The Little Detective

The Little Detective
Part 40 : Treining


__ADS_3

Seoul, Korea Selatan.


   Felicia bersandar di kursi yang ia duduki, semua yang ada di ruangan itu diam tak ada yang berbicara.


"Haha jalan buntuh," gumam Felicia.


"DE sialan!" umpat Felicia kecil dengan warna mata yang berubah menjadi merah.


  Ini yang terakhir namun masalahnya masih sama seperti yang sebelumnya, serbuk aneh.


"Apa maksud dari serbuk itu?" tanya Jiemi.


"Senjata baru DE, apa lagi," jawab Felicia dengan dingin.


    Orang-orang di ruangan itu benar-benar terdiam dan canggung mendengar nada dingin dari gadis itu.


"Hm...sepertinya rapat kita sampai di sini saja dulu, kalau ada kabar lebih lanjut, kita akan mengadakan rapat kembali," ucap Dong-Min selaku ketua dari Korea Selatan menutup pertemuan itu.


  Perlahan semua utusan dari masing-masing negara meninggalkan ruangan tersebut. Felicia menghela napasnya lalu berdiri melangkah ingin pergi, namun langkahnya di hentikan oleh Dong-Min, Chul-Moo dan Chaow.


"Felicia, bisakah kau membantu kami sebentar?" tanya Dong-Min.


"Ada apa ketua Dong-Min?" tanya Felicia balik sambil menghampiri ketiga pria itu.


    Ketiganya saling pandang lalu tersenyum membuat Felicia menjadi bingung sekaligus penasaran.


"Jadi WE sekarang melatih calon agen dari umur 15 tahun keatas?" tanya Felicia setelah meninggalkan ruangan rapat tentu bersama Dong-Min, Chul-Moo dan Chaow.


"Ya, seperti yang telah kami jelaskan tadi," jawab Chul-Moo.


"Jadi bisakah kau membantu untuk melatih mereka beberapa saat?" tanya Chaow.


  Felicia melirik Caera, Neron juga Elyza yang sibuk bermain handphone sedari tadi, bahkan saat rapat ia hanya sendiri sedangkan ketiga orang itu malah asik santai di ruangan khusus miliknya ini.


   Ya, ruangan khusus yang di siapkan untuknya dan itu ada di setiap Markas WE.


"Bisa aku meminta bantuan beberapa orang?" tanya Felicia sambil agak menyeringai dengan rencana menyenangkan di kepalanya.


"Tentu mengingat yang ada di sana kini hanya Jiemi, Beak Hyeon dan pagni," ucap Chul-Moo.


"Baiklah kalau kau setuju, aku bisa agak tenang, aku harus segera kembali, kalian tau aku tak bisa berlama-lama," ucap Chaow pamit undur diri.


"Begitu pula denganku, padahal aku ingin melihat latihan para calon agen tersebut," ucap Chul-Moo agak kecewa.


"Tenang saja serahkan semuanya padaku, aku bisa mengatasinya," ucap Felicia penuh percaya diri.


"Kau tak jauh berbeda dengan saat pertama kita bertemu, gadis licik penuh rencana," ucap Chul-Moo.


"Aku anggap itu pujian ketua Chul-Moo dan kau tetap memiliki julukan ketua menyeramkan bukan?" tanya Felicia.


"Kau menghinaku bocah?" tanya Chul-Moo sambil tersenyum kesal.


"Entahlah tapi yang saya dengar memang begitu bukan," jawab Felicia tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda Chul-Moo agar pria itu menjadi lebih kesal.


"Kau berhasil membuatku kesal," ucap Chul-Moo.


"aku selalu berhasil," ucap Felicia dengan sombong.


"Ya dan semoga kau berhasil mengapai tujuanmu," ucap Chul-Moo dengan lembut.


"Ya itu pasti," ucap Felicia sambil tersenyum pada pria setengah abad itu.


"Ah, aku tak menyangka kalian akan sedekat ini," ucap Chaow agak terkekeh kecil.


"Ya, aku juga tidak menyangka akan cepat akrab dengan bocah satu ini, baiklah kalau gitu Dong-Min, Felicia aku undur diri dulu," ucap Chul-Moo berpamitan.


"Aku juga undur diri," pamit Chaow.


  Kedua pria itu pergi setelah berpamitan walau terbesit sedikit rasa kecewa karena tidak bisa melihat pelatihan calon agen yang dilatih Felicia bahkan sebentar jika sebentarpun.


"Baiklah teman-teman kita punya tugas," ucap Felicia pada Neron, Elyza dan Caera.


"Apa itu mendapatkan uang?" tanya Neron.


"Kalau ia aku ikut," ucap Elyza.


"Dan pastikan upahnya besar," tambah Caera.


   Felicia tersenyum kesal melihat ketiga temannya itu berbicara namun masih fokus kepada handphone mereka.


"Ketua Dong-Min bukankah upah dari tugas ini sangat BESAR," ucap Felicia menekan kaliamat terakhirnya.


"Ya, tentu saja," balas Dong-Min yang mengerti kekesalan Felicia.


"Benarkah?!" seru ketiga kompak sambil memandang Felicia dengan binar kegembiraan.


"Baik, kalau gitu bisa kalian mengikutiku!" pinta Dong-Min.


   Caera, Elyza dan Neron dengan semangat mengikuti Dong-Min dari belakang sedangkan Felicia memutar bola matanya malas melihat tingkah laku ketiga temannya itu, namun tetap mengikuti mereka dari belakang.


Ruang latihan....


  Elyza, Caera dan Neron memandang bingung ruangan yang baru saja mereka masuki apalagi dengan orang yang sedang latihan dan umurnya hampir sebaya dengan mereka.


"Ci, bukankah tadi kamu bilang akan ada tugas?" tanya Elyza.


"Dan upahnya akan besar," tambah Caera diangguki oleh Neron.


"Ya, jadi ayo ikuti aku!" seru Felicia, "serahkan semua padaku ketua Dong-Min."


"Tentu,aku percaya penuh padamu," ucap Dong-Min, "aku telah memberitahu Beak Hyeon sebelumnya, aku akan memantau dari sini."


   Felicia mengangguk, gadis itu berjalan menghampiri orang-orang kini sedang berlatih diikuti Caera, Elyza dan Neron yang setia mengekori dirinya seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


   Langakah ketukan sepatu mengema membuat semua orang yang tengah berlati itu mengalihkan perhatian pada Felicia juga Elyza, Caera dan Neron.


"Felicia! Bagaimana kabarmu?!" tanya Beak Hyeon berseru senang.


"Baik seperti biasanya," jawab Felicia.


"Kau hanya menanyai kabar Felicia?" tanya Elyza merajuk.


"Bagaimana dengan kami?" tanya Caera.


"Tentu saja, aku juga menanyai kabar kalian, bagaimana kabar adik-adik kecilku?" tanya Beak Hyeon merentangkan tangannya membuat Caera dan Elyza berlari memeluknya.


"Kami rindu pada Oppa!" seru Caera dan Elyza bersamaan.


"Aku juga sangat merindukan kalian," ucap Beak Hyeon agak terkekeh.


"Manja seperti biasanya," ucap Pagni berkomentar.


"Bhai Pagni, gak rindu sama kami ya?" tanya Caera dengan polos.


"Tentu saja aku juga merindukan adik-adik manjaku ini," ucap Pagni sambil merentangkan tangannya membuat Caera dan Elyza kini beralih memeluk dirinya.


"Cih, sebelumnya kalian pasti bertemu dengan Luca terlebih dahulu bukan?" tanya Jiemi.


"Tentu, karena kami melewati italia terlebih dahulu," ucap Elyza.


"Koko, koko, Koko Jiemi gak kangen kami?" tanya Caera.


"Tidak, kalian bertemu Luca sebelum aku, aku tidak terima itu," ucap Jiemi.


"Yah dianya ngambekan," ucap Elyza.


"Mereka berdua selalu seperti itu?" tanya Neron pada Felicia sedikit berbisik.


"Ya, setidaknya aku senang melihat senyum itu," ucap Felicia tersenyum lembut.


"Jadi kenapa kalian datang ke sini?" tanya Pagni.


"Sepertinya kami sedikit menganggu latihan di sini ya?" tanya Felicia.


"Ah tidak-tidak bahkan ini baru di mulai," jawab Jiemi.


"Benarkah? Kalau begitu jangan menunjukan wajah segan begitu, aku datang membawa suka relawan," ucap Felicia.

__ADS_1


"Suka relawan?" tanya Jiemi, Beak Hyeon dan Pagni bersamaan bingung.


"Ci, jangan bilang...," ucap Neron sengaja memotong ucapannya berharap dugaannya salah.


"Aku senang memiliki sahabat yang peka seperti kalian," ucap Felicia sambil tersenyum.


"Eh?! Jadi tugas yang kau maksud ini?" tanya Elyza tak percaya.


"Apa upahnya?" tanya Caera.


"Senang saja, kalian bisa di kenal sebagai pelatih yang hebat," ucap Felicia masih bertahan dengan senyum manisnya.


"Apa maksudnya itu! Kau ta-,"


"Shut diam! Kemarin-kemarin ada yang bilang dia akan membantuku, tapi setelah sampai di sini 'mereka' meninggalkanku, membiarkanku 'berkerja sendiri' jadi tidak ada salahnya aku memberi mereka tugas bukan?" ucap Felicia menekan kata-kata tertentu di setiap ucapannya.


  Caera, Elyza dan Neron kini seperti tiga ekor anak kelinci yang sedang di kelilingi seekor singa bermata emas bercahaya yang memandang mereka dengan dingin dan tajam mengimindasi.


"Ada yang membantah?" tanya Felicia dengan dingin.


"T-tidak," jawab Caera, Elyza dan Neron dengan kompak.


"Bagus kalau gitu," ucap Felicia sambil mengalihkan matanya pada calon agen yang sedari tadi menonton mereka.


"Fe, apa tak masalah jika kau tidak memakai Maskermu?" tanya Pagni.


"Tak masalah, lagi pula mereka semua memiliki pontensi, aku yakin mereka akan lolos menjadi agen WE," ucap Felicia sambil tersenyum.


"Siap gerak!" pinta Felicia membuat para calon agen itu menjadi siap.


  Hening tak ada yang berbicara, padangan para calon agen itu lurus ke depan menantikan aba-aba selanjutnya.


  Felicia duduk di kursi yang entah sejak kapan ada di depan barisan, gadis itu duduk sambil menyilang kakinya, menumpuhkan tangan di gagang kursi menahan dagunya.


"Heh, delapan puluh orang tiga puluh perempuan dan lima puluh laki-laki dan mereka datang dari berbagai manca negara yang ada di dunia, aku benar bukan?" tanya Felicia.


"Ya, kau benar dan gaya bossymu itu entah kenapa aku juga menyukainya," ucap Beak hyeon.


"Jadi untuk pertama ini biarkan aku memperkenalkan diri, aku Scarlett salam kenal semuannya," ucap Felicia tersenyum ramah.


  Kedelapan puluh remaja itu membulatkannya matanya kaget, mereka tak menyangka akan bertemu dengan Scarlett yang menjadi motivasi mereka masuk ke dalam agen ini. Sedikit dari mereka ada yang berbisik namun semua kembali menjadi tenang dan siap.


"Kamu, barisan ke tujuh urutan ke sembilan, gadis berambut coklat pirang," ucap Felicia menunjuk seorang gadis dengan rambur coklat pirang dengan mata bewarna biru.


"S-saya," ucap gadis itu sambil maju ke depan Felicia.


"Ya, benar, siapa namamu?" tanya Felicia lembut.


"Cerella," jawab gadis itu dengan gugup.


  Felicia tersenyum berdiri dan menghampiri gadis bernama Cerella itu, Cerella gugup bagaimanapun ia kini tengah berdekatan dengan idolanya, apa lagi melihat wajah cantik dengan mata emas yang membuat orang terpesona itu, ini adalah keberuntungan baginya karena bisa melihat wajah Scarlett yang ada di balik masker.


"Ok, Cerella bisakah kau memegang pistol?" tanya Felicia.


"Ya?" tanya Cerella gugup sekaligus bingung.


"Hei santai saja, aku ingin melihat kemampuan kalian," ucap Felicia sedikit terkekeh.


  Felicia memberikan sebuah pistol pada Cerella, ia tersenyum penuh makna.


"Lakukan semampumu, pegang pistol ini dan coba kenakan papan sasarannya," ucap Felicia sambil menunjuk papan sasaran.


"Fe, bukankah berbahaya jika latihan menembak tanpa penutup telinga, apalagi bagi mereka, mereka bisa trauma," ucap Jiemi.


"Tak ada yang seperti itu di dunia agen, mereka akan melakukan misi berbahaya ke depannya jika bukan sekarang kapan lagi?" ucap Felicia.


"Cerella mulailah," ucap Felicia.


   Cerella agak gugup juga ragu namun gadis itu meyakinkan dirinya ia memandang ke arah papan sasaran, lalu melepaskan pelatuk pistolnya. Peluru melesat dengan cepat, suara tembakan mengelekar di ruangan itu, peluru menancap hampir mengenai titik merah.


"Kau hampir berhasil, walau cara memegang pistolmu salah, namun kau memiliki potensi," ucap Felicia.


"Siapa yang bisa melakukannya lagi? Dengan posisi yang tepat atau ada yang takut setelah mendengar tembakan tadi?" tanya Felicia.


   Seorang anak laki-laki berambut hitam mengangkat tangannya, membuat Felicia tersenyum.


   Anak itu maju ke depan berhadapan dengan Felicia, tingginya sama dengan Neron, ia lebih tinggi sekitar 10 cm dari Felicia.


"silakan," ucap Felicia sambil memberikan pistol pada anak laki-laki tersebut.


   Dengan posisi yang tepat anak itu memengang pistol dan melepaskan pelatuknya, sekali lagi bunyi tembakan terdengar peluru melesat cepat dan hampir mengenai titik merah.


"Saran dariku jangan terburu-buru, itu sudah bagus Hyun Woo, tak heran jika kau bisa melakukan posisi yang tepat, Beak Hyeon telah melatihmu dengan keras kemampuan seorang Lee memang tak bisa diragukan," ucap Felicia.


  Sekilas Felicia melihat Hyun Woo mengepalkan tangannya, Felicia tau ia bukan melakukan itu karena tembakannya tidak tepat sasaran melainkan karena namanya di sandingkan dengan Beak Hyeon yang merupakan kakaknya.


"Asal kau tau, usaha juga diperlukan, aku yakin kau sudah berusaha, aku suka dengan keberanian dan kepercaan dirimu tadi, tinggal diasah sedikit aku yakin kemampuanmu sudah hebat," ucap Felicia membuat Hyun Woo memandanginya.


"Baik setelah melihat Hyun Woo dan Cerella tadi aku yakin banyak dari kalian yang bisa namun tidak tepat sasaran bukan? Jadi ayo kita lakukan permainan kecil," ucap Felicia sambil melirik ke Elyza.


"Ok baiklah kita akan membagi berkelompok, setiap kelompok akan berisi tiga orang dari negara yang berbeda dan kita akan mengacaknya random," ucap Elyza menjelaskan.


"Kami telah memilih kelompoknya, silakan lihat nama kalian di layar lalu bentuk kelompok," ucap Caera.


   Elyza menekan sebuah tombol di jamnya lalu keluar sebuah layan transparan di sana.


   Para remaja itu segera membentuk kelompok setelah menemukan nama mereka.


"Kelompok ini akan di gunakan kalian terus ke depannya," ucap Neron.


"Hei, hei kalian membentuk kelompok ini ada izin? Jangan seenaknya menetapkan aturan," ucap Baek Hyeon.


"Saya mendapat izin langsung dari pimpinan kalau tidak percaya silakan hubungi pimpinan," ucap Felicia.


"Jadi, siapa yang akan menjadi contoh untuk pertama kalinya?" tanya Felicia.


"Contoh apa?" tanya Pagni heran.


   Felicia tak menjawab namun tangannya melempar sesuatu kearah papan sasaran dan sebuah belati menancap tepat pada titik merah sasaran.


"Kalian mengerti bukan?" tanya Felicia.


"Ah, ya itu cara latihan yang unik," ucap Jiemi.


"Tentu karena sebelum mengunakan pistol lebih baik mengunakan hal dasar seperti belati itu, jika bisa melemparnya dengan tepat aku yakin mereka juga bisa menembak dengat tepat sasaran," balas Felicia.


"Aku mengerti," ucap Pagni.


"Baik kalau gitu bagaimana kita pilih random," ucap Elyza sambil menekan sebuah tombol di layar transparan.


"Dan nama yang keluar adalah...," ucap Elyza tersenyum.


"Gemini!" seru Pagni, Baek Hyeon, Jiemi, Neron dan Caera bersamaan.


"Eh apa?! Kenapa jadi aku!" seru Elyza tak percaya.


"Hahaha sepertinya ini bukan hari keberuntunganmu Nona," ejek Neron sambil tertawa.


"Berhenti tertawa Neron!" seru Elyza dengan kesal.


"Ok, baiklah ayo kita lihat sehebat apa Gemini dalam menembakan sasaran, aku rasa itu tak akan tepat karena ia selalu bekerja di balik monitor," remeh Neron membuat Elyza mengeram kesal.


"Heh, Tuan Neron yang terhormat lihat bagaimana keahlian saya, saya pastikan anda akan tercengang," ucap Elyza sambil melepas kaca matanya dan memandang tajam Neron.


"Kita lihat saja," ucap Neron tersenyum puas karena bisa membuat Elyza kesal, lagi pula dia tau bagaimana hebatnya gadis itu.


"Tiga kesempatan Gemini," ucap Felicia sambil memberikan tiga belati kecil pada sepupunya itu.


"Baiklah ayo kita mulai!" seru Elyza


sambil menyeringai dengan mata biru laut yang sedikit besinar.


"Oh tunggu bagaimana jika kita sedikit bersenang-senang," ucap Caera menghentikan Elyza.


"Apa maksudmu?" tanya Elyza memutar matanya malas.


"Bagimana jika papan sasarannya begerak," saran Caera sambil tersenyum miring.

__ADS_1


"Aku setuju dan juga kau harus melempar ketiga belati itu jika kau berhasil aku mengakuimu namun jika kau menginginkan satu-satu kau tak lebih dari pengecut," ucap Neron menantang.


"Wah kau benar-benar sombong bukan? Bagaimana jika kita langsung melakukannya," ucap Elyza tersenyum kesal.


"Baiklah mulai!" seru Caera.


"Mereka menjadikan ini sebagai kompetisi," ucap Felicia tersenyum sambil mengelengkan kepalanya.


"Benar-benar latihan yang unik bukan begitu Avram?" tanya Dong-Min pada pria di sebelahnya.


"Ya sepertinya kau benar Kim, ini dapat melatih para calon agen itu, menjadi agen WE bukan hanya menyelamatkan namun juga kompetisi siapa yang terbaik tanpa melupakan adanya tali persahabatan," jawab pria itu Elam.


"Kau memiliki putri yang hebat," ucap Dong-Min.


"Ya dan karena itu juga putriku harus memiliki pelindung yang kuat," balas Elam.


   Papan sasaran bergerak, mata Elyza memfokuskan sasaran dan kini ia menganggap papan sasaran itu adalah wajah Neron. Elyza tersenyum mengerikan sambil melepar tiga belati itu sekaligus dan dengan cepat belati tersebut menancap tepat ketitik sasaran membuat papan yang awalnya bergerak kini menjadi terhenti.


"Aku yakin kau melemparnya sambil membayangkan wajahku," ucap Neron.


"Tentu saja jadi bagimana menurutmu, sudah puaskan membuatku kesal?" tanya Elyza sambil tersenyum kesal sontak itu membuat Neron terbahak.


"Kau hebat! Kau bisa menebaknya," ucap Neron menghentikan tawanya.


"Jadi sekarang bagaimana denganku Cia? Apa aku bisa mencoba melawanmu?" tanya Neron pada Felicia.


"Hm...? Kau yakin?" tanya Felicia dijawab anggukan antusias dari Neron.


"Kau gila! Aku saja tak berani melawannya," ucap Jiemi memandang horor Neron.


"Tidak juga, dengan melawannya aku bisa tau sejauh mana kemampuanku bukan begitu guru?" tanya Neron pada Felicia.


"Ya, murid kesayanganku sampai mana kemampuanmu saat ini?" tanya Felicia sambil terkekeh kecil.


"Entahlah bagaimana jika kita langsung mulai?" tanya Neron dan langsung menyerang Felicia.


   Neron mengepalkan tangannya menyerang gadis itu, namun tangannya menenju angin.


"Kecepatanmu lumayan dari yang terakhir kali Neron, tapi kau harus waspada dan jangan terburu-buru," ucap Felicia yang ntah sejak kapan ada di belakang Neron.


"Sekarang cukup serang aku, aku ingin melihat kemampuan menyerangmu," ucap Felicia berbisik di telinga Neron.


  Neron berbalik kembali mengepalkan tangannya dan menyerang Felicia, namun sama seperti sebelumnya ia hanya meninju angin.


"Aku bahkan bisa memakan apel jika kau selalu menyerang seperti itu," ucap Felicia sambil memakan apel yang ntah dari mana ia dapatkan.


"Wah aku merasa telah di remehkan," ucap Neron tersenyum kesal.


  Neron berlari sambil menyerang Felicia dan sama seperti sebelumnya kepalannya meninju angin.


"Oh, ayolah Neron hanya ini kemampuanmu? Aku yakin Ibumu mengejarimu dengan keras bukan? Ditambah latihan denganku selama seminggu ini aku rasa kau bisa lebih dari ini," ucap Felicia yang berada di belakang Neron.


"Dari pada kekuatan aku lebih mengandalkan otak," ucap Neron menyeringai.


   Neron memegangi tangan Felicia, membuat Felicia melebarkan matanya dengan kaget, laki-laki itu mengunci pergelangan tangan Felicia ke belakang membuat keadaan kini terbalik dan Neron lah yang ada di belakang Felicia.


"Jadi bagaimana pendapatmu sekarang Scarlett," bisik Neron di telinga Felicia.


   Felicia terkekeh geli sambil menetralkan matanya, "Ya kau berkembang Neron, aku suka srategi yang kau buat namun tetap selalu waspada."


"Sebelum bertindak pikirkan akibat, lihat lebih jauh," ucap Felicia sambil menendang kaki Neron membuat kuncian dari Neron melemah.


  Felicia tak membuang-buang kesempatan ia menyerang balik, Felicia mengunci pergelangan tangan Neron dan menjatuhkan Neron ke lantai.


"Kini siapa yang hebat?" tanya Felicia dengan tatapan bengis.


"Aura itu tidak seharusnya di keluarkan oleh anak berusia 13 tahun," ucap Dong-Min menatap lurus  pada Felicia.


  Elam tak akan membantah ucapan Dong-Min yang dikatakan pria itu benar adanya, aura dendam akan sesuatu, ambisi dan juga ego sama seperti dirinya dulu.


"Baiklah, baiklah aku menyerah, tak ada yang bisa mengalahkanmu, lepaskan aku!" seru Neron.


   Felicia melepaskan kuncian tangannya sambil menolong Neron berdiri.


"Huh, aku harus lebih banyak latihan lagi," ucap Neron.


"Ya banyak-banyak latihan lagi dan coba lawan aku sekali lagi, i hope you can defeat me, Dear," ucap Felicia sambil mengedipkan matanya genit pada Neron.


"Ya, ya suka hatimu saja," ucap Neron membuat Felicia terkekeh.


"Cia, apa yang kau bayangkan saat melawan Neron tadi?" tanya Caera.


"Hm...? Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Felicia balik.


"Auramu tadi...sempat berubah," jawab Caera.


"Sedikit bengis ya?" tanya Felicia.


"Ya, juga kejam," tambah Elyza.


"Aku sempat takut merasakannya tadi, apalagi aku ada di dekatmu," ucap Neron, "jika kau memiliki dendam setidaknya jangan melampiasakan padaku."


"Aku suka dengan instingmu yang peka akan aura yang ada di sekitarmu Cae," ucap Felicia sambil terkekeh kecil.


"Kalian tau aku hanya membayangkan betapa menyenangkannya saat semua ini berakhir," ucap Felicia.


"Kau membayangkan lebih dari itu," ucap Caera sambil menatap mata Felicia serius membuat Felicia terdiam.


"Ya, kamu benar aku membayangkan lebih dari itu, aku membayangkan konflik keluargaku berakhir dengan cepat," ucap Felicia membuat yang mendengarnya menjadi bingung.


   Elam sempat kaget mendengar ucapan putri pertama sekaligus anak keduanya itu lalu ia tersenyum, tidak lebih tepatnya menyeringai.


"Baiklah semuanya cukup sampai di sini, Cae, Eza dan Neron kalian tetap di sini membantu latihan, aku akan pergi," ucap Felicia pamit.


"Dan ya jika kalian ingin bertemu atau berlatih denganku kalian bisa meminta izin pada ketua WE kalian masing-masing, aku akan melatih kalian di Indonesia dan juga itu berlaku selama 4 bulan terakhir lebih dari itu tidak akan bisa dan itu seperti kelompok sekarang," ucap Felicia sambil ingin melangkah pergi.


"Tunggu, Ci! Kamu mau kemana?" tanya Elyza.


"Aku punya urusan penting bukan begitu Ayah?" tanya Felicia tersenyum sambil berjalan menghampiri Elam dengan mata emas yang terlihat bersinar.


"Ya, sepertinya tak ada yang bisa di sembunyikan lagi darimu princess, apa yang ingin kau ketahui?" tanya Elam tersenyum pada Felicia.


"Walau mungkin kau telah tau sebagian darinya atau semuanya?" tanya Elam.


"Walau aku sudah tau, tetap saja aku ingin mendapat informasi lebih detail dan aku harap tak ada yang di sembunyikan di sini," ucap Felicia.


"Kalaupun ada mungkin kau akan mengetahuinya," ucap Elam sambil mengelus puncuk kepala putrinya itu.


"Ya, kalaupun itu benar aku tak ingin mengetahuinya dengan terlambat karena ini semua juga berkaitan dengan permata scarlet," ucap Felicia membuat tangan yang mengelus kepalanya itu terhenti.


   Elam sadar saat ini dan saat putrinya itu lahir ia akan selalu dalam bahaya, bahkan saat ia dalam kandunganpun ia mendapat bahaya, sempat Elam melupakan fakta kalau permata scarlet ada pada putrinya.


   Jika saja ia bisa, ia akan mengantikan posisi itu, ia takkan bisa melihat putrinya itu terluka, beribu kalipun ia memohon itu takkan terkabul karena jika permata itu sudah menetapkan pemiliknya, pemiliknya itu akan mendapatkan takdir yang penuh rintangan.


    Untuk saat ini satu kalimat yang ada di benak Elam, menjadi Abqary berarti siap untuk melawan bahaya dan Elam sempat menyesal sekaligus senang menjadi bagian keluarga itu.


"Tidak semua hal buruk saat menjadi Abqary karena aku Abqary maka aku pasti bisa melakukannya," ucap Felicia membuat Elam terkejut.


"Apa yang Ayah khawatirkan di saat bahaya datang aku yang akan melindungi kalian, jadi apa yang perlu ditakutkan?" tanya Felicia sambil tersenyum.


"Satu hal kekhawatiranku dan yang lainnya kehilangan dirimu dari bagian keluarga Abqary."


^^^Bersambung....^^^


29 Maret 2020


27 Desember 2020


  Hai! Hai apa kabar semuanya? Semoga selalu sehat walau terjadinya wabah penyakit yang mendunia dan memasuki negara tercinta.


   Jangan lupa jaga kesehatan semua.


   Dan gimana part kali ini? Seru? Atau ngebosanin? Atau juga sedih? Beri pendapatmu di kolom komentar.


   Jangan lupa klik tombol 🌟 dan juga jangan lupa beri kritik serta sarannya sampai jumpa besok dihari senin.


   See you bye~

__ADS_1


__ADS_2