
Hari sudah berlalu, setidaknya di Jerman Felicia mendapatkan petunjuk baru akan adanya sebuah chip yang dikembangkan Dark Eyes yang pastinya itu adalah hal yang buruk.
"Hah akhirnya keluar juga dari pesawat!" seru Caera sambil menghirup udara kota Paris.
Ya kini mereka berada di Paris, Prancis. Setidaknya seperti sebelumnya mereka juga harus mencari informasi di kota ini.
"Hai Scarlett bagaimana kabarmu?" tanya Rery, ada yang masih ingat? Pria ini pernah muncul di part 4 dan 5, dia adalah ketua WE di prancis.
"Baik, saya tak menyangka Anda akan langsung memakai bahasa Indonesia Mr. Rery," ucap Felicia.
"Hahaha bagaimana ya, saat di Indonesia aku memakai bahasanya berbicara denganmu bukan, sudah menjadi kebiasaanku berbicara dengan orang sesuai dengan bahasa daerahnya masing-masing," ucap Rery.
"Kebiasaan yang unik Mr. Rery," ucap Felicia agak terkekeh geli.
"Dan setidaknya kami mengerti," ucap Elyza sedikit condong berbisik pada Caera.
"Bagaimana agenda kalian hari ini? Ingin langsung ke markas?" tanya Rery.
"Sepertinya tidak kami ingin berjalan-jalan terlebih dahulu," ucap Felicia.
"Ah, baiklah aku mengerti, akan sangat rugi jika kalian datang ke sini namun tak melihat pemandangan kotanya," ucap Rery.
"Bagaimana jika aku yang menemani kalian?" tanya pria yang berjalan kearah mereka.
"Kak De Luca!" seru Elyza dan Caera bersamaan.
"Hai! Bagaimana kabar kalian?" tanya De Luca.
"Kak Luca kami kesepian," ucap Elyza.
"Iya, sama Kak Juna dan yang lainnya gak enak masa kami gak boleh itu, gak boleh ini," tambah Caera.
"Aduh kalau mereka dengar mampus deh kalian," balas De Luca.
"Tapi tetap ajakan mereka gak seseru Kak Luca," ucap Caera.
"Ya pasti dong, sini adik-adikku," ucap De Luca merentangkan tangannya membuat Elyza dan Caera berpelukan.
Felicia dan Rery sama-sama terkekeh mereka seperti saudara yang telah lama tak bertemu.
"Ada tugas di sini Tuan?" tanya Felicia saat De Luca, Elyza dan Caera melepas pelukan mereka.
"Ck, orang datang tuh bilang rindu kek apa kek ini gak to the poin aja, gak ada basa-basinya padahal udah lama gak ketemu," ucap De Luca kesal.
"Sudah-sudah, bagaimana jika kau menemani mereka dulu Luca, baru setelahnya kita bahas masalah yang terjadi," ucap Rery.
"Ok aku setuju," ucap Luca.
"Jadi anak-anak kalian siap bermain?" tanya De Luca.
"Selalu siap!" seru Elyza dan Caera kompak.
"Asal di traktirin," tambah Felicia membuat De Luca kembali kesal.
"Sebal baget deh, ngancurin mood mulu kamu, ayo!" ajak De Luca agak kesal.
Elyza dan Caera berjalan mengikuti Luca terakhi Felicia yang berpamitan pada Rery sebelumnya dan mengikuti mereka dengan terkekeh geli.
...****...
Paris, Prancis.
Setelah berberapa jam mereka bermain, Felicia, De Luca, Elyza dan Caera memutuskan makan disalah satu restoran mewah yanga ada di sana.
"Kalian tau jika saja kalian ke Italia aku pastikan akan menunjukkan kalian tempat-tempat indah di negeriku," ucap De Luca antusias.
"Ya, tapi sayangnya kita tak bisa mampir karena masalah di sini dan di sana akan di gabung dan di selesaikan disini," ucap Elyza.
"Tidak juga, kita akan tetap bisa pergi kesana mengingat di sini hanya sehari ini lalu nanti pergi ke Italia," ucap Felicia.
"Berarti kita tetap bisa jalan-jalan ke Italia dong," ucap Caera dengan senang.
"Jika kalian selsai berarti aku juga selesai bukan? Aku tetap bisa membawa kalian bermain!" seru De Luca dengan semangat.
"Tentu saja," balas Felicia.
Handphone Felicia berdering membuat gadis itu dengan segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Baiklah kita harus kembali," ucap Felicia saat selesai menelpon.
"Mr. Rery yang menelpon?" tanya De Luca yang dibalas anggukkan oleh Felicia.
"Baiklah kita sudah cukup lama berjalan-jalan bukan? Ayo kembali!" seru De Luca.
__ADS_1
Lalu keempatnya segera pergi ke markas WE yang ada di sana, tanpa menyadari adanya seseorang yang sedari tadi mengincar mereka.
Ruang rapat Markas WE.
Semua berkumpul di ruang rapat tak terkecuali Caera dan Elyza walau tak mengerti namun harus tetap ikut, juga De Luca dan Felicia.
Di dalam ruangan itu ada perwakilan setiap negara yang ada di Eropa, hanya beberapa kapten dan selebihnya adalah tetua dari masing-masing negara.
Contohnya saja Felicia yang menjadi perwakilan Indonesia bersama Elyza dan Caera juga De Luca dari Italia namun ada beberapa negara yang tak ikut seperti Jerman yang masalahnya telah selesai dan sebagai contoh inggris, mssalah di negara itu kini sedang sulit semua tim harus bergerak tanpa terkecuali, mereka seperti di teror dan itu di khususkan pada WE yang ada di sana.
"Mereka ngomong apasih sebenarnya?" heran Elyza.
"Kalau kamu gak tau apalagi aku," balas Caera.
Felicia memberikan handphonenya pada Caera dan Elyza membuat keduanya heran.
"Untuk nerjemahin biar kalian ngerti," ucap Felicia.
Elyza mengambil handphone itu semua ucapan yang terdengar di sana diterjemahkan ke bahasa indonesia.
"Iya sih tapi Ci minta mereka pakai bahasa inggris dong!" seru Caera memohon.
"Nanti, pakai aja itu dulu," ucap Felicia lalu kembali fokus pada rapat.
Setidaknya isi rapat itu adalah masalah yang sedang dihadapi disetiap negara.
"Jadi di Swendia di temukan serbuk aneh setelah memeriksa mayat korban yang mati tak wajar?" tanya Felicia menggunakan bahasa inggris, "Maaf sebelumnya namun bisakah kita memakai bahasa inggris saja?"
"Oh apa ini karena Gemini dan La Tempesta yang tak bisa bahasa Prancis," tanya De Luca memnggunakan bahasa inggris membuat Caera dan Elyza yang kini mengerti memandang tajam dirinya.
"Hm....baiklah setidaknya kau tak salah memang lebih baik kita menggunakan bahasa inggris," ucap Rery.
"Terima kasih atas pengertiannya Mr. Rery," ucap Felicia.
"Jadi hm pertanyaan saya tadi?" tanya Felicia pada Kalle kapten tim perwakilan Swedia.
"Ya, seperti yang saya bilang tadi sebuah serbuk tidak lebil tepatnya sesuatu menyebar di tubuh korban," jawab Kalle.
"Jadi bagaimana menurutmu Scarlett?" tanya Bram.
"Swedia, Belanda, Rusia dan negara lainnya bukankah korban-korban yang kalian temui di tubuhnya memiliki benda aneh yang menyebar pada keseluruh tubuhnya?" tanya Felicia diangguki oleh orang-orang yang ada di sana.
"Ada yang bunuh diri tanpa sebab, ada yang mati tiba-tiba karena muncul bintik hitam di kulitnya juga korban yang selamat namun koma," ucap Caera.
"Maksudmu?" tanya Elyza bingung.
"Maaf semua solusi untuk masalah ini tak bisa aku temukan, seperti kalian saat di Jerman aku juga hal yang sama seperti ini," ucap Felicia membuat orang-orang mendesah kecewa.
"Tapi satu hal yang harus kalian ketahui ini rencana DE dan benda itu adalah hal yang mengendalikan sesuatu, setidaknya kalian mengerti bukan dengan tujuan DE," ucap Felicia.
Handphone De Luca berbunyi membuat pria itu mengangkatnya.
"Maaf semuanya tapi aku mengangkat telpon dulu," ucap De Luca, diangguki yang lainnya tanda memberi izin.
"Ada apa Bianca kau tau bukan kini sedang rapat penting," ucap De Luca sedikit berbisik.
"....,"
"Apa permata Ruby hilang!" seru De Luca berteriak membuat orang-orang di ruang rapat itu melotot tak percaya.
"DE," gumam Felicia.
...****...
Felicia memasuki perpustakaan itu, rapat tadi benar-benar selesai tanpa ada solusi, apalagi dengan permata ruby yang menghilang membuat semuanya menjadi kacau balau, DE sepertinya mereka membuat masalah yang benar-benar besar.
"Aku baru tau ada perpustakaan di sini," gumam Felicia.
"Ngomong-ngomong serbuk itu menyebar atau mereka memilih target?" heran Felicia.
"Kalau menurut Anda?" tanya seorang pria yang besandar pada dinding.
"Ntahlah," ucap Felicia dengan santai.
"Jadi A-02 apa yang ingin kau katakan?" tanya Felicia pada pria itu membuat pria itu terkejut namun setelahnya ia terkekeh.
"Master S tak ada yang bisa bermain-main dengan Anda," ucap pria itu, "nama saya Diky."
"Diky ya aku tak menyangka kau bisa menyusup ke sini," ucap Felicia.
"Ya itu hal yang mudah bagiku, mau merenggutku?" tanya Diky.
"Ya karena kau yang ingin bergabung tak ada salahnya Huriyah selalu terbuka asal jangan pernah berhianat," ucap Felicia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu bagaimana jika kita berdiskusi terlebih dahulu Master," ucap Diky.
"Ide yang bagus Diky namun apa panggilan yang kau inginkan?" tanya Felicia.
"Espion," ucap Diky tersenyum membuat Felicia juga tersenyum.
"Selamat datang Espion dan juga ikuti aku!" pinta Felicia.
Bienvenue dans l'organisation Huriyah
Exécutez la mission, faites ce que vous voulez librement.
Chaire de recherche et d'observation des Espions.
...****...
Berlin, Jerman.
"Aku kagum dengan cucu perempuanmu," ucap Seorang wanita pada wanita yang masih tenang menikmati tehnya tak merasa kaget dengan kehadiran wanita tadi dengan tiba-tiba.
"Ya, aku sering mendengar pujian itu, bagaimana kabarmu Bella?" tanya wanita itu.
"Aku baik-baik saja Zia, bagaimana denganmu?" tanya Bella balik pada Zia.
"Seperti yang kau lihat, bagimana dengan Febrian? Apa dia masih sibuk dengan penelitiannya?" tanya Zia.
"Ya sangat sibuk dia benar-benar ingin seperti Ayahnya, apa lagi dengan adiknya, bahkan adiknya kini bergabung dengan cucu perempuanmu bukan?" tanya Bella membauat Zia terkekeh kecil.
"Ya, aku sudah mendengar tentang putra satumu itu juga Febrian rasa kerja keras mereka benar-benar seperti Leo," ucap Zia.
"Ya aku tau, maaf Zia aku tak bisa berlama-lama, aku harus pergi," ucap Bella.
"Ya, pesanku jangan sampai DE mengetahui tempatmu," ucap Zia.
"Ya," ucap Bella berlalu pergi.
"Hah dunia itu benar-benar sebuah panggung untuk bersandiwara," ucap Zia.
"Kau lihat Tya, Cia kecil kita telah tumbuh besar kelicikannya melebihi kita, Abra ataupun Raka bahkan kedua orangtuanya, gadis penuh rencana dan licik namun memiliki hati malaikat begitulah Cia kita, cucu kita," ucap Zia sambil memandang nanar langit dan disaat itu pula seseorang juga melakukan hal yang sama.
"Ya, cucu kita,"
"Perempuan dan bayi ini memiliki mata Amber, matanya bisa berubah warna!"
"Ya ampun bagaimana ini bagaimana mungkin bayi sepertinya memiliki tanggung jawab sebesar ini?"
"Kenapa tidak aku saja yang memegang permata itu kenapa harus anakku!"
"Adikku dia akan baik-baik saja,"
"Dia tak akan bisa menghindar,"
"Tapi dia masih begitu kecil dan permata itu ada padanya, tanggung jawab ini terlalu besar untuk anak perempuan sepertinya,"
"Mau tidak mau dia harus menerima itu, dia harus melawan bahaya, dua tantangannya dia bisa bertahan atau mati,"
"Tidak! Aku tak akan membiarkan itu terjadi putriku harus seperti gadis pada umumnya bagaimanapun itu! Dia akan selamat, semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja,"
Air mata Zia menetes ketika ingatan itu terputar di memorinya, gadis kecil, satu-satunya perempuan dalam silsilah keluarga Abqary yang memegang permata itu.
"Cucuku kuat kau pasti bisa...,"
^^^Bersambung....^^^
2 Maret 2020
27 Desember 2020
Hai hai hallo!
Bagaimana menurut kalian part kali ini? Seru?
Jangan lupa klik tombol 🌟 dan komentar, keritik serta saran dan dukungannya.
saya sangat membutuhkan itu semua, saya masih pemula jadi mohon bantuannya sekalian.
Juga tolong bagikan cerita ini pada teman, sahabat, keluarga dan media sosial kalian agar mereka semua juga bisa menikmati cerita ini juga.
Sekian terima kasih,
Sampai jumpa di part berikutnya
See you bye
__ADS_1