia di mut...," Faiyaz tak sanggup melanjutkan ucapannya tadi.
'Ya, itu mayat Kakak anda dia mati menganaskan dengan dimutilasi seluruh tubuhnya di temukan terpotong, organ dalamnya berceceran dan kepalanya digantung' ucap Felicia membuat Alana menutup mulutnya dan Nuri beserta yang lain yang menahan muntah mendengarnya kecuali Alan dan Zain sedangkan Faiyaz dia menangis.
'Heh... Bagaimana jika kita bertemu di kafe dekat SMA kalian? Beberapa menit lagi saya akan sampai' ucap Felicia.
"Oke," jawab Faiyaz setuju.
'Dan, ta, sampai bertemu nanti' ucap Felicia.
"Fe, lo suka sama gue gak?" tanya Alan tiba-tiba membuat semua orang memandangnya tak percaya.
"Lan, kalau nanya liat kondisi ngapa," ucap Ray yang kesal tapi tak di pedulikan Alan.
'Hm... Gak kan Kakak bukan tipe Fea kalau suka sebagai Kakak yaiya Kakak itu tuh kakak terbaik' ucap Felicia membuat yang lain menahan tawa.
"Prff- Alan di tolak prff-"ucap Abil menahan tawanya membuat Alan kesal.
"Emang tipe lo kayak apaan? "tanya Alan kesal.
'Orangnya rajin solat, rajin ngaji, hapal al-Qur'an, ganteng, gak sombong, gak cuek, perhatian, ramah ke semua orang, tertib, disiplin, bertanggung jawab, gak merokok, gak minum al kohol, gak ke klub malam, gak ikut balapan liar dan maksimal tua dari Fea 4 tahun' ucap Felicia.
'Dan pasti itu semua beda dari kakak, kak Alan memang ganteng, rajin ngaji, rajin solat, hafalan banyak, tertib, disiplin dan tanggung jawabnya lumayan, gak merokok pula tapi bedanya kakak tu udah pergi ke klub malam, balapan motor, cuek, dingin, pernah minum alkohol dan terakhir tua 5 tahun dari Fea' lanjut Felicia yang Jblek, Jblek nusuk banget.
Zain dan yang lain kini menjadi tertawa lepas melihat penolakan Felicia kepada Alan.
"Iya ketawa, ketawa aja terus," ucap Alan menyindir.
'Walau kakak cuek, datar dan dingin satu hal yang Fea suka dari kakak perhatian buktinya kakak bisa bikin suasana menjadi gak setegang tadi kan,' ucap Felicia membuat Alan sedikit tersipu.
'kalau gitu Fea tutup ya, bye Kak Alan ganteng, assalamualaikum'ucap Felicia lalu sambungan telponnya terputus.
"Nih handphone lo, udah ya gue pergi dulu"ucap alan memberikan handphone Zain lalu berjalan pergi dengan hati riang.
Zain, Nuri, Alana, Zaeem, Rafan, Abil dan Ray memandang punggung Alan yang telah menghilang tak percaya, sedangkan Faiyaz walau tadinya ia tertawa tapi hatinya sakit mendengar berita kakaknya tadi.
Sedangkan ditempat lain....
"Huh... "
"Hahahaha kayaknya Kak Alan senang tu kamu bilang gitu," ucap Elyza.
"Udah kode keras tuh Fe," ucap El yang memang sedari tadi di samping Felicia.
"Biarin, aja mau kode apa kek, Fea gak mau tau jadi hasilnya gimana?" tanya Felicia.
"Oh ya dugaan kamu tadi benar korban memang pengguna tapi selama sebulan ini dia sudah berhenti," ucap Elyza.
"Lalu tas, jepit rambut dan sarung tangan itu?" tanya Felicia.
"Tentang tas diduga itu milik pelaku, jepit rambut juga sepertinya milik pelaku karna setelah di tes itu memiliki darah sang pelaku juga sarung tangan itu," ucap Elyza.
"Gila aja pelakunya adalah seorang Wanita," ucap El.
"Jadi sekarang gimana?" tanya Ara yang baru datang.
"Kita pergi ke SMA Kak Alan dan Bang Zain nyari petunjuk dari adik korban, kita dapat bisa dapat info yang lebih banyak dari mereka," ucap Felicia.
"Ok kalau gitu kita berangkat, hm... Dan tentunya kalau lo udah baikan" ucap El pada Felicia.
"Fea baik kok kalau gitu ayo!" seru Felicia.
Lalu mereka semua segera pergi kembali melanjutkan kasusnya.
'Hanya butuh hari ini saja maka semua petunjuk akan segera didapat dan besok kita akan menangkap pelakunya'
TBC.
__ADS_1
9 september 2019
Noveltoon : 26 Desember 2020