The Little Detective

The Little Detective
Part 41 : Matual Desier


__ADS_3

     Langit malam kota seoul terlihat dari tempat Felicia berada, satu kata yang akan terucap dari orang yang melihatnya, indah, apalagi dengan tempat yang di tempatinya, hotel Avram, usaha dari keluarga itu tak pernah tak memuaskan.


"Nah, bukankah pemandangan ini sangat bagus?" tanya Elam pada sang putri.


"Ya pemandangan yang bagus, ini intoriornya yang waktu itu Ayah tanya sama Ciakan? Yang waktu Cia umur 8 tahun?" tanya Felicia yang tak lepas memandang pemandangan yang di sunggahi di depannya.


"Masih ingat ya," ucap Elam diangguki antusias oleh Felicia, "Jadi tentang ap-"


"Tunggu Ayah, kita gak bakal ganti-ganti tempat lagikan?" tanya Felicia memotong ucapan Elam.


  Elam mengaruk tekuknya yang tak gatal, bingung akan menjawab apa, sebab memang dari tadi ia berpindah pindah tempat menunda memberi tau putrinya itu, bagaimanapun ia rasa ini terlalu cepat.


   Ia tau walau dia menganjak putrinya itu ke tempat-tempat indah seperti siang tadi makan ke restoran terkenal, jalan-jalan, ke mall dan akhirnya hingga malam berakhir di hotel milik perusahannya, tempat ia akan menginap begitu juga dengan Felicia.


"Ah Ci sebelum kita membahas masalahnya gimana kalau kamu mandi dulu aja, biar segar," ucap Elam memberi saran.


"Ayah gak ngomong gitu karena mau nunda lagi kan?" tanya Felicia memandang tajam sang ayah.


"Ng-gak kok, ngak, ngak pasti gak kan," ucap Elam menghindari tatapan mata tajam yang dilontar Felicia padanya.


"Tapi betul juga sih, lagian badan Cia udah gerah," ucap Felicia sambil tersenyum lebar.


"Cia mandi dulu Ayah, kalau udah selesai langsung kita bahas ya," ucap Felicia sambil berdiri dari kursinya dan dengan riang menuju kamar mandi.


"Akhirnya," ucap Elam sambil menghebuskan napas lega.


  Namun itu tak bertahan lama karena dering handphonenya berbunyi menampilkan nama istri tercinta yang ternyata menelponnya.


"Assalamualaikum hal-"


"Wa'alaikumsalam, Mas keadaan Cia gimana," ucap suara Khaina di sebrang sana yang memotong ucapan Elam.


"Ina, kalau suami ngomong jangan di potong gitu dong, dosa loh," ucap Elam sambil menyandarkan dirinya di sofa yang ia duduki.


"Maaf Mas, lagian Ina Khawatir sama Cia," ucap Khaina dengan nada sesal di dalamnya.


"Mas tau," jawab Elam.


"Sekarang Cia di mana?" tanya Khaina dengan lembut, nada suara khas sang istri yang ia rindukan walau mereka baru berpisah sebentar.


"Cia lagi mandi, kamu lagi ngapa?" tanya Elam.


"Lagi nyiapain makan anak-anak," jawab Khaina.


"Na, Mas rindu," ucap Elam.


"Hm...? Baru juga mentar. Mas, Cia gimana?" tanya Khaina.


"Ya gitu deh," jawab Elam.


"Gitu gimana sih Mas? Yang jelas dong!" seru Khaina kesal dengan suaminya itu.


"Ya gitu, sayang gak gimana-mana," jawab Elam sambil terkekeh, gemas pada Khaina.


"Mas ih, maksud Ina bukan itu! T-tapi tentang permata S-scarlet," ucap Khaina agak ragu.


   Kekehan Elam terhenti, pria itu terdiam bingung mau menjawab apa pada istrinya itu, lagipula jawaban yang ia ucapkan bukanlah hal yang mereka berdua inginkan.


"Hah, sepertinya itu memang harus kita lakukan. Kebenaran itu takkan bisa disembunyikan karena akhirnya pasti akan ketahuan," ucap Khaina.


"Kamu gak marah?" tanya Elam.


"Ya gak, sekuat apapun Khaina ngejahuin Cia. Maka, sekuat itu pula Cia akan lari mendekatinya, Ina sadar sebelum Ina ngandung Ciapun, Ina udah tau kalau permata itu ada pada Cia," ucap Khaina, "Lagi pula bukan itu udah di sebutkan, dalam hidup Ina semua akan sulit dan Anak Ina pasti akan ada yang memiliki permata besinar yang di incar semua orang."


  Elam terdiam, Khaina terdiam. Elam pernah mendengar kata-kata itu, bukan hanya Khaina saja tetapi juga dengannya, 'Pasangan takdir' Elam mengira dua kata itu bukan apa-apa, dia tak mengerti ucapan itu sebelumnya.


'Selalu bersama, susah ataupun senang, kadang takdir yang telah di pasangkan itu sama dan itu berlaku padamu,'


   Kalimat itu terngiyang di kepala Elam, ia menyesal karena tak pernah mendengarkan ucapaan itu dan malah mengabaikannya, menggap itu sebuah lelucon.


   Tetapi kini ia menjadi bingung karena tak memiliki persiapan, 'penyesalan itu selalu datang belakangan' sepertinya itu benar adanya.


"Maaf Ina," ucap Elam.


"Kenapa minta maaf sih Mas, Mas gak perlu minta maaf sama Ina lagian ini bukan salah Maskan," ucap Khaina, "tapi, awas aja kalau Cia kenapa-napa, Mas tidur aja sendiri."


   Elam terkekeh mendengar ancaman istrinya itu, "Iya, iya Mas ngerti kok dan Mas pastiin Cia bakal baik-baik aja."


"Lagian Mas tetap harus minta maafkan," ucap Elam membuat Khaina yang mendengarnya menjadi bingung.


"Maaf karena Mas saat ini gak bisa ngehapus air mata kamu," ucap Elam.


"M-mas apa-apaan sih," ucap Khaina yang tanpa sadar air mata yang ia tahan menjadi jatuh.


"Ja-jangan ng-"


"Maaf sayang, kalau Mas selama ini jadi yang terburuk untuk kamu," ucap Elam.


"Kok, Mas ng-gomong gitu...hiks...," isakan itu keluar dari Khaina, sekuat apapun ia menahan itu tetap keluar tanpa ia kendalikan.


"Mas gak pernah jadi yang terburuk buat Ina, Mas itu yang terbaik, seharusnya...hiks...Ina yang minta maaf," ucap Khaina.


"Maaf karena Ina belum bisa jadi Istri yang terbaik buat Mas, Maaf karena Ina kadang ngelawan Mas, maaf kalau Ina banyak salah sama Mas, maaf...hiks...hiks," ucap Khaina membuat Elam mengelengkan kepalanya.


"Tapi walau Ina banyak salah tetap aja Mas yang terbaik juga buah hati kita mereka anugrah yang di kasih Allah buat Ina sama Mas, Ina bersyukur punya suami kayak Mas," ucap Khaina.


"Mas juga bersyukur punya istri cantik, perhatian sama kuat kayak kamu, kamu udah banyak berjuang untuk buah hati kita, terima kasih sayang," ucap Elam lalu terbit senyum jahil di bibirnya, "Pasti sekarang lagi blushingkan?"


"Ih, Mas apa-apaan sih ngancurin suasana aja," ucap Khaina kesal namun setelahnya ia tertawa kecil membuat Elam tersenyum.


"Gitu dong ketawa, kan enak dengarnya, jangan nangis lagi ya Ibu dari anak-anaknya Elam," ucap Elam.


"Ih Maskan," ucap Khaina, "udah ah Mas gitu."


"Bunda! Bang Zain jahat!" suara Fani terdengar melengking dari sebrang sana.


"Zain Jangan ganggu adik kamu dong!" seru Khaina memarahi anak sulungnya itu.


"Zain bosan Bunda gak ada Cia!" seru Zain.


"Bunda! Bang Zain gangguin Baim!" seru Baim.


"Zain!" teriak Khaina.


"Kayaknya memang harus ditutup ya," ucap Elam.


"Kayaknya gitu udah dulu ya Mas, salam untuk Cia, Love you, assalam mualaikum," ucap Khaina.


"Waalaikum salam Love you too sayang," balas Elam lalu sambungan telpon ditutup.


   Elam melihat jam di pergelangan tangannya jam setengah sembilan, Elam meletakkan handphonenya di meja lalu berdiri sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Cia kok lama banget ya? Capek mau mandi," gumam Elam lalu memasuki kamar mandi yang satunya lagi mengingat kalau Felicia memasuki kamar mandi yang ada baknya, lagi pula kamar hotel ini memang dikhususkan untuk dirinya sekeluarga jadi tentang fasilitas di dalamnya suka-suka dia mau nentuin gimana.


   Felicia terdiam, perlahan air matanya turun membasahi pipinya mendengar percakapan Ayah dan Bundanya.


   Jangan heran kalau Felicia mengetahui hal itu karena semejak Ayahnya menelpon sang Bunda ia belum mandi sama sekali dan malah besandar di belakang pintu kamar mandi mendengar percakapan Elam dan Khaina sampai habis.


"Kapan ini akan berakhir? Aku rindu  suasana keluargaku dulu," ucap Felicia sambil perlahan menyelam memasuki air.


...****...


  Jam menunjukan pukul sembilan tepat dan Elam baru menyelesaikan ritual mandinya bersiap untuk tidur.


  Namun langkahnya terhenti ketika melihat anak gadisnya telah tertidur pulas terlebih dahulu di kasur.


   Elam mendekat ke arah kasur lalu berbaring di samping Felicia dan mengelus lembut rambut kecoklatan milik putrinya yang sama sepersis seperti Khaina dengan sayang.


"Ayah jangan coba-coba tidur dulu ya," ucap Felicia membuat Elam tersentak kaget.

__ADS_1


   Mata Felicia perlahan terbuka memperlihatkan mata keemasan milik putrinya yang sama persis seperti dirinya, Elam tersenyum memandangi Felicia, anaknya yang memiliki gabungan dirinya dan Khaina putri yang paling ia lindungi.


"Gak bakalan," balas Elam.


   Felicia memeluk Elam dengan erat mencurahkan seluruh isi hatinya pada sang Ayah.


"Udah lama gak tidur sama Ayah," ucap Felicia.


"Ya, udah lama padahal ini anak Ayah paling manja yang sekarang sok sibukan," ucap Elam.


"Ih Ayah, Cia gak sok sibukan tapi memang sibuk!" seru Felicia sambil mengebungkan pipinya kesal.


"Iya deh anak Ayah satu ini memang sibuk," ucap Elam sambil terkekeh geli.


   Felicia tersenyum melihat kekehan dari Ayahnya tersebut namun raut wajah berubah menjadi sedih mengingat situasi yang kini terjadi, kalau ia salah langkah dan semuanya gagal ia mungkin tak dapat melihat kekehan itu bukan?


"Ayah...apa yang Ayah ketahui?" tanya Felicia lirih.


   Elam menghentikan kekehannya dan memandang nanar sang putri, apa sebenarnya Felicia belum siap mendengar semua ini? Sebenarnya ada tekat apa putrinya tersebut hingga bisa seperti ini? Felicia memang sama seperti dirinya dulu namun putrinya itu sedikit berbeda.


  Naif? Putrinya tidak naif seperti anak-anak seumurannya, Elam akui itu, putrinya itu spesial. Felicia tidak Naif melain hanya...sedikit takut? Ya hanya sedikit takut, ia memiliki kejadian yang tak terduga selama ini dan yang paling mengenaskan saat ia berusia 4 tahun.


"Cia, kamu benar-benar udah siap?" tanya Elam.


"Siap ataupun tidak, Cia harus siap bukan," ucap Felicia sambil tersenyum.


   Walaupun kini putrinya tersenyum di balik itu Elam dapat melihat kelemahan, putrinya tak sekuat yang dibayangkan orang-orang.


"Apa yang ingin Cia tanyakan?" tanya Elam yang tidak akan menunda-nunda lagi.


"Cia dikasih tau Om Falih kalau waktu masa Ayah ada tiga penghianat WE, Darra, Angga dan Andrian bukan? Pertanyaan Cia kenapa mereka bisa berhianat?" tanya Felicia.


"Ayah gak nyangka Paman kamu itu masukin istrinya sendiri sebagai penghianat," ucap Elam sambil tergelak.


"Hah? Maksud Ayah, Darra itu istri Om Falih? Ibunya Neron gitu?!" tanya Felicia tak percaya.


"Iya, tapi gak salah sih kalau Falih ngomong kalau Darra adalah penghianat, soalnya dia menghilang saat itu karena urusan keluarganya dan dia tak kembali ke WE," ucap Elam.


"Lalu ceritanya di mulai beberapa tahun setelahnya, Om Falih dan Tante Darra ketemu lagi, lalu mereka menjalin hubungan, berjuang, menikah dan mendapatkan Neron sebagai ending," ucap Felicia, "cerita Om Falih mudah ditebak."


"Cia anak Ayah yang paling cantik, kamu deskripsikan cerita kayak gitu...kamu suka baca cerita romance gitukan, ngaku kamu," ucap Elam sambil mencubit pipi putrinya itu gemas.


"Ah, Ayah sakit! Lagian Cia untuk hiburan doang kalau lagi bosan," ucap Felicia membuat Elam melepas cubitannya.


"Besok gak boleh lagi, ingat!" seru Elam dijawab anggukan oleh Felicia, "tapi coba kamu tebak cerita Ayah sama Bunda gimana?"


"Malas, cerita Ayah sama Bunda itu panjang satu episode gak akan habis," ucap Felicia membuat Elam terkekeh.


"Ok, princess cukup dulu cerita episodenya, kalau kamu bisa cerita sama Ayah ok," ucap Elam.


"Jadi selanjutnya Angga ya, kalau soal yang satu ini Ayah gak tau pasti sih cuma kalau Ayah terusuri dia kaki tangan pimpinan WE," ucap Elam.


"Lah terus kok bisa jadi penghianat WE sih?" heran Felicia.


"Kalau simpulan ceritanya ya Ci, ini taktik namanya," ucap Elam.


"itu bukan simpulan cerita Ayah, cocoknya takti perang aja," ucap Felicia membuat wajah Elam datar seketika, Felicia tergelak melihat itu.


"Udah tinggalin dua orang itu, mereka simpel kamu bisa cari sendiri, yang berbelit itu satu orang, Andrian," ucap Elam.


"Nah itu dia, Andrian itu punya adik ya? Apa adiknya itu Caera?" tanya Felicia.


"Hm...? Adik? Ayah gak tau tapi kamu pernah ketemu sama dia bukan? Saat umur kamu 4 tahun, dia sering main kerumah sama Adrie dan juga pernah sih ngajak anak kecil umurnya 5 tahunan gitu" jawab Elam.


"Hah?! Kapan? Waktu Cia umur empat tahun sama...Adrie kok bisa?" heran Felicia.


"Bisa aja, Adrie itu kekasih Adrian," balas Elam.


"Adrie pacar Adrian? Ayah apa Adrie pernah mengalami kecelakaan atau semacamnya seperti itu?" tanya Felicia.


"Anlisismu semakin bagus," ucap Elam memandang lekat Felicia.


"Oke, Sedikit sih tapi Cia bisa nebak alurnya, Adrian berhianat karena WE gak mau bantu dia nyelamatin Adrie dan akhirnya ia menangani kasus itu sendiri membuat dia benar-benar menjadi penghianat, namun tanpa ia sadari Ayah sama Om Falih bantu diakan?" tanya Felicia.


"Yang waktu itu Cia, bang Zain, Baim sama Fani di titipin sama Nenek itukan? Itu semua karena Ayah dan Bunda bantu Kak Adrian, Cia betulkan," ucap Felicia.


"Ya, setidaknya itu persis  seperti nyatanya," balas Elam.


"Dengan ini semua makin jelas, Cia tau siapa identitas B-08," ucap Felicia.


"Maksud kamu Adrian adalah B-08? Bagaimana mungkin?!" tanya Elam tak percaya.


"Itu mungkin saja, namun satu hal yang pasti B-08 itu code palsu, B-08 yang asli ahli dalam bidang komputer bukan psikopat gila," ucap Felicia.


"Dengan kata lain B-08 tak pernah bergabung," tebak Elam.


"Tidak juga code Andrian memang palsu tapi code Adrian lainnya asli," ucap Felicia.


"Maksud kamu?" tanya Elam heran.


"Bukan apa-apa, dua pertanyaan dari Cia, Ayah harus jawab dengan jujur, yang pertama Ayah pasti kenal dengan Master DE dan Ayah tau siapa yang sebenarnya mengendalikan DE kan?" ucap Felicia.


"Hm...Ci, bukannya itu dua pertanyaan," ucap Elam.


"Gak satu kok," ucap Felicia.


"Ok itu satu, bisa panjang kalau aku bantah," ucap Elam diakhiri gumaman.


"Yah seperti yang kamu bilang tadi Ayah kenal Master DE, dia paman kamu lebih tepatnya adik sepupu Ayah dari pihak Grandma kamu," jawab Elam.


"Dan soal yang dibalik DE, itu masih dugaan, Ayah belum tau pasti," jawab Elam.


"Ok kalau begitu pertanyaan terakhir tentang permata scarlet, apa arwah itu benar-benar telah di segel dengan kuat? Maksud Cia arwah jahat," ucap  Felicia.


"Ayah akan ngasih kamu buku sejarah keluarga sampai di rumah dan tentang arwah itu lebih baik kamu tanya sama Juna dan yang lainnya," ucap Elam.


"Ok sekarang gantian, Ayah yang nanya, kamu tau siapa pimpinan WE kan? Apa itu orang yang kita kenal dekat? Siapa dia?" tanya Elam.


"Maaf Ayah tapi Cia gak bisa jawab, karena pimpinan bilang dia akan menunjukan dirinya sendiri nantinya," ucap Felicia.


"Ayah ngerti," ucap Elam, "sekarang tidur aja, besok kita akan berangkat pagi sekali."


    Elam memeluk putrinya itu erat begitu pula dengan Felicia yang memeluk sang Ayah erat menyalurkan rasa bimbangnya saat ini.


   Pada akhirnya tidak semua kebenaran itu ia ucapkan pada Felicia, namun ia yakin saat berada di pesawat nanti putrinya itu akan menanyakannya kembali.


   Elam mengelus kepala Felicia dengan sayang seperti kebiasaannya saat Felicia sampai berusia 5 tahun dan setelah itu yang ia tau putrinya itu berubah, berubah menjadi sosok yang kadang susah ia tebak.


   Sebenarnya ia heran dari mana putrinya mendapatkan sifat dan kepribadian itu? Kalau gak salah dia dan khaina tak begitu-gitu amat.


  Deru napas halus teratur terdengar membuat Elam tersenyum memandangi anaknya itu, Elam memandangi lekat wajah Felicia.


  Mata yang jika terbuka bewarna keemasan yang diturunkan darinya, rambut coklat seperti Khaina, pipi yang kemerahan alami, hidung yang tak terlalu mancung seperti Khaina dan bibir ranum seperti milik khaina benar-benar gabungannya dengan sang istri walau lebih mendominasi istrinya namun kepribadiannya hampir sama dengan Elam.


"Aku tak ingin ada mimpi buruk lagi, aku harap tak ada yang membuatmu sulit, satu-satunya permata keluarga Avram," bisik Elam lalu terlelap menuju Alam mimpi.


Di sisi lain.....


Jakarta, Indonesia, Kediaman Avram.


"Fani gak bisa tidur," ujur Fani sambil beranjak dari kasur dan berjalan pergi.


    Fani pergi menaiki tangga menuju lantai paling atas, hal itu tak lumput dari Zain yang baru saja kembali dari dapur dan Baim yang keluar kamarnya terbangun karena haus.


   Zain dan Baim saling pandang lalu diam-diam mengikuti sang bungsu dari belakang.


  Khaina meraba kasur di sampingnya, ia tersentak dan terbangun panik tak mendapati si bungsu di sampingnya.


"Fani, sayang, kamu di mana!" seru Khaina panik dan segera keluar dari kamar.

__ADS_1


   Langkah panik Khaina terhenti ketika melihat kedua putranya yang diam-diam naik tangga ke lantai paling atas, tatapan mata coklat terang Khaina menjadi nanar, hal yang ia duga pasti sang bungsu kini ada di lantai atas.


   Tempat di mana ia sering bermain menghabiskan waktu bersama kakak perempuannya, Khaina turun ke dapur.


   Ia mengambil empat gelas membuat coklat panas mengingat malam ini dingin bukankah ini akan menenangkan?


  Khaina tersenyum namun itu tak lama karena air matanya perlahan menetes, ini keadaan yang sulit baginya.


   Fani mengabil sebuah remot lalu duduk di sofa, gadis berusia 9 tahun itu menekan sesuatu yang ada di sofa tersebut lalu sofa itu berubah seperti kasur.


   Fani berguling di sana lalu memencet salah satu tombol yang ada di remot tadi, langit-langit ruangan itu terbuka dibatasi kaca setengah lingkaran transparan.


    Ruangan luas dengan sofa seperti yang ia gulingi tempat yang penuh kenangan apalagi dengan beribu bintang yang terlihat menghiasi langit.


"Lihat Fani, bintangnya cantikkan?"


"Fani adik kakak yang paling kakak sayang,"


"Ini tempat Fani sama Kakak cuma kita berdua,"


   Ucapan Felicia mengiyang di kepala Fani, perlahan cairan bening keluar dari mata bewarna keemasan itu.


"Fani rindu Kakak Cia," ucap Fani menahan isakan tangis.


"Abang juga kangen Kak Cia," ucap Baim yang entah sejak kapan berguling di samping Fani.


"Abang juga kangen sama Cia," ucap Zain berguling disisi lain Fani.


   Fani sempat kaget spontan menoleh pada kedua abangnya itu yang kini menatap lurus kearah bintang-bintang dilangit.


  Fani terduduk membuat Baim dan Zain terduduk, tiga pasang mata keemasan itu sama-sama melihat kearah langit.


  Sebuah kain menyelimuti belakang mereka membuat ketiganya menoleh mendapati sang bunda yang tersenyum hangat kepada ketiganya.


"Bunda," ucap Fani sambil memeluk Khaina.


   Khaina duduk di antara Zain dan Baim yang memeluknya dan Fani yang duduk di pangkuannya.


"Malam ini dingin lebih baik kalian pakai aja selimutnya, apalagi kamu Zain, Bundakan udah bilang kalau tidur itu pakai baju," ucap Khaina memarahi putra sulungnya itu.


"Zain gerah Bunda," balas Zain.


"Bunda, Fani kangen Kak Cia sama Ayah," ucap Fani.


"Bunda juga," ucap Khaina.


"Bintang malam ini bagus ya," ucap Khaina memandang langit malam begitu juga ketiga anaknya.


"Apalagi di tambah coklat hangat, malam ini semakin indah," ucap Baim sambil meminum coklat panas yang sebelumnya telah diberikan Khaina.


"Tapi ada yang kurang," ucap Zain sambil tersenyum getir.


"Ayah sama Kak Cia," ucap Fani membuat pandangan Khaina menjadi sendu.


"Bunda lihat itu ada bintang yang paling besar," ucap Fani menunjuk sebuah bintang.


"Iya, itu Ayah," ucap Baim sambil tersenyum membuat Khaina, Zain dan Fani menoleh padanya.


"Terus itu yang di samping bintang besarnya Bunda," tambah Zain juga tersenyum kembali memandang kearah langit.


"Yang kecil itu Fani hihi," ucap Fani sambil terkekeh.


"Yang sedang Abang," ucap Zain.


"Dan yang di samping yang kecil Abang Aim," ucap Baim.


"Terus yang besinar paling terang itu...," ucap Fani terpotong sambil menunjuk bintang yang besinar paling terang namun jaraknya agak jauh dari kelima Bintang tadi.


"Itu Kak Cia, walau jauh tapi dia bisa menerangi kita," ucap Fani lirih.


"Walau dia jauh, dia selalu ada dalam hati," ucap Zain.


"Walau dia jauh, dia tetap dapat menarik perhatian," ucap Baim.


"Walau dia jauh dia juga bagian dari lima bintang itu. Dan walau ia jauh dia adalah pelindung," ucap Khaina, 'Ya benar dia pelindung.'


"Hiks...hiks...Fani kanget Kak Cia, Fani pengen sama Kakak Cia sama Ayah, Fani mau kayak dulu lagi hiks...hiks...," ucap Fani yang tak dapat menahan isakannya.


  Khaina memeluk putri bungsunya itu erat, Baim dan Zain memandang sendu adik bungsunya itu keduanya ikut memeluk Fani.


   Satu keinginan mereka, keluarga mereka berkumpul seperti dulu lagi.


...****...


"Gara-gara satu masalah mereka semua menjadi terpisah, semua menderita, keturunan Abqary memang sudah ditakdirkan begitu," ucap Wanita itu sambil memandang langit.


"Bukankah kau telah terlalu lama di sini Scarlet? Lebih baik kau kembali ketempatmu," ucap seorang pria parubaya pada wanita bernama Scarlet tersebut.


"Ayolah sesepu desa, disaat malam saja aku bisa keluar dari permata," ucap Scarlet.


"Namun permata itu akan besinar jika kau bangun ataupun pergi," ucap pria tersebut, sesepu desa.


"Aku sudah mengatur cahayanya, lagi pula aku menyukai ini," ucap Scarlet memandang lurus kedepan.


   Sesepu desa menghembuskan napasnya gusar, "Kenapa kau memilih gadis itu? Ini terlalu berat baginya," ucap sesepu desa.


"Tapi aku telah menetapkan pemilikku," ucap Scarlet.


"Setelah kau sengaja pergi dari pemilikmu sebelumnya dan sengaja memecahkan diri, diam-diam masuk kedalam makanan Ibu dari gadis itu dan kau menentukannya masuk kedalam tubuh gadis tersebut saat dia dalam kandungan dan kaulah yang menyelamatkan gadis itu saat nyawanya hampir hilang dikandungan Ibunya bukan?" tanya sedepu desa.


"Kau tau banyak ya sesepu desa, namun aku tidak bisa membantah, lagi pula sudah kewajibanku melindungi pemilikku bukan?" ucap Scarlet.


"Aku tidak memilih gadis itu tanpa sebab, ini sudah takdir gadis itu dan darah Abqary juga Ishan tercampur merata padanya," sambung Scarlet.


"Fajar mulai terbit," ucap sesepu desa.


"Anda benar, sebaiknya aku segera kembali, sampai jumpa lagi sesepu desa," pamit Scarlet dan segera menghilang.


"Generasi ke seratus, selalu menjadi generasi akhir, setelah masalah ini selesai pada tahun berikutnya arwah itu juga akan hilang," ucap kepala desa sambil tersenyum dan menutup jendela yang sempat terbuka.


   Scarlet tersenyum melihat seorang wanita yang terlelap sambil memeluk tiga buah hatinya, ia kembali melaju cepat dan berhenti di gedung mewah.


   Scarlet berdiri memandangi seorang pria dan gadis berumur tiga belas tahun yang masih terlelap.


"Keturunanku," gumamnya sambil tersenyum lalu masuk pada kalung dengan permata merah milik gadis itu.


   Permata yang awalnya besinar itu perlahan meredup, Scarlet kembali pada tempatnya melanjutkan tidurnya.


"Semua ini demi melindungi pemilikku," suara Scarlet mengema membuat gadis berusa tiga belas tahun itu mengeliat.


   Matanya perlahan terbuka menampilkan mata bewarna keemasan yang indah.


"Apa yang akan terjadi selanjutnya?"


^^^Bersambung.... ^^^


30 Maret 2020


 27 Desember 2020


Hai! Hai kembali lagi!


  Bagaimana part kali ini? Seru? Bosan? Sedih? Atau lucu? Berikan pendapat kalian di kolom komentar!


   Jangan lupa jaga kesehatan ya!


Juga klik 🌟 dan beri kritik serta saran dikolom komentar


Sampai jumpa kamis dipart berikutnya

__ADS_1


See you bye~


__ADS_2