
Sekolah tempat yang paling membosankan namun itu kini menjadi tempat paling menyenangkan bagi Felicia bagaimana tidak satu hari ia kembali ke sekolah ia malah menjahili anak-anak yang ada di sekolah seperti sekarang di mana ia sedang menganggu pentolan sekolah yang menganggunya jadi ini semua bukanlah kesalahannya sepenuhnya.
"Jadi, kalian masih berani ganggu gue?" tanya Felicia sambil tersenyum jahat.
"G-gak," jawab 5 siswa yang ada di depannya namun tidak dengan satu siswa yang serombongan dengan mereka.
"Gue mau nanya!" seru siswa itu membuat Felicia memandangnya dari bawah sampai atas meneliti, rambut yang agak panjang acak bewarna hitam kecoklatan dengan mata agak lebar bewarna hazel, cowok ini hm lumayan Felicia akui itu.
"Ya silakan apa yang ingin lo tanyain?" tanya Felicia setelah meneliti cowok itu dan bisa saja cowok yang satu ini berguna baginya.
"Kata Kakak gue, lo, lo bisa makai senjata ya?" tanya cowok itu membuat Felicia tersenyum miring.
Felicia duduk di meja sambil menyilang kakinya dan memakan es krim bersama Elyza yang sama sepertinya sambil tersenyum miring ketika tau apa yang di pikirkan oleh sepupunya itu.
"Siapa nama Kakak lo Fahad?" tanya Felicia pada cowok bernama Fahad tersebut.
"Gerant," jawab Fahad.
"Gerant? murit SMA SHSI?" tanya Felicia di angguki oleh Fahad.
Felicia mengambil handphonenya menelpon seseorang di sebrang sana.
"Kak La, Lan," panggil Felicia dengan nada imut.
"Iya, Fea sayang ada apa," jawab orang di sebrang sana Alan.
"Bangsat lo Lan tarik ucapan lo tadi gak! Itu adik gue!" seru suara Zain yang marah di ujung sana.
"Tolong periksa siswi bernama Gerant Fahmi!" pinta Felicia.
"Zi, Yung tugas kalian," ujur Alan pada Razi dan Ryung yang sepertinya bergabung bersama mereka. Elyza dapat membayangkan betapa kesalanya kedua cowok itu di suruh-suruh begitu saja.
"Gerent Fahmi murid kelas dua belas IPA 1 kelas kalian tuh," ucap Razi pada Alan.
"Urus ya Fea masih ada urusan," ucap Felicia dan langsung memutuskan sambungan telpon.
"So, seperti yang gue katakan tadi gue masih punya urusan Fahad temui gue waktu pulang nanti!" pinta Felicia pada Fahad lalu berlalu pergi
"Jangan lupa awas aja lo," ancam Elyza lalu mengikuti Felicia dari belakang.
"Had lo gila? ngapain lo nanya dia bisa makai senjata, dia bisa tuh bisa-bisa kita di jadiin korban main senjatanya lagi!" seru salah satu teman Fahad.
"Diam! gue tau apa yang gue lakuin dan gue butuh dia untuk bantu gue!" seru Fahad lalu melangkah pergi, "kalian juga boleh coba kalau mau, masalah kita sama dan dia satu-satunya solusi."
"Kasus baru, anggota baru semua sempurna ya Ci?" tanya Elyza.
"Ya, hampir semua, orang-orang yang kita butuhkan akan kita dapatkan, akan aku selesaikan permainan ini dengan cepat, makan pionnya hancurkan rencongnya, tunggu pion yang akan di jalankan mereka karena yang kita incar kini rajannya, raja yang lepas dari pelindungan," ucap Felicia dengan mata ember yang berkilat merah.
Jam pulang sekolah....
"Kalian datang berenam?" tanya Felicia tersenyum miring pada enam cowok yang diganggunya tadi.
"Fahad, Fatih, Gandhi, Irfan, Naim and Riyad mereka semua di ajak bergabung dengan DE bukan begitu?" tanya Elyza membuat Fatih, Gandhi, Irfan, Naim dan Riyad membelalak kaget. berbeda dengan Fahad yang telah mengetahui tentang itu sejak awal.
"Permasalahan kalian sama bukan? Tidak ingin bergabung dengan orang yang telah menghancurkan keluarga kalian," ucap Felicia.
"Fahad Kakakmu B-03 sudah di urusi oleh anggota oraganisasiku, bagaimana dengan kalian mau bercoba bergabung denganku?" tanya Felicia.
"Ya!" seru Fahad dengan semangat.
Fatih, Gandhi, Riyad, Irfan dan Naim memandang Fahad tak percaya mengapa teman mereka satu ini sangat mudah setuju bagaimana jika DE tau? Mereka bisa mati.
"Kalian masih takut DE? Berarti kalian lemah! Kalian tak pantas membalas perbuatan yang mereka lakukan pada kalian! Kalian terlalu lemah!" seru Elyza pada kelima cowok itu.
"Jangan sembarang ngomong lo!" seru Fatih, cowok berambut lurus hitam namun acak itu tersulut emosi karena ucapan Elyza.
"Yap mudah tersulut emosi itu kelemahan lo," ucap Elyza yang ntah sejak kapan ada di belakang Fatih membuat cowok itu tersentak kaget.
"Mau mencoba bergabung tuan dan melatih kemampuan?" tanya Elyza pada Fatih.
Terdiam itu yang di lakukannya bahkan ketiga temannyapun sama, Fahad tak begitu ingin ikut campur dengan keputusan teman-temannya itu yang ia inginkan hanyalah membalas perilaku DE pada keluarganya.
"Adek gue, Ibu gue, Ayah gue mereka bunuh, gue yatim piatu, apa benar gue bisa membalas mereka?" tanya Naim membuat Felicia tersenyum miring.
"Keluarga gue di bunuh di depan mata gue, jadi, kalau ada darah gue gak bakal takut tapi sayangnya gue gak bisa gunain senjata," ucap Riyad.
"Rumah gue kebakar keluarga gue hancur gue juga yatim piatu apa kalian bisa terima itu?" tanya Gandhi.
"Mereka ngancuri semua keluarga gue kakek, nenek, ayah, ibu, adek, sepupu gue, kakak gue, bibi, paman semuanya mereka buat gue sendiri, gue cuma mau balas dendam," ucap Irfan.
"Gue mau bebas, gue mau balas dendam dan gue mau ngancurin DE," ucap Fatih.
"Aku tanya sekali lagi apa kalian ingin bergabung?" tanya Felicia.
"Ya!" seru mereka berlima kompak.
"Balas dendam aku tak akan melarang, bebas itu adalah organisasi kami dan menghancurkan DE itu adalah tujuannya! Mengayunkan senjata, menodongkan senjata, mengangkat senjata, melindungi yang lemah dan tidak pernah mengalah dari musuh camkan itu baik-baik," ucap Elyza.
"So," ucap Felicia sambil melempar pisau lipat dan menangkapnya begitu terus sampai yang terakhir Felicia membuka pisaunya dan melemparkannya di sebuah pohon.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu D-01 mau ikut bergabung dan menjadi penghianat?" tanya Felicia membuat Fahad dan yang lainnya tersentak kaget.
Dari balik pohon itu muncul seorang gadis yang umurnya satu tahun diatas Felicia ia memakai seragam sekolah itu.
"Matamu jeli Scarlett atau Master S?" tanyanya sambil menghampiri Felicia.
"Terserah kau ingin memanggil apa. Kau datang atas suruhan siapa B-01 atau C-01 dan aku harap keputusanmu sudah bulat," ucap Felicia.
"Dan jika kau bergabung saat ini kau dianggap penghianat DE," tambah Elyza.
"Aku bagian dari si kembar itu kalian tau mereka masih agak berselisi lebih tepatnya B-01 itu tsundere," ucap D-01 sambil melempar sebuah flash disk pada Elyza.
"Kalian tau apa jawabanku," ucap D-01.
"Sangat tau keputusan yang tepat Caera," ucap Elyza. (Ada yang masih ingat dengan Caera? Itu loh gadis yang muncul di part 6)
"Tentu jadi bisakah kita membicarakan semuanya di markas? Kalian tau di sini tidaklah aman," ucap Caera.
"Tentu," ucap Felicia sambil menuntun mereka berjalan pergi.
"Ini menarik, apa aku juga memutuskan untuk bergabung dengan Master S saja? Tak menyenangkan ada di tempat orang yang membunuh keluargaku bukan,"
"Huh untung B-01 telah memberikan sesuatu di kodeku sehingga tak ada sengatan listrik saat aku memikirkan ini,"
Pria itu tersenyum lalu dengan cepat ia pergi dan menghilang.
...****...
"Kak Ar! Ada cemilan gak?!" tanya Elyza berseru dengan ceria sambil memasuki ruangan tim RL.
Ya memang kini mereka ada di markas WE setelah dari markas Huriya tentunya.
"Buset lo Za datang-datang minta cemilan," ucap El memandang Elyza yang sudah ia anggap adiknya sendiri sama seperti Felicia bahkan semua anggota tim RL menggap mereka berdua adalah adiknya.
"Hm...Kak Arman mana?" tanya Elyza yang tak melihat ke beradaan Arman dan tentu mencuekkan ucapan El.
"Gak ada dia ada tugas keluar negeri bareng sama Tina dan Hanif," jawab Faraz.
"Yah gak seru dong Kak El gimana? Ada cemilan gak?" tanya Elyza pada El.
"Tadi aja lo nyuekin gue," sindir El.
"Hehe maaf dong Kak, becanda ilah lagian nih ada info tentang kasus baru itu, kasih Ely cemilan ya," ucap Elyza.
"Nih tangkap cemilan El tuh," ucap Ryon sambil melempar bungkus cemilan dan segera di tangkap oleh Elyza.
"Tengkuy Kakakku," ucap Elyza dengan riang berjalan dan duduk di sofa dan langsung membuka laptopnya.
"Ya tadikan Ely mintanya punya lo," ucap Ryon membuat mereka berdua menjadi adu mulut.
"Fea mana Ly?" tanya Dylan Pada Elyza.
"Ada tuh sama Kak Juna di tempat Om Falih ngurisin anggota baru," ucap Elyza.
Tak lama setelah itu Juna datang bersama dengan Felicia dan seorang gadis yang umurnya tak terpaut jauh dengan Felicia dan Elyza berambut pendek sebahu.
"Udah anteng aja lo ya Ly," ucap Juna pada Elyza.
"Jadi, ini anak barunya?" tanya Ezad.
"Hm ya, Caera namanya gak tau deh nih dua bocah dapat tuh anak dari mana," ucap Juna singkat lalu pergi ke tempatnya.
"Eh Za kamu gak ikut? kami mau nyelidiki tkp," ucap Felicia.
"Gak, gak pergi ajalah aku masih tertarik nih sama data yang di kasih Caera sama yang lainnya," ucap Elyza.
"Oh oke ayo Cae," ajak Felicia.
"Eh tunggu lo mau ke mana ke tkp? Sama siapa? Masa berdua doang?" tanya Erland.
"Gak nunggu Juna emang?" tanya Faraz.
"Gak, kami memang mau pergi berdua," ucap Caera dengan singkat.
"Dan ini perintah, kalian tau, p-e pe r-i ri datang n rin t-a ta tambah h tah perintah!" seru Felicia.
"Tau kali cah gak usah di eja segala lo kira gue gak tau tuh tulisannya asal lo tau ya gue lebih tua dari lo jadi gue udah dalam soal pembelajaran gitu," ucap Faraz.
"Ya, Ya terserah deh, iya itu juga tau nyari istri sampai sekarang gak dapat-dapat," ucap Felicia dan langsung berlari pergi bersama Caera sebelum melihat ledakan yang keluar dari Faraz.
"FELICIA!!!" teriak Faraz dengan kesal.
Di tkp....
Felicia memandangi sungai di depannya begitu pula dengan Caera, Felicia memandang kearah sebuah tebing yang tak terlalu tinggi. Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya dan melihat ke arah tanah yang membuat sebuah tangga sepertinya untuk naik ke atas.
Felicia menaiki tangga itu di ikuti Caera di belakangnya. Felicia duduk di atas tebing itu begitu juga dengan Caera.
"Menurutmu bagaimana B-09 membunuh mereka seperti apa?" tanya Felicia.
__ADS_1
Caera diam tak menjawab, gadis itu memejamkan matanya menikmati semilar angin ya memang tampak begitu tapi sebenarnya ia sedang menyelusuri sesuatu.
"Di tengah sungai yang tak begitu dalam. Ia membunuh korban orang-orang yang melewati sungai dalam keadaan sepi. Membawa korban ke tengah sungai, menceburkan kepala mereka dengan paksa membuat korban hampir tak bernyawa dan di saat itu dia membunuhnya, menusuk korbannya dan menurutku ini murni karena ia ingin bermain dan membuat kegaduan," ucap Caera.
"Menurutku juga begitu," balas Felicia lalu keheningan kembali melanda.
"Hah...padahal sungai ini jerni dan bersih bahkan warga bergantung di sini tapi karena B-09 sungai ini jadi seperti darah," ucap Felicia sambil menghembuskan napasnya pelan.
Felicia memandang ke bawah ke arah air, namun ada yang aneh di lihatnya, kenapa warna sungai ini jadi agak memerah? Padahal tadi ia masih merasakan kalau airnya bewarna jernih.
Felicia mengikuti airan sungai sebelumnya berlawanan dengan air yang mengalir deras, mata Felicia terpaku di pinggir sungai ia seperti melihat ada orang yang berbaring namun tak jelas sedang apa orang itu.
"Caera ayo!" seru Felicia.
Felicia bangkit melangkah pergi begitu juga dengan Caera gadis itu mengikuti Felicia dari belakang.
Tubuh mungil yang basah kuyup, umurnya bekisar seperti 10 tahun, kulitnya pucat dengan bibir yang membiru, di perutnya terdapat bekas tusukan dengan darah yang kini mulai berhenti keluar.
Felicia dan Caera berlari menghampiri anak itu tak salah lagi itu pasti korban baru lagi.
"Sebenarnya apa yang di inginkan B-09 ini sampai membunuh anak kecil seperti ini!" seru Felicia dengan geram.
"Cia, sungainya! Sungainya masih bewarna merah, sepertinya masih ada satu korban lagi!" seru Caera.
"Ya, ayo kita periksa," ujur Felicia.
"tapi anak ini bagaimana?" tanya Caera.
"Tinggal sebentar ayo!" ajak Felicia.
Kedua gadis itu segera berjalan menerusuri ke arah hulu sungai. Tak berapa lama mereka melangkah mereka menemukan seorang korban lagi.
Seorang pria berusia kisaran 30 tahunan, sama seperti anak tadi di juga di tusuk dan basah namun ia tak sebasah anak tadi sepertinya ia basah karena berada di pinggir sungai.
"Sepertinya mereka ayah dan anak," ucap Caera.
"Ya, bisa jadi pria ini yang pertama di bunuh baru anak tadi," balas Felicia.
"Hei, Ci apa kau merasakannya kenapa sungai ini tampak sangat tenang tapi juga terasa berbahaya," ucap Caera.
"Kau benar, mungkin saja karena pembunuhan itu tapi kau tau aku merasakan ada alasan lain," ucap Felicia.
Caera mundur beberapa langkah sedangkan Felicia berjongkok memeriksa korban. Caera memejamkan matanya ia merasakan sesuatu, sesuatu yang mengintai mereka.
"Cia awas!" seru Caera.
Caera menarik Felicia membuat Felicia tersentak kaget, bukan, bukan karena tarikan Caera namun hewan reptil berkulit keras sepanjang 4 meter berbadan besar yang hampir menyerangnya.
"B-buaya Muara!" seru Caera yang juga tersentak kaget.
"Sial kenapa ada buaya di sungai ini?!" tanya Felicia berseru kesal.
Ingatan Felicia beputar sebelum ke sungai ini mereka berdua sempat bertanya pada warga sekitar dan memang sebelum ada pembunuhan memang ada warga yang hilang di sungai dan kalau dugaan gadis itu benar maka buaya inilah yang memakannya.
Mata Caera dan Felicia terbelalak mereka memang kaget dengan keberadaan buaya itu yang membuat mereka tambah kaget kini buaya itu tidak hanya satu tapi ada empat dan ukuran mereka sama semua.
"Ya ampun bagaimana ini? Dan mayat dua orang tadi?" tanya Clara.
"Sial Caera liat mayat anak tadi!" seru Felicia.
"Tap-tapi," ucap Caera dengan ragu.
"Cepat Caera atau anak itu mungkin saja di makan buaya-buaya ini? Aku rasa masih ada satu buaya lagi," ucap Felicia.
Masih dengan hati yang ragu namun Caera tetap mengikuti perintah Felicia, gadis itu berlari kearah mayat anak tadi dan benar saja di sana ada satu buaya yang ingin memakan anak itu.
Beralih pada Felicia, gadis itu menatap tajam empat buaya yang ada di depannya. Keempat buaya itu perlahan masuk kembali ke air namun itu tak mengurangi sedikitpun kewaspadaan Felicia, gadis itu kini perlahan mendekat kearah pria tadi dan menyeret pria itu agar menjauh dari tepi sungai.
Felicia berbalik menghadap ke arah sungai, gadis itu segera melompat kala seekor buaya hampir saja menerkamnya. Felicia mengambil sebuah kayu panjang, ia menyerang buaya yang entah sejak kapan berada di sampingnya.
Tiga buaya, ketiga buaya itu menyerang Felicia membuat gadis itu menjadi kewalahan, Felicia terjatuh dia mengarahkan kayu yang di pegangnya pada buaya yang baru saja muncul dan kini berada di belakangnya.
Mulut buaya itu kini di tahan oleh kayu membuat buaya tersebut memberontak.
Tak habis dengan itu Felicia kembali di serang oleh buaya lainnya, kini gadis itu kembali terjatuh namun ketepi sungai.
Dua buaya di depannya memandang dirinya lapar namun Felicia tak mempedulikan itu dan berbalik saat merasakan suatu pergerakan di depannya.
Mata Felicia awalnya melebar saat melihat seekor buaya datang dengan cepat kearahnya, gadis itu menutup matanya erat kala ketiga buaya itu bersamaan menyerangnya dan ingin menerkam dirinya.
'B-bunda tolong Cia,'
^^^Bersambung....^^^
20 Januhari 2020
27 Desember 2020
Jangan lupa klik 🌟 dan beri saran untuk cerita ini dengan menekan 💬
__ADS_1
Sampai berjumpa di part berikutnya