
Mata Neron terkantuk-kantuk ingin rasanya ia tertidur namun ia tak bisa bagaimana mungkin ia tertidur saat makanan mengiurkan di depannya membuat perutnya lapar.
Neron memandang tajam kearah Caera yang berada di depannyadan dibalas tatapan sama tajamnya oleh gadis itu.
Felicia yang berada di samping Neron tak mempedulikan itu dan malah asik memakan makanannya sedangkan Elyza yang kini berada di samping Caera juga di depan Felicia memutar bolamatanya malas.
Menurutnya ini melelahkan, bayangkan saja mereka baru saja kembali dari Korea Selatan sekitar jam 4 pagi dan saat itu mereka juga tak langsung istirahat melainkan pergi ke ruangan Felicia yang ada di WE dan memeriksa beberapa dokumen lalu pergi lari pagi kembali jam 6 dan bersiap-siap pergi sekolah.
Elyza memang sangat lelah saat ini apalagi di tambah dengan cekcok antara Neron dan Caera, tak ada hari tanpa petegkaran bagi mereka.
Lain Elyza lain pula Neron, walau ia kini memandang permusuhan pada Caera namun ia tetap lelah.
Menurutnya ini gila! Dia tak istirahat sama sekali dan lebih parahnya dia masuk di sekolah yang sama dengan Felicia, Elyza dan Caera dan di kelas yang sama dan itu juga pada akhir semester.
"Neron kau tidak makan?" tanya Elyza yang mulai jemu dengan tingkah dua temannya itu.
"Cia Suapin," ujur Neron dengan manja pada Felicia.
"Cia, Cae juga mau di suapin!" seru Caera tak mau kalah.
Felicia dan Elyza sama-sama mengerutkan dahinya bingung, sebenarnya kedua orang ini bertengkar apa?
"Cae, gimana kalau Eza aja yang nyuapi Cae," ucap Elyza penuh pengertian.
"Kenapa harus Eza, Caekan maunya Cia," ucap Caera membuat Elyza memijit pelipisnya.
"Gini Cae sayang, Ciakan nyuapin Neron jadi nanti susah nyuapin kamu biar Eza aja yang nyuapin ya," ucap Elyza.
Caera cemberut namun ia tetap menganguk setuju sedangkan Neron tersenyum penuh kemenangan dengan Felicia yang menyuapinya.
"Setelah ini kita akan ke sekolah Bang Zain," ucap Felicia.
"Ngapain?" tanya Elyza.
"Melihat rupa asli B-08," ucap Felicia.
"Dengan maksud mengambil chip itu? Aku benarkan?" tanya Caera yang dijawab aggukan oleh Felicia.
"Setelah ini? Setelah kita makan?" tanya Neron.
"Tepat, tebakan yang sempurna," jawab Felicia.
"Jadi kita datang cuma numpang absen doang?" tanya Neron lagi.
"Iya, jadi ayo pergi," ucap Felicia bangkit dari duduknya.
"Sekarang juga?!" kompak ketiganya kaget.
"Makanannya gimana?" tanya Caera.
"Nanti makan lagi di sana," ucap Felicia berjalan pergi terlebih dahulu.
Neron, Elyza dan Caera saling pandang lalu bangkit dari tempat duduk mereka dan segera mengikuti Felicia dari belakang.
Di sekolah Zain....
Semua perhatian tak lepas dari keempat orang asing – bukan murid sekolah mereka dan gak tau murid atau bukan– yang sudah anteng duduk di meja kantin.
"Ci, ini kita nunggu si br*ngs*k sampai kapan?" tanya Neron yang mulai bosan.
"Wow kata-katamu kasar juga ya," ucap Elyza.
"Ya aku bosan!" seru Neron, "Apalagi dengan pandangan siswi di sini."
Tak ada yang salah dari ucapan Neron, dia benar, siswi-siswi yang ada di sekolah itu tak melepas mata mereka dari Neron, hanya ada satu kata pasti mereka terpesona.
"Makannya dibilangin jangan ngeyel akukan udah bilang pakai masker malah bantah lagi," ucap Felicia yang bersandar pada bahu Neron sambil memakan es krim dan memainkan handphonenya.
Neron menyuapi makanannya pada Felicia, ia menunggu dengan bosan begitu juga dengan Caera sedangkan Elyza? Gadis itu malah sedang mengetik sesuatu di laptopnya.
Kantin yang awalnya ribut bertambah ribut kala sepuluh siswa memasuki kantin, hal itu membuat Neron, Caera dan Elyza menoleh.
"Oke, ayo pergi tak ada gunanya kita mengurusi duabelas anak itu," ucap Felicia berdiri membuat ketiga temannya ikut berdiri.
"Fea!" seru Zaeem yang tak sengaja melihat Felicia membuat kesembilan orang lainnya juga menoleh memandang kaget Felicia.
"Ayo," ucap Felicia sambil mengandeng tangan Neron dan melangkah pergi.
Alan yang melihat itu dengan langkah cepat langsung memegangi tangan Felicia satu lagi membuat langkah Felicia terhenti dan menoleh kearahnya.
"Wow, hatinya lagi panas tuh," bisik Abil pada Ray.
"Siapa coba yang gak panas liat orang yang di sukai malah gandengam sama yang lainnya," ucap Ray dengan santai.
"Mau kemana?" tanya Alan dengan dingin.
"Harus bilangin ya?" tanya Felicia balik dengan heran.
Tubuh Alan menjadi kaku mendengar pertanyaannya tak dijawab oleh Felicia, tak biasanya gadis itu seperti itu padanya.
"Kak, lepasin dulu Fea sama yang lainnya ada urusan penting," ucap Felicia membuat Alan perlahan melepas genggaman tangannya.
"Ngapain lo lepasin sih Lan? Pegang aja terus, tahan dia enak aja gandengan tangan gitu sama cowok lain," ucap Zain dengan nada dingin.
"Kenapa sih Bang ngomong kok dingin gitu?" heran Felicia.
"Kamu itu udah sebulan gak ada kabar, udah balik gak langsung kerumah terus gandengan tangan sama cowok lagi!" seru Zain dengan marah.
"Emang kenapa kalau gandengan tangan sama Neron? Sama Ayah aja boleh," ucap Felicia membuat Zain dan Alan membatu.
"S-sama Ayah...," ucap Zain kaku.
"Boleh?" tanya Alan sama kakunya.
"Kenapa sih lagiankan sama Neron gak papa," ucap Felicia.
"Tunggu-tunggu Neron kayaknya gue gak asing deh," ucap Zaeem membuat semua mata menoleh padanya.
"Hah gue ingat Neron anaknya Om Falihkan?" tanya Zaeem.
"Lah kok Kakak bisa tau si breng*ek ini sih?" heran Caera.
"Sorry Nona, My name Neron jadi jangan panggil aku dengan kata itu lagi," ucap Neron kesal pada Caera membuat gadis itu memandang polos pada Neron.
"Breng*ek," ucap Caera membuat Neron kesal, Caera tersenyum jahil lalu tanpa salah sedikitpun dia mengatakan kata itu lagi, "Br*ngs*k, br*ngs*k, br*ngs*k, br*ng*ek!"
"Cia!" seru Neron mengadu pada Felicia.
"Cae gak boleh ngomong gitu nanti aja kalau mau kelahi, pokoknya urusan kita harus selesai dulu," ucap Felicia.
"Kau mendukung gadis gila itu?" tanya Neron tak percaya.
"My name Caera jadi jangan panggil aku gadis gila!" seru Caera dengan kesal.
"Cae! Neron!" seru Felicia dengan kesal membuat keduanya terdiam.
"Bagus sekarang tinggal kalian, ingat ini satu jangan ganggu Fea, dua jangan ngehalangi, tiga jangan ikut campur dan terakhir kami dalam misi penting," ucap Felicia.
"Dan ya untuk Kak Alan, Ryung, Razi dan Gerant," panggil Felicia.
"Eh kelihatan ya," ucap seorang pria.
"Kau meremehkan penglihatanku?" tanya Felicia.
"Tidak," jawab Gerant.
"Bagus kalau gitu dan aku mau ngasih tau Neron anggota baru," ucap Felicia lalu segera pergi sambil mengandeng Neron dan Caera.
"Maaf tapi karena kami ada misi penting sepenting-pentingnya di harap jangan menganggu, terima kasih," ucap Elyza melangkah pergi.
"Dan ya, kalau kalian ikutan, kalian tak ada bedanya dengan lintah penganggu," ucap Elyza tersenyum miring lalu benar-benar pergi.
"Jadi si Neron itu anaknya Om Falih? Aku ngerti sekarang," ucap Zain.
"Roul kita ikutin yuk!" seru Rafan.
"Lo gila Fan gak ingat peringatan dari Fea tadi," ucap Ray memandang horor Rafan.
"Kan kita lihat dari jauh," ucap Rafan.
"Kayaknya seru," ucap Zaeem.
"Dan tadi mereka ngarah kesana ya? Gue tau tempat yang pas untuk ngintai," ucap Gerant.
"Kayaknya ada yang berbahaya di sini," ucap Ryung.
"Dan semuanya aman padaku," ucap Razi.
Kelima remaja itu saling pandang lalu sama-sama tersenyum penuh rencana.
"Bye kami berlima mau pergi dulu," ucap Gerant melangkah pergi kearah yang sama dengan tempat yang di tuju Felicia.
Rafan, Zaeem, Ryung dan Razi mengikutinya dari belakang, seakan gak mau kalah Alan juga ikut dengan mereka dengan rasa penasaran.
"Gue juga ikut, kalian berlima di sini aja gue bakal nyusul mereka, firasat gue gak enak," ucap Zain juga mengikuti keenam temannya yang lain.
"ngomongnya aja firasat gak enak, sebenarnya mau ikutan juga," cibir Alana.
__ADS_1
"Yaudah kita duduk makan aja yuk," ajak Ray.
"Lagian gue juga gak mau kena amukan Fea," ucap Abil.
"Biar mereka aja yang kena amukan," ucap Nuri.
"Kita tinggal nyaksikan dengan happy," tambah Fayaz.
Lalu kelima remaja itu duduk di salah satu meja yang ada di kantin dan memesan makanan menunggu kabar menyenangkan.
...****...
Suara langkah ketukan sepatu dari keempat anak itu mengema di gedung kosong tersebut.
Shet~
Sebuah belati melaju cepat dan hampir mengenai salah satu dari anak itu jika saja mereka tak menghindar.
"Insting yang bagus," ucap seorang pria yang muncul dari kegelapan.
"Hai Scarlett, Gemini, La Tempesta dan...wah sepertinya ada orang baru di sini," ucap pria berumur kisaran 20 an yang sepertinya 14 tahun lebih tua dari Felicia atau mungkin tiga belas.
Pria yang cukup tampan dan bisa membuat orang-orang terpesona tapi sayang dia adalah penjahat.
"Hai juga B-08 ini pertama kali ya kita bertemu," ucap Felicia tersenyum di balik maskernya.
"Ya ini yang pertama kalinya Scarlett atau aku harus memanggilmu Nona Avram?" tanya B-08 tersenyum licik.
"Wah identitasku sudah ketahuan ya," ucap Felicia tersenyum sambil melepas maskernya.
"Tapi kau juga harus tau identitasmu juga sudah ketahuan B-08 ya, ah atau aku harus memanggilmu Adrian?" tanya Felicia sambil tersenyum miring.
"Mantan agen WE yang paling jenius," ucap Elyza membuat Adrian tertawa jahat.
"Kepsikopatan dirimu memang sudah ada sejak dulu ya?" tanya Caera memandang tajam Andrian.
"Hei Andrian apa kau mengenal seseorang dengan nama Adrie?" tanya Neron membuat tawa Andrian terhenti.
Pria itu memandang tajam pada keempat anak yang ada di depannya.
"Kalian ingin aku tersurut amarah?" tanya andrian dengan marah.
"Tidak juga namun saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu, Ventos do deserto, kau bisa memanghil Ventos," ucap Neron memperkenalkan dirinya.
"Kau bukan bagian WE, siapa kau sebenarnya?" tanya Andrian pada Neron mengingat topeng yang dipakai anak itu.
"Anda benar saya bukan bagian dari WE namun saya bagian dari Scarlett," ucap Neron.
"Bagian dari Scarlett? Apakah orang-orang bertopeng yang baru saja muncul itu bagian darimu juga Scarlett?" tanya Andrian.
"Kau benar, bahkan diantara mereka ada Adrie, dia bagian dariku," ucap Felicia sengaja ingin menyalutkan emosi pria itu.
"Bocah sialan!" seru Andrian tersulut emosi dan langsung menyerang Felicia.
"Ini menyenangkan," ucap Felicia sambil menyeringai.
Andrian menyerang Felicia memakai belati tanpa ampun, tak membiarkan gadis itu lolos begitu saja.
Felicia terus-terus saja menangkis serangan dari Andrian mengunakan belati perak miliknya, walaupun baginya ini menyenangkan tapi ini juga melelahkan.
"Kalau kayak gini terus Scarlett bisa-bisa terluka," ucap Caera.
"Kalian mau menonton terus? Ayo kita tolong," ucap Neron membuat Caera dan Elyza mengangguk.
"Wow, jangan ganggu mereka dong, kalian bertiga lawan gue aja," ucap seorang pria yang memakai topeng badut.
"A-09!" seru mereka bertiga bersamaan.
"Ya apa kabar anak-anak," ucapnya dan kini Elyza, Caera juga Neron yakin pria tersebut sedang tersenyum lebar di balik topeng itu.
"Bagaimana jika kalian bertiga melawanku?" tanya A-09.
"Anda sendiri yang menawarkan!" seru Caera yang ntah sejak kapan ada di belakang A-09 dan langsung menyerang pria itu.
"Kau mencuri garis start!" seru Neron tak terima juga ikut menyerang.
Elyza hanya terdiam di tempat melihat teman-temannya yang menyerang. Elyza berbalik dan berjalan pergi, langkah kakinya berjalan menerusuri gedung tersebut.
"Keluarlah! Apa yang kau inginkan?!" tanya Elyza berseru lantang.
"Wah aku ketahuan ya?" tanya seorang gadis yang hampir seumuran dengan Elyza.
"Aku yakin kau ke sini hanya di perintahkan bukan? Kau tak akan menyerang," ucap Elyza.
"Kau benar sepupu bagaimana kalau kita berbincang, sepertinya kita agak jauh dari mereka bukan?" tanya gadis itu.
"Panggil saja namaku, sudah lama aku tak mendengar orang memanggil namaku itu," ucap Celena, "Ayo!"
Beberapa menit kemudian....
Felicia masih terus menghindari serangan yang di berikan Andrian sedangkan Caera dan Neron keduanya kini hampir mengalahkan A-09.
"Ini sudah terlalu lama Andrian, kita akhiri saja ini semua sekarang!" seru Felicia.
Felicia menangkis serangan Andrian lalu mendorongnya dan menjatuhkan pria itu, menusukkan belati kebahu pria tersebut.
Darah segar bercucuran saat Felicia kembali mengangkat belati tersebut membuat Zain dan Rafan yang berada di atas pohon ingin bergerak menyelamatkannya.
"Al-"
"Tetap di sini!" pinta Alan memotong ucapan Zain yang ingin protes.
"Sial!" seru A-09 segera pergi melarikan diri.
"Hei tunggu!" seru Caera.
"Jangan lari pengecut!" seru Neron.
"Ini berakhir B-08," ucap Felicia pada Andrian.
"Satu hal lagi aku tau identitas asli Master mu," ucap Felicia membuat yang mendengar menjadi tak percaya, "Nelson, bukankah itu namanya?" tanya Felicia berbisik membuat Andrian melebarkan matanya tak percaya.
"Ya kau tau, namun tidak secepat itu Scarlett," ucap Andrian segera berdiri.
"Aku akan kembali lagi camkan itu!" seru Andrian memegangi bahunya dan segera pergi menghilang.
Felicia memandang lekat ke arah tempat kepergian Andrian lalu matanya beralih pada darah yang tersisa di lantai.
"Lebih mudah dari yang aku duga, dia membiarkannya," gumam Felicia sambil menempatkan belati yang ia pegang kedarah itu.
Darah tersebut menempel pada belati yang di pegang Felicia, gadis itu mengeluarkan kantong kecil dari saku tempat khusus untuk meletakkan belati tersebut.
"Ayo kita pergi!" seru Felicia berjalan terlebih dahulu diikuti Neron dan Caera di belakangnya.
Elyza menyandarkan tubuhnya di dinding, ia menegakkan badannya ketika Felicia, Caera dan Neron keluar dari gedung itu.
"Kau berhasil?" tanya Elyza.
"Selalu," jawab Felicia sambil berjalan diikuti ketiga sahabatnya.
"Jadi setelahnya kita langsung pulang?" tanya Caera.
"Ya tapi sebelum itu, kita harus menyidang mereka bertujuh dulu!" seru Felicia menendang sebuah pohon.
Pohon tersebut bergoyang membuat Gerant, Razi, Ryung, Rafan, Zaeem dan Zain yang tak siap terjatuh sedangkan Alan mendarat dengan mulus.
"Kalian ingat peringatan Fea tadi bukan?" tanya Felicia.
"Hehe Bunda, Tadikan kami cuma penasaran," ucap Rafan.
"Benar Bu Bos! Lagiankan kami gak ganggu," tambah Gerant.
"Ci, kamu gak papakan? Kamu gak sakit atau apa gitukan secaranyakan kamu tadi lihat, dar-darah," ucap Zain.
"B-bang Zain, Cia tadi takut banget! Darah tadi keluar gitu aja! C-cia kangen kakek! Cia mau balik ke Yogyakarta," ucap Felicia sambil gemetar ketakutan ketika tersadar.
"C-cia," ucap Zain dengan nanar.
"Gak usah lebay, jadi kamu dapat chipnya?" tanya Alan.
"Ketahuan ya?" tanya Felicia kembali seperti semula.
"Eh?! Jadi kamu bohongin Abang gitu!" seru Zain kesal.
"Gak kok Cia gak bohong, Cia benaran mau balik ke Yogya," jawab Felicia.
"Jadi tentang chipnya?" tanya Alan.
"Tada!" seru Felicia memperlihatkan belatinya tadi yang kini bersih dari darah.
"Hah? Itu bukannya belatimu tadi yang untuk nusuk B-08 ya? Kok bersih sih?" tanya Ryung heran.
"Itu dia, belati ini susah payah Fea modifikasikan, ini baru selesai saat bel istirahat berbunyi," ucap Felicia membuat Neron, Elyza dan Caera memandangnya tak percaya.
"Apa maksudmu? Bukankah tadi sepanjang pelajaran kau tertidur?" tanya Neron tak percaya.
"Seiring berkembangnya Zaman, teknologipun berkembang, kalian tau maksudnya bukan? Itu hanya bayangan," ucap Felicia.
__ADS_1
"Bayangan?!" tanya Gerant, Zaeem, Ryung, Razi, Rafan, Zain, Alan dan Neron bersamaan.
"Oh, apa ini seperti Diky? Yang waktu itu bukan?" tanya Caera.
"Tepat Nona, itu memang Alat dari Diky dan aku memodifikasi belati ini karena mendapat ide darinya," ucap Felicia.
"Sebelum Celena memberitau tadi, kau memang sudah tau kalau chip itu tersimpan pada tubuh Andrian bukan?" tanya Elyza.
"Ternyata aku punya banyak saudara yang berbakat jenius," ucap Felicia sambil tersenyum.
"Diky? Dia anggota baru juga? Lalu apa maksudmu tadi, chip itu ada di dalam tubuh B-08?" heran Alan.
"Aku akan menjelaskan secara detail pada kalian, sepulang sekolah pergilah kemarkas, ada hal penting yang akan aku sampaikan," ucap Felicia.
"Dan untuk Bang Zain kita bicara di rumah nanti, bye semua," ucap Felicia dan langsung segera pergi diikuti Elyza dan Caera di belakangnya.
"Sepupu yang jenius? Sepertinya dia tak salah," gumam Neron lalu menoleh kearah Zain dan yang lainnya dan langsung pergi mengikuti Felicia.
...****...
Jakarta, Indonesia
Markas Pusat WE
Suasana yang bisa di bilang ramai para pegawai tengah sibuk di lobby sedangkan beberapa agen bersantai-santai dapat dengan jelas terlihat dari luar.
Dan tepat saat itu Felicia, Elyza, Caera dan Neron yang ada di belakang ketiga gadis itu masuk mereka di sambut oleh Falih yang tampaknya tadi memiliki urusan di luar dan telah kembali.
"Selamat datang kembali para detektif cilik, bagaimana dengan tugas kalian?" tanya Falih.
"Terselesaikan dengan baik," ucap Felicia, Caera dan Elyza kompak.
"Benarkah? Jadi bagaimana rasanya berkeliling dunia?" tanya Falih.
"Melelahkan!" seru Caera dan Elyza kompak membuat Falih terkekeh.
"Apa Cia memberi kalian banyak tugas?" tanya Falih.
"Sangat banyak," ucap Elyza.
"Dia bukan manusia," ucap Caera membuat Felicia melotot kesal.
"Om bayangin dia pernah nyuruh kami ngerjain dokumen dan paling parah dia bahkan pernah menyuruh kami tidak tidur dua hari dua malam, bukankah dia itu bukan spesies manusia? Dia itu seperti iblis, iblis kejam yang tak punya hati!" seru Caera bercerita dengan mengebu-gebu.
"Oh ya?" tanya Felicia sambil tersenyum kesal, "apa kalian lupa? Ada yang bilang mereka akan membantuku namun mereka malah asiknya tidur, bermain dan meninggalkanku mengerjakan dokumen sendirian."
"Lagian apa-apaan itu aku tak membiarkan kalian istirahat? Omong kosong! Bahkan aku membiarkan kalian istirahat saat aku menghadiri rapat," ucap Felicia dengan kesal.
"Oke, mengingat itu aku jadi sadar, kami yang banyak salah di sini," ucap Elyza.
"Sudahlah, oh iya Om, kami bawain Om kado dari Brazil!" seru Caera.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Falih.
"Kado istimewa, tanpa bungkusan, dia bisa jalan sendiri dan ini adalah ciptaan terbaru Cia!" seru Felicia yang langsung dihadiahi jitakan kepala dari Neron.
"Sakit!" seru Felicia memegangi kepalanya.
"Kalau sembarangan ngomong lagi kau akan mendapatkan lebih dari itu, apa-apaan ucapanmu tadi? Kita berasal dari spies yang sama tau! Dan aku manusia asli bukan robot yang kau buat!" seru Neron kesal.
"Spies yang sama? Tapikan kau laki-laki dan kami perempuan," ucap Elyza yang juga mendapat jitakan dari Neron.
"Om Falih!" adu Felicia.
"Sudalah anak-anak, dan apa kabar Neron? Kau tau Mommymu sangat Khawatir mendengar kalau kau hilang," ucap Falih.
"Hai Dad, kabarku baik lagi pula bukankah aku sudah bilang pada Mommy aku akan melakukan hal menyenangkan? Mommy aja yang pikun," ucap Neron.
"Wah bicaramu tambah berani ya," ucap Falih.
"Itu kenyataan, Mommy memang sudah pikun," ucap Neron dan tepat saat itu aura gelap mengelilingi belakang Neron.
"Apa katamu tadi? Aku mau mendengarnya lagi," ucap seorang wanita membuat Neron menoleh dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
"Mom-Mommy," ucap Neron pada wanita itu Darra, Mommy Neron.
"Anak nakal! Kau bilang padaku akan pergi tapi setelah seminggu kau tak balik-balik dan dua minggu setelahnya aku malah menemukanmu di sini! Kau kira kau sebesar apa? Siapa yang membesarkanmu dari kecil? Lalu apa-apaan ucapanmu tadi kau menghinaku! Siapa yang mengajarimu seperti itu!" seru Darra mengomeli Neron membuat anak itu tertunduk.
"Liebi, sudahlah," ucap Falih berharap agar istrinya itu menghentikan omelannya.
"Kau selalu membela anak ini, makanya ia menjadi seperti ini, terlalu manja! Anak nakal! Durhaka!" seru Darra dengan kesal.
"Prff- Manja," ucap Caera menahan tawanya membuat Neron memandang tajam dirinya.
"Iya tante jangan dibiarin anak nakal kayak gitu kalau dibiarin makin ngelunjak," ucap Elyza.
"Iya anak nakal kalau dibiarin makin melunjak," ucap Adele mamanya Elyza sambil menjewer telinga putri satu-satunya itu.
"Aaa, sakit Ma, Ely salah, lepasin dong Ma," ucap Elyza memohon.
"Tuh dia memang dasar kalian anak durhaka," ucap Felicia namun setelah itu dia merasakan firasat buruk saat ada aura gerap dibelakangnya.
Felicia menoleh kebelakang mendapati sepasang mata coklat milik Khaina yang memandang tajam dirinya.
"Ya dan sayangnya aku dapat satu anak durhaka itu! Kenapa gak ada kabar ke Bunda! Bunda khawatir setengah mati kamu malah santai-santai aja, telpon dari Bunda gak diangkat, kamu maunya apa sih!" seru Khaina sambil mencubit pipi anaknya itu.
"Aa Bunda sakit, lagiankan Cia ngasih kesempatan," ucap Felicia membuat Khaina melepas cubitannya.
"Cih pandai banget berkilah," ucap Neron berdecak melihat Felicia yang gak diapa-apain.
"Gini loh Bunda Cia udah ngasih kesempatan satu bulan dan pasti Cia udah dapat kabar bagus dongkan? Gimana kabar adik Cia di dalam," ucap Felicia sambil memegang perut sang Bunda.
"Ih kamu apa-apaan sih," ucap Khaina dengan muka memerah malu, secara gak langsungnyakan Felicia ngomongnya di depan banyak orang dan lagi ada orang yang lalalu lalang.
"Kembarkan adiknya, Bunda tau Cia pengen banget adik kembar," ucap Felicia.
"Kamu udah bikin Khawatir mintanya banyak lagi, udah dikasih yaudah, kalau masalah kembar enggaknya nanti aja!" seru Khaina.
"Wah benaran hamil ya?" tanya Fariz papanya Elyza.
"Mantul benar sih Kak," ucap Fariz pada Elam.
"Nah kebetulan Ayah ada di sini! Tapi kok Ayah kusut gitu? Bukannya tadi istirahat di rumah ya?" heran Felicia.
"Iya istirahat di rumah tapi gara siapa coba kayak gini," ucap Elam.
"Nambah anak berarti siap menderita ya Lam, tebakannya pasti benar nih, morning sickness kan?" tanya Falih mendapat tatapan tajam dari Elam.
"Jadi gimana? Rencana kamu berhasil?" tanya Elam pada Felicia mengalihkan topik agar para saudaranya itu tidak mengolok-oloknya.
"Sukses besar, bahkan Cia udah dapat akar semua masalah, Cia hebatkan bahkan Cia ngalahin Mask Ice agen terhebat WE," ucap Felicia menaik turunkan alisnya menggoda sang Ayah.
"Oh benarkah jadi anak Ayah yang paling pintar yang katanya udah ngalahin Ayah, tebakan kamu tadi benar?" tanya Elam.
"Benar, gak pernah meleset B-08 adalah Andrian," ucap Felicia membuat Falih, Faraz, Khaina, Darra dan Adele tertegun kaget.
"Apa maksudnya itu?" tanya Adele.
"Jadi si psikopat gila itu...," ucap Falih masih tak percaya.
"Andrian!?" tanya Fariz, Khaina dan Darra berseru bersamaan.
"Ya seperti yang para orangtua dengar tadi," ucap Elyza.
"Dari mana kamu tau semua itu?" tanya Darra.
"Itu dia bagaimana jika kita mengadakan rapat dadakan antara keluarga," ucap Neron.
"Dan kayaknya kita harus manggil Bang Zain ke sini, dia juga tau ini semua kan," ucap Felicia.
"Baiklah, Cia hubungi Zain, kita keruang rapat sekarang," ucap Falih berjalan terlebih dahulu diikuti yang lainnya.
"Apa penglihatanku tadi benar? Sekilas permata itu bercahaya," ucap Khaina.
Khaina lalu memandang Elam penuh kekhawatiran.
"Takdir memang tak bisa dihindarkan, percaya padanya, aku yakin semua akan baik-bail saja," ucap Elam sambil merangkul pinggul Khaina dan membawa pergi sang istri mengikuti yang lainnya.
^^^Bersambung....^^^
02 April 2020
27 Desember 2020
Hai! Hai!
Gimana kabar kalian? Sehat? Semoga sehat selalu dan kita selalu dilindungi dari macam bahaya, amin....
Ada yang kangen TLD?
Gimana part kali ini? Seru? Sedih? Bosan? Lucu? Atau buat penasaran dan pengen part berikutnya? Jawab di kolom komentar ya.
Jangan lupa vote, commen, kritik dan sarannya.
Sampai jumpa di hari minggu dengan part yang baru!
See you bye semua~
__ADS_1