
Sudah seminggu yang lalu kejadian itu berlalu dan Felicia telah kembali ke rumahnya.
Gadis itu masih suka bermenung, tak ada yang dapat mengetahui isi pikiran kepala gadis itu, tak ada yang membuatnya merasa senang. Felicia merasa kehidupannya ini menjadi hampa padahal tiap hari ia sudah terbiasa mendengar tawa Elyza dan Caera tapi takdir bekata lain.
Bagaimanapun juga ini terlalu berat bagi Felicia, Elyza kini dalam keadaan koma, Caera menghilang, Falih ketua WE Indonesia yang Felicia tau ia ada di Jerman dengan keadaan kritis dan Margaret yang meninggal tertembak peluru juga Asher kedua orang yang sudah dianggap sebagai kakek dan nenek bagi organisasi Huriya itu kini sudah tiada.
Felicia tau di sini bukan ia saja yang bersedih, mungkin yang paling terpukul di sini ialah Razi dan Ryung karena mereka sudah biasa dari dulu dengan keberadaan Asher bukan hanya kedua orang itu tetapi juga Devian, Damian, Arlo, Adrie dan Kenshin.
Felicia sadar, tak hanya dia yang paling sedih di sini. Tapi, tetap saja rasa bersalah menghantui benaknya, ia benci dengan kemampuan yang ia miliki, firasatnya selalu benar dan itu terbukti, mimpinya menjadi kenyataan namun ia tak membayangkan Asher dan Margaret akan tiada bahkan dengan kejadian Caera yang di tembak dan terjatuh dari jendela lantai delapan belas dan menghilang begitu saja.
Ini semua terjadi karena mereka melindunginya, itu yang Felicia tau, dari awalpun Felicia sadar semua yang ada di dekatnya pasti akan dalam bahaya dan itu selalu terbukti, waktu Khaina mengandungnya bukankah bundanya itu dalam bahaya? Jadi sudah jelaskan, ini salahnya.
"Tak ada gunanya bersedih, kau tak ingin mengucapkan salam perpisahan pada Asher dan Margaret?" tanya Neron yang bersandar di pintu kamar Felicia, memandang datar gadis itu.
Neron menghembuskan napasnya kasar lalu berjalan mendekati Felicia, "Kalau kau tak sanggup seharusnya kau tak memaksakan diri," ucap Neron sambil menghapus airmata Felicia.
"Kau tau airmatamu ini berharga, jika permata ini dijual ini akan sangat mahal," ucap Neron memegangi permata yang berasal dari tetesan airmata Felicia.
"Neron...aku sedang tidak ingin bercanda," lirih Felicia.
"Baiklah princess kamu akan tetap di sini?" tanya Neron tak mendapat balasan dari Felicia.
"Rumah ini kini di selimuti awan duka, bahkan awanpun tau akan duka itu," ucap Felicia lirih memandang keluar balkon.
Neron memandang nanar gadis itu ia tau ini berat, bahkan kini Neron merasa kesal pada Daddynya, mungkin kalian berpikir Neron sepantasnya bersedih bukan malah kesal.
Tapi percayalah sebenarnya ini semua tak seluruhnya benar, Falih tak sekritis itu, namun ini semua rencananya agar Elyza dilarikan ke Jerman dan Neron yakin rencana ini juga ada hubungannya dengan Grandpanya juga Elam dan Fariz.
Neron memegang tangan Felicia membawa gadis itu agar berdiri dan memeluk erat dirinya, setidaknya hanya dia yang kini tersisa dari mereka berempat hanya mereka berdua yang tersisa, jika tak ada Elyza pasti Caera yang akan melakukannya dan jika kedua gadis itu tak ada maka giliran Neronlah yang melindunginya.
"Tenanglah kini memang suasana duka menyelimuti tapi setelah ini akan ada kebahagian bukan?" ucap Neron menenangkan gadis itu.
"Cia, kalau kamu bersedih seperti ini semuanya juga bersedih, jadi bagaimana? Kau ikut atau tetap di sini?" tanya Neron.
"Neron aku ikut," lirih Felicia, "aku ingin mengantan Aki dan Nini ketempat terakhir mereka."
Neron tersenyum walau itu hanya senyum getir kesedihan namun ia tetap saja menampakan senyum lembut pada Felicia dan membawa gadis itu.
...*-*-*-*...
Sebulan setelahnya....
Orang ramai berlalu lalang di sekitar ladang bunga, para pelayan banyak yang sibuk mengurusi keperluan pesta.
Felicia melihat ladang yang ada di belakang rumahnya itu, kini gadis itu tampak cantik dibaluti kebaya bewarna biru pucat dan songket juga jilbab yang serasi.
Apalagi dengan wajahnya yang tampak cantik walau tidak mengenakan polesan makeup.
"Kak Cia! Liat Fani cantikkan!" seru Fani dengan baju yang sama seperti Felicia.
"Iya, Fani yang paling cantik," ucap Felicia sambil berjalan menghampiri Fani.
"Masa sih Kak? Cantikan Kak Alana dong! Kakak harus lihat Kak Alana dia cantik pakai baju putih pengantin!" seru Fani dengan ceria.
Dan ya seperti yang Fani bilang tadi hari adalah hari yang spesial apalagi bagi Alana ini adalah hari yang penting baginya dan ialah yang meminta agar acaranya dilaksanakan di ladang bunga tempat mereka sering bermain dulu.
"Kak Cia! Baim gantengkan!" seru Baim datang dengan sombong.
"Gak jelek," ucap Fani datar membuat Baim mendengus kesal.
"Udah gak usah kelahi kalian disuruh turun tuh, acara udah dimulai," ucap Zain yang datang dan merangkul Baim.
"Yaudah, Kak Cia ayo kita kebawah!" seru Fani sambil mengandeng tangan Felicia.
"Fani jangan lupa dengan rencana kita," bisik Felicia pada Fani yang dijawab anggukan serta senyum ceria dari sang adik.
...*-*-*-*...
"Wah Cia cantik ya!" seru Nuri ketika Felicia menghampirinya berserta Alana dan Faiyaz.
"Masa sih? Cantikan Kak Alana, gimana nih penganten baru? Kok kayaknya senang amat," goda Felicia.
"Apa sih Ci," ucap Alana sambil merona membuat mereka sontak tergelak.
"Eh Iya Kak, Mau Cia ramal gak?" tanya Felicia.
"Emang kamu bisa?" tanya Faiyaz.
"Bisa dong kalau gak percaya tanya aja sama dua orang itu," ucap Felicia menunjuk Juna dan Hazzam yang menghampiri mereka.
"Kak benar ya Cia bisa ngeramal?" tanya Nuri.
"Ngeramal apa?" tanya Hazzam balik dengan bingung.
"Oh yang itu ya? Mungkin aja," ucap Juna.
"Ngeramal apaan sih?" tanya Rashin yang ikut bergabung bersama Khaina.
"Nah kalau kalian masih gak percaya tanya aja sama Bunda Cia, iya kan Bunda waktu itu Cia pernah ngeramal Bunda bakal dapat adik kembar," ucap Felicia pada sang Bunda.
"Hm? Iya benar," balas Khaina.
"Wah kalau gitu Kakak mau dong Ci!" seru Alana.
"Nih ya Cia kasih tau, Kakak bakal dapat dua anak cowok satu cewek jaraknya satu, dua, terus pangkal hurufnya All," ucap Felicia.
"All? Kalau diartiin dari inggris semua dong," ucap Juna.
"Kalau Mama gimana Ci?" tanya Rashin.
"Mama nih ya setelah beberapa bulan tepatnya saat Kak Alana ngandung ada anak Mama yang nikah," ucap Felicia.
"Yang mana?" tanya Rashin dijawab tunjukan oleh Felicia yang mengarah ke Juna.
Mereka semua memandang kearah Juna membuat Juna mengerjap sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau yang itu gimana?" tanya Rashin sambil menunjuk Hazzam.
"Susah Ma, kalau dipepet terus dan cepat nikah kemungkinan aja dia dapat anak cowok tapi kalau yang semestinya kembali keawal anak pertamanya cewek," ucap Felicia.
"Akurat gak tuh?" tanya Hazzam.
"Akurat dong! Kalau Fea betul waktu Fea balik kesini lagi traktirin!" seru Felicia.
"Boleh aja, kalau kamu salah bantuin Kakak ngurusin perusahan Rafailah gimana?" tanya Hazzam menantang.
"Deal! Dengan syarat dua bulan setelah Kak Juna giliran Kakak," ucap Felicia.
"Ok deal!" seru Hazzam.
Felicia mengedipkan sebelah matanya pada Rashin yang dibalas acungan jempol oleh Rashin satu hal yang terlintas dipikiran Alana yang melihat itu ini sudah rencanakan.
"Kamu jadi pergi ya Ci?" tanya Tina yang mendengar ucapan Felicia yang akan pergi bahkan orang-orang WE udah tau semua.
"Iya setelah masalah tahun ini selesai," jawab Felicia.
"Nah kalian masih main ramal meramalkan? Gimana kalau kamu ramal apa yang akan terjadi beberapa menit kedepan," ucap Alan yang datang bersama Zain.
__ADS_1
"Fea ramal dalam waktu lima detik kekacauan akan terjadi," ucap Felicia.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, udah lima detik gak terjadi apa-apa tuh," ucap Zain.
"Bunda! Tolongin Fani!" seru suara Fani membuat semua orang menoleh kearah sumber suara.
"Fani!" seru Khaina melihat anak bungsunya itu disekap oleh pria berwajah menyeramkan.
"Beri Nona Avram padaku maka aku akan melepaskan nona kecil ini!" seru pria itu, tanpa di sadari semua orang Felicia tersenyum miring.
"Aku Nona Avram ada masalah?" tanya Felicia.
"Hahaha benar yang dikatakan mereka kau cantik, kenapa kau tak menjadi penghibur di DE saja," ucap Pria itu.
"Bajingan brengsek!" seru Felicia sambil melempar sebuah belati.
Belati itu melaju cepat dan tepat mengenai perut pria tersebut, Fani berlari menuju Felicia.
"Kak Cia! Akting Fani hebatkan! Fani bisa dapat pistolnyakan!" seru Fani.
"Ya kerja bagus Fani," ucap Felicia sambil memberikan sebuah pistol pada Fani.
"Cia! Kamu udah tau semua ini," ucap Zain tak percaya pada adiknya itu.
"Ya dan aku tak menyangka DE benar-benar pengecut!" seru Felicia, "Keluar kalian semua!"
Mendengar seruan Felicia sekelompok pria keluar dari persembunyiannya, mereka mengepung dan membuat para tamu menjadi takut.
Khaina memandang kesekeliling merasa ada yang ganjal, "Dimana Baim!" seru Khaina panik sambil memandang sekitar mencari keberadaan salah satu anaknya itu.
"Bunda!" seru suara Baim membuat Khaina menoleh mendapati anak laki-lakinya itu disekap oleh seorang pria.
Baim memberontak ingin melepaskan diri, sebenarnya ia memberontak tanpa kekuatan semua ini hanya akting belaka sama seperti yang terjadi pada Fani tadi.
"Bang Aim lihat nih Fani dapat pistol!" seru Fani dengan ceria.
"Fani curang!" seru Baim tak terima.
"Bang lihat nih," ucap Fani sambil menembak salah satu orang yang ada di sana.
"Fani! Jangan curang gitu dong! Kak Cia Baim mau!" seru Baim berteriak.
"Udah ah Om! Gue gak mau main-main," ucap Baim langsung menendang pria yang menyekapnya dan membuat ia terlepas, Baim menenju pria itu sampai tersungkut jatuh dan terbatuk darah lalu Baim segera berlari pergi.
"Akting kamu jelek Im," komentar Felicia.
"Ini salah Fani nih! Kak Ci Baim mau pistol juga," rengek Baim.
"Yaudah deh karena udah mancing mereka nih untuk kamu," ucap Felicia sambil memberikan pistol pada Baim.
"Ternyata bukan hanya Nona Felicia yang ahli bersenjata tetapi adik-adiknya juga, keluarga Avram memang luar biasa ya," ucap pria berkode B-04.
"Felicia Amira Lashira Avram Abraqy Ishan, tiga nama keluarga besar kau sandang, benar-benar hebat," ucap seorang pria dengan kode A-02.
"Terima kasih atas pujiannya tuan tetapi saya tak bisa meladeni kalian saat ini, dimana B-08!" seru Felicia.
"Kenapa kau mencarinya ketika aku ingin berhadapan denganmu?" tanya B-04 menyeringai.
Suara letukan pistol berbunyi tanpa di duga-duga sebuah peluru melesat cepat mengenai bahu B-04.
"Yah kan Abang jadi kenak bahunya, padahal Fani mau ngenain dada kirinya," ucap Fani dengan kecewa.
"Fan lo nyeremin," ucap Baim memandang horor adiknya itu.
"Terserah deh coba Abang aja bisa gak?" tanya Fani menantang.
"Bacot Om! Fani lagi diskusih nih sama Bang Baim!" seru Fani kesal.
B-04 mengeram kesal dua peluru mengenainya dan itu oleh anak kecil yang bahkan belum memasuki masa remaja.
"Lemah! Kalian bisa kalah dengan anak kecil!" seru seorag pria bertubuh gepuk dari kerumunan tamu.
"E-01? Kode baru?" tanya Felicia remeh membuat pria itu emosi.
"Kenapa kalian hanya diam? Serang gadis itu!" seru E-01 membuat kolompok pria itu menyerang.
"Maaf ya aku lagi gak ada waktu ngeladanin kalian, Kak Alan," panggil Felicia membuat Alan menoleh.
"Aman Ci, semua bisa dikendalikan kok Zaeem sama yang lain bisa bantu kamu pergi aja," ucap Alan yang memegang senjata ditangannya sedangkan Zaeem, Ray, Rafan dan Abil lebih dahulu menyerang.
"Ini lebih seru dari tauran!" seru Zaeem.
"Kak Tama, Kak Alana maaf ngancurin acara kalian," ucap Felicia pada kedua pengantin itu.
"Gak masalah Ci, santai aja, lagian ini bakal jadi kenangan indah," ucap Tama memberikan pistol pada istrinya.
"Mas...tau aja deh! Di sini aman Ci!" seru Alana dengan ceria bahkan ia mulai menyerang musuh.
Felicia mengelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu segera berlari pergi.
"Akhirnya senyum itu terbit walau senyum pembalasan yang keluar," gumam Neron sambil ikut menyerang.
...*-*-*-*...
Derap langkah kaki yang berlari cepat terdengar, suasana didalam rumah tampak sunyi, semua orang sibuk mengatasi kerusuhan yang ada diluar.
"Mencari sesuatu B-08?" tanya Felicia yang melipat tangannya sambil bersandar kedinding memandang tajam B-08.
Derap langkah kaki tersebut terhenti, pria itu, B-08 memandang tajam Felicia yang dibalas pandangan yang tak kalah tajam oleh gadis itu.
"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Felicia dengan dingin.
"Membunuhmu, apa lagi?" tanya B-08 sambil menyeringai jahat.
Felicia melaju cepat tak ada yang dapat membaca pergerakan gadis itu, dalam sekejap mata B-08 terjatuh, Felicia membuat pria itu tak bisa bergerak dan duduk diatas pria tersebut sambil menyodongkan belati kelehernya.
"B-08, jawab pertanyaanku dengan serius, dimana Caera? Dimana kau sembunyikan adikmu?" tanya Felicia dengan dingin walau raut kesedihan itu terlihat jelas diwajahnya.
"Kukira kau tau, apa mereka tak memberitaumu?" tanya B-08 memandang nanar Felicia.
"Nada aku kembalikan ke Italia, ke keluarga Laronza, aku tak akan membiarkannya berhubungan dengan DE bahkan meletakkannya dalam bahaya," ucap B-08.
"K-kau sebenarnya tidak berpihak pada DE bukan?" tanya Felicia.
"Menurutmu? Apa aku akan benar-benar berpihak pada orang yang membunuh orangtuaku?" tanya B-08.
B-08 mengerakkan tangannya ia mendorong Felicia kesamping.
"K-kau bagaimana bisa?" tanya Felicia tak percaya, jurus pelumpuh tubuh sementaranya dihancurkan semudah itu.
"Kau menang aku kalah, aku menyerah," ucap B-08.
"Aku berterimakasih padamu, berkat bantuan dari permatamu Nada bisa selamat walau ia tertembak," ucap B-08.
"Aku akan memberitaumu rencana yang aku dengar, mereka ingin membunuhmu," ucap B-08.
"Setelah rencana tentang chip itu gagal mereka akan membuat sebuah benda dengan tujuan yang sama yaitu mengendalikan manusia, mereka akan membuat sebuah aplikasi untuk mempengaruhi para pelajar dan memihak mereka dan jika itu berhasil mereka juga akan dapat dengan mudah mengambil permata Scarlet," ucap B-08.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak berpihak pada mereka?" tanya Felicia memandang lekat B-08.
"Sudah aku katakan aku tidak memihak mereka, satuhal lagi yang ingin ku beritahukan padamu rencana mereka tidak akan sempurna tanpa ada permata dari airmatamu itu mereka belum mengetahui hal ini," ucap B-08.
"Hah, hahahaha jadi hanya seperti ini saja? Ini, i-ini, ini menyebalkan!" seru Felicia kesal.
"Ini tidak berakhir begitu saja," ucap B-08 membuat Felicia menoleh padanya.
Pria itu masih berguling dilantai memandangi langit-langit ruang tengah itu.
"Bisakah kau menolongku?" tanya B-08.
"Ya?" tanya Felicia balik.
Felicia menyerengit dahinya bingung sambil memandangi pria itu, B-08 tersenyum ia memangangi tangan Felicia yang masih memegang belatih.
"Apa yang kau lakukan!" seru Felicia saat pria itu mengarahkan belati yang dipegang Felicia kearah perutnya dan menusuk dirinya.
"Akh- ini lebih baik, kau akan menolongkukan? Tolong aku, tusuk diriku, tolong bantu aku melepaskan seluruh dosa yang aku lakukan, aku mohon," mohon B-08.
"Aku ti-"
"Ini permohonanku, anggap saja aku pelampiasanmu karena DE," ucap B-08.
Felicia memejamkan matanya ia menarik belati itu dari B-08 lalu menusukkannya kembali, rintih kesakitan terdengar dari B-08, perlahan airmata keluar dari Felicia, ia terus menusuk-nusuk B-08 lagipula ini permintaan pria itu bukan.
"Ami apa kabar?" tanya seorang pria berseragam SMA pada seorang gadis kecil, ingatan itu kembali berputar.
"Baik,"
"Ami coba tebak Kak Andri bawa siapa?"
"Siapa kak!?"
"Kakak bawa adik Kakak, ini Nada, Nada kenalin ini Ami,"
"Nada! Kamu cantik!"
"Makasih, oh! Berarti Ami dapat teman baru dong! Bunda Cia dapat teman baru! Bunda!"
"Senang banget deh ya!"
"Iya dong! Makasih Kak Andri Kakak yang terbaik!"
"Gak usah terimakasih segala lagian Ami udah kayak adik Kakak sendiri, Kakak sayang Ami,"
"Ami juga sayang Kakak!"
Felicia berhenti menusukan belati itu pada B-08 ia membuang belati itu kesembarang arah.
"Kak Andri," lirih Felicia dengan airmata yang membasahi dirinya.
"Hapus airmata kamu, perjalanan kamu masih panjang, k-kalahkan D-DE," ucap B-08 tidak tetapi Andrian dengan terbata.
Pria itu mengangkat tangannya ia menghapus airmata Felicia, Andrian berusaha menjaga kesadaran namun tetap rasa sakit yang ia rasakan ia tak bisa menahan itu, sekuat apapun ia menahan agar tak tertidur pada akhirnya matanya terkatup.
"Kak Andri! Hiks...Akh!" teriak Felicia sambil merau keras.
Elam, Zain, Khaina, Neron, Fani, Baim dan yang lainnya memasuki ruangan itu memandang nanar pada Felicia, tangisannya terdengar memilukan hati.
Tangan gadis itu dipenuhi darah, pakainnya terkena percikan darah, air mata tak berhenti membanjiri.
Elam mendekat sambil memeluk putrinya itu, Felicia meraung keras ia mencengram kuat baju sang Ayah.
Tak ada yang kuat melihat pemandangan itu airmata yang ditahan semua orang selama sebulan itu tumpah saat melihat Felicia menangis.
Juna memandang pada anak buahnya ia memberi kode agar mengangkut Andrian untuk segera mendapatkan perawatan.
Seminggu setelahnya....
Angin sepoi-sepoi berhembus menyejukkan hati, bunga-bunga yang bermekaran bagai menari karena tertiup angin.
Neron menutup matanya bersandar di sebuah pohon ia membuka matanya tak kala merasakan ada yang duduk di sampingnya.
Ia menoleh mendapati Felicia yang duduk sambil memandang lurus ke padang bunga.
"Aku egois ya?" tanya Felicia.
"Kenapa?" tanya Neron balik.
"Padahal bukan hanya aku saja bersedih tapi juga semuanya, tapi aku malah suka seenaknya begini," ucap Felicia.
Neron terdiam tak mengatakan apapun, ia menyandarkan Felicia kedirinya membuat gadis itu tersentak, namun Felicia tak memberontak sedikitpun, ia merasa nyaman.
"Tak ada salahnya egois bukan?" tanya Neron sambil mengelus lembut kepala Felicia.
"Tapi tetap saja, seperti contohnya kau, bukannya Om Falih kini sedang kritis? Pasti kau sangat sedih bukan?" tanya Felicia.
"Daddyku? Apa yang kritis darinya? Kini saja ia sedang berada ditempat Grandma beristirahat, dia baik-baik saja tinggal menunggu luka di perutnya pulih, bukankah di sini patutnya aku menanyaimu?" tanya Neron membuat Felicia bingung.
"Aku memang tak tau bagaimana kau selama setahun ini berada di sini bagaimana hari-harimu selama ini aku tak tau karena kita baru bertemu enam bulan lalu dan saat itupun banyak hal yang berhubungan dengan bahaya," ucap Neron.
"Jujur saja aku merasa senang, aku tak pernah merasa sebebas ini, kau, kau yang pertama membuatku begini, aku kagum padamu, kau kuat, kau selalu menyembunyikan semuanya, kau tau semuanya, kau kuat namun di sisi lain kau juga lemah, namun kau dapat menyembunyikan kekuranganmu itu," lanjut Neron.
"Kau boleh menangis, meraulah sesukamu waktu seminggu yang lalu itu tak cukup untuk melepas kesalmu bukan? Maka meraulah, aku akan selalu ada melindungimu," ucap Neron membuat Felicia terisak.
"Neron...b-boleh aku memanggilmu dengan sebutan kakak?" tanya Felicia agak terisak.
"Tentu saja, kau adikku, adik kecilku yang berharga," ucap Neron.
"Kakak...hiks...hiks...huhuhu...hiks! Hua!" raung Felicia.
Raungan Felicia terdengar pilu, Neron merasakannnya. Neron membawa Felicia agar duduk dipangkuannya ia memeluk gadis itu dengan erat dan dibalas dengan pelukan yang tak kalah eratnya oleh Felicia.
Untuk sesaat ini biarkanlah Felicia, Biarkan Felicia menangis, melepaskan segala kesedihan hatinya dan melihatkan betapa lemahnya dirinya.
Dan untuk kali ini apa ini bisa dianggap selesai? Sepertinya begitu bukan.
Raungan pilu dari sang detektif kecil, pengorbanan yang dilakukan oleh orang terdekat, kepiluan yang dirasakaan, mahkota putih yang melekat.
Permainan 1 : si priskopat gila B-08 kasus satu selesai.
...The Little Detective ...
...Book 1 ...
...Completed ...
...******---------------******...
08 April 2020
27 Desember 2020
Benar-benar selesai di sini ya.
Gimana menurut kalian? Jangan lupa vote dan komen.
__ADS_1