The Little Detective

The Little Detective
Part 45 : Last Fight


__ADS_3

  TLD udah mau sampai akhir nih


Udah siap baca kelanjutannya?


Kalau gitu selamat membaca


Jangan lupa tinggalkan votenya sebelum membaca dan komentar setelahnya.


Happy reading ~


...****...


"Apa sebenarnya tujuan kalian?"


"Apa permata Scarlet telah bereaksi?"


"Jangan ngalangin dong om, lawan gue aja sini,"


"Sepertinya Fea memang dalam bahaya,"


"Serang kami bersamaan Scarlett!"


"Kita Akhiri ini dengan cepat,"


...*-*-*-*...


"Aku bertanya secepat apa permainan ini akan berakhir?" tanya seorang pria dengan seringai di wajahnya.


"Melihat mereka bertarung saja ini sudah tampak menyenangkan," ucap seorang wanita dengan pakaian ketat dan minim.


"Sudah lama aku ingin bertemu denganmu Scarlet," ucap pria lainnya.


"Wah kau ke sini juga B-02 bukankah kau mengerusi orang-orang di kediaman Avram?" tanya pria sebelumnya pada pria yang tadi berucap.


"Ya tapi di sana ada A-06 dan banyak pasukan lainnya bukan, lagi pula aku penasaran dengan Scarlett," ucap B-02.


"Wah ternyata ada lima orang di sini dan apa ini A-03, A-09 dan D-02 tumbang juga dengan pasukan sebanyak ini? Mereka di kalahkan oleh seorang anak kecil?" tanya seorang pria tak percaya.


"Ini hebat aku semakin tertarik melawanmu Scarlett," ucap pria lain yang juga ikutan datang.


"C-07, B-03, B-02, D-05 dan C-09 ditambah C-06 dan B-08, kalian bertujuh orang? Apakah DE selemah itu hingga harus mengutus tujuh tidak lebih tepannya sepuluh orang untuk melawan seorang gadis kecil?" tanya Felicia menghina mereka.


"Jalang kecil ini menghina kita," desis C-07 marah.


"Tenanglah C-07 gadis ini hanya ingin menyulutkan emosi kita," ucap C-06.


"hehe, umurmu tiga belas tahun bukan? Tubuhmu indah ditambah ketika kau dewasa nanti, kau akan cocok menjadi penghibur DE, aku akan mengajarimu," ucap wanita berkode B-03.


"Prff- ini lucu, ternyata wanita di DE tidak lebih dari seorang jalang yang menjejahi tubuh mereka di depan pria," ucap Felicia membuat B-03 marah.


"Lancang!" seru B-03.


"Ada apa B-03? Aku benar bukan? Kau tidak lebih dari wanita jalang penghibur di klub malam," hina Felicia membuat muka B-03 memerah padam.


"Sialah lo bocah! Mati lo di tangan gue!" seru B-03 berlari sambil membawa belati di tangannya ingin menerkam Felicia.


Dengan hal yang sama Felicia berjalan dua langkah kedepan dan dengan santainya mengayunkan tangannya membuat darah B-03 memuncar dan wanita itu terjatuh.


"Sudah aku bilang bukan? Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat, jadi siapa berikutnya?" tanya Felicia.


"Hahahaha ini menyenangkan!" seru B-02 tertawa lepas sambil berjalan melingkar dengan jarak posisi yang jauh dari Felicia.


"Dalam sekali ayunan tangan kau mengalahkan orang-orang terbaik DE," ucap C-07.


"Bahkan kau sengaja membiarkanku dengan luka cakaran seperti ini," ucap C-06.


"Padahal kau masih sangat kecil ratusan pasukan dapat kau habisi dalam satu jam di tambah 4 orang terbaik DE," ucap C-09.


"Siapa yang ingin kau lawan terlebih dahulu Nona?" tanya B-08.


Keenam pria itu mengelilingi Felicia dengan posisi jauh dan jarak berjauhan.


"Jika kalian ingin hal menyenangkan, lawan aku secara bersamaan," ucap Felicia dengan mata tajam.


"Tapi aku ingin menjadi yang terakhir melawanmu," ucap C-09.


"Jadi tunggu apa lagi, tinggalkan C-09 serang gadis itu!" seru D-05.


C-06, B-08, B-02, C-07 dan D-05 bersamaan menyerang Felicia dari Arah yang berbeda.


"Kita lihat secantik apa wajah Nona ini," ucap C-06 menarik masker Felicia hingga masker itu terjatuh.


Felicia menatap tajam pria itu, seringai kejam yang dingin terlihat di bibir bewarna kemerahan gadis itu, melihat itu pupil mata C-06 bergetar. Tanpa ia sadari sebuah benda tajam dengan cepat menusuk perutnya, mata pria itu melebar ketakutan terlihat jelas di wajahnya.


Felicia menarik tangannya membiarkan C-06 terjatuh, tak ada belas kasih di matanya saat melihat itu, tak ada rasa iba yang ia rasakan, ia merasa itu pantas untuk orang yang menghancurkan hidup orang lain.


"Kau beruntung aku tak membunuhmu," ucap Felicia.


Langkah C-07, D-05, B-02 dan B-08 yang awalnya berlari terhenti ruangan yang mereka tempati terasa dingin, entah mengapa tubuh mereka terasa gemetar mereka seakan ketakutan.


"Sial! Dia hanya anak kecil!" seru C-07 berlari menyerang Felicia.


Felicia menyambut C-07 dengan seringai dinginnya, gadis itu menyilang tangannya lalu menghempaskan tangannya membuat bekas cakaran di tubuh C-07.


"Tidak mungkin," C-07 terbatuk darah keluar dari mulutnya, ia tak percaya ini, baginya gadis itu bukan manusia, dia monster.


"Ingat satu hal sebelum matamu benar-benar tertutup, jangan pernah remehkan lawanmu dan satu lagi aku tidak suka di panggil anak kecil," ucap Felicia berkata tajam.


Dor


"Master!" seru seseorang bersamaan dengan suara letukan pistol yang di lepaskan.


Felicia berbalik melebarkan matanya saat sebuah peluru dengan cepat menujunya, ia segera bersiap ingin menangkap peluru itu namun matanya kembali melebar saat punggung seseorang ada di depannya.


Tembakan itu tepat mengenai dada seorang pria parubaya yang menjadi temeng Felicia.


"Ap-pa yang terjadi?" tanya Irfan yang baru sampai bersamaan dengan Margaret.


Airmata Felicia jatuh bersamaan dengan pria yang jatuh tadi dengan darah yang keluar dari dadanya dan batuk darah dari mulutnya.


"AKI ASHER!" seru Felicia berlari lalu meletakkan pria itu dipangkuannya.


"A-Anda Se-selamat," ucap pria itu tertatih-tatih, ya pria itu Asher ia membiarkan dirinya tertembak.


"J-jangan me-menangis sa-saya tidak apa-apa," ucap pria itu mengusap air mata Felicia.


Felicia mengelengkan kepalanya, ini salah sepatutnya ia yang terkena peluru itu, bukan Asher.


"Tidak, tidak! Ini salah!" seru Felicia dengan air yang mengalir di matanya.


"T-tidak, tak ada yang salah di sini, i-ini su-sudah tu-tugas saya, sa-saya har-harap M-master tidak K-kau baik-baik sa-saja k-kau sudah se-seperti cu-cucuku ak-aku ingin ka-kau se-selamat, hah...hah...hah...se-selamat ting-tinggal...," ucap Asher sembari menghembuskan napas terakhirnya dengan mengumamkan sesuatu dan senyum di wajahnya.


"Tidak! Aki!" teriak Felicia, "Aki Cia mohon bangun Aki! Aki!"


"Nini, Nini Margaret! Apa yang terjadi!?" tanya Felicia berseru masih tak percaya bahwa Asher telah tiada.


Margaret mendekati Felicia, ia memeriksa denyut nadi Asher lalu ia mengelengkan kepalanya, ia juga merasa sedih.


"Hahahahaha, ini menyenangkan!" seru B-02 tertawa lepas.


Mata Irfan yang melihat itu semua memerah ia sedih sekaligus marah, topeng yang ia kenakan tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya itu.


"B-02 keparat!" seru Irfan langsung menyerang B-02.


B-02 yang mendapat serangan tiba-tiba dari Irfan tak dapat mengelak, ia melebarkan matanya saat satu pukulan telak mengenai dirinya, B-02 terjatuh dengan memuntahkan darah dari mulutnya.


"Sialan lo! Pertama lo ngancurin keluarga gue, terus lo bunuh Aki, lo pantas mati!" seru Irfan langsung menusuk perut B-02.


Mata B-02 perlahan terkatup ia tak sempat melawan pukulan dari anak itu membuatnya tak bisa berkata walau sedikit saja.


"Kemarahan seseorang itu benar-benar hal yang menyenangkan bukan," ucap C-09.


"Jadi sebaiknya kalian selesai saja hingga di sini, kalian membuat calon Master ku terluka," ucap C-09 sambil melemparkan sebilah pisau ke sudut.


"C-09 lo penghianat!" seru D-05 tak percaya.


"C-09 siapa yang ngutus lo? Venom atau poisonous?" tanya Felicia menghapus kasar airmatanya.


"Venom, apa ada perintah dari anda Master?" tanya C-09.


"Bawa Aki dan bantu orang-orang di bawah!" pinta Felicia.


"T-tapi," ucap C-09 ingin protes.


"Jika kau ingin menjadi bawahanku patuhi perintahku!" seru Felicia.

__ADS_1


"Baik Master!" seru C-09 dengan tegas.


"Nini, Spy, ikuti C-09!" pinta Felicia mendapatkan tatapan protes dari keduanya, "Tak ada yang membantah!"


C-09 mengangkat Asher membawa pria itu dipunggungnya dan mengajak Margaret dan Irfan.


"Sialan, satu orang masih kurang untukmu Scarlett!" seru D-05.


D-05 melihat kearah Margaret yang hendak menuruni tangga, ia mengarahkan pistol pada wanita tua itu.


"Apa yang kau incar sialan!" seru Felicia ketika mengetahui niat D-05.


Dor


Felicia berlari ingin melindungi Margaret namun larinya kalah cepat dengan letukan pistol dan peluru yang melesat cepat mengenai Margaret.


"Akh!" teriak Margaret.


"Nini Margaret!" seru Irfan dan Felicia kompak.


C-09 dengan sigap menangkap Margaret ia memandang tajam D-05. Hal yang baru saja terjadi memang memilukan bagi Felicia dan Irfan yang mengenal kedua orang tua itu.


Timbul rasa ragu di hati Irfan ketika melihat kedua orang yang ia dan anggota Huriya lainnya sayangi tertembak begitu saja, ia ragu meninggalkan Felicia sendirian.


Felicia mengepal tangannya Erat ia memandang tajam dan dingin D-05.


"Spy jangan mendekat! Turunlah!" seru Felicia.


"Master tunggulah sebentar aku akan membawakan orang!" seru Irfan lalu segera pergi kebawah.


"Sekarang tingal kita bukan begitu D-10, D-05 dan B-08," ucap Felicia dengan dingin dan bengis.


"Aku terkesan matamu memerah menahan tangis tapi kau tetap tegar ini benar-benar hebat," ucap D-05.


"Kalian benar-benar cari mati," ucap Felicia berlari cepat dengan mata berkilat merah menahan marah.


D-05 yang melihat Felicia mendekatinya segera menghindar, pria itu tersenyum ketika berhasil menghindar tapi senyum itu tak bertahan lama ketika ia merasakan napas seseorang di belakangnya


D-05 melebarkan matanya ketika melihat Felicia yang entah sejak kapan ada di belakannya.


"Selamat tidur," bisik Felicia dan langsung menusuk D-05 dengan wolverine claw yang ia gunakan.


"Hmp tempat ini menjadi penuh bau amis, setiap ruangan terdapat mayat kalian, siapa berikutnya? Oh kalian telah bangun?" tanya Felicia ketika melihat beberapa anggota DE yang tersadar.


B-03, D-02 dan A-03 bangkit dengan badan terhuyung, mereka mengutuk diri mereka yang jatuh hanya dalam sekali serang oleh gadis kecil seperti Felicia.


"Sudah aku duga kau tak mungkin membunuh bukan?" tanya D-10.


"Ya itu tak mungkin, kalau memang ajal kalian akan mati tentunya kehabisan darah," ucap Felicia.


"Khuk, kali ini aku akan membalasmu gadis sialan!" seru B-03 dengan kesal.


"Aku akui kehebatanmu tapi aku tak semudah itu!" seru D-02 berlari menyerang Felicia.


"Anda gegabah Nona," ucap Felicia yang jaraknya agak jauh dari D-02 ntah sejak kapan ada di depan wanita itu dan membuat wanita itu benar-benar kehilangan kesadarannya.


"selamat tidur," ucap Felicia sambil tersenyum jahat.


"Kini giliranku," ucap D-10 sambil menodongkan pisau pada Felicia dari belakang ingin segera mengores gadis itu namun sebelum hal itu terjadi ia terjatuh bersamaan dengan bunyi hempasan cambuk.


Ctar


"Ka-Kami tidak terlambat bukan?" tanya Caera sambil memegang cambuknya dengan napas ngos-ngosan.


Bukan hanya Caera tetapi juga Falih dan Elyza.


"Kenapa kalian kesini!" seru Felicia dengan kesal pada tiga orang itu.


"Apa maksudmu? Kami ingin membantumu!" seru Caera dengan marah.


"Gadis bodoh! Kau gegabah! Kau melakukannya sendiri!" seru Elyza memaki sepupunya itu yang suka seenaknya saja.


"Kau boleh memakiku sesuka hati, tapi aku mohon kalian kebawahlah jangan bantu aku! Aku tak ingin ada yang pergi lagi!" seru Felicia membuat Caera dan Elyza tertegun, mereka mengingat keadaan Asher dan Margaret.


"Terserah kamu mau bilang apa, yang penting kami tak ingin mimpi kami jadi nyata," ucap Falih mendekat pada Felicia sambil memegang senjatanya.


  Felicia memandangi Falih dengan mata memerah, Caera dan Elyza mendekati Felicia yang dikatakan Fatih benar, mau gadis itu menyuruh mereka kebawah atau apapun mereka akan tetap di sini, setidaknya mimpi buruk itu tidak boleh menjadi nyata.


"Ayo hadapi bersama, bukankah kita detektif WE?" ucap Elyza.


"Kita bertiga agen cilik WE," ucap Caera.


"Aku tak mau mimpi burukku menjadi nyata," gumam Felicia.


Felicia melangkah maju, ia berada di depan Caera, Falih dan juga Elyza, 'Scarlet lindungi mereka,' batin Felicia, 'laksanakan Tuan,' balas Scarlet.


"Oke ayo kita lakukan," ucap Felicia.


"Ini semakin menarik," ucap B-08 sambil menjentikan jarinya dan para pasukan DE bertambah.


"Sudah lama aku tak bersenang-senang," ucap Falih sambil menyerang pasukan DE.


"Hei Nona B-03 Anda masih sangup bertarung? Atau Anda cukup dengan bekas cakaran itu?" tanya Elyza.


B-03 tersulut Emosi ia menyerang Elyza membabi buta, namun serangan itu di tangkis oleh Elyza dan tanpa B-03 sadari ia di bawa pergi keruangan lainnya.


"Om D-10 masa jatuh, gak kuat tarung lagi? Lemah banget!" seru Caera.


"Gadis sialan!" seru D-10 sambil menyerang Caera tanpa ampun.


"Ini menyenangkan!" seru Caera.


"Giliran dirimu Andrian," ucap Felicia sambil menyerang B-08.


B-08 menangkis setiap serangan Felicia dengan siaga dia lebih berhati-hati.


Jterr


Hujan di luar sana tak kunjung reda malah semakin deras sama seperti pertarungan yang terjadi saat ini. Kini malam semakin larut, tak ada yang menyadari akan pertarungan itu di dalam gedung tersebut, tak ada yang tau.


Napas Falih, Caera dan Elyza sama-sama terengah-engah mereka kembali ketitik semula.


Caera melawan D-10 untuk terakhirnya ia lelah bersenang-senang seperti ini dengan tiga kali hentakan cambuk D-10 terjatuh.


"Kau sudah sangat kelelahan," ujur B-08.


"Benarkah?" tanya Felicia sambil menyerang B-08, "walau begitu aku takkan menyerah."


"Tak ada gunanya menyerang kalian dari dekat," ucap B-03 pada Elyza sambil memegang pistol mengarahkannya pada Elyza yang berada di dekat jendela yang terbuka.


"Kita akhiri semua ini!" seru B-03 sambil melepaskan pelatuk pistolnya.


Dor


Elyza menutup matanya saat bunyi pelatukan pistol itu berbunyi, mungkin ini akhir dari hidupnya, di tembak mati? Sungguh lucu. Ya itulah yang di rasakan Elyza tadinya namun itu semua buyar saat ia terhempas kelantai.


Bunyi letukan itu nyata, peluru pasti mengenainya tapi itu bukan kenyataannya, Elyza membuka matanya, matanya melebar tak kala Caera tertembak, darah keluar dari mulut gadis itu, Caera terjatuh kebelakang, ia terjatuh dari jendela!


"CAE!" seru Elyza dan Felicia kompak.


Elyza memandang nyalang pada B-03, gadis itu mengeluarkan pistol yang ia bawa dengan peluru yang tersisah satu buah, Elyza menembakan peluru tersebut pada B-03 membuat wanita terjatuh tak sadarkan diri.


"Cia! Awas!" seru Falih melindungi Felicia dari serangan yang diberi B-08 saat gadis itu lengah.


"Om Falih!" seru Felicia berlari langsung mempangku Falih yang terjatuh.


"O-om g-gak apa-apa," ucap Falih berusaha menjaga kesadaran dan segera melepas pisau yang menusuk perutnya.


Darah keluar dari sana sekuat apapun Falih menjaga kesadarannya namun tetap saja perlahan matanya terkatup.


"Om Falih!" seru Felicia.


Felicia memandang tajam pada B-08, "Cukup dengan ini semua!" seru Felicia.


Felicia bangkit berdiri, namun hal yang tak di duga-duga suara letukan pistol terdengar peluru dengan cepat mengenai kaki Felicia.


Dor


"Ark!" teriak Felicia sambil bertumpu lutut.


"Cia!" seru Elyza.


"Cukup mari kita selesaikan ini semua!" seru B-08 sambil mendekat kearah Felicia dan menusukkan sebuah belati di bahu gadis itu.


"Arg!" teriak Felicia dengan rasa sakit yang memenuhi kaki dan bahunya.

__ADS_1


Ketika Felicia dalam keadaan lengah seperti itu letukan pistol kembali terdengar, peluru melaju entah dari mana arahnya, mata Elyza melebar ia berlari menuju Felicia.


Dor


"Cia awas!" seru Elyza mendorong Felicia membuat peluru itu mengenai dirinya.


"Eza!" seru Felicia saat Elyza terjatuh namun ia tak bisa berbuat apa-apa saat dirinya tiba-tiba oleng dan terguling dilantai.


"Ap-apa yang kau l-lakukan," ucap Felicia pada B-08 yang melarikan diri.


Pandangan Felicia mengelap hal terakhir yang di lihatnya adalah Ayahnya yang tampak buram berlari kearahnya.


...*-*-*-*...


   Dingin dan gelap itu yang dirasakan Felicia di mana dia? Apa dia sudah mati? Felicia tersenyum getir sungguh menyedihkan nasib dirinya.


   Diatara kegelapan Felicia terbangun ia melihat setitik cahaya dari sana ia seperti mendengar suara yang membuatnya bangkit dan mengejar cahaya itu.


   Tangan Felicia bergerak, matanya perlahan terbuka sambil mengerjapkan matanya, Bau obat-obatan yang khas merasuki indra penciumannya.


   Hal pertama yang dilihat olehnya adalah sang bunda yang menatapnya penuh kekhawatiran dan airmata.


"Bunda," panggil Felicia perlahan sambil bangkit.


"Ia sayang ini Bunda," ucap Khaina membantu Felicia duduk dan memeluk putrinya itu.


"Ini dimana?" tanya Felicia sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


"Ini di rumah sakit sayang," ucap Zia dengan lembut pada cucunya itu, wanita itu memang sudah ada di sana sejak tadi.


"Ap-," ucapan Felicia terpotong kilas-kilas balik ingatannya terlihat.


"Bunda, gimana keadaan Eza? Om Falih gimana? D-dan Cae? Cae mana?" tanya Felicia panik.


"Cia," lirih khaina memandang sedih putrinya itu.


  Felicia memandang sang bunda dengan raut sedih dan bingung, apa yang sebenarnya terjadi?


"Grandma," panggil Felicia.


"Tenanglah sayang, Elyza selamat ia koma dan kini berada di Jerman begitu pula dengan Falih," ucap Zia lirih.


"K-koma? B-bagaimana dengan Cae?" tanya Felicia.


"C-caera dia menghilang," jawab Zia.


Felicia terdiam membatu perlahan airmata turun dari matanya, "Gi-gimana dengan Aki dan Nini?" tanya Felicia agak terisak.


Khaina mengeleng, "Mereka sudah tiada," jawab Khaina dengan nada sedih dan lirih.


"Ini semua salah Cia!" seru Felicia terisak dan menangis deras.


"Mimpi sialan! Takdir sial! Semua salah Cia! Bodoh!" seru Felicia sambil memukul kepalanya.


Khaina memegang tangan Felicia yang memukuli kepalanya, ia menahan tangan anak gadisnya itu.


Felicia memberontak ia terisak kuat dengan airmata yang membajiri pipinya.


"Cia Bunda mohon Cia," ucap Khaina memohon ikut menangis.


"Sayang Grandma Cia," ucap Zia ikut menenangkan cucu perempuannya itu yang memberontak.


"Cukup Cia!" bentak Elam sambil memasuki ruangan rawat Felicia.


Elam memegangi tangan anak gadisnya itu menahan agar Felicia berhenti memberontak.


"Ayah bilang berhenti Cia!" seru Elam tak kunjung membuat Felicia diam.


"FELICIA!" bentak Elam semakin keras membuat Felicia berhenti memberontak.


"Kamu kira dengan kamu memukuli kepala kamu, memaki diri kamu semua akan kembali seperti semua? Iya?! Jawab Ayah!" bentak Elam.


"Mas!" seru Khaina tak terima jika anaknya dibentak begitu.


"Jawab Ayah Cia!" Bentak Elam lagi tak mempedulikan seruan Khaina.


   Felicia berhenti memberontak berganti dengan tangis yang semakin kuat, Elam memeluk putrinya itu erat.


"Kamu gak salah di sini, gak ada yang salah, semua udah takdir, ini mengalir begitu saja, gak ada yang dapat di salahkan, jadi berhenti menangis, kami ingin kamu selamat sayang," ucap Elam lembut pada putrinya itu.


"Tapi tetap aja Cia yang salah!" seru Felicia melepas paksa pelukan sang Ayah.


"Gadis bodoh!" bentak Abra pada cucunya itu.


"Iya semua ini salahmu! Kau bertindak gegabah, kau melakukan sesuka hatimu tanpa tau akibatnya, kau tau itu jebakan tapi kau tetap nekat pergi kesana! Apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak tau bahwa kami mengkhawatirkanmu! Apa kau tak sayang nyawamu!" seru Abra mengeluarkan isi hatinya.


"Ya! Kenapa kalian tak membiarkan aku mati saja! Mereka terkena bahaya karena dekat denganku! Aku benci semuanya! Aku membenci takdir ini! Aku mengutuk mimpi buruk itu! Mimpi sialan!" bentak Felicia dengan bercucur airmata.


Khaina meneteskan airmatanya ia memeluk erat putrinya itu, Elam terdiam mendengar itu begitu pula dengan Abra dan Zia, penyesalan menghampiri benak mereka.


Kenapa? Kenapa harus gadis sekecil itu yang mendapatkan hal seperti ini? Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Tuhan untuk gadis itu? Apakah hidup gadis itu seburuk ini, mereka merasakan keputusan yang mereka ambil sesaat telah salah.


Isakan Felicia mereda, sudah sekian jam lamanya ia menangis dengan keras akhirnya ia terlelap walau masih terdengar isakan dari bibirnya.


"Kapan ini akan berakhir?" tanya Khaina memandang sedih putrinya itu.


Zia memeluk menantunya itu dengan sayang dalam hati juga bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya? Ia tak sanggup melihat Felicia yang seperti itu.


"Elam ikut Papa!" pinta Abra membawa putranya itu keluar dari ruangan.


Di depan ruangan Felicia mereka melihat Zain, Baim, Fani, Alan, Alana, Zaeem, Neron, Baren, Kenrich, Hazzam, Juna dan anggota tim RL juga beberapa anggota organisasi Huriya.


"Ayah bagaimana keadaan Kak Cia?" tanya Baim.


"Kak Cia baik kok, gak usah khawatir," ucap Elam mengusap lembut kepala putranya itu.


"Ayah Fani boleh liat Kak Cia?" tanya Fani dengan muka sembab habis menangis.


"Gak dulu ya sayang pulang aja dulu sama Bang Zain," ucap Elam sambil memandang Zain.


Zain yang mengerti arti pandangan sang Ayah segera mengendong Fani dan mengandeng Baim.


"Kita pulang aja ya, besok aja lihat Kak Cianya," ucap Zain pada Fani.


"Besok! Besok! Besok! Kapan lagi Besoknya?! Bulan depan?! tahun depan?! Fani mau ngeliat Kak Cia! Dua hari dan selalu saja besok! Fani rindu Kak Cia!" bentak Fani membuat orang-orang di sana memandang nanar gadis itu.


Pintu ruangan Felicia terbuka menampakan Khaina dengan wajah sembabnya, Khaina memandang kearah Elam lalu beralih kearah Fani yang berkaca-kaca ingin menangis, suara bentakan gadis kecil itu terdengar hingga kedalam.


"Zain bawa Baim pulang, Fani sini sama Bunda," ucap Khaina mengambil alih Fani dari gendongan Zain.


"Bunda, kita nengok Kak Cia kan?" tanya Fani.


"Iya," jawab Khaina sambil tersenyum.


"Bunda, Zain pulang dulu ya," pamit Zain pada sang Bunda.


Zain pergi sambil mengandeng Baim diikuti Alan, Alana, Zaeem, Neron juga Juna dan yang lainnya yang beranjak pergi.


"Berarti Belum bisa jenguk Fea sekarang ya?" tanya Fiana dengan lirih.


"Kita lihat besok aja ya sama yang lain," ucap Bima lalu membawa Fiana pergi dengan Arsen juga Farhad, Irfan dan Fatih.


"Tan kita meriksa Fea dulu," ucap Atha datang bersama Hanif dan Nara yang sama-sama mengenakan jas dokter dan ya merekalah yang mengajukan diri merawat Felicia, bahkan mereka yang mengoperasi Felicia sebelumnya mengeluarkan peluru yang mengenai kaki Felicia.


Khaina mengangguk mempersilakan keduanya masuk. Elam menghembuskan napasnya gusar sambil menatap pintu ruangan Felicia.


"Semua akan baik-baik saja," ucap Kenrich merangkul sahabatnya itu.


"Elam, Ken ayo!" ajak Baren lalu berjalan lebih dulu bersama Abra.


Elam dan Kenrich saling pandang lalu berjalan pergi mengikuti kedua pria yang beda generasi dengan mereka.


"semua yang ada di dekatku akan dalam bahaya bukan begitu?"


^^^Bersambung....^^^


07 April 2020


27 Desember 2020


   Gimana ceritanya seru? Tegang? Sedih? Lucu? Ngebosanin? Atau pengen lanjut lagi? Jawab di kolom kementar.


   Jangan lupa kritik sertas sarannya.


   Jangan lupa selalu jaga kesehatan ya.

__ADS_1


Sampai jumpa besok di part berikutnya, apa yang akan terjadi berikutnya ya?


See you bye~


__ADS_2