
New York , Amerika Serikat
Pesawat itu mendarat dilandasan dan dari dalam pesawat keluar tiga orang gadis yang dua diantaranya berjalan dengan lesu.
"Ci, Cae capek," rengek Caera pada Felicia yang sayangnya diabaikan oleh gadis itu.
"Hmp! Jahat," gerutu Caera kesal.
"Ci, gak sebaiknya kita istirahat dulu ya? Nyari hotel gitu," ucap Elyza memberi saran membujuk sepupunya itu.
Lagi-lagi Felicia mengabaikan Elyza, ini sudah yang sekian kalinya bagi Elyza dan Caera membujuk Felicia namun tetap mereka di cuekin bagaimanapun mereka berdua capek.
Bayangkan saja setelah dari London kemarin mereka melandas pergi ke Kairo, Mesir, Afrika Utara lalu berpindah ke Rabat, Maroko kemudian Addis Ababa, Ethiopia, Afrika Timur dan terakhir Lusaka, Zambia dan itu tanpa istirahat sekaligus ingat tanpa istirahat kecuali makan, sholat dan tidur sejenak.
Dan keempat negara tidak, masuk London jadi lima, jadi keliama negara itu mereka lalui selama dua hari dan di sana mereka tidak diberi waktu untuk bermain melainkan hanya tugas garis bawahi TUGAS.
"Gak usah ngeliat kayak gitu, kegiatan kita masih banyak, setelah ini kita akan pergi ke Los Angel lalu pergi kebenua Australia," ucap Felicia datar pada Caera dan Elyza memandang tajam dirinya.
"Za kayaknya dia sakit deh," bisik Caera pada Elyza.
"Iya Cae, dia makin aneh juga," ucap Elyza ikut berbisik.
"Scarlett! Bagaimana kabarmu?" tanya seorang pria pada Felicia.
"Hai Mr. Albern, kabarku baik bagaimana denganmu?" tanya Felicia balik.
"Aku juga baik," jawab pria bernama Albern tersebut yang merupakan ketua WE dari Los Angel.
"Oh, ya perkenalkan juga ini Aaron kapten dari Kanada dan juga Mary ketua meksiko lalu Ace ketua dari Brasil," ucap Albern memperkenalkan dua orang pria muda dan seorang wanita setengah abad.
"Hai Scarlett, sudah lama aku ingin bertemu denganmu, aku sering mendengar tentang kehebatanmu," ucap Mary sambil menyalami tangan Felicia.
"Senang bertemu dengan Anda juga Mrs. Mary aku juga pernah mendengar tentang kisahmu, kau agen yang hebat," ucap Felicia sambil tersenyum walau senyumnya ditutupi oleh masker yang menjadi identitasnya.
"Aku suka dengan analisis yang kau lakukan Scarlett, bahkan kau bisa menyelesaikan kasus dalam satu hari penuh, itu luar biasa!" seru Aaron yang kali ini menjabat tangan Felicia.
"Benarkah? Saya sangat tersanjung atas pujian Anda," balas Felicia dengan ramah.
"Setidaknya yang dikatakan Aaron benar, kau sangat hebat tak ada yang bisa memecahkan rekor sehebat itu dalam sejarah WE kau yang terhebat, bahkan Ice Mask paling cepat menyelesaikan kasus dan misi selama dua hari," ucap Ace yang kini menjabat tangan Felicia.
"Berarti saya benar-benar telah mengalahkan agen terhebat WE sebelumnya ya? Tapi, saya takkan mungkin bisa melakukan itu semua tanpa kedua patner saya," ucap Felicia sambil melirik Caera dan Elyza yang memandang tajam dirinya.
"Perkenalkan Ini La Tempesta dan Gemini," ucap Felicia memperkenalkan Caera juga Elyza yang kini tersenyum manis walau tetap muka mereka ditutupi oleh masker seperti Felicia.
Caera dan Elyza menyalami keempat orang itu sebagai pengenalan jujur saja mereka tak terlalu mengenal para orang berpangkat tinggi di WE kecuali yang ada di Indonesia, hanya Felicia lah yang banyak mengenal orang hingga mereka mendapat akses dan bisa menjalankan misi dengan mudah.
"Baiklah kalau begitu ayo kita pergi, rapat akan segera dimulai," ucap Albern membawa mereka semua.
Kantor pusat WE NY, AS
Ruang rapat
"Baiklah jadi sudah sebulan kami banyak mendapatkan laporan tentang penculikan anak dan paling banyak penculikan tentang anak seorang petinggi," ucap Aaron memberitaukan masalah yang terjadi pada negaranya.
"Begitu pula di tempat kami," ucap Mary.
Hampir semua orang yang hadir dirapat itu mengatakan bahwa masalah di negara mereka sama.
"Bagaimana dengan sebuah serbuk aneh atau kejadian aneh orang yang tiba-tiba bunuh diri, apa kalian ada mendapatkan kasus seperti itu?" tanya Caera angkat suara.
Semua orang menoleh pada gadis itu, Elyza menepuk jidatnya merutuki kebodohan temannya yang satu itu sedangkan Felicia gadis itu tersenyum miring setidaknya Caera tidak salah juga kalau mereka memiliki kasus itu bisa jadi penculikan tersebut berkaitan dengan serbuk itu, setidaknya begitulah firasat yang dirasakan Felicia dan firasatnya itu tak pernah meleset.
"Serbuk aneh? Oh ya aku mengingatnya namun bukan bunuh diri, korban yang kami temukan mereka seperti zombie," ucap Mary.
"What?! Zombie?!" tanya Elyza berseru kaget.
"Benar mereka seperti zombie yang dikendalikan seseorang dan kami menemukan serbuk tersebut setelah memeriksa korban, serbuk tersebut seperti besi," ucap Mary.
"Tak beda jauh di tempat kami juga seperti itu," ucap Albern.
"Dan juga di sini," tambah Eric.
"Tunggu jadi di sini korban seperti zombie karena serbuk itu juga ada kasus tentang anak-anak yang hilang?" tanya Caera diangguki semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Jika di Eropa serbuk itu membuat orang bunuh diri, di Afrikapun begitu dan sebagian hidup namun terbujur kaku sedangkan di sini seperti zombie? Wah ini luar biasa, sulit di tebak! Dan kepalaku pusing kini," ucap Elyza tak percaya.
"Bagaimana menurut Anda Mr. Ace saya lihat Anda hanya diam sedari tadi, apa ada masalah di Brasil?" tanya Felicia pada Ace yang memang diam sedari tadi.
"Tidak hanya saja di negara kami, hanya menemukan serbuk tersebut, tak ada penculikan dan serbuk itu menyebar dengan lambat," ucap Ace.
"Belum sepenuhnya sempurna," ucap Felicia tersenyum miring.
"Baiklah ayo kita selesaikan ini, serbuk yang kalian semua maksud adalah alat baru dari DE dan kedepannya sudah di pastikan mereka akan menyerang dengan alat tersebut juga kalian pasti tau tujuan DE bukan? Menguasai dunia dan serbuk ini salah satu rencana mereka, namun, ini belum sempurna, serbuk itu bertitik di sebuah chip yang masih mereka kembangkan," ucap Felicia menjelaskan.
"Untuk Brasil saya rasa serbuk itu melambat menyebar karena sesuatu yang terjadi di sana, satu hal yang aku yakini firasatku adalah insting terkuatku. Jadi, bagaimana salah satu tempat yang ada di Brazil adalah titik dari penculikan tersebut," ucap Felicia membuat orang yang ada di ruangan itu kaget.
"Menurutmu bagaimana, Scarlett?" tanya Eric tersenyum penuh arti.
"Seperti yang kukatakan tadi 'firasatku adalah insting terkuatku,' bagaimana jika selesaikan ini semua, pertama-tama, Mr. Eric kumpulkan para medis terbaik di setiap tim juga kirimkan aku seorang korban dari serbuk itu, aku akan menunjukan penawar dari serbuk itu dan juga kapten tim juga boleh melihat," ucap Felicia.
"Setelah itu semua selesai mereka yang melihat akan di sebarkan ke penjuru benua ini agar dapat mengatasi para korban setelah itu aku akan segera ke Brazil misi ini harus benar-benar tuntas," ucap Felicia dengan mata yang berubah warna menjadi abu-abu.
"Apa yang kau rencanakan Scar?" tanya Elyza.
"Menurutmu? Aku selalu suka ini, kau kenal Jack Jackson bukan La Tempesta?" tanya Felicia pada Caera.
"Maksudmu A-09 ahli senjata di DE?!" tanya Caera berseru kaget.
"Tepat sekali, permainan kali ini di kendalikan oleh B-08 tapi karena si psikopat gila ini membuat chip tersebut ia menitipkan rencananya pada A-09. Ah, aku tak sabar membuat A-09 hancur masuk kejuruji besi sama seperti yang lainnya," ucap Felicia.
"Lalu setelah ini semua kita akan istirahat?" tanya Caera.
"Sesuai keinginan Nona," ucap Felicia membuat Caera bersorak senang.
"Yes! Kalau begitu aku akan segera mencari kiranya di mana lokasi para penjahat ini!" seru Elyza dengan semangat.
"Ya tapi sebelum itu kita akan menghampiri seseorang terlebih dahulu," ucap Felicia.
Suara tepukan membuat semua orang mengalihkan padangannya pada Eric yang tersenyum sumringan.
"Baiklah karena semua selesai dan kalian bertiga sepertinya punya rencana, maka kita sudahi rapat kali ini, jika ada panggilan rapat tentang chip yang menjadi banyak penyebab dan kasus maka akan ada informasi lanjut, baik kalau begitu silakan bubar dan istirahatlah!" seru Eric.
Los Angel, Amerika serikat.
Semua pekerja menunduk ketika Felicia, Elyza dan Caera memasuki gedung sebuah hotel.
"Za kok mereka nunduk hormat gitu? Inikan bukan hotel yang ada dibawah Huriya," bisik Caera dengan bingung.
"Memang sih ini bukan milik H Grup, tapi ini milik Avramcorp dan si Cia sering ngerjain ini berhubung dokumen yang dikasih Om Elam kebanyakan tentang hotel," bisik Elyza.
"Jadi dia yang megang hotel milik keluarganya?" tanya Caera.
"Bisa dibilang begitu," jawab Elyza.
Caera dan Elyza terdiam lalu mengikuti Felicia yang telah terlebih dahulu masuk kedalam lift.
"Wah liftnya bagus," ucap Caera kagum ketika mereka telah berada di dalam lift.
"Tentu saja, lift ini digunakan untuk orang-orang penting," ucap Felicia sambil menekan tombol lantai 12 tempat yang akan mereka tuju.
"Interior milik Avramcorp memang tak ada bandingannya sangat bagus, bukankah ini hotel baru? Aku yakin yang memilih interiornya adalah orang yang hebat," puji Elyza dengan kagum.
"Terima kasih atas pujiannnya Nona saya sangat tersanjung," ucap Felicia tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Tunggu berarti...kamu yang memilih intorial ini?!" tanya Elyza berseru kaget.
"Tentu saja hampir semua bangunan Avramcorp aku yang memilih Interiornya, dulu Ayah sering meminta pendapatku, katanya seleraku sangat bagus," ucap Felicia.
Detingan pintu lift terbuka menghentika percakapan ketiga gadis itu. Felicia, Caera dan Elyza keluar dari lift, dipimpin Felicia mereka berjalan menuju sebuah pintu.
Kamar 457, mereka berhenti tepat di depan pintu kamar tersebut. Caera dan Elyza benar-benar tak tau apa yang dipikirkan oleh Felicia.
"Ci, kamar ini belum diambil orangkan?" tanya Elyza.
"Hm...udah dan orang itulah yang kita butuhkan saat ini," ucap Felicia dengan santainya.
"Buka," ucap Felicia dan dengan sendirinya pintu itu terbuka membuat Elyza dan Caera tercengang, 'Yang punya bebas,' batin keduanya.
"Maaf sepertinya saya salah masuk," ucap Felicia ketika melihat hal yang tak mengenankan dalam kamar tersebut.
Elyza dan Caera yang penasaran mengintip sedikit lalu dengan cepat keduanya keluar sambil menutup mata mereka sedangkan Felicia segera keluar.
"Eh, Fe! Kamu salah paham!" seru seorang pria dengan panik.
"Aku gak salah waktu pertama ketemu, dia memang penjahat," gumam Felicia.
...****...
Brazil, Amerika Selatan.
Felicia duduk di sofa yang telah di sediakan memandang tajam pria di depannya dan kalian bisa menebak pria itu?
Dia Hanif! Dan prilaku yang tak senonoh di LA yang membuat otak Felicia, Caera dan elyza tak polos lagi karena dia.
Lain dengan Felicia, lain dengan Elyza yang kini sedang mengotak atik benda yang ada di sekitarnya, sedangkan Caera?
Jangan ditanya gadis itu kini malah sibuk makan cemilan bersama Hanif, walau Hanif tau dia sedang ditatap tajam oleh Felicia ia masih santai dengan makanannya.
"Jadi, masalahnya apa? Sampai kalian bawa gue," ucap Hanif.
"Penculikan anak yang terjadi di benua ini," jawab Caera.
"Lokasinya?" tanya Hanif.
"Tuh lagi dicari," jawab Caera menunjuk Elyza.
"Sepi dan tempatnya cocok, hutan?" gumam Elyza.
"Amazon," ucap Felicia membuat Elyza, Hanif dan Caera menoleh padanya.
"Periksa daerah dari sungai Amazon," ucap Felicia.
Elyza mengangguk lalu mencari tahu keadaan sekitar sungai Amazon seperti yang diucapkan Felicia, menurutnya ucapan itu pasti benar mengingat firasat dari sepupunya itu tak pernah meleset.
"Ketemu! Kamu benar, mereka ada di sekitar sungai Amazon," ucap Elyza memperlihatkan layar trasparan dengan beberapa titik-titik merah yang berkumpul di sana,Felicia tersenyum penuh arti melihat itu.
Beberapa menit kemudian....
"Jadi, kita langsung pergi? Berempat saja?" tanya Hanif ketika mereka ada di mobil.
"Tentu! Kita berempat sudah cukup!" seru Caera dengan semangat.
"Lebih cepat, lebih baik kalau kita berpasukan pasti dengan mudah kita ketahuan, ini cara yang efektif, setelah selesai kita dapat memanggil bantuan untuk menangkap pelaku," ucap Felicia.
Hanif mengangguk, baginya ini adalah kesialan sekaligus keberuntungan, beruntung karena bisa melihat aksi ketiga gadis kebanggaan WE beraksi secara langsung untuk kesekian kalinya dan sial karena harus bersama ketiga gadis itu.
"Eza, dimana lokasi mereka?" tanya Felicia ketika mereka telah sampai.
"Ikuti aku," ucap Elyza dengan gesit berlari pergi diikuti Felicia di belakangnya.
"Eh tunggu!" seru Hanif mengikuti Caera yang berada di belakang Felicia dan Elyza.
Walau gudang itu tampak sepi namun, banyak mobil yang ada di sana.
"Sepertinya mereka ada di dalam, berapa anak kira-kira yang mereka culik? Dan juga jumlah para penjaga?" tanya Felicia.
"Ada sekitar 990 anak dan 1,5 penjaga kalian paham ucapanku bukan?" tanya Elyza.
"Ya, jumlah penjaga lebih banyak dari pada anak-anak itu," jawab Caera.
"Jadi rencana kita bagaimana?" tanya Hanif.
"Kak, Kakak bisa nghack gitu?" tanya Felicia.
"Ya, tergantung sih," jawab Hanif.
"Gini, mobil-mobil yang ada di sini bisa menampung semua jumlah anak tersebut jadi Elyza akan meletakkan sebuah alat di sana sehingga mobil tersebut dapat di kendalikan dari jarak jauh," ucap Felicia memberi jeda.
"Kakak yang akan mengendalikan mobil tersebut, Cae bakal membantu membebaskan anak-anak itu sedangkan Elyza mencari lokasi A-09 lalu aku, Eza dan Cae bakal melawan A-09 juga B-11 dan C-11 yang di duga membantu A-09 dan tentu para penjaga akan tumbang sebelum itu," ucap Felicia.
"Eh tunggu dulu bukann-,"
"Semangat Kak Hanif!" seru Caera dan Elyza besamaan memotong ucapan Hanif sedangkan Felicia telah melesat pergi terlebih dahulu.
"Ini nih sialnya kerja sama tiga bocah itu, suka seenaknya," dumel Hanif.
Hanif mengotak atik sesuatu dilayar transparat miliknya, ya, setidaknya ia harus menjalankan rencana yang telah disusun itu bukan?
Isakan tangis ketakutan terdengar mengema di ruangan itu, Elyza menutup mulutnya tak percaya.
"Mereka benar-benar kejam," ucap Elyza tak percaya.
"Hmp! Dan pemandangan ini yang dulu selalu aku lihat," ucap Caera membuang muka.
"Dan pemandangan ini juga yang akan sering kita lihat kedepannya," ucap Felicia.
"Eza, Cae kita berpencar dan untuk kamu Za, cari terus lokasi tepat Jack lalu Cae bebaskan anak-anak itu, aku akan menumbangkan pasukan yang ada di barat," ucap Felicia.
"Ci, kamu becandakan? Di sebelah barat itu pasukan mereka lebih banyak," ucap Elyza khawatir.
"Shut up, Baby, kau seperti tak mengenalku," ucap Felicia.
"Kau bersenang-senang sendiri," ucap Caera dengan kesal membuat Felicia terkekeh.
"Ok, kalau gitu ayo bergerak, selesaikan ini dengan cepat," ucap Felicia.
"Tentu saja," balas Caera lalu kedua gadis itu segera pergi meninggalkan Elyza yang belum sempat berkata.
"Kebiasaan banget deh," gerutu Elyza kesal.
"Hehe ninggalin berarti ngebolehin ngelakuin hal nekatkan," ucap Elyza tersenyum licik di balik maskernya.
Elyza dengan segala kesenangan di benaknya melompati pembatas yang ada di depannya melompat kebawah sambil menyerang salah satu penjaga membuat alarm tanda bahaya yang ada di sana berbunyi.
"Come on baby, kita bersenang-senang!" seru Elyza yang kini di kelilingi beberapa orang.
"Ayo kita selesaikan ini dengan cepat," ucap Caera sambil menyerang beberapa orang.
"Wah mereka baru mulai?" tanya Felicia yang telah menumbangkan banyak orang.
"Mati satu tumbuh seribu aku tak kan pernah melupakan pepatah itu," ucap Felicia ketika beberapa orang menghampirinya sambil menyodorkan senjata, "waktu bermain habis."
...THREE LITTLE DETECTIVE ...
...IN ACTION ...
"Scar aku menemukan lokasih A-09 dan yang lainnya mereka ada di sebelah selatan, sepertinya akan ada jebakan," ucap Elyza melalui alat pada telinganya.
__ADS_1
"Baiklah, Gem, secepatnya kau dan La menyusul," ucap Felicia segera berlari pergi mencari jalan pintas menuju arah selatan.
"Yap, dan sebentar lagi urusanku akan selesai, aku ingin menyari sesuatu terlebih dahulu," balas Elyza sambil mengotak-atik layar trasparan yang ada di depannya.
"Tidak buruk," ucap Felicia saat pintu-pintu yang akan ia lewati terbuka sendiri dan tentu itu semua karena Elyza.
"Hehe aku akan menyusulmu," ucap Elyza berdiri dan berlari sambil menyentuh alat di telinganya, "kau juga La Tempesta."
"Ya ya, dan kau yang terakhir," ucap Caera sambil membebaskan seorang anak.
Seseorang menyentuh pundaknya membuat Caera menoleh mendapati anak seumuran dengannya, berambut acak coklat dengan mata tajam bewarna zamrud, "Ya, ada yang bisa ku bantu?"
Di sisi selatan....
"Kau menemukannya?" tanya Elyza.
"Waspada Gem!" seru Felicia sambil memegang kepala Elyza membuat gadis itu menunduk begitu pula dengannya.
Tepat beberapa detik setelahnya sebuah kapak besar melayang diatas mereka dan berakhir menancap di dinding.
"Insting yang tajam, sangat mengesankan, sudah lama aku ingin bertemu denganmu Scarlett," ucap seorang pria sambil tersenyum lebar menyeramkan.
"A-09 Jack Jackson bukan? Senang bertemu denganmu, namun sayang kau tak akan bisa ku jadikan sekutu karena ini adalah hari terakhirmu kau bisa bebas," ucap Felicia.
"Tempat tujuan keberangkatanmu berikutnya jeruji besi," sambung Elyza sambil tersenyum.
Jack tersenyum, "Ini akan menyenangkan," ucapnya lalu memasang sebuah topeng bergambar badut.
"B-11, C-11 serang Gemini!" pinta Jack pada dua orang pria yang memakai topeng serupa dengannya.
"Dan kau lawanku Scarlett," ucap Jack melompat turun mendekati Felicia sambil memegang belati.
"Keputusan yang bagus Jack, lawan aku dengan senjatamu maka hasilnya akan selalu sama," ucap Felicia mengambil posisi.
Jack terlebih dahulu menyerang Felicia mengunakan senjatanya namun sayang serangannya itu tak berhasil karena Felicia dapat menangikisnya.
Dan sepertinya Jack sedang beruntung karena Felicia tak ingin berlama-lama dalam waktu 4 menit pria itu telah terkena serangan yang parah.
"Masih belum menyerah sir?" tanya Felicia.
"B-bagaimana mungikin?! Ini bahkan belum sampai 5 menit!" seru Jack tak percaya.
"Gem! Bagaimana kabarmu?" tanya Felicia pada Elyza.
"Aman terkendali Scar," ucap Elyza yang telah mengikat B-11 dan C-11.
'Diamond dagger, Blade perak dan juga cambuk petir' bagaimana mungkin Jack bisa melupakan itu julukan untuk tiga agen sekaligus detective terhebat di WE.
Scarlett artinya merah namun dia juga di juluki belati permata, mengingat ia memang seperti permata namun tajam seperti belati julukan lain untuknya si mawar merah.
Gemini nama salah satu rasi bintang Zodiak yang dipakai oleh patner Scarlett yang memiliki julukan Mata-mata pedang perak jangan di tanya mengapa gadis itu mendapatt julukan tersebut, ini karena keahliannya di bidang IT namun ia seperti pedang tajam bewarna perak berkilat yang membuat orang gemetar takut saat ia beraksi.
Dan terakhir La Tempesta yang dalam bahasa Italia artinya Badai ia juga merupakan patner Scarlett yang di juluki cambuk petir mengingat ciri khasnya yang membawa cambuk bewarna putih dengan pegangan berbentuk ular dan suara yang mengelegar seperti petir.
"Wah sudah selesai? Berarti tinggal di tangkap dong," ucap Caera yang datang bersama anak laki-laku seumurannya juga beberapa pasukan tim WE.
"Ya, dan Jack cukup sampai di sini waktu yang benar-benar singkat bukan?" hina Felicia.
Jack, B-11 dan C-11 segera dibawa oleh beberapa angota WE sedang Felicia, Caera, Elyza juga anak laki-laki tadi menghampiri Hanif juga Ace.
"Kerja bagus Little detektif, kalian menyelesaikan kasusnya dengan cepat," ucap Ace.
"Tentu saja mana mungkin aku melewatkan waktu istirahat beberapa jam yang berharga setelah ini semua selesai!" seru Elyza mengebu-gebu.
"Benar ini kesempatan langkah," tambah Caera membuat Ace terkekeh.
"Ya kalau begini kalian boleh istirahat kami akan membuat penyambutan khusus untuk kalian," ucap Ace.
"Setuju!" seru Elyza dan Caera kompat dengan Felicia yang mengelengkan kepalanya.
"Jadi hanya seperti ini saja?" tanya Hanif.
"Tentu saja, emang mau kayak mana lagi," ucap Caera.
"Satu hal yang harus Kakak ingat, Kakak mau kembali ke Indonesia bukan? Maka dari itu tidak ada yang boleh tau keberadaan kami," ucap Elyza penuh peringatan.
"Kalau ada yang tau cepat lapor sama kami," tambah Caera.
"Awas kalau gak," ancam Felicia.
"Hah...terserah kalian aja deh," pasrah Hanif.
"Oh ya, sepertinya dia punya urusan dengan kita," ucap Felicia sambil memandang anak laki-laki yang ada di dekat Caera.
"Ya, namanya Neron dia bilang dia ingin bertemu denganmu katanya penting, dia termasuk anak dalam penculikan itu," ucap Caera.
"Untuk seusiamu kau anak yang cerdas dan nekat hingga sengaja ingin masuk dalam rencana penculikan ini," ucap Felicia.
"Ya, suka hatimu saja, aku asli orang Brazil karena aku lahir disini dan aku yakin kau akan kemari setelah mendengar kasus penculikan ini," ucap anak bernama Neron, "Aku ingin menyampaikan hal penting padamu."
"Juga ikut denganku ke Indonesia dan bertemu dengan Ayahmu, bukankah itu bagian dari rencanamu?" tanya Felicia.
"Ya itu belakangan," ucap Neron.
"Scar kau tau Ayah anak ini?" heran Caera.
"Apa Ayah dari Neron adalah kenalanmu?" tanya Elyza.
"Ya dan kalian juga kenal dengannya, dia anak Om Falih, bukan begitu Neron Razor Elof A," ucap Felicia.
"Apa dia anak ketua Falih!" seru Hanif tak percaya.
"Ini mengejutkan," ucap Elyza.
"Dan aku tak menyangka hal itu," ucap Caera.
"Seperti yang di harapkan dari Scarlett, salam kenal Felicia Amira Lashira Avram A. I," ucap Neron.
"Kau sudah besar ternyata Neron, baiklah bukankah lebih baik kalian berbicang di markas saja?" tanya Ace di setujui oleh mereka semua.
"Kau tau Felicia aku punya sebuah rencana dan yang pasti perlahan DE akan hancur," bisik Neron lalu segera pergi.
...END...
...Ya End...
...Untuk part minggu ini...
...The Little Detective part 38...
^^^Bersambung.... ^^^
Masih nyambung ya
23 Maret 2020
27 Desember 2020
Hai semuanya apa kabar?
Semoga tetap sehat ya walau keadaannya kayak gini.
Bagaimana part kali ini seru? Atau tidak sama sekali? Komen ya!
__ADS_1