The Little Detective

The Little Detective
Part 23 : Maskes Women (3)


__ADS_3

Matahari terik menyinari, hutan itu tampak sunyi namun di dalamnya terdapat darah di tanah serta di salah satu pohon yang telah mengering.


"Wanita bar-bar dalam seminggu dia membunuh 10 orang," gerutu Alan kesal sambil memeriksa hutan itu.


"Gak usah ngerutu gitu, cari aja cepat!" pinta Elyza.


"Iya gue aja yang di suruh tuh yang itu gak?" tanya Alan sambil menunjuk Felicia yang sedang duduk dengan santai.


"Yang itu biarin aja cari aja cepat jangan-jangan ada barang bukti yang tertinggal," ucap Elyza.


"herah deh sama tuh anak gak ada kerja tapi dia yang selalu mecahin kasus," gerutu Alan.


"Yaiyalah kan akunya punya otak encer," ucap Felicia karena mendengar gerutuan Alan, "lagian ini Fe juga bantu."


"Bantu apa lo emang!" seru Alan.


"Bantu mikir," balas Felicia dengan polos.


"Tau ah," ucap Alan kesal.


"Fe gue nemuin pisau nih kayaknya ini senjata awal yang dia gunain," ucap Elyza.


"Iya sih mungkin bisa jadi," ucap Felicia.


"Fe! Gue nemu darah berceceran di dalam sama tubuh yang membusuk!" teriak Alan yang suaranya menjauh.


"Lah dari kapan tuh orang masuk kedalam?!" tanya Elyza berseru heran.


Felicia hanya diam berdiri lalu pergi berjalan lebih masuk ke dalam hutan itu diikuti Elyza.


"Hm...kayaknya ini udah empat harian deh," ucap Alan.


"Eh, ini bukannya orang yang menghilang empat hari yang lalu?" heran Elyza.


"Berarti jangan-jangan orang yang selama ini hilang terbunuh, 10 orang hilang dan kita hanya menemukan 2 mayat di tambah ini tiga," ucap Elyza.


"Makanya gue bilang tadi si Masked Women itu wanita bar-bar karena pasti semua orang yang hilang itu udah kebunuh," ucap Alan.


"Hm...hutan ini perlu di terusuri lebih dalam," ucap Felicia.


"Penjahat selalu kembali ke Tkp apa itu benar?" ucap Felicia sambil tersenyum miring.


"Ayo kita pergi biar tim Kak Juna dan tim Kak Ezra aja yang beresin kita nyelidiki Tkp yang lain!" ajak Felicia.


Ketiganya segera pergi keluar dari hutan itu dan menuju tempat selanjutnya, hotel Skylight grup.


Tak terasa hari sudah semakin larut, masion mewah yang sekilas tampak menyeramkan itu membawa hawa yang sangat tak mengenakan.


"Hm...sangat cerdas untuk anak seumuran mereka. Blue Dragon Ice? Orang baru?" tanya pria tersebut.


"Tidak juga, dia adik Blue Fire," balas pria lainnya dengan hormat.


"Tuan muda Rafailah? Menarik, sepertinya kedepannya kita punya lawan yang menyenangkan," ucap pria itu tersenyum miring, "A-01 apa kau telah tau identitas asli Scarlett?"


"Belum Master! Gadis itu sangat berhati-hati dan misterius tapi waktu mendapati mayat korban dari rencana B-08 ia tepat berada di sekolah itu," ucap pria tadi yang tak lain dan tiada bukan adalah A-01.


"Sekolah mana?" tanya pria satu lagi sang master.


"SMP Merah Putih," jawab A-01.


"Lalu Gemini?" tanya sang master lagi.


"Elyza F. Arbie Abqary," jawab A-01.


"Hm...putri Fariz Arbie Abraqy? Hahahaha ini benar-benar menyenangkan!" seru sang Master.


"Kalau dugaanku benar Scarlett adalah putri pertama, anak kedua keluarga Avram yang selama ini masih misterius, cucu ke-4 Abqary sekaligus cucu dari ishan, anak dari saudaraku dan wanita itu," ucap sang master dengan senyum liciknya.


"Hahahahaha Scarlett aku tunggu permainan balik dari mu!" seru sang master.


Tawa jahat mengema di ruangan itu yang membuat siapa saja yang mendengar pasti akan merinding ketakutan, tawa dengan hasrat balas dendam yang dalam.


Di sisi lain, mata tajam nyalang penuh dendam itu menatap orang yang ketakutan di depannya.


Senyum miring yang kejam itu terlihat di wajahnya. "Apa kata-kata terakhir lo?!"


"Gu-Gue mohon bebaskan gue," mohon pria itu dengan takut.


Seakan tak mempedulikan permohonan itu, kapak yang di pegangnya ia ayunkan lalu dengan cepat dia membelah tubuh pria itu.


"Arg!! Maafin gue!! Ark! AAAAA,"


Bau amis darah tercium, darah berceceran di mana-mana tubuh pria itu terbelah menjadi dua, organ dalamnya terlihat.


"Ck, dasar lemah," decihnya, " jadi Scarlett gimana lo akan menangani ini Hahahahaha!"


...****...


"Fajar mulai menampakan diri, burung bernyayi dengan merdunya, cahaya menerobos masuk membuat mata terlalelap terbangun dan kasus yang kita hadapi belum juga selesai," ucap Ezra.


"Udah Zra gak usah puitis lo!" seru Ezar bosan.


"Ya tapikan gue benar liat aja 10 orang yang hilang ternyata terbunuh dan ada di hutan yang sama," ucap Ezra.


"Iya juga sih," ucap Ezar menbenarkan.


"Woi hosh...hosh...a-ada k-kabar burung eh buruk maksudnya," ucap Ryon datang dengan napas ngos-ngosan.


"Ok Ry, tarik napas, hembuskan tarik nalas, hembus lagi," ucap Hanif memberi intruksi pada Ryon yang langsung dilaksanakan oleh pria itu


"Jadi, ada apa?" tanya Faraz yang memang sudah berada di ruangan itu.


"Ya gue haus," ucap Ryon.


"Gak nyambung woi! Maksudnya tuh kabar buruknya apaan!" seru El yang jadi kesal.


"Kalau yang itu gue juga tau, tapi gue haus ambilin minum dong!" pinta Ryon membuat teman-temannya yang ada di ruang itu menjadi kesal.


"Nih, cepatan gue juga mau tau kabarnya apa!" kesal Arman sambil memberikan minum pada Ryon.


Ryon langsung meneguk habis air yang di berikan oleh Arman.


"Jadi kabar buruknya...ADA KORBAN LAGI!" teriak Ryon heboh.


"Korban lagi?" tanya Ezra.


"Iya," bukan Ryon yang menjawab melainkan Ersya atau di part sebelumnya memperkenalkan diri sebagai Winter Fox.


"Lebih ganas, kali ini membelah tubuh korbar menggunakan kapak," ucap Erland yang baru datang.


"bukannya yang kemarin-kemarin juga makai kapak ya?" heran Farzan yang muncul kemarin dengan nama Bl4ck x {ingat? Kalau gak baca kembali part 22 : Masked Women (2)}


"Wanita itu menyeramkan," ucap Hanif mengelidik ngeri.

__ADS_1


"Hai, hai semua Felicia datang!" seru Felicia datang dengan ceria bersama Elyza.


"Lah kalian kenapa?" heran Elyza melihat wajah orang-orang yang ada di dalam ruangan.


"Fe...," lirih Dyra.


"Kenapa?" tanya Felicia.


"Ada korban lagi," ucap Nara dengan suara agak kecil.


"Hah? Korban lagi? Oh ada korban lagi," ucap Felicia santai.


"Fe, ini ada korban kok lo santai banget sih!" seru Erland jadi kesal.


"Dan parahnya tubuhnya di belah pakai kapak!" kesal Dylan.


"Ya terus, masalahnya?" kali ini Elyza yang bertanya dengan santai setelah mendengar itu semua.


"Ya Allah, hei bocah! ini ada korban baru! Ada nyawa melayang, kok kalian santai aja," ucap Faraz jadi heran dengan tingkah laku mereka.


"Ya kan Kakak udah kasih tau tadi," balas Felicia masih dengan santainya.


"Lo udah memperkirakan ini," ucap Arman angkat suara.


"Bahwa selanjutnya ada korban lagi dan itu terjadi di tempat yang sama," kini Juna yang angkat suara.


"Prff hahaha, Fe jadi maklum kenapa kalian di suruh dua tim ngenjalanin ini," ucap Felicia sambil tertawa.


"Iya sih diantara banyaknya anggota masa dua orang aja yang nyadar," tambah Elyza sambil mengelengkan kepalanya.


"Tapi, ini terjadi di hutan itu ya? Ternyata benarkan penjahat selalu kembali ke Tkp tapi masalahnya sekarang penjahat itu kembali ke Tkp untuk melakukan kejahatan lagi," ucap Felicia.


"Tugas kalian kali ini satu periksa Tkp, untuk Kak Arman, Kak Vina, Kak Dyra dan Kak Rezfan kalian meriksa data yang nanti di kirim Elyza," ucap Felicia.


"Kak Ara, Kak Nara, Kak putri sama Kak Dylan tinggal di sini," ucap Elyza.


"Dan selebihnya kecuali orang yang di bilang tadi pencah menjadi 3 kelompok karena kalian akan meriksa 3 Tkp sekaligus walau udah pernah Fea periksa sih," ucap Felicia.


Dengan patuh mereka semua menuruti intruksi dari kedua gadis itu.


"Apa rencana lo selanjutnya?" tanya Dylan pada Felicia.


"Entahlah, yang pasti kita harus meriksa data-datanya dahulu," ucap Felicia.


Detik menjadi menit dan menit menjadi jam, tak terasa kini telah dua jam berlalu. Arman, Vina, Dyra dan Rezfan masih setia di depan laptop mereka masing-masing memeriksa data yang telah di berikan oleh Elyza sebelumnya.


Sedangkan Felicia dengan santai duduk di sofa sambil memainkan handphonenya dan juga memakan cemilannya tak jauh beda dengan Felicia Elyza juga melakukan hal yang sama seperti sepupunya itu.


Beda dengan Dylan yang tidur juga Ara yang memainkan handphonenya serta Nara dan Putri yang sedang berbincang -bincang.


"Fe! kabar baik!" seru Arman membuat yang ada di ruangan itu menoleh padanya.


"Apa?" tanya Felicia.


"Setelah data tentang korban gue periksa ternyata mereka semua ada hubungan. Ardi (52), Eri (50), Alsha (17), Citra (23), Pandra (18) juga Gilbi (25), mereka adalah satu keluarga. Jingga (49), Amir (52) dan Siska (24) mereka juga satu keluarga dan Damian(24) juga Friska (24) mereka berdua adalah sepasang kekasih," ucap Arman memberitau.


"Dan Jingga juga Eri merupakan kakak beradik," tambahnya lagi.


"Yang satu kakak beradik beserta keluarganya sedangkan yang satu lagi adalah sepasang kekasih," ucap Dylan masih dengan mata tertutup.


"Siapa yang ngelaporin hilangnya mereka?" tanya Ara.


"Dua orang yang melapor Darla keponakan Jingga dan Eri juga Ella teman Friska," jawab Dyra.


"Oh, Ci aku ingat saat menemukan tangan korban kemarin sekilas aku ngelihat bekas luka bukan hanya di tangan tapi di tubuh Friska juga Damian," ucap Elyza.


"Ya Allah Eza! itu bukti penting ngapain dilupain sih!" teriak Felicia kesal.


"Ehm, ya maaf lagain akukan juga manusia bisa lupa dan khilaf," balas Elyza.


"Tau ah," ucap Felicia kesal.


"Kalau memang ada bekas luka berarti korban sempat di siksa selama beberapa hari," ucap Dylan memberi alibi.


"4 hari lalu setelahnya kita baru menemukan mayat korban, berarti selama 4 hari mereka di siksa!" seru Putri.


"Dan bisa jadi waktu sebelum mereka terbunuh mereka sempat kabur," ucap Ara menambah.


"Ok, kali ini ada beberapa tempat yang harus kita ketahui, tempat Damian dan Friska di siksa dan tempat terakhir korban berada," ucap Felicia.


"Kita butuh informasi tambahan," tambah Elyza.


"Ya tentu," balas Felicia.


"Ok, cukup Fea sama Eza pergi dulu kalau yang lain udah kembali kasih tau informasi yang mereka dapat ke Fea ya!" seru Felicia lalu berjalan pergi.


"Bye Kakak-Kakak," ucap Elyza mengikuti Felicia meninggalkan Arman, Vina, Dyra, Rezfan, Dylan, Ara, Nara dan Putri yang cengong.


"Eza hari ini bilang kamu izin nginap di rumah aku," ucap Felicia ketika mereka di mobil menuju jalan pulang.


"Hn kenapa?" tanya Elyza.


"Malam nanti diam-diam kita kehutan itu, mengintai apa dugaan kita benar," jawab Felicia.


"Berdua?" tanya Elyza lagi.


"Gak sama yang lain juga," ucap Felicia lalu diam memandangi luar jendela.


'Penjahan selalu kembali ke Tkp kalau iya pasti dia akan kembali beraksi ke hutan itu kan?' batinnya.


...****...


Pukul 23:00 WIB


"Za buruan Ayah, Bunda, Bang Zain, Fani dan Baim pasti udah tidur, ayo Kak Arsen udah nunggu di depan," ucap Felicia membangunkan Elyza yang telah terlelap.


"Hm...." gumam Elyza tak jelas.


"Jam berapa?" tanyanya sambil mengusap matanya.


"Sebelas pas ayo buruan," ucap Felicia menarik sepupunya itu agar bangkit berdiri.


"Fe kita lewat pintu atau balkon?" tanya Elyza yang telah mengumpulkan kesadarannya juga memakai baju khas milik Gemini.


"Lewat pintu sama aja dengan bunuh diri, pasti ketahuan pelayan dan kalau lewat balkon ada penjaga yang selalu patroli mana mungkin kita bisa keluar," balas Felicia sambil memasang jaketnya.


"Terus? Kita lewat mana?" tanya Elyza.


"Lewat sini dong! Bukan Felicia kalau gak punya ide dan bukan Scarlett kalau gak punya rencana," ucap Felicia sambil menekan suatu tombol membuat lemari bukunya berbalik menampilkan tempat duduk berupa sebuah sofa yang muat untuk 5 orang.


"Jadi di balik sana ada ruang rahasia? Ayah kamu yang buat?" tanya Elyza.


"Yang pasti bukan," jawab Felicia sambil duduk di sofa tadi, lalu menepuk sofa di sebelahnya, "Ayo Nona kita pergi jangan biarkan yang lain menunggu dan jangan biarkan petunjuk baru hilang begitu saja.

__ADS_1


Felicia tersenyum membuat Elyza ikut tersenyum lalu duduk di sampingnya."Ya, ayo karena ada kasus menyenangkan yang menunggu kita!"


Kembali Sofa itu berbalik di ganti dengan lemari buku dan Felicia dan Elyza yang kini telah berubah tempat.


"Wah aku gak tau ada tempat kayak gini," ucap Elyza membuat Felicia agak terkekeh.


"Ini tempat santai aku waktu pusing mikirin dokumen atau waktu buat cerita kamu tau kerja sampingan akukan menjadi penulis," ucap Felicia.


"Ya tentu saja, juga dengan orang yang memiliki banyak julukan," balas Elyza.


Elyza masih memandangi ruangan itu. Sofa nyaman, rak buku kecil, meja menulis bahkan ada dapur juga jendela dengan pemandangan indah, kok bisa ya?


"Ok, Nona Abqary sudah cukup mengagumi tempatku karena saat ini kita memiliki kasus penting jikalau kau lupa," ucap Felicia.


Elyza mengalihkan pandanganya pada Felicia yang kini sedang berada di depan pintu yang ia yakini sebagai tempat keluar.


Elyza mengkuti Felicia dari belakang selang beberapa menit mereka setelah menaiki tangga yang tampak tua namun elegan mereka sampai di sebuah pintu yang sama elegannya dengan di hiasi tumbuhan palsu yang tampak nyata.


Saat mereka keluar mereka telah di sambut dengan padang bunga indah persis seperti pemandangan dari jendela ruangan Felicia tadi.


"Ini di mana?" tanya Elyza.


"Tempat favorit kita waktu kecil, kamu lupa?" tanya Felicia.


"Oh ini padang bunga yang sering kamu sama Kak Alan datangin kan!" seru Elyza.


"Hehehe ingat juga tapi betul sih aku sering ke sini sama Kak Alan," balas Felicia.


"Tapi kita gak punya waktu untuk mengenang itu kini, ayo mereka telah menunggu di depan," ajak Felicia membuat Elyza mengangguk dan mengikuti sepupunya itu.


"Lama amat kalian!" kesal Arsen yang berada di dalam mobil.


"Ya Maaf kami harus ke luar tanpa ketahuan tadi," balas Felicia.


"Yaudah kalau gitu ayo Alan sama yang lain udah nunggu di hutan," ucap Atha lalu mobil mereka segera berjalan pergi.


Sesampainya di hutan terlihat Alan, Bima, Dino dan Fiana yang telah menunggu.


"Udah lengkap kan?" tanya Felicia, diangguki oleh semuanya.


"Ok kalau gitu ayo kita mencar, cari petunjuk kalau ada yang nemuin kasih tau," ucap Felicia memberi intruksi.


Felicia dengan Elyza telah lebih dahulu pergi lalu Alan dan Dino juga begitu, Bima dan Fiana juga telah pergi dan terakhir Arsen dan Atha, mereka berdelapan sama-sama berpencar.


"Masih jam 11.57 tiga menit lagi," gumam Felicia.


"Fe, kita masuk lebih dalam ke hutan?" tanya Elyza.


"Gak sini aja coba periksa tab kamu liat ada pergerakan atau gak," pinta Felicia segera dituruti oleh Elyza.


"TOLONG!!!" seruan teriakan minta tolong menggema membuat Felicia dan Elyza menoleh kaget.


"Za ayo! Cari sumber suaranya!" seru Felicia.


Lalu dengan cepat mereka pergi berlari menuju sumber suara teriakan itu terdengar.


Setelah mereka tiba, Felicia dan Elyza bersembunyi di balik semak-semak.


"Masked Women!" seru berbisik Elyza agar tidak ketahuan.


Ya, benar mereka bertemu dengan wanita yang memalai topeng juga seorang pria yang ketakutan.


"T-Tolong bebaskan gue!" seru pria itu takut.


"Gak semudah itu," balas Masked Women sambil tersenyum prikopat, "Tapi ok, gue akan bebaskan lo, setelah lo mati!"


Setelahnya Masked Women segera mengacungkan pisau hendak menusuk pria itu bertepatan dengan bunyi letukan pistol yang berbunyi.


Masked Women segera menoleh menemukan Felicia yang memegang pistol dan Elyza yang berada di belakangnya.


"Hahahahaha gue gak nyangka ternyata Scarlett ada di sini!" serunya sambil tertawa jahat.


Masked Women memandang nyalang Felicia lalu berlari kearah Felicia sambil menyerang dengan pisaunya, namun, itu dapat dengan mudah di tangkis Felicia.


Pertarungan antara keduanya sudah berlangsung cukup lama dan selama itu pula Felicia tetap menangkis setiap serangan Masked Women yang di beri oleh wanita bertopeng itu.


"Scarlett!" seru Alan dan yang lainnya datang setelah Elyza menghubungi mereka.


"Ck, ternyata lo bawa pasukan!" seru Masked Women.


Wanita itu menghentikan serangannya lalu berlari mengambil kapak di semak-semak.


"Ok, Scarlett main-mainnya kita sudahin dulu ya!" seru Masked Women.


Lalu dengan cepat kapak itu di ayunkan dan membelah pria yang ketakuan.


Teriakan pilu kesakitan terdengar darahnya berceceran di mana-mana Felicia, Elyza, Atha, Fiana, Bima, Arsen dan Dino membulatkan mata mereka tak percaya. Wanita yang mereka hadapi ini benar-benar priskopat.


"Tadinya aku ingin membunuhnya dengan halus, tapi kalian datang terpaksa pakai cara ini deh," ucap Masked Women dengan santai.


"Lo!!" teriak marah Felicia sambil ingin menyerang Masked Women, senjata yang ia pegang mengenai bahu wanita bertopeng itu membuat darahnya mengalir keluar namun itu tidaklah terlalu parah karena ia sempat menghindar.


"Uh lumayan sakit juga, tapi udah ya untuk saat ini, gue pergi dulu bye Scarlett, Gemini, Blue Dragon Ice dan yang lainnya," ucap Masked Women lalu wanita itu segera pergi dengan cepat dan menghilang.


"Sial!" seru Elyza marah.


"B-08 permainan yang menyenangkan, tapi cukup dengan semuan ini gue gak mau ada nyawa yang hilang lagi!" emosi Felicia dengan gumaman.


"Eza, telpon Markas minta mereka membereskan yang ini!" pintah Felicia.


"Ayo kita pulang!" seru Elyza dengan dingin sambil mengepal tangannya.


Alan dan yang lain hanya diam melihat Felicia, mereka tau apa yang di rasakan gadis itu pasti sangat sakit ketika dia gagal melindungi pria tadi yang taruhannya adalah nyawa.


Tak ada yang tau tujuan dari permainan kali ini hingga mereka menghabisi banyak nyawa, tak ada yang tau tujuan dan siapa Masked Women itu sebenarnya dan begitulah pagi itu berakhir dengan teka teki misteri dan kekejaman penjahat.


^^^Bersambung....^^^


25 November 2019


Assalamualaikum Wr. Wb


Hai semua apa kabar? Moga-moga baik-baik aja dan sehat selalu ya amin


jangan lupa beri like dan komentarnya ya, terimakasih semuanya


Wassalamualaikum Wr. Wb


Salam semua


🤗🤗🤗


🖋️🖋️🖋️

__ADS_1


PM05


__ADS_2