The Little Detective

The Little Detective
Part 26 : Power And Start


__ADS_3

Klik 🌟 sebelum membaca dan beri 💬 setelah membaca.


-------- HAPPY READING -------


Badmood, itu yang di rasakan oleh Felicia kini, dari kemarin ia hanya mengeluarkan aura dingin yang membuat orang di sekitarnya menjadi takut.


Tak terkecuali Elyza yang kini mulutnya kelu untuk berucap, ia rasa jika saja ia dan Alan tak menyidang Felicia kemarin ini semua mungkin saja tak akan terjadi.


Karena memang kemari saat ia juga Alan dkk mengunjungi rumah Zain mereka langsung pergi ke kamar Felicia dan tentu dia juga Alan menyuruh teman-temannya agar meninggalkan mereka bertiga.


Yang paling kental dalam penyidangan hanya Alan, menurut kalian siapa yang tak akan marah jika Felicia tak memberi tau mereka tentang anggota baru? Padahal itu kan organisasi mereka bersama.


Satu kata dari Felicia yang sukses membuat Elyza dan Alan membeku.


"Aku ketuanya, siapa yang ingin aku masukkan bukan urusan kalian, kalau kalian mau masukin anggota bukankah kalian meminta izin dariku?"


Elyza mengacak rambutnya frustrasi ucapan dingin dari adik sepupunya itu masih mengiang di kepalanya, kini ia sama sekali tak bisa menebak apa isi kepala Felicia.


Felicia melirik kearah jam tanyannya dan tepat setelah itu bel istirahat berbunyi, setelah bu Ayu guru matematika yang sempat menjadi sasaran kejahilan Felicia mengucap salam, semua murid berhamburan keluar dari kelas.


Felicia menyandang tasnya membuat Elyza yang melihat itu menjadi bingung.


"Mau ke mana Ci?" tanya Elyza agak ragu memang.


"Suka hati aku, ada masalah?" balas Felicia dengan dingin membuat Elyza spontan mengelengkan kepalanya.


Felicia melangkah pergi menuju pintu keluar sesampainya di pintu ia berbalik melirik Elyza. "Izinin aku," ucap Felicia lalu benar-benar meninggalkan kelas dengan Elyza yang kini sedang membatu di tempat.


Felicia terus saja berjalan tak mempedulikan orang-orang yang kini menatapnya heran juga takut, selain karena aura dingin mencengramkan darinya, ia juga di kenal sebagai badgirl oleh para murid mengingat bagaimana aksinya yang sangat jahil dan pernah mengalahkan para pentolan sekolah yang di takuti. Emang dasar deh si Felicia bentuknya alim-alim tapi ganasnya minta ampun.


Langkah Felicia berhenti tak kala seorang siswi dengan berani merentangkan tangannya membuat Felicia memandang siswi itu serta antek-anteknya dengan pandangan tajam.


"Wow, jadi ini dia siswi baru yang sering di gosipin itu, lo berani juga ya," ujurnya dengan wajah congkak membuat Felicia sangat amat ingin mencakar muka sok cantiknya itu.


Felicia menahan emosi lalu melangkah pergi karena saat ini ia punya urusan penting yang harus ia selesai.


Salah satu antek siswi tadi memegang bahu Felicia yang langsung di tepis kasar oleh gadis itu.


"Berani juga ya lo! Mana sopan santun lo hah!" bentaknya.


"Apa mau kalian," desis Felicia menahan marahnya.


"Sialan lo! Masih murid baru tapi berani sama Kakak kelas!" seru siswi tadi.


"tenang Din, dia gak tau lo siapa," ucap antek siswi bernama Dinda itu.


Felicia tersenyum remeh dalam hati, rasanya ia tak tahan untuk tertawa saat ini mereka benar-benar lucu.


"Prff- hahahaha," hilang sudah Felicia jadi tertawa lepas.


"Duh emang lo siapa sih gue gak tau, emang lo terkenal banget ya?" ejek Felicia membuat Dinda menjadi marah.


"Hah, lo benar-benar, asal lo tau ya bokap gue itu salah satu pengusaha yang berhasil ngenjalin kerjasama dengan perusahaan Avram," ujur Dinda dengan sombong yang membuat Felicia lagi-lagi tertawa.


"Hahaha lo lucu deh cuma itu doang lo sombong banget hahaha," remeh Felicia di sela tawanya, membuat Dinda mengeram kesal.


"Aduh perut gue, lo mau nunjukin kekuasaan? Gue juga bisa," ucap Felicia angkuh.


Dinda melipat tangannya di depan dada sambil mengangkat alisnya. "Kekuasaan apaan, 'Felicia Amira Lashira A' nama lo aja gak ada nama keluarganya emang lo siapa?"


"Anda tak mengenal saya dengan baik nona kalau begitu biarkan saya memperkenalkan diri," ujur Felicia menjulurkan tangannya.


"Felicia Amira Lashira Avram atau agak lengkapnya Felicia Amira Lashira Avram Abraqi, oh apa anda mau yang lebih lengkapnya lagi kalau begitu perkenalkan Felicia Amira Lashira Avram Abraqi Ishan," ucap Felicia yang kini tak segan-segan menunjukan jati dirinya sebagai putri dari tiga keluarga pengusaha kaya.


"Bohong! Kalaupun iya gue yakin lo cuma anak yang gak di peduliin!" seru Dinda tak percaya.


Plak


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, saya sangat dapat membayangkan betapa malunya tuan Agrama saat mengetahui hal ini," ujur Felicia dengan dingin setelah menampar Dinda.


"Lo!" seru Dinda sambil ingin menjabak hijab yang Felicia kenakan.


Felicia dengan sigap menangkap tangannya menahan tangan itu. "Kalau mau kelahi gak di sini, gue gak punya waktu ngeladenin lo!"


"Kalau lo mau kebenaran bakal gue tunjukin, dan gue tunjukin kekuasaan gue!" seru Felicia sambil menarik tangan Dinda paksa.


30 menit kemudian, sekolah riuh ketika melihat mobil mewah berwarna hitam yang kini berhenti di parkiran sekolah.


Elyza membulatkan matanya melihat itu, ia terbatuk tersedak oleh jus yang dia minum, hal itu membuat Zafran dan Hasbi memandangnya heran.


"Kenapa lo ly?" tanya Hasbi.


"Itu, itu mobil Ayah Felicia!" seru Elyza berteriak membuat semua mata memandang kearahnya tak percaya.


"Ya Allah, kena masalah apa lagi sih tuh bocah, katanya mau pergi kok gini jadinya," ucap Elyza tak mempedulikan orang-orang di sekitarnya.


"Eh liat itu bukannya pemilik perusahan Avram itu ya!" seru salah satu siswa.


"Iya itu Elam sama istrinya! Omg sekolah kita di datangin mereka!" seru salah satu siswi yang kini berteriak girang.


"Ly jujur sama kita," ucap Hasbi sok seriusan memandang Elyza membuat Elyza bingung.


"Felicia itu putri keluarga Avram?" tanya Hasbi.


"Iya, kaliankan udah pernah ketemu abangnya kan? seharusnya kalian udah nyadar dari sana," jawab Elyza.


"Ya Allah kalau gini jadinya payah dong minta restu sama calon mertua," ucap Zafran yang ntah nyambung kemana.


"Eh, kampret lo nyambungnya ke mana sih, udah ah di sini gue tambah bodoh mending gue tengok ke ktp aja langsung," ucap Hasbi.


"TKP!" seru Elyza dan Zafran bersamaan.


"Ya itu maksudnya mau pergi gak lo berdua," ucap Hasbi sambil berjalan pergi, Elyza dan Zafran saling memandang lalu setelahnya mereka pergi mengikuti Hasbi.


Semantara itu di ruangan kepala sekolah Felicia masih dengan aura dinginnya memandang tajam pada Dinda juga orangtuanya yang memandang sinis pada Felicia.


Ruang kepala sekolah terbuka menampakan Elam dan Khaina yang masuk kedalamnya membuat yang di dalam memandangnya kaget sekaligus takut ketika merasakan aura membunuh dari Elam.


"Cia! Kamu gak papa kan sayang ada yang sakit? Kamu ya katanya mau izin jam istirahat nanti, tapi kok masuk ruang kepala sekolah gini sih," omel Khaina sambil mencubit pipi putrinya itu.


"Sakit Bunda lagian juga tadi udah mau pergi tapi ada yang ngalangin, waktu Cia jadi hilang deh, kata Ayahkan waktu itu adalah uang tapi karena orang sok cantik yang sombong hancur deh," sinis Felicia melirik tajam Dinda.


"Lo," desis Dinda dengan marah namun kemarahannya berubah jadi ketakutan ketika merasakan aura membunuh Elam.


"Jadi ada masalah apa?" tanya Elam dengan dingin.


"Ah i-itu, I-itu," ucap Kepala sekolah terbata dan ragu karena tadi ia sempat membela Dinda.


"Ini loh Ayah, tadikan Cia mau pergi tapi tuh si Dinda tuh ngalangin Cia dia nanya huruh A di belakang nama Cia itu apa, ya Cia balas deh kalau itu Avram terus Cia juga bilang nama lengkap selengkapnya nama Cia tapi dia gak percaya," ucap Felicia bercerita persih seperti anak kecil yang bercerita pada orangtuanya tapi memang itu kenyataannya sih.

__ADS_1


"Ayah tau apa yang dia bilang, dia bilang kalaupun iya Cia anak keluarga Avram, Abraqi dan Ishan paling Cia cuma anak yang gak DIPEDULIIN, Cia tampar pipinya, eh dianya malah ngajak kelahi dan tadi dia juga sempat nyombongin orangtuanya," ucap Felicia dengan salah satu kata yang di tekannya, hal itu membuat Elam tambah mengeluarkan aura membunuhnya.


"Ayah Cia salah ya?" tanya Felicia sambil memeluk Elam.


"No dear, your actions are correct, people like that deserve it," ucap Elam tersenyum lembut pada Felicia sambil mengelus sayang kepala putrinya itu.


Sejenak orang-orang yang ada di ruangan itu tertegun dari sana sudah dapat dipastikan bahwa Felicia adalah putri yang sangat disayang oleh Elam.


"Hah Bunda kira kenapa, kalau kayak gitupun kamu masukin kerumah sakit orangnya juga gak papa," ucap Khaina santai membuat orang yang mendengarnya menjadi ngeri.


"Ayah tadi kepala sekolah bilang kalau tindakan Cia salah," ucap Felicia sambil melirik sinis pada kepala sekolah juga keluarga Dinda.


"Mr. Amri saya kira anda bisa berlaku lebih adil, jelas-jelas putri saya dibully dan tindakan yang ia lakukan adalah perlawan tapi anda malah memilih orang yang salah," ujur Elam dengan dingin.


"Maaf Pak," ucap kepala sekolah dengan takut.


"Dan untuk anda pak Agrama kontraknya kita batalkan, anda tau pendirian saya adalah keluarga dan anak anda menganggu putri saya," ucap Elam menatap tajam Dinda dan keluarganya.


Agrama papa Dinda sangat mengerti ucapan Elam, itu tandanya tak ada kerjasama lagi dengan perusahaan Avram dan itu artinya sebentar lagi keluarganya akan hancur.


"Baik Pak, maafkan anak saya, saya permisi," ucap Agrama bukan karena ia bodoh tak melawan hanya saja ia tau tak ada gunanya melawan Elam.


Kalau ia nekat melawan Elam sama saja mati dan kini bisa saja perusahaannya hancur menjadikan keluarganya menjadi miskin seketika.


"Ayah Cia bolehkan ngatur sruktur sekolah?" tanya Felicia.


"Silakan, emang Ayah pernah ngelarang? Lagian cuma inikan? Mau langsung nunjukin jati diri girl," ucap Elam, sambil merangkul pundak Felicia menuntunnya untuk keluar.


"Ya dan itu adalah satu-satunya ide yang terlintas di otak Cia," ujur Felicia.


"Oh tunggu, pak Amri saya tak ingin melihat anda di sekolah ini lagi lebih baik anda mengemasi barang-barang anda," ucap Elam membuat Amri membeku dua kata yang terlintas di benaknya 'aku dipecat.'


"Seharusnya kamu langsung telpon aja terus bilang sama Bunda 'Bun hancurin keluarga Agrama' gitu kan masalah selesai," oceh Khaina ketika mereka sampai diluar.


"Inikan perdana Bunda biar satu sekolah tau jadi gak ada yang ngalangin Cia deh," balas Felicia.


"Lagian Bunda pms ya? Dari tadi ngoceh mulu, jadi gak ada berita tentang adik baru dong," ucap Felicia.


"shutt Ci, ngomong itu jangan di sini," ucap Khaina dengan pipi yang bersemu malu.


"Bulan ini gak ada Ci, tapi bulan depan Ayah pastiin bakal ada kabar," ucap Elam bersungguh-sungguh membuat Khaina spontan mencubit sang suami.


"Sakit Bun lagian Cia pengen tuh, masa di tolak," ucap Elam.


"Iya Bun ini kan permintaan putri Bunda yang paling manis ini," ucap Felicia.


"Terserah kalian deh," ucap Khaina membuat Elam menggelengkan kepalanya lalu merangkul pinggang sang istri.


"Ayah sama Bunda mau pulang kamu gimana Ci?" tanya Elam.


"Cia masih ada urusan yang tertunda," ucap Felicia.


"Yaudah hati-hati, kamu pakai mobil ya? Jangan ngebut ingat nanti kalau ketahuan yang ngendarain mobilnya anak kecil bisa panjang urusannya," ucap Elam membuat Khaina melotot tak percaya.


"Mas ngizinin Cia ngendarain mobil?!" tanya Khaina berseru kesal.


"Udah Ci, pergi aja Bunda biar Ayah yang urus moga rencana kamu berhasil," ucap Elam yang tak mempedulikan Khaina.


"Yaudah kalau gitu Cia pergi dulu ya Ayah, bye Bunda Cia bakal hati-hati," ucap Felicia lalu langsung pergi.


Elam memandangi kepergian putrinya, Felicia anaknya jadi ia tau persis jalan pikiran Felicia walau kadang sulit di tebak tapi rencana yang dibuatnya tak akan beda jauh seperti rencana Elam dan Khaina dulu sama-sama licik.


"Jadi, Ely harus gimana? pikiran Cia sulit di tebak gitu dan aura dingin itu bikin Ely jadi takut," ucap Elyza ikut memandangi kepergian Felicia.


"Biarin dia selesain kasus kali ini sendiri karena sikap dinginnya hanya agar kamu gak ikut dalam rencananya kali ini, dia cuma gak mau ngembahayain kamu, kamu tau tujuannya yaitu nyelamatin keluarga dan kamu termasuk keluarga dia," ucap Khaina.


"Cia itu anak Bunda, Bunda tau persis jalan pikirannya kamu jangan Khawatir besok juga dia bakal ceria lagi," lanjut Khaina.


"Hm...ya Ely bakal nunggu Cia agar ceria lagi dan tentu kami bisa menjalankan kasus bersama kembali," ucap Elyza tersenyum.


"Ely, makasih udah ada di samping Felicia," ucap Khaina.


"Sudah seharusnya, Cia itu adik yang harus Ely lindungi dan Ely gak mau dia kenapa-napa," ucap Elyza.


"Ya udah kalau gitu cepat baikan terutama Alan bisa payah nanti kalau calon mantu Ayah itu gak baik kan sama Cia bakal susah nyatuinnya," ucap Elam membuat Elyza terkekeh.


"Siap kapten!" seru Elyza.


"Yaudah kami pamit dulu," pamit Elam pergi sambil merangkul Khaina meninggalkan Elyza dengan Hasbi dan Zafran di belakannya.


"Dengar Fran lo udah kalah, Ayah Elam udah punya calon menantu," ucap Elyza di telinga Zafran lalu pergi sambil tertawa.


"Sabar bro," ucap Hasbi merangkul Zafran membawa temannya yang kini sedang membatu itu pergi.


...****...


"Arg! Tinggal sejam lagi dan tugas gue belum selesai!" seru Razi kesal.


"Punya Master baru kok gini amat sih," lanjutnya.


"Eh, Zi liat tuh," ucap Ryung menghentikan langkah Razi.


Ryung menunjuk pada Felicia yang kini sedang berseteru dengan salah satu siswi tingkat 12 yang terkenal dengan kecentilannya di sekolah.


"Ngapain si Master tuh?" tanya Razi.


"Paling juga si Rena yang ganggu," ucap Ryung yang tak ada sopan-sopannya memanggil nama Kakak kelas.


"Nguping yuk!" seru Razi.


"Tugas gimana?" tanya Ryung.


"Belakangan," balas Razi membuat mata Ryung cerah dan langsung mengikuti temannya itu dari belakang.


"Eh, jadi lo ya yang dekat sama Zain, Alan sama yang lain masih SMP juga tapi centil banget," sinisnya siswi bernama Rena itu pada Felicia.


Felicia memutar bola matanya malas gak di sekolahnya, di sekolah Zain ada aja ya Cewek model gini heran deh. Felicia memandang Rena dari atas sampai bawah dengan sinis tertawa dalam hati.


"Gak ngaca, minggir gue mau pergi," ucap Felicia.


"Gila berani banget si Master!" seru Ryung memandang Felicia tak percaya.


"Shut diam," ucap Razi lalu keduanya fokus mengintip.


"Berani banget ya lo sama gue, lo gak tau gue siapa?" tanya Rena


"Udah deh gue capek ngelayanin cewek model lo, kalau lo gak mau perusahaan bokap lo hancur minggir sana," ucap Felicia.


"Gak emang lo siapa merintah gue!" seru Rena bersikeras.

__ADS_1


"Ada apa nih?" tanya Abil menghampiri mereka bersama yang lainnya.


"Bil liat deh nih bocah ngebentak kita," adu salah satu teman Rena dengan manja pada Abil.


"Lih sama anak kecil aja takut lo, bodoh banget lagian gak usah sok gitu deh jijik gue," ucap Abil.


"Cia? Kamu kok ada di sini?" tanya Zain bingung melihat Felicia.


"Ada masalah?" balas Felicia bertanya balik dengan dingin membuat Zain memandang tajam Alan.


"Gak sih," jawab Zian tapi matanya masih memandang tajam Alan jika saja Alan tak melakukan sesuatu yang tak Zain ketahui apa adiknya tak akan jadi sedingin ini.


"Zain!" seru Rena membuat Zain memandangnya dengan dingin.


"Ok gini aja gue lagi ada tugas jadi urus deh nih cewek-cewek lo," ujur Felicia dengan dingin membuat Zain terkejut.


Bukan, bukan karena sifat dinginnya melainkan panggilan yang di berikan Felicia bukan aku-kamu tapi lo-gue satu tanda untuk ini mood adiknya memang sudah di tingkat bawah.


"Eh, Ci kamu kenapa sih dari kemarin juga, Alan ngapain kamu? Biar Abang hajar aja dia nanti," ucap Zain.


"Bisa diam dan urusin cabe-cabe ini aja gak! Gue masih ada urusan!" bentak Felicia membuat Zain dan yang lainnya membulatkan mata mereka.


Felicia melangkah pergi dengan sengaja ia menyenggol Rena sambil berujur dengan dingin, "sekali lagi lo coba ngelabrak gue, lo mati!"


Rena membeku mendengar ujuran dingin itu tubuhnya bergetar ketakutan. Felicia tak mempedulikan itu semua dan terus saja berjalan.


"Lo berdua ikut gue, enak aja ngintip-ngintip gitu tugas belum selesai," ucap Felicia langsung menarik Razi dan Ryung yang ingin berlari, kabur.


"Eh, eh iya iya sabar neng!" seru Ryung.


"Lagian jangan fitnah gitu tugas kami udah selesai tau!" tambah Razi.


"Ngomong lagi awas lo, ikut! Jangan banyak protes!" pinta Felicia dan dengan patuh kedua murid itu mengikuti Felicia dari belakang.


Alan memandangi kepergian Felicia juga dua murid baru di sekolahnya itu dengan pandangan heran bukan hanya Alan namun Zain dkk.


"Fea kenal tuh duo R dari mana?" tanya Ray dengan heran.


"Parah juga kalau Bunda marah," komentar Rafan.


"iya sampai ngeluarin aura membunuh gitu," tambah Zaeem


Alan dan Zain mengepalkan tangannya dengan alasan yang berbeda, Alan karena merasa Felicia dekat dengan cowok lain dengan kata lain cemburu dan Zain karena adeknya menyentuh cowok yang tentu marahnya kecowok yang disentuh juga sikap dingin sang adik pada dirinya.


"Gue peringatin sama lo ya, jangan pernah macam-macam sama gue apalagi sampai nganggu adik gue, awas aja lo!" ancam Zain pada Rena berlalu pergi di ikuti Ray, Zaeem, Rafan dan Abil.


Alan sejenak memandang Rena dengan dingin membuat yang melihatnya menjadi gemetar takut, Alan lalu berlalu mengikuti teman-temannya.


"Hadeh gue kira mereka kemana ternyata kesini," ucap Faiyaz.


"Wah liat nih lo kenapa Ren? habis ngelabrak orang, kok lo yang ketakutan," sinis Nuri, "lo salah milih lawan,"


"Aduh pikirin lagi deh peringatan dari mereka kalau bukan mereka gue yang turun tangan," ujur Alana dengan senyum licik.


"Ngapain sih ceramain dia, ayo dong mereka udah jauh tuh gak jadi makan gratis nanti," rengek Faiyaz.


"Oh...iya hari ini hari makan gratis," ucap Nuri.


"Ok geys, ayo pergi!" ajak Alana pada kedua temannya lalu ketiga gadis itu segera pergi meninggalkan Rena dan teman-temannya.


Sementara itu di ruang kepala sekolah sudah ada Davian, Kenshin, Razi, Ryung dan Felicia yang kini duduk di kursi kepala sekolah karena dia master dia suka seenaknya nyuruh Davian yang notabenya sang kepala sekolah duduk di sofa bersama yang lain.


"Ok udah cuma kita berlima aja?" tanya Felicia.


"Lapor Master iya hanya kita berlima saja," ucap Ryung berdiri dengan posisi siap sambil hormat.


"Gak usah alay lo duduk yang tenang aja ngapa?" heran Razi.


"Ok, dari Damian, Aki Asher dan Arlo aku udah dapat informasi, dari Kenshin juga tapi masih kurang informasinya tentang orang-orang itu bukan? Juga kalian berdua tugasnya mana?" tanya Felicia pada Razi dan Ryung.


"Hehe itu, anu Master, itu anu belum selesai," jawab Ryung cengengesan.


"salah Razi nih," tuduhnya ketika mendapati tatapan tajam dari Felicia.


"Loh kok jadi gue sih! Kan lo yang mau-mau aja ngeliat pertengkaran tadi!" protes Razi tak terima dituduh begitu saja.


"Kalau aja lo ngak ngelarang ngerjain tugas gak begini jadinya," balas Ryung.


"Kalian mau dihukum atau diam," ujur Felicia dengan dingin membuat kedua siswa itu terdiam seketika.


"Davian," panggil Felicia membuat pria seumuran Elam itu menoleh padanya, satu hal yang Davian tau ini tanda kalau ia harus memberi tahu apa yang ia dapatkan.


"Tak banyak hanya tentang MW yang selalu menjalankan aksi di hutan yang sama, juga tentang toilet sekolah. Satu lagi, aku menyelidiki gudang yang ada dihutan itu dan membawa barang yang berguna, aku memberikannya pada Ken untuk diperiksa olehnya," lapor Davian.


Felicia memandang kearah Kenshin dan itu tandanya bahwa pria itulah yang kini harus memberi laporan.


"Tentang barang yang di temukan Om Davian cuma handphone milik korban yang pasangan kekasih itu yang aku temukan hanya sebuah pesan juga sebuah foto di dompet korban dan itu menunjukan pada satu petunjuk dengan kata lain sang pelaku. Seorang wanita, umur 24 tahun bekerja di Skylight grup, dan menurut analisa yang didapat dia memang memiliki penyakit identitas isosiatif, persis dengan ciri-ciri yang MW berikan, you know what I mean pesan yang ia berikan," lapor Kenshin.


"Bagaimana dengan alamatnya, apa kau sudah mendapatkannya karena aku hanya membutuhkan itu," ujur Felicia.


"Aku sudah mengirimkannya," balas Kenshin.


"Bagus, Razi, Ryung ambil tas kalian, kalian ikut denganku sebagai penganti tugas kalian yang belum selesai," pinta Felicia.


"Dan Arlo bagaimana pakaiannya?" tanya Felicia pada Arlo yang entah sejak kapan ada di dekat pintu.


"Sudah selesai dan sesuai perintah aku hanya membawakan untukmu dan Duo R," ucapnya.


"Kerja bagus semuanya!" seru Felicia.


"Raz, Ryung aku tunggu kalian di sini selama 3 menit kalau lewat maka kalian aku hukum! Dimulai dari kini!" seru Felicia membuat kedua cowok itu kocar kacir segera pergi.


"Bagaimana rencana anda selanjutnya?" tanya Devian.


"Entahlah membuat penjahat tobat mungkin?" ucap Felicia lalu memutar kursi yang dia duduki menghadap keluar.


"B-08 permainan ini belum dimulai sepenuhnya, tapi sebagai lawan pertamaku siap-siap untuk hancur!" gumam Felicia.


^^^Bersambung.... ^^^


30 Desember 2019


27 Desember 2020


Assalamualaikum


Bagaimana part kali ini seru? Jangan lupa commen dan votenya.


see you bye all

__ADS_1


__ADS_2