
Sudah 4 bulan berlalu dari kejadian kasus dengan B-09 atau lebih tepat permainan dari B-09 karena itu murni hanya permainan yang ingin membuat kacau saja.
B-08 tak membuat ulah selama 4 bulan ini dan itu membuat Felicia, Caera dan Elyza menjadi santai bahkan misi yang mereka jalani menjadi lancar dengan ujian yang sukses besar dan kini mereka bertiga tengah menjalani misi yang membuat mereka bersenang-senang tentunya.
'di sebelah barat kiranya ada 100 orang penjaga begitu pula di sebelah timur,' ucap suara Elyza terdengar dari alat yang di gunakan Caera dan Felicia.
"Jadi menurut kamu cara yang aman gimana?" tanya Felicia.
"Ngapain cari aman habisin aja semuanya," ucap Caera sambil tersenyum jahat.
'Gadis-gadis bar-bar jangan membuat masalah!' seruan suara Arman yang kini terdengar karena hanya dialah yang memantau misi kali ini bersama dengan tiga gadis yang akan membuatnya susah atau berhasil? Yang pastinya semua misi yang di kerjakan ketiga gadis itu selalu membuahkan hasil yang memuaskan.
"Oh ayolah aku ingin bersenang-senang," ucap Caera mendesah kecewa.
"Baiklah kalau begitu tunjukan kami jalannya," ucap Felicia.
"Ci kamu becanda? Misi kali ini tak seru sama sekali!" seru Caera sebal.
"Caeku sayang sekarang memang gak kan kita nanti mau mancing keributan," ucap Felicia sambil mengedipkan satu matanya.
"Iya sih kalau gitu ini bakal seru!" seru Caera.
'Gimana kalau kalian segera ambil permata itu lalu pancing keributan,' ucap Elyza.
"Ide bagus! Ini akan menyenangkan," ucap Caera menyeringai kesenangan.
'Aku sudah menduganya,' ucap Arman datar.
'Ok Ci, Cae gerak kearah utara,' ucap Elyza memberi arahan.
Felicia dan Caera segera bergerak bersamaan menuju ke arah yang diucapkan Elyza, kedua gadis itu bergerak dengan cepat.
'Fe, Cae gerak dengan cepat tim lain juga ngambil misi ini jangan sampai kecolongan,' ucap Arman memperingati.
"Ini akan lebih menyenangkan, aku paling suka misi rebutan seperti ini," ucap Caera.
'Ci, Cae hati-hati di depan ada sekitar 6 penjaga yang bisa mendeteksi musuh dengan cepat, mereka menggunakan senjata yang bisa mengeluarkan peluru yang berbahaya,' ucap Elyza.
"Oh ayolah ini hanya 6 penjaga bukankah lebih baik kita segera menyerang?" tanya Caera.
'Cae! Jangan buat keributan," ucap Arman penuh peringatan membuat Caera memutar matanya malas, ia kini sungguh sangat bosan.
Berbeda dengan Caera yang kini bosan, Felicia malah melakukan sesuatu dengan artian bersenang-senang.
Felicia menekan tombol pada alat di telinganya lalu muncul sebuah layar transparan di depan juga di salah satu mata Felicia seperti sebuah kaca.
Felicia sibuk menarikan jarinya diatas layar-layar transparan tersebut yang menampilkan banyak titik merah.
Bunyi alaram peringatan berbunyi ke 6 penjaga tadi segera pergi dengan cepat pergi kesumber yang menyebabkan alaram berbunyi, bunyi peringatan adanya musuh.
'Udah gue bilang jangan buat keributan! Ngapa dibuat sih?!' tanya Arman beseru dengan kesal.
"Gak usah ribut, Eza tunjuki jalannnya," ucap Felicia sambil menghilangkan layar-layar transparan di depan.
'Kamu buat titik merah yang banyak Ci,' komentar Elyza.
"Ya, aku hanya sedikit bersenang-senang," ucap Felicia.
"Dan sayangnya aku tak di ajak dan aku tak ingin melihat angka-angka memusingkan dari layar-layar itu," ucap Caera karena memang otaknya akan segera buntuh ketika berhadapan dengan yang namanya angka apalagi dengan pelajaran matematika buh jangan ditanya.
'Ok, pergi belok ke kanan lalu ke kiri belok kiri sebanyak 4 kali lalu kanan, kalian lihat ada tanda merah yang aku kirimkan itukan? Segera ke sana aku akan memecahkan passwordnya,' ucap Elyza memberikan arahan.
Felicia dan Caera segera bergerak mereka melewati jalan yang di tunjukan oleh Elyza dan tentu jalan itu aman mengingat Felicia telah membuat keributan besar.
'Hei kalian tau? Tim lain kesusahan karena terjebak oleh para penjaga itu,' ucap Arman.
"Itu bagus jadi kita lebih leluasa," ucap Felicia.
"Bahkan untuk bermain," tambah Caera.
'Baiklah aku sudah mendapatkan passwordnya akan segera aku kirimkan,' ucap Elyza saat Felicia dan Caera sampai di pintu yang di maksud.
Felicia segera membukakan password pintu itu sedangkan Caera hanya diam menunggu kalau dia yang buka sih bukannya kebuka tempat passwordnya malah hancur.
'Sihlakan masuk dan berhati-hati,' ucap suara monitor ketika Felicia berhasil membuka passwordnya.
Pintu terbuka Felicia dan Caera segera masuk kedalam ruangan tersebut.
Ruangan besar dan hm, lumayan canggih dengan di tengahnya terdapat permata biru yang ditutupi kotak kaca.
"Ruangan ini memakai laser," ucap Caera.
"Cae ngapain masih di sana ayo sini!" seru Felicia yang ntah sejak kapan sudah berada di dekat permata itu.
"Eh Ci kapan kamu lewatnya sih? Cepat amat," heran Caera.
Caera dengan cepat pergi menuju tempat Felicia berada, ia melewati laser-laser dengan berhati-hati agar tidak ketahuan.
"Kenapa gak diambil Ci?" tanya Caera ketika sampai di ttempat Felicia.
"Kotaknya punya alaram khusus, kalau kita buka alaramnya pasti bunyi, jadi kita harus hati-hati," ucap Felicia dan tepat saat itu bunyi alaram berbunyi keras.
"Ups...Sorry," ucap Caera yang ternyata memegang kotak kaca itu membuat Felicia menepuk jidadnya.
Tak sampai satu menit para penjaga telah tiba mengelilingi ruangan itu mengepung Felicia dan Caera.
'Bocah! Gue bilang jangan bikin keributan!' marah Arman, 'kembali cepat! Gue panggilin Faraz!'
"Ya, ya tapi biarkan kami bersenang senang dulu," ucap Caera sambil mengeluarkan senjata andalannya, cambuk.
"Ya sambil nunggu Kak Faraz datang," tambah Felicia mengambil permata itu dan mengeluarkan pistol handalannya.
"Za ambil lagu yang cocok," ucap Felicia sambil memasang headphone nya yang awalnya terteger manis di lehernya.
'Siap bosku!' seru Elyza sambil menyeringai.
Suara lagu menyenangkan terdengar di telinga Felicia dan Caera, kedua gadis itu dengan lihai menyerang lawan tak sampai hitungan detik 200 penjaga jatuh hanya karena mereka berdua.
Bunyi suara helikopterterdengar dari luar sebuah tali muncul di tengah-tengah.
"Sayang banget sih kesenangan harus berakhir," ucap Caera.
"Iya biarin kami main dikit lagi ngapa?" tanya Felicia.
'Gak ada! Cepatan bocah balik!' seru Arman kesal membuat Felicia dan Caera mendengus.
Kedua gadis itu segera berlari dan menghampiri tali tersebut menaikinya.
"Bye moga jumpa lagi!" seru Felicia pada para penjaga.
"Dan aku pastikan kalian akan ludes habis," ucap Caera sambil tersenyum jahat.
Felicia dan Caera terangkat mereka juga memanjat tali itu untuk mencapai atas.
"Lama banget kalian," ucap Faraz.
"Ya kan tinggi kalau jatuh gimana? Sakit tau," ucap Caera.
"Udah cepatan naik!" seru Dylan yang berteriak dari atas helikopter.
Felicia, Caera dan Faraz menaiki tangga menuju helikopter itu lalu helikopter yang di kendarai oleh Dylan sebagai pilotnya itu pergi dengan cepat menuju markas.
"Udah selesai?" tanya Juna yang duduk di ruangan tim dan ya kini mereka telah sampai di markas.
"Udah!" seru Felicia sambil menunjukan dan memberikan sebuah permata pada Juna.
"Bagus deh, kalian memang gak pernah ngecewain," ucap Juna mengangguk angguk.
"Oh iya Fe, lo, Cae sama Ely dipanggil Pak Falih tuh," ucap Juna memberi tau.
"Ngapai Om Falih manggil?" heran Caera.
"Gimana sih kalian masa lupa," ucap Elyza yang muncul tiba-tiba.
"Misi barukan?" tanya Felicia dengan mata yang berubah abu-abu dan senyum penuh kemisteriusan.
"Oh yang itu ya?" tanya Caera.
__ADS_1
"Iya emang yang mana lagi ayo!" ajak Elyza lalu ketiga gadis itu segera pergi meninggalkan Juna dan yang lainnya keheranan.
Markas pusat WE,
ruangan Ketua Kurtez Falih Elof A.
Pintu ruangan terbuka Felicia, Elyza dan Caera memasuki ruangan itu dengan riang membuat si empuh pemilik ruangan menoleh pada ketiga gadis itu.
"Oh, udah selesai misinya? Duduk aja dulu di sofa," ucap Falih mempersilahkan ketiga gadis itu duduk. (masih ingat Falihkan? Itu loh ketua WE di Indonesia yang muncul di part-part awal, part 5 an kalau gak salah)
Falih ikut duduk di sofa setelah ketiga gadis itu sudah terlebih dahulu duduk di sana. Falih memberikan beberapa tumpukan dokumen di depan ketiga gadis itu.
"Misi baru khusus untuk kalian bertiga, ini perintah langsung dari pimpinan, Om harap kalian bisa menuntaskannya selama sebulan," ucap Falih.
"Kok banyak bener sih Om?" tanya Elyza heran dengan tumpukan dokumen di depannya.
Beda dengan Elyza yang keheranan Felicia telah terlebih dahulu memeriksa dokumen-dokumen itu satu persatu sedangkan Caera? Jangan ditanya melihat dokumen itu saja pusing apalagi ketika mengerjakannya.
"Jadi kami harus pergi selama sebulan mengelilingi semuaa benua?" tanya Felicia.
"Ya hanya beberapa negara tak semuanya juga tidak dengan Antartika aku ragu kita akan mendapatkan informasi dari benua itu mengingat salju es abadinya," ucap Falih.
"Padahal aku mau coba main sekali-kali ke Antartika," ucap Caera.
"Kau sakit? Aku bahkan tak ingin pergi ketempat yang di selimuti salju abadi itu," ucap Elyza memandang horor Caera.
"Sudalah, jadi, tujuan awal kami adalah benua Eropa?" tanya Felicia.
"Ya dan negara yang akan kalian kunjungi pertama adalah Jerman kalian tau kalian akan menjalankan misi bersama mantan agen Zia," ucap Falih.
"Bersama Grandma?" tanya Elyza.
"Ya bersama nenek kalian," jawab Falih.
"Jadi kapan kami berangkat?" tanya Caera.
"Hari ini itupun jika kalian bisa," ucap Falih.
"Ok hari ini kita berangkat! Aku mau izin sama Ayah dulu!" seru Felicia dengan senang.
"Aku harus minta Bi idah membereskan barangku dan menelpon Papa," ujur Elyza.
"Lalu mampir ketempatku beruntung barang-barangku masih banyak di koper belum aku pindahkan," ucap Caera.
"Baiklah kalian berangkat hari ini bukan? Om akan siapkan pesawatnya," ucap Falih sambil tersenyum melihat keantusiasan ketiga gadis itu.
...****...
Berlin, Jerman.
Setelah beberpa jam menempuh perjalanan akhirnya Felicia, Caera dan Elyza sampai di Jerman.
Ketiga gadis itu turun dari pesawat dan langsung di sambut hangat oleh Zia yang telah menunggu kedatangan mereka.
"Grandma!" seru Elyza berlari memeluk Zia.
"Cucu Granma udah besar aja ternyata," ucap Zia memeluk erat Elyza.
"Grandma apa kabar?" tanya Felicia setelah Zia melepas pelukannya dari Elyza.
"Alhamdulillah baik, kalau cucu Granma yang satu ini gimana?" tanya Zia sambil mencubit pipi Felicia gemas.
"Baik-baik aja gak ada yang perlu dikhawatirin," ucap Felicia tersenyum.
Zia merentangkan tangannya membuat Felicia memeluk neneknya itu dengan erat, mereka melepaskan pelukan mereka lalu Zia beralih menatap Caera.
"Ini pasti Caerakan? Temannya Cia sama Ely, panggil aja Granma sama kayak mereka," ucap Zia pada Caera.
"Carles bawa barang-barang mereka!" pinta Zia pada seorang pria.
"Baik Nyonya," balas pria itu dengan hormat pada Zia.
"Jadi, anak-anak ayo kita pulang, setelah perjalanan panjang aku yakin kalian lelah," ucap Zia.
"Maaf Grandma sepertinya kami tak bisa langsung pulang begitu saja," ucap Felicia.
"Jadi, bisakah kami singgah ke markas pusat WE yang ada di sini?" tanya Elyza.
Zia tersenyum sambil berucap, "tentu saja."
Felicia, Caera dan Elyza tersenyum cerah hanya lima kata yang ada di benak mereka 'Misi, bermain dan bersenang-senang.'
Keempat orang itu segera pergi dengan ditatap banyak orang karena penampilan mereka apalagi Zia yang seperti ibu muda yang memabawa anaknya belibur padahal dua dari tiga gadis itu adalah cucunya.
Berlin, Jerman.
Markas pusat WE.
Caera dan Elyza memandang kagum intorial bangunan Markas WE yang baru saja mereka masuki sedangkan Felicia fokus pada handphonenya melihat daftar misi yang kiranya bisa ia lakukan di sini.
"Willkommen bei German Scarlett," ucap seorang pria yang sangat familiar bagi Felicia, Adlar tetua dari jerman. (kalau kalian lupa namanya ada di sebut di part 4)
"Hallo Herr Adlar, wie geht es Ihnen?" tanya Felicia menggunakan bahasa Jerman menanyai kabar Adlar.
"Mir geht es gut, und dir?" tanya Adlar balik.
"Sama seperti anda saya juga baik," jawab Felicia menggunakan bahasa Jerman.
"Das müssen also Gemini und La Tempesta sein, oder?" tanya Adlar sambil memandang ramah kearah Elyza dan Caera yang kini kebingungan. (jadi, ini pasti gemini fan ka tempesta, kan?)
"Sie haben Recht, beide sind meine Partner," jawab Felicia. (Anda benar dan mereka merupakan patner saya,)
"Pst Ci dia ngomong apa sih? Kalau Grandma aku ngerti kan pakai bahasa Indonesia lah ini," bisik Caera pada Felicia.
"Cae buka handphone kamu lalu dowload aplikasi kamus belajar yang banyak," ucap Felicia membuat Caera merungut kesal.
"Kamu juga Za," ucap Felicia yang kali ini membuat Elyza merungut.
"Iya, iya aku ngerti, kami tuh apa cuma sebutir debu otak kami gak bisa dibandingin dengan kamu yang pintar," ucap Elyza manyun.
"Entschuldigung, Mr. Adlar, aber können Sie mit meinen beiden Partnern Englisch sprechen, wenn wir in ihrer Nähe sprechen?" tanya Felicia. (Maaf, Tn. Adlar, bisakah Anda berbicara bahasa Inggris dengan dua mitra saya jika kami berbicara di dekat Anda?)
"Tentu saja," ucap Adlar tersenyum ramah mengunakan bahasa inggrisnya.
"Wow, endlich kann ich mich mit Scarlett treffen!" seru suara seorang pria yang dengan semangat menghampiri Felicia dan yang lainnya yang tentu dengan bahasa yang membuat Elyza dan Caera bingung. (wow, akhirnya aku bisa bertemu Scarlett)
"Boris! Lauf nicht beim Schreien!" seru pria lainnya dengan kesal mengikuti pria tadi Boris. "Boris! Jangan lari sambil berteriak!)
"Komm schon, Carl. Du schreist auch, oder?" tanya Biris dengan santai. (Ayolah Carl lagipula kau juga berteriak bukan?)
"Wo sind die anderen, Boris, Carl? Nur ihr zwei?," tanya Adlar pada kedua orang itu. (Di mana yang lainnya, Boris, Carl? Hanya kalian berdua?)
"Mit mir verbunden, drei" ucap seorang wanita yang berada di tengah-tengah Boris dan Carl. (Ditambah denganku tiga)
"Meine Güte, Fern, du hast mich überrascht!" ucap Boris berseru kaget. (Astaga, Fern, kau mengejutkanku!)
"Vorsitzende, Bericht, nur vier von uns können kommen, die anderen führen die Mission aus," ucap seorang wanita yang satu lagi. (Ketua, lapor, hanya kami yang bisa datang, yang lain sedang menjalankan misi).
"Gleichfalls! Du hast mich überrascht, Halley!" seru Boris pada wanita itu. (Kau juga! Kau membuatku kaget Halley!)
"Hehe sie sind immer aufgeregt, ich mag es," ucap Zia sambil terkekeh kecil. (Hehe mereka selalu bersemangat, aku menyukainya,)
"Agent Zia? Du kommst auch her!" seru Boris dan Fern berbinar. (Agen Zia? Anda juga kesini!)
"Ja, ich hole mein Enkelkind ab," balas Zia. (Ya aku menjemput cucuku)
"En...," ucap Carl sengaja di jeda.
"Kel?" sambung Farn.
(Cu...cu?)
"Du hast Enkelkinder?!" tanya Boris, Carl, Farn dan Halley kompak. (Anda memiliki Cucu?!)
"Wie alt bist du wirklich?Sebenarnya umur anda berapa?" tanya Halley bingung.
"Dieses Jahr ist 69 Jahretahun ini" jawab Zia dengan santai membuat keempat orang di depannya menganga tak percaya. (Tahun ini 69 tahun)
__ADS_1
"Kalau saja kalian tidak bilang dia Grendma kalian aku juga tak akan menyangka umurnya sudah memasuki kepala 7," bisik Caera pada Elyza yang lumayan mengerti apa yang diucapkan Zia.
"Ich dachte du wärst 29 Jahre alt," ucap Carl tidak percaya. (Saya kira umur anda 29 tahun)
"Das sagen auch alle, aber Sie kennen die Eismaske, oder? Er ist mein ältester Sohn und Scarlett ist sein zweites Kind," ucap Zia. (Semua orang juga bilang begitu, tapi kalian mengenal si Ice Mask bukan? Dia adalah putra tertuaku dan Scarlett adalah anak keduanya sekaligus putri pertamanya)
"Wir haben noch nicht Hallo gesagt, oder?" tanya Felicia membuat keempat orang itu menoleh.(Bukankah kita belum berkenalan)
"Es scheint, dass ich wegen der Begeisterung dieser jungen Leute vergessen habe, Sie vorzustellen, Scarlett," ucap Adlar. (Sepertinya karena semangat para anak muda ini aku lupa mengenalkannya padamu Scarlett,)
"Boris, Carl, Farm und Halley stellen diese Scarlett, Gemini und La Tempesta vor." ucap adlar memperkenalkan Felicia, Caera dan Elyza. (Boris, Carl, Farn dan Halley perkenalkan ini Scarlett, Gemini dan La Tempesta)
"Hallo, ich bin Scarlett, weil du mir vielleicht helfen kannst, mein richtiger Name ist Felicia Amira Lashira Avram, nenn mich einfach Fea," ucap Felicia. (Hai saya Scarlett karena mungkin kalian bisa membantu saya kedepannya. Nama asli saya Felicia Amira Lashira Avram panggil saja Fea)
"Hai, hm Gemini, Elyza Ferbian Arbie Abqary, Elyza," ucap Elyza yang memang tak seperti Felicia yang memperkenalkan dirinya karena Elyza sama sekali tak bisa bahasa Jerman.
Beda Felicia dan Elyza beda pula dengan Caera yang memperkenalkan diri menggunakan bahasa Italia, "La Tempesta, Caeranda Laronza Puoi chiamarmi Caera, spero che tu capisca quello che sto dicendo." (La Tempesta, Caeranda Laronza panggil saja Caera, aku harap kalian mengerti ucapanku.)
"Ngomong apa sih Cae? Aku gak ngerti!" seru Elyza kesal ya kali sepupunya hampir bisa semua bahasa, temannya satu bicara ntah pakai bahasa apa lah dia bisanya bahasa Indonesia, Inggris sama Korea doang.
"La lingua del mio paese," jawab Caera dengan bahasa Italia yang membuat Elyza tambah kesal. (bahasa negaraku)
"Vieni DALL'ITALIA?" tanya Carl. (apakah kamu berasal dari Italia?)
"Per essere precisi, i miei genitori sono italiani," jawab Caera. (Lebih tepatnya keturunan, orangtuaku orang Italia)
"Oh, jadi itu bahasa Italia," gumam Elyza.
"Laronza ... hm is your grandmother Aizila Laronza? The mistress of the Laronza family and her husband Altezza Laronza?" tanta adlar. (Laronza...hm apa nenekmu adalah Aizila Laronza? Nyonya keluarga Laronza dan suaminya Altezza Laronza?" tanya Adlar.
"Yes you know my grandfather and grandmother," tanya Caera.
"Of course they are former WE agents," jawab Adlar, "and your grandmother is a close friend of agent Zia."
"Ah iya aku baru ingat nenekmu pernah menceritakan tentangmu, dia sangat merindukanmu," ucap Zia.
"Hm ... sorry beforehand Mr. Adlar but can we talk about the problem here I don't have much time and again before leaving I also want to complete a mission here," ucap Felicia.
"Falih doesn't give you more time?" tanya Adlar.
"Only one month to surround 5 continents and that's enough for my playing time," jawab Felicia.
"And don't these four people have a mission from their respective teams? After all they are team captains aren't they?" tanya Felicia.
"Sie haben Recht, Boris, Carl, Fern und Halley. Es ist besser, wenn Sie zu Ihren Aufgaben zurückkehren," ucap Adlar memerintah. (Anda benar, Boris, Carl, Fern dan Halley lebih baik kalian kembali menjalani tugas kalian)
"Und wessen Team kann mich aufnehmen, während Scarlett und Adlar reden?" tanya Zia. (Dan tim siapa kiranya yang bisa menampungku selagi Scarlett dan Adlar berbicara?)
"meine Mannschaft!" seru Boris dengan semangat.
"Baiklah, Eza, Cae lebih baik kalian ikut saja bersama Grandma aku yakin kalian tidak akan ingin mengurusi berkas-berkas menyebalkan itu bukan?" tanya Felicia.
"Tentu saja melihat tumpukannya saja aku sudah pusing," ucap Caera.
"Dan lagi kami butuh istirahat," ucap Elyza.
"Mr. Adlar come on," ucap Felicia pada Adlar lalu pergi menuju ruangan Adlar untuk membahas masalah yang ada di sana.
Ruang Ketua Tim.
"Jadi masalahnya apa Mr. Adlar?" tanya Felicia yang kini sedang duduk di sofa ruangan itu begitu pula dengan Adlar.
"Sebenarnya bukanlah masalah besar hanya saja ada yang tak beres di sini, kau tau para tim memang melakukan misi seperti biasa naman rasanya ada yang menganjal," ucap Adlar membuat Felicia mengerutkan dahinya bingung.
"Dari laporanmu juga seperti itu, namun apakah ada hal aneh lainnya yang bisa menjadi petunjuk?" tanya Felicia.
"Ya sebuah simbol yang sepertinya adalag kode-kode rahasia dan setiap simbol itu bewarna merah layaknya darah," ucap Adlar.
"Bisakah anda berikan pada saya simbol-simbol itu?" tanya Felicia.
"Tentu saja, namun aku hanya bisa mengirimkan fotonya saja karena simbol itu tertempel di dinding, ataupun tempat yang bisa di warnai, sepertinya," ucap Adlar.
"Kalau begitu selain simbol-simbol itu bisakah anda mengirimkan lokasi di mana para agen mendapatkan simbol-simbol tersebut?" tanya Felicia lagi mendapat anggukan dari Adlar.
Adlar menekan tombol tersembunyi yang ada di meja lalu keluarlah layar transparan dari sana, ia mengotak atik layar tersebut dan tak lama kemudian handphone Felicia berbunyi menandakan ada notifikasi yang terkirim.
Felicia mengambil handphonenya, gadis itu lantas menyerengitkan dahinya saat kiriman Adlan yang datang bersamaan dengan dua pesan dari nomor yang sangat familiar baginya yang belakangan ini tak pernah sekalipun menghubunginnya.
Celin
Kak hati-hati mereka mulai serius.
Celena
Kak mereka mulai, mereka membuat sebuah chip
'Sebuah chips? Dan artinya permainan selesai?' batin Felicia.
Felicia lantas membuka kiriman dari Adlar, matanya melebar tak kala mengerti salah satu dari simbol-simbol itu.
"Maaf Mr. Adlar sepertinya saya harus kembali, saya akan memberikan kabar secepatnya," ucap Felicia.
"Ya sepertinya anda perlu beristirahat bukan?" tanya Adlar yang dibalas anggukan oleh Felicia.
Felicia berpamitan pada Adlar lalu segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Adlar yang memandangnnya dengan bingung.
Me
Hei Celin menurutmu siapa orang DE yang bisa menciptakan simbol aneh?
Celin
Ntahlah, A-02 maybe?
"Ck," decih Felicia lalu membuka percakapan bersama Celena.
Me
Celena kau memberi jalur pada A-02.
Celena
Ya, tapi dari mana Kakak tau namauku?
Me
Itu tak penting kini beri tau aku A-02 sekutu atau musuh?
Celena
Sekutu
"Sekutu yang hebat, sepertinya ini akan menyenangkan,sebuah chips ya, chips apa kira-kira yang di maksud?" gumam Felicia.
..."Semilar angin berhembus, menerpa wajah membawa berita, hai Scarlett salam kenal dan semoga kita bisa bertemu," ...
..."Ini merupakan awal gerbang menuju awal dari semuanya," ...
^^^Bersambung....^^^
17 Februari 2020
27 Desember 2020
Hai, hai apa kabar!
Bagaimana menurut kalian cerita ini seru atau agak kurang? Dukung selalu cerita ini
Jangan lupa klik tombol 🌟 dan beri komentar serta sarannya 💬.
Dan maaf jika ada kesalahan dalam bahasanya, itu saya translet dari google.
Dan juga jangan lupa shere cerita ini pada teman kamu agar dia juga dapat menikmati cerita ini.
^^^See you bye^^^
Salam
__ADS_1
PM05