
Setelah dari Mall Felicia, Caera dan Elyza segera pergi ke Tkp dan tentu melihat kekeras kepalan ketiga gadis itu dapat dipastikan Felicialah yang kini sedang mengendarai mobil.
"Ya ampun Ci ke Tkp masa bawa mobil mewah gini?" heran Caera.
"Biarin kali Cae ini nih namanya taktik you know taktik," ucap Felicia menekan ucapan terakhirnya.
"Taktik dari mana lagi coba, bilang aja cuma mobil ini yang bisa kamu bawa kaburkan? Lagian ini mobil markas WE," ucap Elyza.
"Hehe iya sih, tapi ini mobil punya aku tau! Hadiah dari Grandpa," ucap Felicia membuat Elyza melotot tak terima.
"Curang! Masa kamu dikasih hadiah mobil sih!" protes Elyza tak terima.
"Kan impas lagian kamu juga dikasih hadiah laptop, handphone sama ipad kan banyakan mana coba," ucap Felicia membuat Elyza mengembungkan pipinya kesal lagi pula yang di katakan sepupunya itu benar adanya ia yang paling banyak.
"Lagian kalian tuh egois juga ya udah ada satu yang satu itu mau juga," celutu Caera.
"Itu biasa," ucap Felicia.
"Benar tuh kata egois itu udah mendarah daging di keluarga Abqary," ucap Elyza.
"Lebay Za, biasa aja kali, gak semua juga biasanya untuk kebaikan yang beda cuma Eza doang," cibir Felicia.
"Eh enak aja kalau ngomong," ucap Elyza tak terima.
"Kenyataan lagian yang mendarah daging itu keras kepalanya," ucap Felicia.
"Udah woi ribut! Lagian kok perasaan aku gak enak ya?" tanya Caera.
"Gak enak gimana sih Cae?" tanya Felicia.
"Gak tau deh gak enak aja gitu," jawab Caera.
"Woh Cae, Ci a-air sungainya keruh!" seru Elyza sambil melihat air yang ada di Sungai karena memang kini mereka telah ada di area sungai itu.
Felicia tak membuang-buang waktu kini perasaannya yang menjadi tak enak. Felicia melajukan mobilnya mencari parkiran yang sekiranya aman.
"Pelan-pelan aja kali Ci! Kalau aku mati gimana? Aku masih mau nikah kali!" seru Elyza.
"Gak usah cerewet mbaknya lagian perasaan aku juga mulai gak enak," ucap Felicia.
"Ci kapan-kapan kalau mau naik mobil sambil ngebut jangan lupa bawa aku ya!" seru Caera dengan semangat.
"Pasti!" seru Felicia lalu kedua gadis itu bertos ria.
"Payah ya kalau bar-bar ketemu sama bar-bar," ucap Elyza.
"Yey dianya gak nyadar diri," ucap Caera mencibir.
"Eh jangan lupa bawa senjata," ucap Felicia sambil memasang maskernya.
"Peluru udah, pistol udah, pisau lipat udah, cnukcle, jam tangan udah, kacamata udah baju pakai kancing iya terus apalagi ya?" tanya Elyza.
"Cambuk udah disimpan juga!" seru Caera.
"Sadis kamu Cae mainnya cambuk," ucap Elyza.
"Udah biarain yang penting lengkap semuakan?" tanya Felicia yang di jawab anggukan oleh ketiga temannya itu.
"Jangan lupa pakai masker gak ada yang boleh tau wajah kita termasuk musuh!" pinta Felicia yang langsung dipatuhi oleh keduanya.
Ketiga gadis itu segera keluar dari mobil menghampiri pinggiran sungai yang tampak keruh.
"Ya Allah ini bukan keruh namanya," ucap Caera.
"Sungainya warna merah!" seru Elyza ketika mereka telah mendekati sungai dan melihat jelas keadaan sungai itu.
"Ini d-darah!" seru Felicia tak percaya.
Mata Felicia menajam ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya sebuah batu kecil, Felicia melemparkan batu tersebut kedalam air sungai membuat daerah yang di lempari batu tersebut sedikit menjernih.
"B tipe 4 berhasil," ucap Felicia.
Felicia lagi-lagi mengeluarkan batu tersebut dan memberikan masing-masing pada Caera dan Elyza.
"Apa ini?" tanya Elyza bingung.
"penjernih air, aku yang minta buat sama Kak Chelsea, ini percobaan yang keempat dan berhasil," ucap Felicia.
"Jadi selain menjernihkan air fungsi ini apa?" tanya Caera yang memasukkan satu batu kedalam air.
"Liat aja nanti," ucap Felicia.
"Jadi Eza kamu udah nemu dimana kira-kira lokasi B-09?" tanya Felicia.
"Kalau memang ada satu buaya lagi dan itu milik B-09 aku rasa dia ada di sebuah gua dan hanya ada satu gua di sini itu terletak di hilir sungai," ucap Elyza.
"kalau gitu ayo kita lihat!" ajak Felicia.
Ketiga gadis itu segera pergi menuju ke gua yang di maksud.
Felicia, Elyza dan Caera sampai di depan sebuah gua yang lumayan besar yang juga terhubung dengan sungai, di air mulut gua itu warna merahnya menjadi lebih pekat.
"Kak kalian lagi dalam perjalanankan? Nanti setelah sampai pergi cari sebuah gua tunggu kami di depan," ucap Elyza menghubungi seseorang melalu alat di telinganya.
"Udah kamu hubungi?" tanya Caera diangguki Elyza.
Felicia lagi-lagi melemparkan batu ke dalam air membuat air tersebut menjadi jernih, lalu setelahnya Felicia kembali melempar sebuah batu lagi namun batu itu tidaklah jatuh melainkan melayang.
"Wah hebat batunya melayang!" seru Caera kagum.
"Kalian ingin tau apa kegunaan lain dari batu inikan? Ini dia sebagai penerang," ucap Felicia sambil mengerakkan tangan mengendalikan batu tersebut masuk kedalam gua gelap itu membuat batu tersebut menimbulkan cahaya.
"Satu lagi dia juga bisa menimbulkan gelombang sinyal," tambah Felicia.
"Gelombang sinyal?" tanya Elyza binggung.
"Heem contoh aja aku udah nemu lokasi B-09 yang kini berada di dalam gua dan ada benda yang di tumpukan juga seekor buaya," ucap Felicia, sambil melihatkan jam tangannya yang kini berubah dan menampilkan tiga titik merah.
"Kalau gitu tunggu apalagi, ayo masuk! Aku gak sabar ngukapin kasus kali ini!" seru Caera.
Ketiga gadis itu segera masuk kedalam gua dengan alat penerang dari Felicia.
Gua itu gelap, sunyi dan sepi makin ke dalam Felicia, Caera dan Elyza merasakan bau yang tak mengenakan bau amis seperti bau darah.
"Kita makin dekat dengan tumpukan yang kamu bilang tadi Ci," ucap Elyza melihat jam di pergelangan tangannya.
"Yap dan tumpukan itu di si-," ucapan Caera terhenti karena melihat hal mengejutkan di depannya.
Ketiga gadis itu melebarkan matanya tak pecaya sumberbau amis yang mereka cium adalah tumpukan itu, tumpukan mayat manusia!
"Yaampun apa-apaan ini!" seru Caera tak percaya.
__ADS_1
"Astaga, jangan bilang ini korbannyakan?!" tanya Elyza berseru tak percaya.
"Ya ini korbannya dan aku yakin ini adalah orang-orang yang hilang," ucap Felicia.
"Kita terlalu santai jika saja aku tau korban-korbannya akan di bunuh seperti ini, aku pasti akan bergerak lebih cepat," ucap Felicia lirih, "heh aku bodoh ya jelas-jelas kita menghadapi seorang priskopat."
"Hei Ci tak masalah bukan? Jangan menyalahkan dirimu lagi pula sebelum menangkapnya kita mencari sesuatu bukan?" tanya Caera.
"Ya lagi pula tak ada darah maka tak ada kasus, di setiap kasus maka harus ada korban, sepertinya itu akan selalu terjadi," ucap Felicia tersenyum getir.
"Aku tak menyangka jika kau akan menampilkan ekspresi tenang seperti itu, Scarlett," ucap suara seorang pria membuat ketiga gadis itu berbalik.
"Wah ternyata kalian kompak apalagi dengan penghianat kita, bukan begitu D-01," ucap pria itu menekan kaliamat terakhirnya.
"Sekedar memberi tau kau kini harus memanggilku La Tempesta, bukan D-01 yang bisa di rendahkan oleh bawahan sepertimu," ucap Caera membuat pria itu menggeram kesal.
"Hahahahaha!" pria itu lantas tertawa tiba-tiba ia memandang nyalang ketiga gadis di depan.
"Apa yang kau lakukan bersama orang-orang bodoh itu? Kau menyia-nyiakan bakat hebatmu," ucap pria itu lagi pada Caera.
"Kau salah, aku di sini mengembangkan bakatku tidak sama seperti dulu di mana aku harus bekerjasama dengan sekelompok orang yang telah membunuh ayahku," ucap Caera tajam.
"Cukup main-mainnya B-09 apa yang kau inginkan?" tanya Felicia memandang tajam pria itu, B-09 dengan mata yang berubah merah gelap.
"Gemini, asisten Scarlett yang hebat di bidang komputer bukan bahkan menghack seluruh jaringan di duniapun bisa ia lakukan. La Tempesta gadis yang baru-baru ini terkenal dan menjalani aksi bersama Scarlett yang hebat dalam menggunakan senjata. Dan Scarlett agen termuda WE dengan segudang bakat orang yang paling di incar di DE,"ucap B-09.
"Aku terkesan jika aku benar-benar menjadi incaran DE," ucap Felicia tersenyum miring.
"Ya dan setiap informasi tentangmu sangatlah berharga, kau tau aku benar-benar ingin menjadikanmu mainanku," ucap B-09 dengan wajah priskopat yang sangat mengerikan.
"Sebelum itu terjadi aku yang akan lebih dahulu menjadikanmu mainanku!" seru Felicia dengan dingin.
"Kalau begitu ayo kita bersenang-senang!" seru B-09 berlari menyerang Felicia.
Felicia hanya menangkis setiap serangan yang diberikan oleh B-09 pengannya sama jangan sampai membunuh namun melukai tak masalah maka itu yang dilakukannya kini mencari titik kelemahan lawan di depannya.
'Ci serang perutnya!' pinta Elyza melalui alat komunikasi di telinganya.
'Aku sarankan kau meninjunya terlebih dahulu, bukankah kau ingin menjadikannya mainan?' tanya Caera.
"Ya," ucap Felicia tersenyum singkat dengan mata yang berubah menjadi kuning bercampur abu-abu dan merah gelap.
'Kalian berdua mengerikan,' ucap Elyza sambil mengelidik ngeri.
Sesuatu pergerakan di rasakan dari dalam air hal itu membuat B-09 menyeringai karena bantuan telah datang beda lagi dengan seringai kesenangan yang muncul dari Caera.
"Yeah mainanku telah datang," ucap Caera senang.
Seekor buaya sepanjang 5 meter keluar dari sungai, buaya yang besar bukan? Bahkan jika Caera yang melawannya tak ada kemungkinan untuk ia bisa menang jangankan menang lolospun itu tak mungkin tapi gadis itu malah menyebut buaya tersebut sebagai mainan!
"Kau gila itu buaya sepanjang 5 meter dan kau menyebutnya mainan!" seru Elyza tak percaya.
"Kau harus perhatikan baik-baik ini Eza karena sang gadis bar-bar ini akan menunjukkan aksi menakjubkan," ucap Caera sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jaket yang di kenakannya.
Ctar~
Bunyi dari benda panjang seperti tali itu mengema nyaring, Caera menyeringai sambil kembali menghentakkan benda tersebut, cambuk!
"Aku benar-benar bisa gila kenapa aku berada di antara dua gadis kejam ini," gumam Elyza yang pastinya ditunjukan pada Felicia dan Caera.
Caera dengan lihai menghindari serangan dari buaya yang ada di depannya. Tak jarang pula ia menghentakan cambuk pada tubuh buaya tersebut membuat buaya itu marah dan tambah menyerangnya menggunakan ekornya.
"Oh ayolah, aku hanya bermain-main," ucap Caera mendecak sambil berbalik menghadap Elyza.
Hal itu tentu membuat Caera lengah bahkan kini ia tak menyadari buaya tadi menatap nyalang dirinya, seakan tak menyia-nyiakan kesempatan dan dengan amarah buaya itu menyerang Caera.
"CAERA AWAS!" teriak Elyza membuat Caera menjadi berbalik dan membulatkan matanya saat mulut buaya itu menganga lebar siap menerkam dirinya.
Sontak Caera langsung menahan dengan tangannya mulut atas buaya itu sehingga buaya tersebut hanya menganga.
"Eza! Apa kelemahan buaya ini?!" tanya Caera berseru panik.
"Mana aku tau itukan mainanmu," ucap Elyza cuek.
"Kok gitu sih, Eza! Cepat beri tau aku! Aku tak tahan menahannya!" seru Caera.
"Makanya jangan main-main sama hewan buas kayak gitu," ucap Elyza walau dalam hati dia juga panik sih.
"Tadi kau memperingatiku tapi sekarang? Ayolah Eza lagian kau sama saja kau bermain dengan ular-ular itu!" seru Caera karena memang sedari tadi Elyza bermain dengan seekor ular yang tiba-tiba menyerangnya begitu saja.
"EZA!" teriak Caera.
"Ck, serang matanya," ucap Elyza berdecak sambil menginjak ular yang ingin menyerangnya.
"Kau buta!? Mana mungkin aku bisa menyerang matanya!" seru Caera.
"Yaudah kalau gitu serang kantong tenggorokannya atau masuk saja ke dalam perut buaya itu," ucap Elyza.
Elyza tak tau pilihan dari ucapannya itu akan membuat suatu hal besar yang mengejutkan apalagi dengan adanya sifat nekat pada Caera.
"Kalau begitu aku pilih masuk! Lumayan nyelajahi isi perut buaya," ucap Caera membuat Elyza melotot tak percaya.
"Kau becandakan Eh Cae!" seru Elyza tak percaya saat Caera langsung meluncur masuk ke dalam mulut buaya itu.
Elyza mengeram kesal ia meminjak semua ular yang kini menyerangnya sambil memandang nyalang kearah buaya yang kini memandang lurus ke depan menetralkan perutnya karena habis memakan makanan yang sangat lezat, maybe?
Lain halnya dengan Elyza dan Caera lain pula di Felicia, kini gadis itu memandang tajam pada B-09.
"Apa yang sebenar kau inginkan B-09?" tanya Felicia dingin.
"Tak ada hanya ingin bermain," jawab B-09.
"Apa kau tak menyadari sesuatu Scarlett?" tanya B-09 sambil terus menyerang Felicia.
"Sebelum memancing kita harus memberi umpan pada kaitnya dan kalau ingin mendapatkan ikan besar kita harus memberi umpan yang bagus," ucap B-09.
Felicia tersenyum miring dengan kata lain B-09 ingin memberitaunya kini bahwa ia hanya umpan dan ia adalah ikan yang dimaksud sedangkan si pemancing jika bukan B-08 maka ia adalah sang master.
Felicia menyerang telak B-09 dengan menendang perut juga menyerang lehernya. Pria itu kini terduduk dengan darah yang keluar dari mulutnya.
"Cukup bermain-mainnya B-09 waktuku taklah banyak," ucap Felicia sambil mengeluarkan sesuatu di tangannya.
Benda kecil seperti bola kasti. Bola itu melayang ia mengelilingi B-09 dan dalam sekejap mata bola tersebut berubah menjadi tali yang mengikat B-09.
"Heh, kau melawanku tapi kau tak melihat temanmu dimakan oleh buayaku," ucap B-09.
"Aku percaya dengan temanku dan sayangnya buayamu harus tiada," ucap Felicia tepat saat itu juga buaya tadi meraung keras.
Sebilah pisau terlihat dari bawah perut buaya itu karena kini buaya itu sedang tergeletak terbaring, pisau itu menembus perut buaya dengan memanjang dari sana keluarlah Caera dengan lendir berwarna merah, darah.
"Iuh, sepatutnya aku tak masuk kedalam perut buaya itu ini menjijikkan," ucap Caera.
__ADS_1
"Kenapa kau masuk ke dalam!" seru Elyza marah.
"Ayolah aku hanya bersenang-senang," ucap Caera memutar bola matanya malas lalu memandang keraah Felicia dan B-09 sambil tersenyum miring, "lagipula waktu bermain telah selesai, bu bos telah selesai melakukan tugasnya lagipula waktu kita gak banyak."
"Jadi, B-09 siap berada di balik jeruji besi?" tanya Elyza mendekati Felicia dan memandang remeh B-09.
"Hah, Hahahahaha," buaknnya menjawab ataupun raut menyesal, menyerah dan kekalahan B-09 malah tertawa.
"Kalian ingin memasukkanku ke penjara di saat kalian tak memiliki bukti untuk itu," ucap B-09 yang memandang remeh, "tak ada bukti maka tak mungkin aku masuk ke sana."
"Aduh, duh, kita yang bocah ini yang naif atau pria ini yang naif ya," ucap Elyza.
"Kau tak melihat adanya setumpuk mayat di sini? Itu juga merupakan bukti," celutu Caera.
"Sungainya juga tadi bewarna merah bukan?" ucap Elyza.
"Jika telah masuk ke dalam air maka takkan ada bukti tentang sidik jari karena ia akan terhapus oleh air namun kau kurang cermat di saat pria dengan anak itu kau membiarkan ayahnya tak terkena air," ucap Felicia.
"Atau senjata yang ada di atas tumpukan itu," ucap Caera.
"Dan tentang buaya-buaya itu, itu hanya buaya yang telah di hipnotis buaya tersebut bukanlah buaya daerah sini," celutu Elyza.
"Penjahat pasti meninggalkan bukti di tkp, selain itu semua masih banyak bukti yang bisa menyoploskanmu kedalam penjara," ucap Felicia tersenyum miring.
Bunyi langkah kaki terdengar Elyza dan Caera saling pandang kedua gadis itu dengan cepat berlari kedekat buaya lalu Caera berbaring di samping buaya tersebut dengan Elyza yang duduk bersimpuh.
"Fea!" seru Ryon ketika melihat Felicia.
Ryon, El, Adira, Faraz, Arman dan Juna menghampiri Felicia bersama beberapa anggota kepolisian.
"Kasus selesai, silakan Tuan Rafailah anda yang mengurus dan tolong juga foto tumpukan mayat itu sebagai bukti," ujur Felicia pada Juna.
Juna memandang datar, tajam dan dingin pada B-09 dan yang pastinya orang yang melihat itu akan merasa ngeri dan membeku dalam seketika.
"Bawa dia!" pinta Juna dengan dingin pada bawahannya.
Beberapa anggota kepolisian segera membawa B-09.
"Hiks...hiks...Cae," ucap Elyza terisak.
"Ely? Lo kenapa Ly?" tanya El mendekat pada Elyza bersama yang lainnya.
"Hiks...Kak...Cae Kak...tadi dia dimakan buaya...t-terus Ely selamatin t-tapi di-dia u-dah g-gak...hiks...ada huhu hiks," ucap Elyza terisak-isak.
"Ely yang sabar," ucap Adira sambil memeluk Elyza ikut menangis,bukan hanya Adira namun juga Faraz, Ryon, El dan Arman juga memandang sedih pada Caera beda lagi dengan Juna memandang datar kedua gadis itu.
Juna memandang kearah Felicia membuat Felicia bingung seperti mengatakan ada apa? Juna hanya memandang gadis itu datar.
"Udah cukup main-mainnya," ucap Juna pada Caera dan Elyza membuat Arman menyerengitkan dahinya dan ketika sadar ia pun juga memandang datar kedua gadis itu.
"Lo gimana sih Jun!" seru El.
"Juna benar," ucap Arman.
"Lah lo gimana juga sih Man kok belain Juna, Caera gimana nasibnya?!" tanya Ryon berseru dengan kesal.
"Padahal dia baru sebulan sama kita," lirih Faraz.
"Andai dia sekarang hidup gue janji bakal ngasih apa yang dia mau," ucap Ryon.
"Serius Kak?" tanya Caera seketika terduduk membuat El, Faraz dan Adira melotot tak percaya beda lagi dengan Ryon yang belum menyadari hal itu.
"Serius bukan lo aja Fea sama Ely juga," ucap Ryon.
"Janji?" tanya Caera lagi.
"Janji," ucap Ryon membuat Caera dan Elyza bertos ria membuat Ryon jadi sadar akan apa yang terjadi, pria itu lantas melotot pada kedua gadis itu.
"Lo berdua bohongi gue?!" tanya Ryon berseru marah.
"Gak kok tadi benaran cuma karena Kak Ryon ngomong gitu hidup lagi deh akunya," ceplos Caera.
"Jadi, yang Kakak bilang tadi jadikan?" tanya Caera dan Elyza bersamaan dengan mata berbinar.
"Gak!" seru Ryon membuat Caera dan Elyza mendecih.
"Udah janji loh Kak harus di tepatin," ucap Felicia membuat Ryon melotot kearahnya.
"Lo sekongkol jugakan sama nih bocah?!" tanya Ryon.
"Idih gak ya, Fea mah fokus ke B-09 dari tadi," ucap Felicia.
"Udah ah Za, Cae pergi yuk," ajak Felicia.
"Nanti nyebur ke sungai mentar ya Ci ngilagin darah tuh buaya," ucap Caera.
"Sip," jawab Felicia lalu ketiga gadis itu segera nelangkah pergi ketika merasakan adanya aura yang menyeramkan.
"Kalian mau kemana?" tanya Juna dingin membuat langkah ketiga gadis itu terhenti.
"Mau bersihin diri," jawab Caera.
"Terus pulang," tambah Elyza.
"Dan istirahat," sambung Felicia.
"Gak ada! Balik ke Markas!" pinta Juna.
"T-tapi Kak," ucap Felicia dengan keringat dingin yang membasahinya.
"KEMBALI KE MARKAS SEKARANG!" teriak Juna membuat ketiga gadis itu berlari diikuti Juna dan yang lainnya.
Di lain tempat....
Bunyi tetesan terdengar pria itu, B-08 menatap layar monitor di depannya sambil menyeringai lalu tertawa.
"Sebentar lagi, sebentar lagi ini selesai dan cip ini sempurna lalu Scarlett akan kalah!" serunya.
"Hahahahahaha,"
^^^Bersambung....^^^
10 Februari 2020
27 Desember 2020
Jangan lupa klik 🌟 dan 💬 berikan saran atau apapun pendapatmu tentang cerita ini.
See bye semua
Sampai jumpa di part berikutnya.
__ADS_1