The Little Detective

The Little Detective
Part 37 : The story of the past


__ADS_3

London, Inggris.


Markas WE


Ruangan khusus


   Felicia termenung menatap ke arah luar, memusingkan satu kata yang dapat mendeskripsikan keadaan saat ini dan di saat ini pula Caera dan Elyza tidak ada di sampingnya.


"Haha, bertiga bersama, lelucon yang lucu," ucap Felicia dengan datar.


   Gadis itu benar-benar kesal, tiba di sini dia ditinggal begitu saja oleh kedua sahabatnya itu dengan tugas menumpuk, sedangkan mereka? Mereka malah asik bermain menikmati pemandangan kota London.


  Setidaknya mereka sudah sampai ditujuan mereka yang terakhir namun ini bukanlah akhirnya karena masih ada benua berikutnya yang harus mereka kunjungi.


"Semua data informasi yang sungguh memusingkan," gumam Felicia.


   Gadis itu lalu termenung hingga ketukan pintu menyadarkan lamunannya.


"Yes, come in," ucap Felicia mempersilakan orang yang mengetuk pintu masuk.


  Pintu terbuka menampilakan John dan Edwar yang datang bersamaan.


"Sudah selesai?" tanya Felicia menggunakan bahasa Inggris.


(percakapannya menggunakan bahasa inggris semua ya, gak mungkin saya translet Inggris semua selain saya malas, saya juga bisa pusing)


"Ya, terima kasih atas kerja samamu Scarlett," jawab Edwar.


"Oh ya, aku mendapat panggilan, Falih menelponmu namun kau tak menjawabnya katanya ada hal penting," ucap John.


"Benarkah?" tanya Felicia sambil mengambil handphonenya.


Felicia menghidupkan handphonenya yang belum ia buka sama sekali selama dua minggu ini.


   Deringan tanda notifikasi memenuhi handphone milik Felicia jika dilihat lebih dari lima ratus panggilan tak terjawab juga beribu pesan yang masuk.


"Ek, isi pesannya semua sama aja deh, Bang Zain keterlaluan banget sok khawatiran," gumam Felicia melihat pesan dan panggilan tak terjawab yang memang lebih dikuasai oleh Zain.


"Ya ampun Bunda bisa ngamuk nih dari kemarin telponnya gak dijawab, Ayah gak marah jugakan," gumam Felicia dengan panik.


"Khm baiklah kalau begitu Scarlett kami pamit undur diri dulu," ucap John berpamitan.


"Baik Mr. John terimakasih atas bantuannya selama ini," ucap Felicia.


"Tentu dan jika kau membutuhkan bantuan lagi hubungi aku," ucap John lalu keluar begitu pula dengan Edwar.


'Kak jangan lupa oleh-olehnya Fani mau coklat! Kalau Baim yang penting Kakak selamat jangan lupa baju keren untuk Baim,'


Itu satu-satunya pesan yang membuat Felicia terdiam sekaligus kesal, punya adek kok gini amat ya?


  Bunyi deringan ponsen tanda adanya panggilan masuk membuat Felicia menahan napas, satu hal yang ia harapkan semoga itu bukan dari Ayah ataupun Bundanya dan ia berharap itu juga bukan dari Zain.


Felicia memghembuskan napas lega saat tau jika Falihlah yang menelponnya.


(Percakapan mereka di telpon pakai Bindo ya)


"Ya, Om ada apa?" tanya Felicia langsung mengangkat telponnya.


"To the poin seperti biasanya ya, tapi jangan lupa salamnya," balas Falih membuat Felicia cengengesan.


"Sudahlah, Fea ada hal penting yang harus di sampaikan pada kamu, ada serbuk aneh yang ditemukan di sini juga orang-orang DE yang rasanya makin banyak saja," ucap Falih.


   Felicia menghela nafasnya sambil menghempaskan dirinya ke sofa.


"Masalah di sini juga sama, sebelum kita nyelesain itu kita juga harus tau masalah di benua lainnya setidaknya masih ada empat benua lagi, tapi Fea mau tau tentang benua Asia bagaimana?" tanya Felicia.


"Kamu sebagai perwakilan Indonesia lokasi rapat untuk masalah Benua Asia kalau gak salah di Korea," ucap Falih.


"Ok, kalau gitu," ucap Felicia.


"Kamu sekarang masih di London? Kapan kalian akan berangkat?" tanya Falih.


"Ya kami masih di London, masih ada urusan di sini Fea rasa banyak informasi yang bisa kami dapatkan di sini," ucap Felicia.


"Hati-hati kalian harus tetap waspada," ucap Falih.


"Tentu, kami akan selalu waspada DE tak bisa diremehkan," ucap Felicia.


"Ya tentu dan aku harap kalian tak terlalu bergantung padaku, kamu taukan masalah umur hanya dia yang tau," ucap Falih.


"Ih, Om ngomongnya kayak mentar lagi mau pergi ninggalin dunia aja," ucap Felicia.


"Ya, gak ada yang taukan," ucap Falih sambil terkekeh kecil.


"Om, Om tau waktu Ayah jadi agen, Ayah pernah ngelakuin apa atau apa yang terjadi?" tanya Felicia.


"Om sih gak tau pasti, tapi banyak hal yang terjadi waktu itu termasuk Ayah sama Bunda kamu," ucap Falih.


"Apa ada masalah?" tanya Falih.


"Tidak hanya saja ada berapa banyak yang berhianat saat itu? Yang kemampuannya benar-benar diakui tetua WE saat itu," ucap Felicia membuat Falih terdiam.


"Sepertinya kamu tau sesuatu ya? Ada tiga orang yang berhianat dan kemampuan mereka diakui," ucap Falih.


"Tiga orang benar-benar berhianat atau ada yang menghilang secara tiba-tiba, aku pernah baca aturan di WE dulu orang yang menghilang secara tiba-tiba juga dianggap penghianat," ucap Felicia.


"Jarang ada yang ingin tau tentang WE dulu, kau tau pada masaku dan Ayahmu WE dalam kesulitan terlalu banyak konflik saat itu apalagi setelah beberapa bulan Ayah dan Bunda kamu menikah," ucap Falih.


"Ada tiga dan salah satu dari mereka benar-benar berhianat, Andrian Banigno Laronza," ucap Falih membuat Felicia membelalakkam matanya kaget.


"Laronza?! Apa dia saudara dari Caera?" tanya Felicia pelan.


"Om gak tau yang pasti dia waktu itu masih terlalu muda untuk agen, dia jenius umurnya kira-kira lima belas tahun diatas kalian," ucap Falih.


"Lalu siapa dua orang lagi?" tanya Felicia.


"Darra Elland dan Manggala Widyatmaka mereka seumuran degan Ayah kamu dan Om kami rekan satu tim, Darra menghilang tiba-tiba saat kami berhadapan dengan kasus sulit sedangkan Angga dia hilang saat Bunda kamu diculik," ucap Falih.


"Bunda dicuri?" tanya Felicia.


"Ya kiranya itu saat dia ngandung kamu," ucap Falih.


"Makasih Om, infonya cukup, masih ada satu hal yang harus Fea lakuin," ucap Felicia.


"Jadi tujuan kamu sekarang bukan hanya kembali ke Yogyakarta saja kan?" tanya Falih.


"Sepertinya karena saat masuk WE Fea tau apa yang sebenarnya maksud dari pertanyan-tanyaan itu," ucap Felicia dengan mata yang berubah menjadi abu-abu.


  Felicia termenung setelah menutup telponnya, ia kembali memandangi jendela melihat langit biru pagi ini.


"Masih pagi bukan? Tidak ada salahnya juga pergi bermain," ucap Felicia sambil tersenyum kecil lalu mengambil handphone menelpon seseorang di sebrang sana.


"Kak Atha, Fea mau ketemu Ibu Kakak, ini masalah penting,"


...****...


Felicia Pov


Aku termenung sambil memandangi berkas-berkas yang ada di depanku, semuanya membingungkan, aku mendapatkan info B-08 ternyata adalah mantan agen lalu tentang penculikan yang terjadi pada Bunda dulunya, sungguh aku ingin mengetahui tentang itu, tentang akar masalah dari semua konflik yang terjadi.


  Aku perlahan menutup mataku, setelah berjalan-jalan dan menemui Ibu Kak Atha aku jadi lebih menegetahui bahwa banyak mantan agen WE yang ada di sekitarku dan juga pandanganku bisa lebih jauh.

__ADS_1


  Aku kadang bertanya bisakah aku melakukan semua ini? Apa langkahku selanjutnya? Apa aku akan berhasil? Pertanyaan itu menguasai pikiranku.


   Aku takkan bisa terlalu banyak memiliki hubungan dengan seseorang karena di dekatku mereka bisa dalam bahaya dan semoga apa yang aku bayangkan takkan terjadi, mereka yang berharga pasti bisa ku selamatkan bukan? Itu harapanku.


   WE, fokusku bukan lagi usaha untuk kembali ke Surabaya. Namun, White Eagle sebuah organisasi agen, menyelamatkan keluargaku, mengetahui kematian kakek, menghancurkan Dark Eyes sebuah kelompok organisasi kejahatan juga mengetahui semua misteri tentang masalalu terutama permata Scarlet.


"Bunda, Cia capek," gumamku dan tak lama kemudian semuanya gelap aku tertidur dan di saat itu semua di mulai ya sepertinya.


Pemandangan yang asing, sangat asing aku di mana? Gelap, semua tampak gelap, aku berusaha membuka mata ketika mendengar suara bising yang membuatku sedikit risih, apa yang terjadi?


   Gelap walau aku telah membuka mata tetap gelap kecuali dengan sepercah cahaya, walau tampak gelap di sini juga terang, ntah mengapa mataku seperti menembus sesuatu aku melihat seperti keluar.


"Tidak! Tolong siapapun selamatkan anakku aku mohon," ucap Wanita itu dengan airmata menghiasi wajah cantiknya.


Aku merasa familiar dengan wajah cantik itu, seseorang yang hangat yang selalu berada di benakku, Bunda, ya tak salah lagi ini Bundakan? Tunggu apa maksud semua ini? Aku melihat masa depan? Atau sebaliknya?


"Kau kira aku akan membiarkan anak yang ada dalam kandunganmu begitu saja? Itu adalah anak Ice Mask bukan? Kau lebih memilihnya dari pada aku!" bentak pria yang ada di depan Bunda.


  Tunggu dulu Ice Mask? Ayah! Apa maksud pria ini, dia bertanya pada Bunda mengapa memilih Ayah dari pada Bunda? Ya karena dia suaminyalah pakai nanya lagi, lagian nih om-om siapa sih? Bentak Bunda lagi.


    Tapi tunggu dulu, apa ini merupakan kejadian waktu Bunda diculik dulu? Wah apa aku melihat secara langsung kejadian waktu itu? Kalau tidak salah menurut info yang kudapat dari sumber terpercaya yakni Om Falih dan Ibunya Kak Atha aku saat itu berada dalam kandungan yang berusia dua bulan.


  Eh?! Dua bulan? Jangan bilang sekarang aku janin yang ada di dalam perut Bunda!


Ck, aku akan kembali lagi jadi janin namun dulu apa aku juga melihat ini? Ah tidak mungkin.


"Jangan mendekatinya Jal**g kau sama saja!" seru Om gak jelas itu pada wanita yang ada di sampingnya yang sepertinya berusaha membantu Bunda.


"Maaf, Master! Tapi kita ada masalah!" seru seseorang yang masuk ke ruangan ini.


Ah, seragam itu, hmn, hmn benar juga itu seragam para anggota Dark Eyes.


   Eh, apa?! Dark Eyes! Jangan bilang Om itu Master Dark Eyes?!


  Wah sepertinya aku mendapat petunjuk penting, aku harus benar-benar mengamati si Masternya ini agar aku tidak kesulitan menghabisinya nanti.


"Ck, untuk kau aku harap akan ada kambar gembira darimu!" seru om yang ternyata Master DE itu pada wanita tadi yang gemetar ketakutan.


"Dan untukmu, aku pastikan janinmu takkan selamat, waktumu satu bulan untuk berpikir sebelum aku benar-benar membawa seseorang untuk mengugurkan bayi itu!" seru Om Master DE.


  Om Master DE lalu pergi meninggalkan Bunda dan wanita tadi di sini, setelahnya aku tak mendengar jelas apa yang Bunda dan wanita itu katakan yang penting mereka terlibat percakapan.


   Aku menutup mataku sebentar menyatukan kepingan puzzel yang kudapatkan.


   Aku kembali membuka mataku dan sepertinya hari terlah berubah itu terdengar jelas dari ucapan Bunda, "Satu bulan dan ini waktunya, Mas kamu kapan datangnya? Anak kita Mas...hiks...."


  Isakan tangis Bunda terdengar pilu bagiku, DE benar-benar kejam lihat saja apa yang akan aku lakukan, mereka ingin membunuhku bahkan saat aku hanya janin yang tak tau apa-apa dan ini lebih, lebih dan lebih kecil dari bayi.


   Beberapa orang datang mereka membawa Bunda pergi lagi dan lagi mereka terlibat dalam suatu percakapan tapi aku tak bisa mengetahuinya dengan jelas.


  Bunda di bawa kesuatu ruangan dan dudukan di sana setelah mereka membius Bunda agar Bunda tertidur.


   Satu jam lamanya dan saat itu Bunda tersadar bersamaan dengan seorang pria dan beberapa wanita yang menghampirinya, mata Bunda berkaca, Bunda memohon-mohon namun tak ada yang mempedulikannya bahkan para penjaga yang setia berjaga di sekitar.


"Hei, Khaina ini aku, Leo," bisik pria tadi saat para perawat mengambil alat-alat.


"Leo?" tanya Bunda berbisik.


"Ya, Elam dan yang lainnya ada di sini mereka sedang mengalihkan perhatian, ambil senjata ini, aku akan membantumu, dan lewati jalan kanan Elam menunggumu," ucap Leo yang ntah siapa sebenarnya dia sambil membuka ikatan yang ada pada Bunda sebelumnya juga memberikan senjata.


  Bunda hanya mengangguk lalu tak lama setelah itu para perawat datang membawa alat dan si Leo ini seperti memeriksa alat-alat yang di gunakan ia memegang dua buah pisau kecil sambil mengeseknya.


"Khaina sekarang!" seru Leo sambil melempar pisau kecil itu hingga mengenai salah seorang penjaga.


  Bunda mengangguk lalu segera berlari pergi, beberapa penjaga menghalanginya namun Bunda dengan gesit menggunakan senjata di tangannya ia menembakan peluru pada beberapa penjaga lalu segera berlari keluar.


"Lari sekuat mungkin Khaina, aku akan mengurus yang di sini!" seru Leo.


   Dari arah berlawanan aku merasakan ada oramg yang juga mengarah ke tempat Bunda.


"Ina!" seru seorang pria bermata keemasan segera berlari dan memeluk Bunda, hm bukankah ini Ayah? Wah aku benar-benar seperti menonton film secara langsung saat ini.


"Mas...hiks...Ina takut, Mas lama!" seru Bunda terisak sambil memeluk Ayah erat.


"Maaf sayang Mas lama, maaf, maaf seharusnya Mas bisa lebih cepat," ucap Ayah. Ok aku butuh popcorn.


"Ini tidak semudah itu bukan, Ice Maks atau aku harus memanggilmu kakak sepupu?" tanya om Master DE yang ntah sejak kapan muncul sambil menyodorkan pisau pada anak laki-laki berambut hitam yang tampan dan sekilas kenapa aku merasa ia mirip seseorang ya.


  Tapi apa maksud si om master DE dengan mengatakan ucapan kakak sepupu pada ayah dan  om master DE adalah sepupu? Eh! Kok bisa begini!


"Bunda, Ayah!" panggil anak itu sambil memandang Ayah dan Bunda. Uh jangan bilang...yakinkan aku kalau dugaanku salah.


"Zain!" seru Bunda.


   Tidak itu benar anak itu Bang Zain ya ampun apasih yang dilakukan si Om master DE, itu Bang Zain mau diapain aduh malah masih kecil lagi itu sekitar 4 tahunan atau lima ya? Akh gak tau ah!


"Apa yang kau inginkan sebenarnya Nelson!" seru Ayah memandang tajam si om master DE dan bagaikan iklan perlahan semua berubah.


  Eh kenapa kok gelap! Siapa yang matiin sih?! Orang lagi seru seru nonton juga! Gimana nasib bang Zain? Gimana dengan Bunda? Apa aksi Ayah? Terus gimana dengan kabar si Leo?! Arg siapapun tolong hidupkan kembali filmnya!


"Oak...oek...oek," tunggu, tunggu apa-apaan ini?! Suara bayi...keluar dariku?!!


  Tunggu apa ini hangat kayak Bunda, tangis dari diriku spontan menghilang aku mendogak memperhatikan wanita yang memandang lebut dariku, Bunda.


"Cia lapar?" tanya Bunda, hiks kenapa aku jadi ingin menangis lagi.


"Cia kenapa nangis?" tanya dari pemilik mata berkilau bewarna keemasan, sejak kapan dia ada di depanku!


"Oek...oek...oek...," yah aku nangis lagi coba kalau bang Zian kecil ini gak tiba-tiba ada di depanku insting bayi ini tak mungkin menyala.


"Ih, Zain jangan di gituin dong, Cianyakan jadi kaget," ucap Ayah yang datang sambil mempangku bang Zain.


  Aku terdiam tenang di dalam dekapan Bunda yang hangat, suara degup jantung Bunda entah mengapa membuatku tenang.


   Beberapa saat kemudian tanganku mengapai-gapai, tangan mungil ini seakan menginginkan sesuatu perutku lapar.


"Hihi, anak Bunda lapar ya?" tanya Bunda sambil terkekeh kecil yang membuatku ikut tertawa.


"Cia ketawa, Ayah Cia ketawa!" seru bang Zain diangguli Ayah.


   Isi percakapan ini kemudian menjadi tak jelas yang penting bang Zain melompat girang sedangkan aku kemudian di susui Bunda.


   Kini aku berguling di kasur dengan bang Zain yang menemaniku sambil bermain game sedangkan aku, aku sedang memegang mainan bayi sambil berpikir.


   Eh tunggu kenapa aku baru menyadarinya, aku jadi bayi! Ya ampun apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku berengkarnasi kembali menjadi bayi seperti yang ada di maghwa korea? Atau bagaimana!?


  Apa aku sudah mati? Apa aku di bunuh oleh DE dengan diam-diam saat aku berada di ruangan waktu itu, sebenarnya apa yang terjadi kini!


  Ya ampun Cia jangan berpikir yang aneh-aneh, positif think kalau ini cuma mimpi, ya mimpi karena butuh berjuta-juta tahun agar DE bisa membunuhku, hahaha ya benar!


  Ok, sekarang ayo kita mulai menyatukan potongan puzzel ini, pertama penculikan itu kalau di hitung hitung itu tanggal 26 April xxxx lalu selama sebulan di sana Bunda keluar mendapatkan bantuan Dari Leo.


   Siapakah Leo ini?


Lalu selanjutnya aku mengetahui bahwa Master DE adalah sepupu Ayah dan yang pernah ku dengar Bunda sebelum menikahi Ayah merupakan istri orang dan Bunda bercerai saat itu karena taktik liciknya yang memang tak mau menikahi mantan suaminya itu begitupun dengan Ayah sebelumnya namunkan kalau udah soplak tuh otaknya bisa gabung, jadi begitu cerita Ayah dan Bunda masih langeng, ini semua usaha dari Ayah ya yang aku dengar sih, tapi gak tau deh.


  Kalau di ingat dari cerita itu dan yang aku lihat sebelumnya apakah si om master DE merupakan mantan suami Bunda dengan umur pernikahan sebulan itu?


  Ok, kalau benar begitu konflik dendam itu dimulai dari sini, si om master DE yang malang yang selalu di jahui Bunda bahkan mereka seperti orang yang tak ada ikatan dan ini merupakan cerita dari om Falih.


   Dan sepertinya si om master DE masih suka sama Bunda hanya saja Bunda tidak menyukainnya ya bisa saja seperti itu, lalu menurut cerita dulu mereka pisah karena si om master DE hilang ingatan dan itu menjadi kesempatan brilian bagi Bunda namun naas Bunda terjebak oleh Ayah.

__ADS_1


Ok cukup ke simpulannya sampai sana saja pokoknya Om Master DE dendam karena masalah pribadi.


Dan selanjutnya nama Om Master DE itu adalah Nelson. Hm...Nelson yang aku lihat tadi dia memiliki mata biru dengan rambut agak pirang, hm apa dia merupakan sepupu ayah dari pihak grandma? Angap saja iya besok kita cari yang lebih detail.


  Ok itu selesai lalu selanjutnya ada wanita tadi, apa dia berupan istri dari om master DE tapi itu tidak mungkin bukan?


"Zain kenapa kamu mandang Cia kayak gitu?" tanya suara ayah membuatku menoleh mendapati bang Zain yang ternyata menatap lekat diriku, sejak kapan dia menatapku?


"Ayah kenapa ekspresi Cia beda-beda apa yang dia pikirkan?" tanya bang Zain. Tentang musuh kita yaelah bambang.


"Hm...apa dia tidak nyaman? Apa popoknya ingin di ganti ya," gumam Ayah yang masih dapat aku dengar.


  Eh maksudnya aku pup di popok gitu? Eh bukan! Aku lagi menyatukan puzzel yang aku dapatkan tau!


  Ih lagiankan aku lagi nyari petunjuk kok mikirnya gitu sih lagian si bang Zain kecil kok dekat amat sih?


   Eh kenapa suara di sekitarku jadi redup ya? Kenapa rasanya aku ngantuk?


Aku menutup mataku lalu aku kembali membukanya dan tiba-tiba semua berubah langit menjadi gelap, apa ini sudah malam.


  Aku mencoba mengerakan kaki dan tanganku aku terduduk. Eh aku udah bisa duduk? Apa waktunya di ubah lagi?


  Aku merangkak berjalan ke arah pintu yang menampakkan celah, kayaknya ini udah beberapa bulan deh soalnya aku dah bisa ngerangkak gini.


"Mas kita balik ke Yogya aja yuk, Ina gak mau sesuatu terjadi sama Cia, K-kenapa harus Cia...hiks...hiks...," ucap Bunda sambil terisak.


"Mas juga maunya gitu, tapi saat ini Yogya gak aman untuk kita dan kalau boleh jujur Mas nyesek kenapa gak Mas aja yang menjalani itu kenapa harus putri kita," ucap Ayah sambil memeluk bunda.


"Apa Cia memang harus menjalani takdir itu? Kenapa permata itu harus ada pada Cia? In-ini ah ini terlalu berat," ucap Bunda masih terisak.


  Hm, mereka sedang membicarakan permata itu ya?


  Eh tunggu kenapa tubuh aku tiba-tiba diangkat gini? Aku menoleh mendapati bang Zain tersenyum sambil mengangkatku, yaelah ngapa nih bocah belum tidur sih?!


"Cia nguping pembicaraan Ayah sama Bunda ya? Gak baik tau! Lagian kita gak boleh ngeliat hal yang terjadi selanjutnya," ucap Bang Zain sambil memelukku.


   Gak boleh ngeliat hal yang terjadi selanjutnya apaan ya? Aku menoleh melihat ke arah Ayah dan Bunda dan ugh aku rasa bang Zain kecil benar, apa yang mereka berdua lakuin sih?! Masa memang udah dari dulu mereka sering ketangkap basah oleh aku sama bang Zain.


"Udah Ci, gak boleh nengok," ucap Bang Zain sambil membawaku masuk ke kamarnya, sepertinya.


"Kamu tau tadi Ayah sama Bunda itu ciuman, kalau kata Ayah salah satu bentuk menyalurkan kasih sayang pada orang yang dicintainya," ucap Bang Zain, Ya Allah nih orang aneh banget kok ngomong gitu sama bayi, apa lagi Ayah masa dia ngasih tau sama bang Zain yang umurnya 5 tahun gini sih?!


"Oh iya, ngapain Abang kasih tau kamu yang begituan ya? Kamukan gak ngerti, ribet kalau Abang jelasin," ucap Bang Zain kayak ngerti aja lo bocah!


  Tapi omangan bang Zain gak salah sih ya. Waktu dia ngomong gitu sama bayi mana ngerti bayinya lagian seperti yang Bang Zain bilang tadi Ayah dan Bunda benaran ciuman sih, tapi aku salut bang Zain cepat tanggap juga bawa aku ke kamarnya.


"Udah ya Cia bobok lagi," ucap bang Zain hiks, aku jadi terharu bang Zain rupanya perhatian juga.


  Udah ah kalau gitu aku bobok aja udah capek juga lagian aku udah dapat setidaknya informasi yang sangat berguna.


   Aku menutup mataku semua menjadi gelap, ya aku tertidur tapi kenapa ini? Kenapa aku terasa tergoncang? Apa ada gempah bumi?!


"Au! Sakit!" seruku sambil membuka mata.


"Yah kebangun," ucap suara yang tak asing bagiku.


   Aku menoleh mendapatkan Eza dan Cae memandang kecewa kearahku, eh tunggu kenapa aku ada di kasur? Apa yang terjadi padaku? Bukankah tadi aku di sofa ya? Jangan-jangan.


"Apa yang kalian lakukan padaku!" seruku kesal pada Eza dan Cae.


"Gak ngelakuin apa-apa tuh, kamikan cuma mau mindahin kamu aja," ucap Cae.


"Iya, kamikan ngebopong kamu berdua ke kasur terus kami hempaskan deh biar kamu nyaman juga di kasur, tapi, eh kamunya bagun," ucap Eza dengan tampang polos.


"Elah bambang! Jahat banget sih, pinggang aku jadi sakit nih!" seruku pada mereka dengan kesal.


"Cia pinggang kamu sakit? Kenapa?" tanya Eza.


"Oh! Oh jangan-jangan kamu hamil ya? Wah parah nih Kak Alan," ucap Cae.


"Sembarangan kalau ngomong, gak boleh kayak gitu kali! Kan pinggang aku sakit gara kalian!" seruku.


"Jadi bukan karena Kak Alan ya?" tanya Cae dengan tampang polos.


"Ya gak lah! Emang apa hubungannya sama Kakak Alan sih?!" tanyaku berseru kesal.


"Aku ragu jika orang ngomong kamu orang paling peka deh," ucap Eza. Maksudnya Apa sih?


"Sudahlah lupakan, ayo siap-siap," ucapku sambil bangkit dari kasur.


"Kemana?" tanya Cae.


"Pergi berangkat, tujuan kitakan masih banyak kali ini benua Amerika dan Afrika," ucapku sambil tersenyum.


"Eh langsung dua sekaligus?" tanya Eza.


"Ya, jadi siap-siaplah ini akan menjadi perjalanan yang panjang," ucapku berjalan ke arah pintu.


"Apa yang kalian tunggu ayo kita pergi, sekarang!" ucapku tersenyum penuh penekanan diakhir kata.


"AH?! SEKARANG!!" seru Eza dan Cae berteriak tak percaya.


"Tap-tapi Ci," ucap Eza.


"Kami capek loh, abis jalan-jalan," protes Cae diangguki Eza.


"Oh, tapi capekan akukan kerja cuma sendiri," ucapku menekan kata terakhir dari perkataanku.


"Tak ada bantahan kita pergi sekarang," ujurku dengan dingin pada mereka berdua.


  Aku melangkah pergi dari pintu hendak mempersiapkan segalanya, setidaknya aku sudah tau satu hal.


  Ayah dan Bunda mengenal Master DE begitu pula dengan bang Zain dan aku tak menyangka Master DE itu ternyata Pamanku.


   Nelson dan juga tentang Andrian, ini semua makin menarik.


^^^Bersambung....^^^


16 Maret 2020


27 Desember 2020


  Halo hai


Apa kabar semua?


  Gimana part kali ini seru?


  Jangan lupa klik tombol 🌟 berserta komentarnya ya juga kritik serta saran untuk cerita ini.


  Juga jika bisa bagikan cerita ini pada teman kalian atau sebarkan melalui akun media sosial kalian biar mereka bisa menikmati cerita ini.


  Terima kasih semua jika ada khilaf dan kesalahan mohon dimaafkan.


  Jika ada kata yang kurang mengenan juga typo yang bertebaran mohon dimaafkan, juga beri tau agar bisa di perbaiki.


Karena saya masih pemula di sini.


  Lebih dan kurang terima kasih sampai jumpa di part selanjutnya.


See bye~

__ADS_1


__ADS_2