
Roma, Italia.
Sudah beberapa jam yang lalu mereka sampai di sini dan tentu itu setelah Felicia menyelesaikan masalah dengan anggota barunya mereka langsung pergi ke Italia.
Dan di sinilah mereka kini dengan De Luca yang membenturkan kepalanya berulang kali ke dinding di dekatnya.
"Aku memang kapten tim yang tak becus, padahal permata itu di serahkan pada timku tapi kini dia menghilang, hahaha aku bodoh!" seru De Luca mengoceh seperti orang gila menggunakan bahasa negaranya itu.
"Sepertinya Kak Luca memang sudah gila," ucap Caera.
"Memang kau tak melihat itu? Dia sudah begitu sedari tadi seperti orang bodoh," hina Felicia tanpa ampun.
"Hmp kau kejam! Kau menghinaku!" seru De Luca.
"Tapi itulah kenyataannya, kau bodoh! Kapten tim terbodoh yang pernah kutemui!" hina Felicia.
"Hiks...beginilah nasibku, aku bodoh, aku bodoh, aku bodoh," gumam De Luca tanpa ada hentinya.
"Bahkan dia kini mengunakan irama dalam mengucapkan kata-kata itu," ucap Amick salah satu anggota tim De Luca.
"Luca kau tau, kau memang tak berguna, kau kapten yang tak becus yang tak bisa apa-apa," ucap Xavery membuat De Luca tambah membenturkan kepalanya dengan kuat.
"Sudah hentikan Luca! Kau hanya menambah masalah jika begini dan kau Xavery jangan membuat masalah!" seru Viola dengan kesal pada dua temannya itu.
"Ya habisnya lagi pula menyenangkan mengoda De Luca yang seperti ini, kau liat dia mulai menggila kini ia malah tertawa tak jelas," ucap Xavery sambil menunjuk De Luca yang terkekeh aneh lalu mengeluh dan kembali membenturkan kepalanya.
"Ya setidaknya begitulah siklus yang akan selalu terjadi kini," ucap Amick tertawa sumbang memandang De Luca dengan datar.
Felicia menepuk-nepuk bahu De Luca pelan membuat pria itu menoleh dan...
'Plak
Bunyi tamparan keras itu mengema membuat Viola, Bianca, Xavery, Amick, Caera dan juga Elyza yang sedari tadi fokus ke layar transparan di depannya memandang Felicia dengan badan membeku kaku.
"Sakit! Apa yang kau lakukan!" seru De Luca sambil memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Felicia.
"Berisik, kalau Kakak Kapten tim ya tunjukin dong wibawanya, ini gak, pengejut, bodoh dan tak becus!" seru Felicia tanpa belas kasihan sedikitpun.
"Kalau sekarang misalnya kasus ini Kak Juna yang ngehadapin ya, dia pasti mencari akar pangkal masalahnya dan membunuh pelaku kejadian ini," ucap Felicia.
"Ya, ya aku tau, aku tak sehebat calon kakak iparmu itu, aku cuma sebutir debu yang tak berguna," ucap De Luca.
"Kakak mau ditampar lagi!" seru Felicia membuat De Luca kini tesulut emosi.
"Eh Bocah kamu kira tamparan kamu itu tidak sakit? Ini sakit sekali aku memang gak sehebat Kakak iparmu itu tapi jangan hina aku dong!" seru De Luca kesal.
"Nah begini dia, lawan, lagian yang Kakak maksud itu apaan sih Kak Juna calon kakak ipar Fea kok bisa gitu?" heran Felicia membuat Caera serta Elyza menepuk jidatnya.
"Prff hahaha sepertinya memang ada seseorang yang bertepuk sebelah tangan," tawa De Luca.
"Sudah cukup meratapi nasib kini bagaimana dengan petunjuknya? Di mana lokasi pelaku itu?" tanya De Luca membuat yang ada di ruangan itu terdiam.
"Kalian tidak mencarinya?! Cari semua informasi itu sekarang!" seru De Luca berteriak marah membuat Bianca, Amick, Xavery dan Viola segera pergi mencari informasi.
"Eza, kamu udah selesai?" tanya Felicia membuat Elyza mengeluarkan keringat dingin.
"Hehe I-itu Ci, b-belum hehe," ucap Elyza.
"Eza! Cari sekarang!" seru Felicia yang kini membuat Elyza kalang kabut kembali melakukan tugas yang ia kerjakan tadi.
Waktu telah lama berlalu namun tak ada satu informasipun yang mereka dapatkan, Elyza mulai kesal, matanya mulai mengantuk lelah.
"Arg! Gambarnya kayak mana sih?!" tanya Elyza berseru kesal sambil mengupal kertas di depannya lalu membuang kertas itu.
"Yaelah gambar gitu aja gak bisa," ejek Caera membuat Elyza memandangnya tajam.
"Kalau gitu coba kamu, bisa gak?" tantang Elyza.
"Oh siapa takut, setelah aku mengambarnya kita akan tau di mana lokasih pencuri itu," ucap Caera dengan nada sombongnya membuat Elyza tambah kesal.
"Yaudah kalau gitu nih coba," ucap Elyza sambil memberikan pensil dan kertas pada Caera.
Caera mengambil kertas itu dan mengambarkan sesuatu di sana dan tentu itu sesuai dengan apa yang mereka dengar tadi.
Sementara itu Felicia sibuk menyerup minuman yang ia pegang sambil memandang datar Sepupu dan sahabatnya itu.
"Nah selesai, kayak gini kan Ci?" tanya Caera sambil memperlihatkan hasil gambarnya.
"Iya lumayan mirip," komentar Felicia.
"Gak mungkin!" seru Elyza tak terima, "Kalian pasti sekongkol bukan! Ngaku! Masa gambarnya cepat banget!"
"Astagfirullah Za, Kata ustazah Cia nih ya, gak boleh shouzon dosa," ucap Caera membuat Elyza membuang muka.
"Sini gambarnya!" seru Elyza mengambil kertas tadi dari tangan Caera.
"Udah selesai?" tanya De Luca yang datang bersama Bianca.
"Udah dong liat nih," ucap Elyza melihat kertas tadi pada De Luca.
"Hm, hm bagus, bagus ternyata kamu pandai gambar juga mirip sama yang asli," ucap De Luca.
"Siapa dulu, Elyza gitu loh," ucap Elyza sombong.
"Hei! Itu Cae yang gambar tau!" seru Caera tak terima gambarnya diaku-akui sebagai milik orang lain.
"Eh jadi bukan Ely yang gambar?" tanya De Luca.
"Ya bukanlah! Diakan bisanya duduk di depan komputer doang," ucap Caera yang membuat Elyza menjadi kesal.
"Lalu setelah gambar itu, kini apa?" tanya Bianca sebelum datang perdebatan aneh.
"Liat nih perhatikan baik-baik ini akan diserahkan pada ciptaan Ely, mesin Cercatore accurato," ucap Elyza.
"Ok kau menggunakan bahasa Italia untuk nama ciptaanmu ini? Itu bagus, tapi bukankah benda ini terlalu kecil? Apa guna benda ini?" tanya De Luca.
"Begini benda ini sudah sedemikian rupa aku ciptakan, benda kecil berbentuk powerbank ini berguna untu mencari informasi atau lokasi dengan cepat mudah dan akurat, la-,"
"Gak usah panjang lebar kasih tau kegunaannya sekarang jangan bertelae-tele," potong Felicia datar membuat Elyza mendengus sedangkan Caera menahan tawa.
"Yaudah perhatiin nih gambar yang telah di buat sama Caera tadi kita lipat, kita masukin ke dalam lalu ambil sambungan kabel sambungkan ke handphone," ucap Elyza membuka alat itu karena memang alat tersebut dapat di buka tutup lalu Elyza juga menyambungkan kabel dialat itu pada handphonenya.
"Tunggu lima detik dan plas selesai dan kita mendapatkan dena lokasi pelakunya," ucap Elyza enteng.
"Fercella Lerosa? Di Cortina d'Ampezzo?" tanya Bianca.
"Seperti yang tertera," balas Elyza.
"Semudah ini? Wah aku rasa ini akan jadi hal pertama untuk timku menyelesaikan kasus dengan cepat," ucap De Luca.
"Apalagi yang kalian tunggu ayo pergi!" seru Caera.
"Eza kamu mau ikut?" tanya Felicia.
"Kenapa tidak," jawab Elyza.
"Kalau kayak gitu Kak Bianca sama yang lainnya tinggal aja, Kak De Luca ikut sama kami bertiga," ucap Felicia.
"Kalian hanya akan pergi berempat?" tanya Bianca.
"Ya, Aku harap Kakak bisa mengawasi sekitar, jangan sampai ada musuh dalam selimut," ucap Felicia lalu segera pergi.
...****...
Fercella Lerosa, Cortina d'Ampezzo, Italia.
Suasana sejuk menghampiri mereka hamparan pegunangan juga pohon-pohon hijau di tempat itu menjadi objek wisata alam yang indah, namun mengapa mereka memilih tempat ini?
"Aku tidak yakin jika mereka ada di sini," ucap Caera.
"Tapi menurut mesin pencari milikku mereka ada di sini," ucap Elyza.
"Jadi bagaimana kita akan mencarinya, berjalan kaki atau naik sepeda?" tanya De Luca.
"Bagaiamana jika motor? Selagi saat ini aku sedang memakai baju nyaman," ucap Felicia.
Tak ada yang salah dengan ucapan gadis itu kalau kemarin-kemarin mereka mengunakan seragam khusus milik mereka bertiga yang menggunakan jeket kini mereka memakai baju hitam elastis yang mudah di bawa bergerak di tambah lagi dengan masker keren serba guna yang di ciptakan Elyza.
"Mana mungkin bisa," ucap De Luca.
"Bisa saja," jawab Felicia sambil naik ke motor sport ninja yang canggih dan anehnya walau besar, tingginya sesuai untuknya.
"Jika Kakak bisa cepat itu tak masalah," ucap Elyza yang naik ke motor milik Felicia.
__ADS_1
"Kalau Kakak Gak berani biar Cae aja yang bawa," tawar Caera.
"Emang kamu pandai?" tanya De Luca.
"Hohoho Kakak gak tau aja Kakak baru saja meremehkan orang yang salah," ucap Caera dengan seringai penuh kemisteriusan.
"Cae pelan-pelan Cae!!!" seru De Luca berteriak ngeri.
Bayangkan saja mereka memakai motor itu dengan kecepatan penuh dan lebih parahnya yang memboceng dia kini adalah anak kecil! Kini De Luca tau alasan Tim RL tidak membiarkan ketiga gadis ini berkeliaran sembarangan.
"Sabar Kak Luca sebentar lagi kita sampai kok," ucap Caera sambil menyeringai membelokkan motornya mengarah ke sebuah pohon.
"CAERA KITA NABRAK!!!" teriak De Luca dengan hiteris.
Bunyi gesekan terdengar dan sayangnya itu bukan tabrakaan melainkan motor yang terpakir sempurna di depan pohon.
"Nah selesai," ucap Caera turun dari motor itu dan tersenyum ceria.
"Aku hampir mati," ucap De Luca dengan wajah pucat kesi.
"Kalian lama," ucap Felicia.
"Kalian yang kecepatan!" seru De Luca marah.
"Hal terbodoh mengizinkan seorang bocah mengendari motor dengan kecepatan penuh, aku hampir jantungan! Kalau kalian melakukan itu pada Jiemi tak masalah, namun jangan padaku!" seru De Luca.
"Sudahlah ayo! Aku sudah menemukan tempat mereka," ucap Elyza memandu.
Caera dan Felicia mengikuti Elyza dari belakang mengabaikan De Luca yang ngos-ngosan selain marah ia juga masih takut dengan apa yang baru saja terjadi untuk masih hidup kalau mati?
"Hah, hahahaha," ucap De Luca tertawa tak jelas.
"Ok Kak Luca udah gila," ucap Elyza.
"Gak bisa di pungkiri lagi," tambah Caera.
"Ngapai ketawa gaje gitu? Ayo ikut!" seru Felicia kesal sambil menarik telinga De Luca dengan cara ntah seperti apa, khm secaranyakan tinggi mereka berdua itu beda pakai banget.
(Felicia: "Jangan meremehkanku!")
"Au, au, sakit Fe! Aku bisa jalan sendiri!" seru De Luca meringis kesakitan.
Felicia melepas jewerannya membuat De Luca memegangi telinganya sembari mengusap telinga itu, jeweran Felicia itu gak main-main coi! Kalau gak percaya tanya aja sama Zain.
"Jadi ini tempatnya?" tanya Felicia memandang bangunan yang ada di depannya.
"Eh kita benar-benar sudah sampai?" tanya De Luca heran.
"Tidak buruk," komentar Caera, "tunggu apa lagi ayo kita ma-"
"Eits tunggu kita harus membuat rencana dulu," ucap Elyza menahan baju belakang Caera.
"Untuk apa membuat rencana," ucap Felicia sambil memengang pistolnya, "siap kan senjata anak-anak kita menyerang."
"Siap Bu Bos," ucap Caera hormat sambil memegang senjata andalannya ya mana lagi kalau bukan cambuk.
"Ya ampun kalian ini," ucap Elyza menepuk jidadnya.
"Cae! Itu apaan Cae! Senjata kamu seram banget," ucap De Luca ngeri pada Caera.
"Setuju benar-benar sadis," ucap seorang pria yang berdiri di samping De Luca.
"Ya benar-benar sa- Eh?! Kamu siapa?!" tanya De Luca berseru kaget.
"Oh perkenalkan aku Diky, salam kenal," ucap pria itu sambil tersenyum ramah. Ada yang masih ingat? Kalau gak buka part sebelumnya.
"K-ka-kau! Jangan-jangan kau musuh!" seru De Luca.
"Wow, wow hai kawan jangan berkata seperti itu, kita sama," ucap Diky.
"Hm...? Kau A-02?" tanya Caera sambil memiringkan kepalanya bingung.
"Benar Nona, sepertinya Anda sedikit melupakan saya," ucap Diky.
"Ya begitulah," ucap Caera dengan cuek.
"Wah, wah, lagi-lagi kamu bertindak sendirian, bukan begitu Scarlett," ucap Elyza memandang Felicia dengan kesal.
"Ah, nah Diky jadi bagaimana dengan orang-orang di dalam?" tanya Felicia mengalihkan topik.
"Lumayan banyak!" seru De Luca dan Caera bersamaan.
"Kau gila! lima ratus kau bilamg banyak?!" seru De Luca tak percaya.
"Benar, lima ratus orang itu sedikit!" seru Caera membuat De Luca memandang gadis itu tak percaya sedangkan Diky tergelak.
"Nah, Scarlett mereka semua bukanlah anggota DE namun pasukan bayaran yang di pimpin oleh C-101, C-141, D-306 dan D-414, mungkin saat kalian datang kalian akan disebut masuk ke dalam jebakan mereka," ucap Diky.
"C-141? Alpinolo? Bukankah dia ketua dari sebuah kelompok mafia?" tanya Felicia.
"Anda benar dan kelompoknya tergabung di sini jadi mungkin saja semuanya bukanlah lima ratus namun seribu lebih," ucap Diky.
"Jadi otak dari pencurian ini bisa jadi C-141 atas perintah Master mereka?" tanya Elyza.
"Tepat pada sasaran Nona. Baiklah, tugas saya selesai saya undur diri dulu," ucap Diky lalu menjadi transparan dan menghilang.
De Luca memegang keningnya memastikan apakah dia sakit atau tidak sedangkan Caera menepuk-nepuk pipinya dan Elyza mencubit tangannya sendiri.
"Aku gak mimpi," gumam Elyza sambil sedikit meringis.
"Fe, t-tadi itu manusia bukan ya?" tanya De Luca.
"Hm...? Manusia kok," ucap Felicia kelewatan santai.
"Lalu kenapa dia bisa ngilang gitu!" seru Caera, "oh, atau jangan-jangan dia itu penyihir yang bisa melakukan sihir dan berteleportasi dan jangan-jangan dunia lain yang penuh sihir itu benar adanya, oh, apa dia juga pengguna elementer? Atau jangan-jan-"
"Stop! Berhenti berimajinasi yang bukan-bukan Cae!" seru Elyza.
"Benar, imajinasimu melebihi aku yang menupakan seorang penulis," ucap Felicia.
"Lalu apa maksud semua ini!" seru De Luca.
"Itu hanya bayangan saja, kalian tau itu dari alat yang diciptakannya sendiri jadi jangan kaget jika sesuatu yang aneh terjadi saat bersama Diky," ucap Felicia.
"Wah itu sungguh luar biasa!" seru De Luca.
"Ya, ya bekomentarlah sesuka kalian, untuk Kak Luca hubungi anggota kepolisian yang bekerja di bawah WE, bilang pada mereka hari ini kita akan mendapatkan tangkapan besar," ucap suara Felicia.
"Apa maksudmu dengan tangkapan besar? Dan ngomong-ngomong kenapa suaramu tampak jauh namun jelas terdengar di penghubung suar- eh! Kenapa kalian gerak duluan balik gak cah!" seru De Luca kesal.
"Tenang Kak Luca, Kakak tinggal diam di sana sama Eza karena aku dan Cia bakal menangkap organisasi mafia terkemuka di Italia," ucap suara Caera.
De Luca memandang ke arah Elyza yang awalnya memandang ke layar transparan di depannya beralih pada dirinya.
"Jangan salahkan aku, ini murni tindakan yang biasa di lakukan kedua gadis bar-bar itu," ucap Elyza dengan pandangan datar.
De Luca mengaruk tekuknya yang tak gatal, hm sepertinya lebih baik ia menghubungi komisaris polisi Antonio.
Semetara itu dua gadis bar-bar(kata Elyza)
Felicia dan Caera mengendap-endap memasuki ruangan, keduanya saling pandang berbicara melalui gerak gerik mata.
Caera berjalan terlebih dahulu, orang bodoh akan mengangapnya ceroboh karena berjalan tanpa rencana namun sebenarnya ini merupakan rencana licik yang disiapkan oleh Scarlett.
Caera terjatuh ini bukan di segaja namun ia benar-benar terjatuh, ruangan itu kini menjadi lebih terang, orang-orang bersenjata mengelilinginya.
"Wah lihat ini, bukankah ini penghianat DE, bukan begitu D-01," ucap seorang pria sambil menekan ucapan terakhirnya.
"Wah ini menarik, aku tak menyangka kau yang akan datang," ucap pria lainnya.
"Dan ya kau kini terpojok, kau masuk dalam perangkap," ucap pria itu.
"Maaf yang pertama namaku La Tempesta, yang kedua aku tidak terpojok dan yang ketiga maaf tapi kalianlah yang kini masuk dalam perngkap," ucap Caera tersenyum licik.
"Akh!" seru rintih kesakitan dari seorang pria yang terlempar dan ada di depan mereka.
"C-141!" seru ketiga pria itu bersamaan.
"Bagaimana ya? Hm...? Yang memimpin kalian dengan mudahnya aku habisi apa lagi kalian bertiga, bukan begitu C-101, D-306 dan D-414," ucap Felicia yang ntah sejak kapan duduk di kayu yang berada di atas atap.
Felicia turun dari sana lalu menghampiri Caera."Tinggal lima ratus lagi La Tempesta, kau boleh menghabisinya," ucap Felicia tersenyum di balik maskernya.
"Dengan senang hati Nona, aku serahkan tiga orang yang tersisa padamu," ucap Caera lalu melangkah dan langsung menyerang salah satu orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Ayo bersenang-senang! Lawan aku!" seru Caera membuat yang lain ikut menyerangnya.
"Jadi bagaimana jika kita berdiskusi dengan baik, kalian tau C-141 tidak mau berdiskusi dengan baik denganku," ucap Felicia.
"Mohon maaf Nona, tapi tidak semudah itu," ucap C-101.
"Oh jadi tak semudah itu ya," ucap Felicia membuat ketiga orang itu merinding.
Beberapa menit kemudian....
"Scarlett lihat apa yang aku temukan, tada! kalung permata ruby yang mereka curi," ucap Caera memperlihatkan kalungnya pada Felicia.
"Bagus, sekarang tinggal kalian," ucap Felicia pada keempat orang yang ada di depannya dengan keadaan yang bisa dibilang kritis dengan tangan yang diikat.
"Ok, sidang dimulai tok, tok, tok," ucap Elyza ntah sedari kapan ada di sana.
"Ngagetin tau!" seru Caera yang benar-benar kaget dengan kehadiran gadis itu yang tiba-tiba.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur atau kalian tau sendiri akibatnya," ucap Felicia.
"Khm, baik aku akan katakan, aku Gemini sebagai penokok palunya, Scarlett sebagai hakim dan La Tempesta sebagai ajudannya yang bertugas memberi hukuman," ucap Elyza.
"Ini menarik," ucap Caera mengeluarkan cambuk andalannya.
Splas! Bunyi cambuk di hentakan membuat empat orang yang ada di depan mereka gemetara takut, "Heh, para orang mata duitan, awas kalau kalian berbohong," ucap Caera dengan aura mengerikan.
"Baik jawab pertanyaanku, apa yang di rencanakan DE?" tanya Felicia.
Hening tak ada satupun dari keempat pria itu yang menjawab.
"Jawab! Kenapa kalian diam!" bentak Caera.
"Baik, kalau begitu apa yang kalian tau tentang chip B-08?" tanya Felicia lagi.
Tak ada satupun jawaban, suara pisau yang di gesekan terdengar membuat keempat orang itu menoleh pada Elyza yang kini sedang memegang dua buah belati dengan mata yang menatap tajam.
"Sepertinya menyenangkan jika aku juga menjadi penghukumnya bukan," ucap Elyza dengan mata yang menyipit karena tersenyum.
"Apa yang kalian tau tentang chip itu?!" tanya Felicia sambil mengertak.
"C-chip apa yang k-kalian maksud?" tanya C-141 dengan gemetar takut.
Suara cambuk dihentakan mengema membuat keempat orang itu tambah gemetar ketakutan.
"Wow, jadi kalian pura-pura tak tau ya?" tanya Caera memandang tajam keempat orang itu.
"Kalian tinggal pilih cambuk...," potang Caera.
"Balati," sambung Elyza.
"Atau jantung kalian ditembak pistol?" tanya Felicia.
'Hih ketiga gadis ini mengerikan,' batin keempat pria itu bersamaan.
"Hei! Kenapa kalian diam saja? Jawab!" bentak Caera.
"Ini yang terakhir, apa yang kalian tau tentang chip itu!" seru Felicia menatap tajam mereka berempat.
"C-chip itu di-digunakan untuk mengendalikan setiap orang yang ada, tujuan utamanya mengendalikan dunia dan menghancurkan WE," ucap D-414.
"Tujuannya sama kalau kita menghancurkan DE mereka sebaliknya, tapi kita tak mengunakan cara licik seperti itu," ucap Caera.
"Mengendalikan dunia memang tujuan DE namun, aku ingin tau satu hal yang memperkuat DE, siapa dan apa yang mereka incar?" tanya Felicia.
"Mereka mengincar Ice Mask, Master kami ingin balas dendam padanya," ucap D-306.
"Ice Mask? Kenapa master kalian mengincarnya?" tanya Caera.
"Ntahlah tak ada yang tau pasti namun itu merupakan masalah pribadi Master dan Ice Mask," jawab C-101.
"Masalah pribadi ya," gumam Felicia.
"Lalu apa yang dia incar?" tanya Caera.
"Permata Scarlet dan juga putri pertama keluarga Avram, anak kedua Ice Mask," jawab D-414 membuat ketiga gadis itu membelalakan matanya.
"Hanya itu saja? Apa yang kalian ketahui lagi?" tanya Felicia menetralkan dirinya.
"Satu hal dan ini mengenai B-08," ucap C-101.
"B-08 adalah mantan agen WE," ucap C-141.
"Mantan agen WE!" seru Felicia, Caera dan Elyza kompak.
"Ya ampun ini akan menjadi rumit," ucap Caera.
"Benang kusut tambah menjadi kusut," ucap Elyza.
"Dan aku mengira benang itu akan lurus ternyata tak semudah itu," ucap Felicia.
"Hm...? Nona-nona bisakah kalian membebaskan kami?" tanya D-306.
"Ya benar kami akan berpihak pada kalian," ucap C-141 diangguki D-306, D-414 dan C-101.
"Oh, ya? Tapi maaf kami tak membutuhkan kalian dan selamat mimpi indah," ucap Caera dan tepat saat itu juga keempat pria itu terdiam lalu menutup matanya pingsan.
"Kalian benar-benar bersenang senang-senang," komentar Elyza ketika melihat sekitar dibalas cengegesan dari Caera.
Suara hiruk piuk terdengar membuat ketiga gadis itu menoleh, para pasukan orang-orang muncul dari sana.
"Scarlett," ucap salah satu dari mereka.
"Tangkap mereka semua!" pinta Felicia.
Semua orang-orang itu segera menangkap para pasukan musuh yang telah tumbang sedari tadi.
"Wah, kalian jahat! Kalian bersenang-senang tanpaku!" seru De Luca tak terima.
"Ya, dan kami juga menyelesaikannya dengan cepat, bukan begitu, Kapten?" tanya Felicia sambil memberikan kalung permata pada De Luca dengan tersenyum membuat De Luca juga tersenyum.
"Ya, ayo kembali masih ada jadwal yang harus kalian lakukan bukan?" tanya De Luca.
"Benar!" seru Elyza dan Caera bersamaan membuat De Luca tergelak.
:)
"Kapan-kapan kalian harus ke sini lagi!" seru Bianca pada Felicia, Caera dan Elyza yang ingin menaiki pesawat.
"Benar! Aku akan membawa kalian berkeliling besoknya!" seru Xavery sambil melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa lagi adik-adik!" seru Viola sambil melambaikan tangannya begitu pula dengan Amick.
"Hati-hati di jalan!" seru De Luca sambil tersenyum kecil.
"Bye semua!" seru Elyza.
"Sampai ketemu lagi!" tambah Elyza lalu ketiga gadis itu menaiki pesawat.
Pesawat mereka segera melandas terbang keudara meninggalkan kota Roma yang baru beberapa jam yang lalu mereka tempati, setidaknya masih banyak tempat yang harus mereka tempati selama beberapa hari ini.
"DE, menguasi dunia menggunakan chip dan juga mengancurkan WE, membalas dendam pada ayah, mengincar permata Scarlet dan aku juga B-08 yang pernah menjadi agen WE, semua makin rumit," gumam Felicia tersenyum kecil memandang jendela.
"Tidak! Putriku akan baik-baik saja, dia tak akan melakukan itu!"
"Khaina dengar baik-baik ini demi kebaikannya juga dia pemegang permata Scarlet!
"Kalau begitu kita ke Surabaya jauhkan dia dari ini semua,"
"Khaina...,"
"Aku gak mau kehilangan anakku, sudah cukup saat aku mengandung dia, nyawanya terancam tapi sekarang tidak! Aku ingin dia menjauh! Dia hanya anak biasa!"
"Bunda...," lirih Felicia dengan airmata yang meleleh turun.
^^^Bersambung....^^^
09 Maret 2020
27 Desember 2020
Tinggalkan bintang dan commennya ya walau hanya sekedar semangat saya amat senang.
Kritik dan saran kalian amat di perlukan di sini dan jangan lupa juga shaer pada teman-teman kalian yang lain agar mereka dapat menikmati cerita ini juga.
__ADS_1
Terima kasih semua
Sampai jumpa di part selanjutnya 😊