
Jangan lupa klik tombol 🌟 sebelum membaca dan 💬 setelah membaca
Alan, Zain, Zaeem, Rafan,Abil, Ray, Alana,Nuri dan Faiyaz kini sedang berada di kantin sekolah menikmati makanan mereka masing-masing. Alan hanya terdiam sedari tadi tak bersuara sama sekali, khm walau biasanya seperti itu namun kini ditambah dengan aura sedih juga cemburu? Maybe?
"Gue masih heran Fea kenal sama dua siswa baru tadi dari mana?" tanya Ray masih heran.
"Maksud lo?" tanya Zaeem sambil menyuapi makanannya ke mulut.
"Kalau ada Fea nih di sini kalian tanya gitu pasti jawabannya,'bukan urusan kalian' gitu," ucap Abil.
"Serah deh kan dia gak ada di sini sekarang, lagian lo gak penasaran apa?" tanya Zaeem.
"Penasaran sih," jawab Abil.
"Bisa jadi aja, mereka ketemu di suatu tempat gitu, terus kenalan, terus Cia suka sama salah satu dari mereka, Razi mungkin kan dia ganteng tuh," celutu Fayaz.
"Gak mungkin!" seru Zain spontan, "dia gak mungkin suka sama salah satu duo R lagian lo gak liat tadi di nge-bossy kalau dia suka pasti dia akan senang datang ke sini bukan dengan aura dingin tadi!"
"Ya slow aja kali ngomongnya," ucap Ray yang hanya dibalas dengusan oleh Zain.
Rafan mengelengkan kepalanya lalu melihat keluar matanya memicing ketika melihat seseorang yang tampak familiar olehnya.
"Eh itu bukannnya Bunda sama siswa baru itu ya?" tanya Rafan membuat mereka semua menoleh dan memang benar adanya itu adalah Felicia juga Razi dan Ryung.
"Eh Kak lo gak cemburu liatnya?" tanya Alana menaik turunkan alisnya sambil menyenggol Alan, menggoda kembarannya itu.
"Paan sih biasa aja," Ketus Alan.
"Dih ketus amat, wih Lan liat deh Cia sama Razi dekat banget tuh," ucap Alana yang tak henti ngegoda Alan.
"Diam! atau uang jajan lo dari gue hilang," ancam Alan.
"Ok gue diam," ucap Alana yang diam seketika.
Alan memandangi ketiga orang yang ada di bawah itu dengan pandangan tajam, dingin dan datar. Mungkin orang yang sekilas memandang, Felicia dan Razi memang dekat namun berbeda dengan Alan, Alan dapat melihat dengan jelas bahwa Felicia memberikan sebuah topeng pada Razi juga pakaian? dan topeng merupakan identitas dari Huriyah.
Alan mengangkat sudut bibirnya ke samping pandangannya tetap sama tajam, dingin dan datar, 'anggota baru, heh?' batinnya. Pandangan Alan teralih pada dering handphone yang menandakan adanya pesan masuk, Alan tersenyum tipis ketika tau siapa yang mengiriminya pesan, ia membalas pesan itu dengan cepat lalu berdiri dan berjalan pergi meninggalkan teman-temannya yang memandangi dirinya bingung.
sementara itu Felicia....
"Ingat pakai nih, terus nih kunci mobilnya," ucap Felicia memberikan kunci mobilnya pada Razi juga dua topeng dan pakaian. Razi memberikan salah satu topeng dan pakaian pada Ryung.
"Di mana kami menukar pakaian di mobil? dengan lo di dalamnya?" tanya Ryung.
"Pegang aja dulu ngapa? nanti ada tempatnya juga," ujur Felicia.
Gadis itu mengambil handphonenya mengetik sesuatu di sana, bibirnya terangkat ketika melihat balasan dari seseorang, "Tajam seperti biasanya," gumamnya.
"Ayo Yudog Han, Blitz, ini akan menjadi pengalaman pertama kalian yang menyenangkan," ujur Felicia berjalan menuju mobil di ikuti Razi dan Ryung di belakangnya.
Felicia duduk di belakang dengan Razi yang mengendarai mobil dan Ryung yang duduk di sebelahnya, Felicia memandangi keluar jendela dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"this time I allow it, but next time take me along," bisik Alan sambil tersenyum dengan mata yang mengikuti mobil Felicia yang kian lama kian menghilang.
\*\*\*\*
Felicia, Razi dan Ryung sampai di sebuah apertemen bertingkat tentu dengan mereka yang kini telah berganti pakaian. Felicia dengan topeng bewarna merah bercampur hitam, jilbab hitam, pakaian hitam dengan tali merah di pingangnya dengan sarung tangan setengah jari juga banyak senjata yang ia sembunyikan.
sedangkan Razi mengunakan topeng hitam putih yang menutupi setengah wajah dan satu matanya begitu juga dengan dengan Ryung dengan topeng yang sama namun berbeda model.
"Ingat kita harus masuk secara diam-diam, kira-kira di mana kita bisa masuk?" tanya Felicia.
"Dari tadi lo nanya terus, kan lo bosnya," balas Ryung yang langsung mendapatkan pukulan kepala dari Felicia.
"Justru karena itu gue nanya, gue lagi ngajarin lo pada bego! katanya lo berdua anak didik Ayah gue tapi kok tolol gini?!" tanya Felicia berseru kesal.
"Sakit, lagian mana gue tau dan gue itu cerdas asal lo tau," balas Ryung.
"Kalau lo cerdas ya jawab bukan protes," sinis Felicia.
"Gimana kalau lewat belakang sambil naik tangga?" tanya Razi yang dari tadi berpikir.
"Udah mainstream kayak gitu kalau nanti ketahuan berabe, gue punya cara yang anti mainstream yang buat kita gak ketahuan," ucap Felicia, "lo berdua bisa manjatkan?"
Razi dan Ryung saling pandang lalu kembali memandangi Felicia dan menganguk dengan ragu karena belum mengerti dengan manjat yang dimaksud oleh Felicia.
__ADS_1
"Ok bagus," ucap Felicia sambil tersenyum misterius.
Razi dan Ryung memandang gedung apertemen di depan mereka dengan tak percaya mereka memandangi gedung itu dan Felicia secara bergantian.
"Master ini bercandakan? lantai yang kita tuju itu lantai 10!" seru Razi.
"Lalu masalahnya? Aku harap kalian bisa memanjatnya dengan cepat karena aku ingin kasus ini selesai hari ini, dan tebakanku tak mungkin salah," ucap Felicia dengan santai.
Felicia mengepalkan tangannya lalu mengarahkan pada balkon di sebuah apertemen di lantai sepuluh, lalu Felicia merentangkan jarinya dan ia dengan sendirinya terangkat dengan cepat, meloncati pembatas balkon dan tiba di sana kurang lebih 1 menit.
Razi dan Ryung memandangnya tak percaya melihat itu mereka jadi yakin jika Felicia memang pantas jadi master, 'apa yang kalian tunggu? Naik!' seruan suara Felicia terdengar dari alat yang ada di telinga mereka.
Kedua cowok itu meneguk ludahnya dengan kasar lalu mengikuti cara Felicia tadi mengepal tangan lalu membidikan pada balkon dan merentangkan jari-jarinya.
Lima menit berlalu, Razi dan Ryung baru sampai di balkon itu dan menemukan sang master yang kini sedang mengotak atik handphonenya.
"Lima menit? Kalian lamban!" hina Felicia.
"Nama juga was-was takut ada yang tau," balas Razi.
"Udah ayo cctvnya udah gue matiin tinggal meriksa doang," ujur Felicia.
Lagi dan lagi Razi dan Ryung saling pandang, mereka rasa pandangan mereka tentang Felicia kemarin memang salah besar karena Felicia memang pantas menjadi master mereka dan ini kedua kalinya mereka membantinkan itu.
Razi dan Ryung berjalan menyusul Felicia yang telah lebih dulu berjalan ke dalam, mereka memandangi apartemen itu. Apertemen yang sederhana, namun mengapa Felicia memilih memeriksa apertemen ini dari sini juga sudah di pastikan mana mungkin pemiliknya adalah seorang priskopat yang hobi membunuh mengunakan kapak.
Felicia duduk di sofa yang ada di apertemen itu lalu memandang datar Razi dan Ryung yang juga memandanginya bingung mau apa.
"Apa yang kalian tunggu? Periksa ruangan ini!" pinta Felicia sambil menyilang kakinya dan melipat satu tangannya sedangkan tangan lainnya memainkan handphone.
"Terus lo gimana?" tanya Razi yang di balas pandangan tajam oleh Felicia dan Razi tau betul tentang itu.
Razi dan Ryung mulai menerusuri apertemen itu dari satu ruangan keruangan lainnya.
Ryung menyerengitkan keningnya ketika melihat sesuatu di wastafel dapur tempat pencuci piring, ia memutar krannya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sebuah jari telunjuk yang keluar dari sana, sepertinya jari seorang pria.
Walaupun ngeri Ryung mengambil jari itu dan ntah mengapa ia merasa bahwa jari tersebut menunjukan ke suatu tempat.
Ryung memandang ke arah sebuah pintu ruangan perlahan ia mendekat keruangan tersebut, awalnya Ryung merasa ruangan itu hanya tempat alat-alat saja dan tak mungkin ada petunjuk di sana, namun pikiran itu berubah ketika ia melihat bercak darah di bawah pintu itu. Ryung membuka klop pintu tersebut dengan perlahan.
Ryung meletakakan jari yang ia temui tadi di samping pria tersebut lalu pergi ke tempat Felicia.
Sesampainya di sana Ryung menemukan Felicia dan Razi yang memandangi sebuah kotak, seperti kotak pakaian kotor, lalu juga dua tangan yang salah satu tak memiliki jari dan kedua kaki juga telinga.
"Kau yang menemukannya Bliz?" tanya Ryung pada Razi dengan nama samaran temannya itu.
"Ya juga keranjang itu," jawab Razi sambil menunjuk keranjang yang ada di depan Felicia.
"Apa yang kau temukan Yudog Han?" Kini Razi yang bertanya.
"Sebuah mayat pria dan potongan jari juga darah," jawab Ryung.
Pandangan dua cowok itu kini teralih pada Felicia yang sedang membuka kotak. Felicia menyeringai tak kala mendapati sebuah pakaian dan topeng yang sangat ia kenali di dalam keranjang tadi.
"Sudahku katakan tebakanku tak pernah salah," ucap Felicia masih dengan seringainnya.
"Itu benar-benar pakaian Masked Women?" tanya Ryung tak percaya.
"Yudog Han, Bliz ambil mayat pria yang di temukan tadi bawa ke sini segera!" pinta Felicia, Razi dan Ryung segera mematuhinya dan membawakan mayat pria tadi juga potongan jari tangannya dan meletakan itu di atas meja.
Felicia meletakkan pakaian yang ia temukan tadi di atas meja dan mengambilkan keranjang tadi lalu membuangnya kesembarangan arah.
"Ayo gerak! Sembunyi!" pinta Felicia lalu segera ketiga orang itu sembunyi.
Pintu apertemen tersebut terbuka menampilkan seorang wanita yang mengenakan pakaian kantor yang berumur sekitar 20-an yang diyakini adalah pemilik apertemen tersebut.
Wanita itu menutup apertemennya matanya sedikit terpaku ketika melihat seorang mayat pria yang bagaian tubuhnya terpisah juga baju jubah serta topeng yang ada di atas mejanya.
DEG
Jantungnya berdetak kencang ia memegangi kepalanya sambil menutup mata, perlahan mata itu terbuka dengan kilatan psikopat serta senyum mengerikan yang menghiasi wajahnya.
"Wow aku tak menyangka kalau permainan ini akan cepat berakhir," ujur Wanita itu sambil mengambil pisau lipat di sakunya
"Bukan begitu Scarlett!" serunya sambil menusukkan pisau lipat itu pada Felicia, Felicia dengan sigap menghindari serangan tersebut lalu menatap tajam dan dingin pada wanita itu, Masked Women.
__ADS_1
"Atau gue harus manggil lo Master S?" lanjut wanita itu, seringai mengerikan terpampang jelas di wajahnya.
"Ya ini terlalu mudah bagiku DARLA!" seru Felicia menekan kata terakhirnya.
"HAHAHAHAHA gue gak nyangka lo hebat!" seru Wanita tersebut yang tak lain adalah Darla.
Ya Darla wanita yang di temui oleh pria yang bernama Bi di klub malam yang ada di part sebelumnya dan tentu yang sebenarnya Darlalah wanita yang ada di balik topeng yang membunuh memakai kapak bukan, bukan Darla namun kepribadian lainnya.
Darla menyeringai tambah lebar ia menyerang Felicia membabi buta. "Satuhal yang harus lo ketahui Scar gue bukan wanita lemah itu gue Dilla!"
"Yes, I know, dan aku sangat senang dengan itu karena ini akan menjadi mudah jika saja kau tak rewel," ujur Felicia dingin sambil terus menghindari serangan membabi buta dari Darla bukan namun Dilla.
"Kalian ngapain diam di sana!" seru Felicia pada Razi dan Ryung yang tetap diam menoton Felicia yang selalu menghindari serangan Dilla.
"Gak deh, Master aja kamikan belajar," ucap Razi.
"Iya memperhatikan setiap gerakan Master," tambah Ryung.
"Bawahan sialan kalian! Di mana-mana Masternya yang santai ini malah kebalik!" seru Felicia kesal masih fokus menghindari serangan Dilla.
"Hei! Dil, lo tau gue punya rencana lebih bagus dan gue mau itu selesai sekarang juga jadi jangan buat semua makin rumit," ucap Felicia.
"Oh ya? Tapi sayang, gue harus balik ke kantor lagi pula apa kalian punya bukti untukku?" tanya Dilla sambil menyerang Felicia.
Felicia menyekal serangan Dilla, ia membalikkan keadaan kini wanita itu terjatuh setelah di hempas oleh Felicia dengan serangan telak, Felicia menginjak satu tangan Dilla dengan kakinya sedangkan satu tangannya menahan tangan Dilla yang satu lagi dan terakhir pisau di tangan wanita itu kini beralih pada gadis tersebut yang kini menodongkan pisau pada lehernya.
"Cukup dengan semua ini Dilla yang harus lo tau sekarang gue punya cara aman untuk lo!" seru Felicia membuat Dilla tertawa.
"Gadis naif!" bentaknya sambil ingin menendangkan kakinya pada Felicia.
"Master!" seru Razi dan Ryung kompak.
"Perlu lo ketahui gue gak naif dan juga gue gak akan segan-segan bahkan melukai orang yang gue anggap musuh!" seru Felicia mengoresi pisau lipat pada pipi Dilla kaki dan terakhir manancapkan pisau itu pada bahu wanita tersebut.
Darah mencuar cepat dari sana, Dilla berteriak sakit, Felicia memandang dingin pada wanita itu.
"Sekali gue bertekat untuk menghabisi maka gue akan menghabisinya walau nyawa menjadi taruhan."
^^^Bersambung.... ^^^
6 januhari 2020
27 Desember 2020
Next part
Darah mencuar dan itu selalu terjadi di setiap kasus, saat kau mengerakan pion dan jika kau ingin menang hanya ada beberapa pilihan menyerah dengan kalah, menentukan taktik yang tepat, atau mengorbankan dengan menang dengan taktik yang tepat?
Semua jawabannya ada di part selanjutnya
Dan pastinya gadis kecil itu tak akan mudah menyerah, keluarga yang utama, balas dendam harus di penuhi dan musuh bisa menjadi sekutu yang kuat
Coming Soon, Next Part
PART 28 : FINISH AND START
My name is Felicia and I am ready to do everything because I'm Scarlett the little detective, agent of the White Eagle organization, the girl who will change the history of this organization - Felicia A.L.A.A.I. , Scarlett.
...THE LITTLE DETECTIVE ...
...SCARLETT...
...Mr. Huriyah Organization...
...MASTER S...
...Descendants Of Three Well-known Families...
...FELICIA AMIRA LASHIRA AVRAM ABRAQI ISHAN. ...
..."Siap menjalani misi dan menghancurkan DE, Dark Eyes," ...
..."Keberuntungan bagi WE karena aku ada di sini bukan?" ...
...Satu hal yang harus selalu di ingat...
..."PERHATIKAN LANGKAHMU KARENA MUSUH SELALU MENGINTAI!" ...
__ADS_1