The Little Detective

The Little Detective
Part 43 : Meeting ( Last )


__ADS_3

Jakarta, Indonesia.


Sudah hampir setengah jam mereka ada diruangan itu namun mereka tetap saja berdiam diri tak ada yang mengangkat suara, larut dalam pikiran masing-masing.


"Ngapain sih sebenarnya di sini? Kalau diam kayak gini aja Zain pulang!" seru Zain yang dihadiahi jitakan dari sang ayah.


"Diam kamu gak usah angkat suara dulu! Datang telat makannya gak taukan," ucap Elam kesal pada putra sulungnya itu.


Tak ada yang salah dengan ucapan Elam tiga puluh menit yang lalu mereka memang sudah memanggil Zain namun anak satu itu malah datang lima belas menit kemudian.


"Bang Zain, Abang pernah hampir ketembak matikan?" tanya Felicia membuat Zain memandang horor dirinya.


"Abang tau tadi Abang salah tapi jangan sadis gitu dong Cia, sampai mau niat nembak Abang," ucap Zain.


Tepat setelah itu sebuah pena mendarat di kepalanya membuat dirinya meringis kesakitan.


"Cia lagi gak niat becanda tau!" seru Felicia dengan kesal.


"Iya, iya, lagian gini amat dah nasib gue, apa bagusnya gue mati ketembak aja dulu," ucap Zain diakhiri gumaman pada kaliamat terakhir.


"Bunda gak dengar, coba ulangin lagi," ucap Khaina memandang tajam anak sulungnya itu.


"Eh, emang Zain ngomongin apa sih Bun? Lagian ngapa Zain dipanggil kesini? Zainkan gak ada hubungannya dengan ini semua," ucap Zain dengan bosan.


"Bang Zain, Abang tau siapa Master DE kan?" tanya Felicia dijawab anggukan oleh Zain.


"Tapi ngomong-ngomong kamu tau Master DE dari mana?" tanya Zain.


"Potongan film, nih ya Cia lagi asik-asiknya nonton lah malah mati lagi padahal itu waktu Abang lagi ditodong sama pistol oleh Om Master DE," ucap Felicia bercerita dengan semangat.


"Jangan ingatkan pada mimpi buruk itu lagi, tapi apa maksud kamu dengan potongan film? Ada rekamannya memang?!" tanya Zain tak percaya.


"Gak," jawab Felicia.


"Terus?" heran Zain.


"Dari mimpi, lagian ya Abang masih umur lima tahun tapi udah diajarin yang gak benar sama Ayah, Cia jadi gak heran kalau Abang bisa pergi ke klub," ucap Felicia.


"Apa maksudnya itu?" tanya Khaina memandang tajam Elam dan Zain.


"Gini loh Bunda, Abang Zain pasti tau dan Cia pasti benar, waktu itu Cia baru pandai ngerangkak terus Cia nyoba keluar nah di depan pintu kamar Cia ngemergok Ayah sama Bunda sambil nguping dikit, terus Bang Zain datang bilang, 'Cia gak boleh liat yang kayak gitu,' terus, 'kata Ayah itu bla bla bla,' Bunda bayangin aja Bang Zain ngomong gitu sama anak bayi yang baru bisa ngerangkak," ucap Felicia membuat Khaina makin memandang tajam suami dan anak pertamanya itu.


"Kok kamu bisa ingat itu sih Ci?" tanya Zain mengalihkan pandangan dari sang Bunda.


"Kan udah Cia bilang, Cia mimpi, lagian pertama Cia ngira Cia rengkarnasi ke masa lalu kayak maghwa korea gitu, misalnya Cia di bunuh DE diam-diam, eh rupanya mimpi doang tapi entah ngapa Cia jadi janin dan anehnya bisa ngeliat kejadian itu," ucap Felicia sontak Neron, Caera, Zain dan Elyza menahan tawa.


"Prff- kamu jadi janin?" tanya Neron dijawab anggukan polos oleh Felicia


"Gimana rasanya?" tanya Zain.


"Biasa aja sih, kayak biasa doang cuman waktu itu Cia butuh banget popcorn, kejadian itu seru sayang ada yang dipotong sama listrik konslet," ucap Felicia cemberut.


Elam, Falih, Fariz, Khaina, Darra dan Adele saling pandang mengagguk paham.


"Tidak salah lagi itu kekuatan permata Scarlet," ucap Falih.


"Jadi itu memang udah keinginan permata itu?" tanya Neron membuat Elyza, Caera dan Zain bingung.


"Ya tugas permata itu melindungi pemiliknya," ucap Fariz.


"Bukannya sang pemilik permata yang melindungi permata itu?" tanya Elyza bingung.


"Tidak yang sebenarnya adalah permata itu yang melindungi pemiliknya sebab yang dalam bahaya bukanlah sang permata melainkan pemiliknya," ucap Fariz menjelaskan.


Felicia terdiam tangannya berada di balik jilbab yang ia kenakan memegangi bandul permata yang menjadi kalungnya.


"Scarlet, itu bukan nama permatanya bukan? Melainkan nama arwah yang ada di dalam permata itu," ucap Felicia.


"Kamu benar tapi karena permata itu menyatu dengan arwah tersebut makanya permata itu disebut permata Scarlet," jelas Elam.


"Apa maksud dari 'Arwah' di sini?" tanya Zain tak mengerti.


"Scarlet nama itu adalah Ibu dari keluarga Ishan," jawab Khaina.


"Maksudnya buyut keluarga Ishan gitu? Terus kok bisa ada dikeluarga Abqary sih?" tanya Zain makin heran.


"Lola!" hina Felicia pada Zain.


"Masa itu gak ngerti sih? Itu maksudnya Scarlet itu nikah sama orang di keluarga Abqary, ini sama kayak percintaan zaman kerajaan tau," ucap Felicia.


"Karena rumahnya di serang dan suaminya mati si Scarlet ini menyerahkan diri pada pusaka kuno yang dapat mengendalikan dunia, makanya dia jadi arwah yang terus ada dalam permata itu melindungi keluarga Abqary sebab setelah kejadian itu keluarga Ishan menghilang menyembunyikan diri," ucap Felicia.


"Berarti keluarga Ishan pengejut dong!" seru Zain mendapat jitakan dari Khaina.


"Jangan ngomong kayak gitu! Asal tau aja darah Ishan juga mengalir ditubuh kamu!" seru Khaina kesal.


"Keluarga Ishan bersembunyi menghilang karena mereka menyembunyikan satu-satunya keturunan asli dari keluarga Ishan yang memiliki mata yang dapat berubah warna," ucap Elam.


"Kalau didengar-dengar lagi sebenarnya sebelum itu, itu bukan nama keluarga melainkan kayak nama klan gitu kan?" tanya Zain.


"Nah tuh nyambung!" seru Elyza.


"Kalau dipikir-pikir lagi aku tau kenapa permata itu menghilang dari Papa dan tiba-tiba ada di tubuh Cia," ucap Falih membuat semua menoleh padanya.


"Permata itu menentukan pemilik terakhirnya, kalian mengerti bukan?" tanya Falih.


"Ini akhir dari arwah itu," tebak Fariz.


"Tepat dengan kata lain pewaris empat pusaka itu merupakan akhir dari arwah itu," ucap Falih.


"Kalau di Ishan dan Abqary artinya penutup adalah Kak Elam dan Khaina," ucap Faraz.


"Setidaknya aku mengerti kisah dari keluarga ini," gumam Felicia sambil mengetik dihandphonenya.


"Bukankah perlahan kita sudah mengerti misteri yang ada di keluarga Abqary dan Ishan? Sekarang satu masalah yang dimiliki keluarga Abqary, ancaman dari keturunan arwah yang telah musnah," ucap Felicia.


"Tunggu arwah yang telah musnah?" heran Faraz.


"Itu ada dalam buku itu, dihalaman yang itu," ucap Elam.


"Bukankah halaman itu tak memiliki tulisan?" tanya Falih.


"Apa karena Cia tulisannya menjadi muncul?" tanya Darra.


"Sepertinya begitu," jawab Elam.


'Jalur takdir,' ucap suara yang mengiyang dikepala Felicia.

__ADS_1


"Siapa?" ucapan itu terlontar dari bibir Felicia membuat yang lain memandang heran gadis itu.


"Cia ada apa?" tanya Khaina khawatir.


"Tidak bukan apa-apa, Bunda gak usah khawatir oke, Cia baik-baik aja kok," ucap Felicia dan tepat saat itu bunyi pesan masuk terdengar dari handphone Felicia.


"Kalian lanjut aja, Cia masih ada sedikit urusan," ucap Felicia langsung pergi.


"Ayah, apa ini ada kaitannya dengan kata takdir yang diucapkan kakek tua waktu itu?" tanya Zain.


"Ucapan itu? Sepertinya ada sesuatu hal yang di sembunyikan di sini," ucap Elam.


Sememtara itu....


Felicia memasuki ruangan tim RL yang di dalamnya ada Ryon, El, Ezar dan Arman yang memandang kesal dirinya.


"Fea gak punya waktu untuk jawab pertanyaan kalian oke, sekarang Kak Juna mana?" tanya Felicia membuat El yang ingin bertanya menjadi terdiam.


"Huh, bocah, noh dia di ruangannya sama tamu-tamunya," ucap El.


Felicia melangkah cepat menuju ruangan Juna dan memasuki ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun pada El, Ryon, Arman dan Ezar.


Felicia duduk di sofa singel yang ada di ruangan Juna tanpa permisi dan membuat yang di dalamnya kaget, empat orang pria dan empat orang wanita dewasa itu memandang heran dirinya.


"Kamu kenapa sih Ci?" heran Lyna pada Felicia.


"Gak bukan apa-apa sekarang kita lengkapkan?" tanya Felicia.


"Gue lihat dulu ada gue, Kak Hazzam, Kak Azka, Vino, Mela, Sahira, Shinta dan Lyna lengkap kan?" tanya Juna.


"Ya lengkaplah kan kita cuma berdelapan waktu itu," ucap Vino kesal pada temannya itu.


"Ok, baik kalau gitu, Fea harap saat ini jangan ada masalah pribadi kalian, anggap aja semua damai," ucap Felicia ketika melihat tatapan tajam dari Shinta yang tak perna lepas dari Juna begitu juga Lyna yang menatap tajam Hazzam.


Lyna dan Shinta sama-sama membuang muka dari kedua pria yang merupakan kakak beradik itu dan lebih memilih memperhatikan Felicia yang memandang jemu mereka berempat.


"Udah lama masalahnya, kok gak selesai-selesai sih," gumam Vino.


"Fea langsung the to poin aja, arwah Maya, apa kalian benar-benar telah menyegelnya dengan kuat?" tanya Felicia.


"Ya pastikan? Emang kenapa nanyain itu sih Fe?" heran Azka.


"Arwah itu bisa keluar masuk, Kakak benerkan?" tanya Hazzam membuat semua mata menoleh padanya.


"Yang dikatakan Hazzam benar Fe?" tanya Azka seakan masih tak percaya.


"Kenyataannya begitu, Fea ketemu sama dia beberapa hari yang lalu, di Sydney," jawab Felicia.


"Apa yang diinginkan arwah itu sebenarnya?" tanya Lyna.


"Permata Scarlet dan empat pusaka," jawab Felicia.


"Sebenarnya kapan arwah itu hilang sih!" seru Mela yang mulai kesal sendiri.


"Segera," ucap Felicia membuat yang lain heran.


"Fea harap Kak Juna, Kak Hazzam, Kak Lyna dan Kak Shinta kalian bisa nyelesain masalah pribadi kalian dengan cepat, semakin cepat maka arwah itu akan semakin bisa cepat musnah," ucap Felicia.


"Apa arwah Maya bisa keluar keliling gitu karena ada keretakan pada empat orang ini?" tanya Vino.


"Tidak," jawab Felicia.


"Tepat itu dia," jawab Felicia.


"C-Cia jangan bilang Ara juga termasuk dalam permainan itu," ucap Sahira gemetar takut namun Azka segera memeluk istrinya itu agar tetap tenang.


"Nayyara gak masuk tapi putra kalian iya," ucap Felicia.


"Putra? Apa maksudmu dengan kata putra itu? Apa dimasa depan kami akan punya anak laki-laki?" tanya Azka.


"Ya, tepat dengan jarak umur tiga tahun dari Nayyara lalu setelah itu kalian akan mendapatkan dua putri," ucap Felicia.


"Kenapa kau bisa tau?" tanya Hazzam.


"Aku tau semunya karena aku, aku yang bertanggung jawab atas mereka," ucap Felicia.


"Kak Mela dan Kak Vino setelah Kiran kalian akan mendapatkan seorang putra jaraknya tiga tahun," ucap Felicia.


"Kak Hazzam dan Kak Lyna kalian harus cepat berbaikan, kalian akan memiliki seorang putri bermata coklat kemerahan dan juga putra kembar jarak mereka lima belas tahun dan putri kalianlah yang akan menghadapi Maya," ucap Felicia.


"Terakhir Kak Juna dan Kak Shinta, kalian akan memiliki dua anak kembar putra lalu dua orang putri dengan jarak satu tahun, si bungsulah yang terpilih di sini," ucap Felicia.


"Kau seperti peramal, dari mana kau tau itu semua?" tanya Juna.


"Aku selalu mengikuti instingku namun yang tadi, Scarlet lah yang memberitauku," ucap Felicia.


Ya tak ada yang salah dari ucapan gadis itu memang Scarlet -Arwah di dalam permata milik Felicia- yang memberitaunya dan ya suara tadi adalah suara Scarlet.


"Jadi maksudmu inti pertemuan ini hanya ini?" tanya Hazzam.


"Ya, Tujuh keluarga, keluarga Ishan dan Abqary telah bersatu sehingga permata Scarlet memilihku dan tinggal lima keluarga lainnya," ucap Felicia.


"Rafailah dan Adijaya maka hadir yang memegang pusaka itu Kak Hazzam dan Kak Juna, Keluarga Zavanna yang memegang pusaka itu Kak Lyna namun Kak Shinta juga memegangnya karena tanpa di sadari darah Zavanna ada yang mengalir di tubuh Kak Shinta seperti itu pula dengan Kak Mela dan Kak Sahira oleh karena itu kalian memegang dua pusaka," ucap Felicia.


"Lalu keluarga Zhalam, Kak Azka memegang pusakanya dan terakhir Ghazzal pusaka terakhir ada pada Kak Vino, dan jika kalian di pasangkan masalah ketujuh keluarga selesai," ucap Felicia.


"Ini adalah jalan takdir yang telah di tentukan," ucap Felicia bersamaan dengan Scarlet yang berucap dibatinya.


...*-*-*-*-*...


Markas Huriya


Felicia memandang lekat chip yang sedang ia pegang, ia bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan pembuatan chip tersebut jikalau mereka mengincar permata yang ada pada dirinya.


"Kami sudah berkumpul semua, apa yang ingin Anda bicarakan Master?" tanya Asher yang datang bersama yang lainnya.


"Bukankah menurut kalian selama ini aku sudah berbuat hal sesuka hatiku tanpa ada persetujuan organisasi?" tanya Felicia.


"Ya, kau selalu melakukan itu," ucap Alan.


Felicia memandang para anggota organisasinya, ada Alan, Asher, Dino, Atha, Arsen, Fiana, Bima, Devian, Damien, Kenshin, Arlo, Ryung, Razi, Farhad, Fatih, Ghadi, Irfan, Naim, Riyad, Gerant, Darla dan Adrie juga jangan lupa sahabat setianya Elyza dan Caera.


"Ya mungkin aku memang selalu berbuat sesuka hati dan biarkan aku melakukan itu sampai akhir tahun ini," ucap Felicia.


"Perkenalkan Neron dengan nama Ventos do deserto, panggil saja Ventos dia akan ada di sampingku sebagai asisten setidaknnya begitu mungkin dan terakhir Diky," ucap Felicia dengan Neron yang berada di sampingnya.


"Hai semuanya," ucap Diky yang entah sejak kapan ada di belakang Felicia membuat yang melihat menjadi kaget kecuali Felicia.

__ADS_1


"A-02!" seru Atha, Arsen, Gerant dan Dino bersamaan.


"Yap kalian mengenalnya, Diky dengan nama Espion sebagai ketua penelitian," ucap Felicia.


"Aku memberikan kalian wewenang dalam memimpin dalam setiap bidangnya dan saat ini aku akan memberikan beberapa tugas," ucap Felicia.


"Bl4ck ZerO dan Kata Shi kalian awasi pergerakan B-08, Kırmızı Göz cari sesuatu hal mengenai B-08 dan aku yakin kau lebih mengenalnya," ucap Felicia.


"Master," lirih Adrie.


"Baik selanjutnya pertahanan H grup, perusahan telah mencapai tahap akhir bukan? Persaingan baru di mulai aku harap kalian bisa mengurusi itu semua dan terakhir Espion jelaskan tentang chip ini!" pinta Felicia memperlihat sebuah chip.


"Chip ini chip yang akan digunakan DE untuk menguasi dunia jika saja mereka gagal dalam mengambil permata Scarlet setidaknya itulah yang aku dengar namun tidak seperti itu," ucap Diky menjelaskan.


"Chip ini masih belum sempurna, ia hanya bisa mengendalikan setidaknya dalam satu negara ada 100 yang bisa mereka kendalikan melalui chip ini dan chip dalam masa pengembangan itu sepantasnya tidak mudah direbut begitu saja," ucap Diky.


"Dengan kata lain B-08 membiarkan chip itu direbut dan dari awal ia sudah tau kalau Felicia mengetahui jika chip itu ada ditubuhnya," ucap Alan.


"Apa maksud dari B-08 sebenarnya?" tanya Damien.


"B-08 tidak berpihak pada DE," ucap Felicia.


"Dan baru-baru ini ia menyadari sebuah kebenaran," ucap Devian.


"Aku tau detailnya kini," ucap Felicia sambil tersenyum miring.


"Espion tolong teliti dan ciptakan alat-alat yang aku buat ini deskripsinya ada di sana," ucap Felicia sambil memberikan sebuah dokumem pada Diky.


"Baik semua pertemuan selesai dan aku harap kalian bisa menjadi pemimpin yang baik," ucap Felicia beranjak dari kursinya dan pergi terlebih dahulu.


"Dan Asher akan lebih baik jika kau lebih mendidik anak-anak ini agar tidak menguping," ucap Felicia membuka pintu dan menampilkan para anggota Huriya yang kepergok menguping pembicaraan.


"Apa yang aku bilang tentang sopan santu pada kalian?! Sekarang kembali!" pinta Asher berteriak membuat anggota Huriya bubar.


Felicia terkekeh kecil lalu berjalan pergi menuju ruangannya.


"Apa yang sebenarnya yang kini di pikirkan gadis itu?" tanya Arlo memandang heran Felicia.


"Apa Cia gak apa-apa?" tanya Elyza khawatir.


"Biarkan saja, lagi pula pangerannya telah menyusul," ucap Neron tersenyum ketika Alan telah pergi.


Felicia memandang lekat chip yang ia pegang lalu ia mebuangnya kelantai dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping.


"Apa sebegitu tak bergunanya chip itu bagimu Nona?" tanya Alan yang bersandar pada pintu ruangan Felicia.


"Ya, apa gunanya chip itu jika kita tau dan mendapatkan siapa pembuatnya apa lagi informasi yang sedikit dari chip itu," ucap Felicia dengan acuh sambil berjalan menuju kursi miliknya.


"Aku yakin kau punya rencana bukan?" tanya Alan.


"Ya, Kakak tau, mengalahkan sang raja lebih mudah dari yang ku duga," ucap Felicia sambil menjalankan sebuah bidak catur yang ada di depannya.


"Namun kau belum mengalahkan rajanya yang sebenarnya," ucap Alan duduk di depan Felicia dan menjalankan satu buah bidak catur yang menjadi raja.


"Di samping raja ada ratu yang melindungi namun ratu itu juga bisa menjadi penembus benteng lawan dan mengalahkan raja lawan," ucap Alan sambil tersenyum pada Felicia.


"Namun jika kita memainkan satu permainan yang pertama akan aku makan kudanya terlebih dahulu, aku rusak bentengnya dan aku kalahkan ratunya lalu raja hal terakhir yang dapat aku kalahkan dengan mudah," ucap Felicia memainkan bidak caturnya.


"bagaimana dengan rencongnya kau melupakan rencongnya," ucap Alan memainkan rencongnya.


"Rencongkan bisa ratuku yang menghabisinya," ucap Felicia.


"Lalu apakah kau tidak takut dengan prajuritnya yang dapat saja membuatmu kalah?" tanya Alan memainkan bidak caturnya yang kini semakin sedikit.


"Tidak sudahku bilang aku akan mengalahkan rajanya," ucap Felicia sambil memakan bidak catur raja milik Alan membuat cowok itu tersentak.


"Aku mengalahkan rajanya namun yang aku inginkan adalah pengendalinya," ucap Felicia sambil memegangi dagu Alan.


"Dengan kata lain kau tau akan sesuatu yang mengendalikan DE," ucap Alan memegangi tangan Felicia.


"Ya aku tau karena perseteruan antara DE dan WE bukan dari Ayah namun dari para pembentuk organisasi itu sendiri," ucap Felicia melepaskan tangannya yang digenggam Alan.


"Empat bulan lagi dan dalam waktu itu aku akan mengakhiri permainan pertama," ucap Felicia.


"Tak bisakah kau tetap di sini dan tak kembali ke Yogyakarta?" tanya Alan.


"Tidak karena ada beberapa hal yang harus aku urusi di sana," ucap Felicia.


"Fea sebelum kau berjalan kau memerlukan bidak Ratu yang bisa kau andalkan bukan? Jika begitu aku siap menjadi bidak ratu bagimu," ucap Alan.


Felicia terkekeh kecil lalu berdiri dan memandang ke arah luar.


"Aku tak memerlukannya karena jika ia ada di dekatku dia akan terkena bahaya," ucap Felicia.


"Pemikiran dan rencanamu sempurna, namun kau tau bukan? Itu tidaklah sesempurna yang kau bayangkan, semua yang di dekatmu akan menjadi bahaya, asumsimu itu tak bermakna. Apa kamu tau posisi kamu dalam permainan ini? Siapa menurutmu yang menjadi pengendali di kedua belah pihak di permainan ini?" tanya Alan.


   Felicia menoleh menatap lekat mata biru malam Alan yang juga menatapnya, Felicia tersenyum tipis.


"Ya mungkin. Permainan ini bukan untukku, jawabanku tadi sepantasnya bukan takut melihat bidak ratu yang di dekatku terkena bahaya namun tak ada seorangpun yang bisa menjadi bidak ratu bagiku karena dari awal aku hanya penonton bukan?" ucap Felicia.


"Kata siapa? Kau tidak sepenuhnya menjadi penonton saat permainan ini sebagian dikuasai olehmu," ucap Alan.


"Karena aku di kendalikan dan saat waktunya aku akan terdiam dan kembali ke awal menonton semuanya karena dari awal aku hanya menjadi penonton," balas Felicia kembali menoleh keluar jendela.


  Alan tak membalas entah apa kiranya yang dipikirkannya kini, ia berjalan dan berdiri tepat dibelakang Felicia bahkan gadis itupun kini tak menyadari keberadaannya karena fokus dengan pikirannya.


"Entah mengapa aku merasa akhir dari 4 bulan sangat mengecewakan," ucap Felicia menghela napas dengan pandangan sendu.


"Menangis jika itu bisa membuatmu tenang," bisik Alan memeluk Felicia dari belakang.


Felicia awalnya tersentak kaget namun saat mendengar Alan ntah kenapa ia ingin meluapkannya, Felicia berbalik memeluk erat Alan sambil menangis dalam diam.


Semua ini tak akan pernah menjadi mudah karena jalan takdir itu telah diatur sejak lama, Abqary, keturunanya tak akan lepas dari kata bahaya.


'Aku tak pernah main-main dengan ucapanku jika aku harus menantang bahaya aku siap asal kau selamat.'


^^^Bersambung....^^^


5 April 2020


27 Desember 2020


Hai! Hai apa kabar, semoga sehat selalu dan kita selalu ada di dalam perlindungannya ya, amin...


Gimana part kali ini? Seru? Sedih? Lucu? Atau bikin tambah penasaran dan ingin next lagi? Tulis dikolom komentar ya.


Jangan lupa vote juga saran dan kritiknya.

__ADS_1


Sampai jumpa besok senin di part berikutnya


See you bye~


__ADS_2