The Little Detective

The Little Detective
Part 39 : Surprise!


__ADS_3

Sydney, New South Wales, Australia.


  Ketukan teratur terdengar di ruangan hening itu, menciptakan ritme nada yang membuat orang yang mendengarnya menjadi tenang.


  Untuk yang kesekian kalinya Felicia menghembuskan napasnya kasar, kepalanya pusing.


  Sudah 4 benua yang mereka lalui dan masalahnya tetap sama serbuk aneh yang membuat orang bunuh diri, hidup namun tebujur kaku bahkan ada yang menjadi seperti zombie!


"Kau masih memikirkan tentang rapat tadi?" tanya Neron.


   Kalian tau anak satu itu mengikuti Felicia, ia memutuskan bergabung dengan Huriya hingga nekat seperti kemarin padahal dia bisa saja langsung menghubungi Felicia.


"Hm, ya," jawab Felicia setelah terdiam sejenak.


"Kau tak ingin istirahat dulu? Sebentar lagi kita akan pergi ke Korea bukan?" tanya Neron.


"Aku rasa ini bukan waktunya aku untuk istirahat lagi pula lelahku sudah hilang saat di pesawat dan waktu full kemarin," jawab Felicia.


"Bagaimana denganmu? Bukankah kau lelah? Istirahat saja sama seperti Eza dan Cae," ucap Felicia.


  Neron mengeleng. "Tidak, aku tidak lelah sama sekali, malah kini aku bosan," balas Neron.


   Diam, keduanya sama-sama terdiam, tak ada yang bersuara sedikitpun, Neron maupun Felicia larut dalam pemikiran masing-masing.


"Hei!" panggil Felicia membuat Neron menoleh padanya.


"Ada apa?" tanya Neron membuat Felicia yang awalnya memandang lurus ke depan menoleh padanya.


"Bagaimana jika kita bersenang-senang dulu?" tanya Felicia.


"Bersenang...senang?" tanya Neron dengan bingung.


"Ya, kau tau maksudku bukan, dari pada kita diam di sini dengan rasa bosan juga takkan ada kegiatan yang akan kita lakukan lebih baik kita menikmati kota ini bukan?" tanya Felicia sambil tersenyum.


"Ide bagus, jadi Nona, bukankah Anda orang yang nekat?" tanya Neron.


"Hm...ya?" ucap Felicia dengan bingung.


"benar, kalau begitu ayo, tak peduli usia, bagaimana jika kita melakukan hal menyenangkan," ucap Neron yang masih dipandang heran oleh Felicia.


Beberapa jam kemudian....


"Aku tak menyangka yang kau maksud tadi mengendarai mobil," ucap Felicia pada Neron yang baru keluar dari mobil.


"Ya, lagi pula aku malas menggunakan taksi atau sopir," ucap Neron.


"Iya sih selain malas itu juga mengahabiskan biaya apalagi bukan satu tempat yang akan kita kunjungi," ucap Felicia.


"Benar, jadi hari ini ayo kita bersenang-senang!" seru Neron dengan semangat.


"Jadi tujuan pertama kita SEA LIFE Sydney Aquarium," ucap Felicia.


"Seperti yang anda lihat Nona," ucap Neron.


"Apa bedanya ini!" seru Felicia berteriak.


"Hei jaga sikapmu jangan sembarang berteriak begitu," ucap Neron.


"Bagaimana aku bisa menjaga sikapku, kau kira berapa uang yang harus kita keluarkan untuk masuk ini!" seru Felicia sambil mencengram kerah baju yang di kenakan Neron.


"Ah, apa salahnya paling kalau kita berdua kisarannya US$ 59.5 doang," ucap Neron dengan santainya.


"Kau tau itu kalau dirupiahkan berapa?!" tanya Felicia berseru kesal.


"kisarannya kalau kita di gabung 871 ribuan," ucap Neron berpikir.


"Itu kau tau!" seru Felicia dengan kesal.


   Felicia melepaskan cengraman tangannya pada kerah baju Neron sambil menghela napasnya dengan kasar dan berjalan lebih dahulu.


"Hei! Felicia kau mau kemana?!" tanya Neron sambil berteriak dan mengikuti Felicia.


"Masuklah emang mau kemana lagi?" tanya Felicia balik masih terus berjalan.


   Langkah Neron terhenti, ia tersenyum penuh arti lalu berlari mengikuti Felicia.


"Felicia! Tunggu aku!" seru Neron berlari mengejar Felicia yang telah duluan.


"Wah, ini indah, aku merasa sedang berjalan di kedalaman laut," ucap Felicia dengan kagum.


"Ya, setidaknya ini setimpal dengan uang yang kita keluarkan bukan," ucap Neron.


"Aku ralat itu hanya uangku," ucap Felicia sambil memandang tajam Neron membuat anak laki-laki itu menelan salivanya dengan susah payah.


"Ya, tapi setidaknya kau benar," ucap Felicia beralih kepada pemandangan yang ada di sekitarnya.


"Ya kau benar, ini yang pertama untukku," ucap Neron.


"Dan ini untuk yang sekian kalinya untukku," ucap Felicia.


"Maksudmu?" tanya Neron bingung.


"Aku lumayang sering melakukan misi di dalam laut tapi aku tak memperhatikan keadaan di sekitarnya saat itu," jawab Felicia.


  Lagi dan lagi mereka berdua kembali terdiam, Felicia tersenyum sambil menatap kagum pada hewan-hewan laut yang berlalu lalang.


  Neron yang melihat itu juga ikut tersenyum, terbesit pikiran jahil di kepalanya. Ia mengambil handphone yang ada di sakunya lalu memfoto Felicia dari samping.


"Hai apa yang kau lakukan!" seru Felicia dengan kesal.


"memfotomu apalagi? Lihat ini baru beberapa menit sudah banyak like dan komen yang membanjiri," ucap Neron sambil tersenyum.


    Felicia mendekat kearah Neron, dengan penasaran melihat handphone yang ada di tangan Neron.


"Gila pengemarmu banyak juga," ucap Felicia melihat aplikasi yang tengah dimanainkan Neron.


"Tentu saja asal kau tau di sekolah aku adalah orang terpepuler," ucap Neron dengan sombong.


"Yaelah, lalu kenapa kau menempel fotoku di sana?" tanya Felicia.


"Mencari sensasi," jawab Neron membuat Felicia memandang datar dirinya.


   Setidaknya Neron tidaklah berbohong ia benar-benar populer, bahkan komentar-komentar yang ia dapatkan adalah komentar rasa patah hati yang dikirim oleh para kaum hawa.


  Handphone Felicia berdering, menyerengit ketika nama Hanif terpampang di sana kira-kira apa yang membuat Hanif menelponnya?


"Ner, aku ngangkat telpon dulu ya," izin Felicia pada Neron.


"Ya, ya," ucap Neron yang dengan asik memainkan handphonenya ntah ngapa, Felicia juga tak mempedulikannya.


"Hallo," ucap Felicia mengangkat telponnya.


"Hallo, Fe! Gawat!" seru suara Hanif dari sebrang sana.


"Gawat kenapa sih Kak?" tanya Felicia dengan heran.


"Lo sekarang di mana?" tanya Hanif.


"Di Sydney, sekarang di SEA LIFE Sydney Aquarium sama Neron," ucap Felicia.


"Lo sama Neron!" seru Hanif, "bagus deh."


"Kenapa sih?" tanya Felicia dengan heran.


"Oh, oh jangan-jangan DE buat ulah ya, mereka ngincar Fea atau ada sesuatu yang lebih gawat seperti Kak Arman yang tiba-tiba kesambar petir lalu end gitu," ucap Felicia.


"Hei! Sembarangan lo cah! Sini lo balik sekarang juga!" seru suara Arman kesal dari sebrang sana.

__ADS_1


"Eh, ada Kak Arman, Kakak dimana sih? Terus kenapa nelpon?" tanya Felicia heran.


"Di ruangan RL," jawab Hanif, "gue nelpon mau ngomong...Lo ketahuan! Mereka jadi tau keberadaan lo, Ely sama Car!"


"Terus?" tanya Felicia datar.


"Ya udah gitu aja," jawab Hanif.


"Apa yang di panikin sih! Cuma itu doang!" seru Felicia kesal.


"Tapi ngomong-ngomong kok bisa ketahuan sih?" tanya Felicia dengan penasaran.


"Ini semua karena Zain nih coba kalau tuh bocah gak mancing emosi gue!" seru Hanif dengan kesal.


"ngapa nyebut-nyebut nama gue, eh jangan-jangan itu Cia ya? Iya ya? Sini handphonenya! Eh Ci-"


   Felicia segera mematikan sambungan telponnya ketika mendengar suara yang tak asing oleh telinganya dari tempat Hanif berada, Zain, siapa lagi pemiliki suara itu selain dia. Lebih baik dia cari aman aja.


"Jadi kita benar-benar udah ketahuan ada di sini?" tanya Elyza dan Caera yang entah sejak kapan ada di samping Felicia.


"Kapan kalian ada di sini?!" tanya Felicia berseru kaget.


"Baru saja, tepat setelah kau selesai menelpon, kau tau mereka yang berkomentar pertama kali," ucap Neron.


"Benar dan kamu harus ganti rugi!" seru Elyza.


"Hah?! Ganti rugi? Ganti rugi apaan sih?" heran Felicia.


"Kamu tau kami masuk dikenai uang berapa? US$ 59.5, kamu tau artinya itu Rp 1.100.000!" seru Caera.


"Kalian menyalahkanku? Padahal kalian sendiri yang ke sinikan," ucap Felicia dengan kesal.


"Gak, gak, gak pokoknya kamu harus ganti rugi!" seru Caera dan elyza bersamaan.


"Hei kalian bilang biaya masuk kalian US$ 59.5 bukan?" tanya Neron.


"Ya, emang ada apa?" tanya Caera balik.


"Bukankah itu artinya 871 ribuan bukan 1.100 ribu," jawab Neron.


"Hah? Benarkah?" tanya Caera.


"Yah dan dari tadi kau salah berbicara," ucap Elyza membuat pipi Caera merona malu.


"Huh, y-ya kan typo," ucap Caera menghilangkan rasa malu.


"Typo atau gak tau?" tanya Neron sambil menaik turunkan alisnya.


"Y-ya ih nyebelin!" seru Caera kesal sambil membuang muka membuat Neron, Felicia dan Elyza tergelak.


   Felicia menghentikan tawanya ia memandang waspada sekitarnya, ada sesuatu yang menganjal hatinya dan firasatnya mengatakan ini bukanlah hal yang baik.


"Ci, kenapa? Kamu baik-baik ajakan?" tanya Elyza khawatir pada sepupunya itu.


"Ntahlah, firasatku gak enak, seperti ada yang mengintai," ucap Felicia.


  Caera memandang Felicia lekat begitu pula dengan Elyza dan Neron, ntah mengapa sepertinya gadis itu terlihat rapuh? Ntahlah tapi sorot mata Felicia tidak menyenangkan, ketakutan dan kesedihan hal itu terlihat di sana, apalagi dengan warna matanya yang berubah menjadi ungu.


"Ci, kamu baik-baik ajakan?" tanya Neron juga ikut khawatir.


"Apa itu DE?" tanya Caera.


"Bukan, dia lebih berbahaya dan sepatutnya dia belum bebas," jawab Felicia.


"Maksudmu?" tanya Neron dengan heran.


"Dia yang juga mengincar permata Scarlet juga...juga yang memiliki kaitan dengan keluarga Rafailah, Zhalam dan Ghazzal," ucap Felicia.


"Ci, aku makin tidak mengerti," ucap Neron dengan bingung.


"Hanya pemilik mata emas yang mewarisi permata tersebut bukan? Aku sudah berulang kali mendengarkan kisah itu dari Daddyku kalian tau dikeluarga Abqary hanya ada tiga warna mata bukan," ucap Neron.


"Biru laut, zamrud dan paling utama emas, bukan begitu?" tanya Caera.


"Tepat pada sasaran," ucap Neron.


"Neron kau tau kisah itu bukan? Keluarga yang terus berkembang turun temurun mewarisi nama keluarganya," ucap Felicia.


"Tujuh keluarga, Abqary, Ishan, Rafailah, Zhalam, Ghazzal, Zavanna dan Adijaya bukan?" tanya Caera.


"Tepat dan kau tau apa kemampuan tiap keluarga itu?" tanya Elyza.


"Tidak, aku tak membaca buku tentang itu lebih lanjut, kalian tau aku menemukan itu di ruang rahasia Felicia," ucap Caera.


"Baik teman-teman aku rasa nanti kita bisa membahas masalah itu tapi sekarang kita punya masalah genting," ucap Neron.


"Apa maksudmu?" tanya Felicia heran laku memandang arah yang Neron lihat.


  Sontak mata Felicia membulat bukan hanya dia tapi juga Caera dan Elyza. Para pengunjuk berteriak ketakutan kala seekor hiu membenturkan dirinya kekaca pembatas.


"Ini gila?! Apa maksud ini semua!" seru Elyza tak percaya.


"Dark Eyes!" seru Caera dengan geram.


"Bukan, ini bukan Dark Eyes, hiu itu dikendalikan oleh aura yang tak menyenangkan," ucap Felicia.


"Kita harus menenangkannya, kalian tau aura hitam dan mata yang merah itu? Ada sesuatu yang membuatnya seperti itu dan itu merupakan masa lalu," ucap Neron.


"Apa maksudmu dengan masa lalu?" tanya Caera heran.


"Tak ada waktu untuk menjelaskan ayo kita cari caranya, seperti yang Neron katakan tadi kita harus menenangkan hiu tersebut," ucap Felicia sambil berlari diikuti Caera, Elyza dan Neron di belakangnya


"Cae kau bisa mengarahkan orang-orang keluar?" tanya Neron.


"Tentu kenapa tidak," ucap Caera dengan yakin.


"Bagus bawa semuanya keluar dari sini, kami bertiga akan mengurus hiu itu," ucap Neron.


"Bertiga? Aku juga?" tanya Elyza tak yakin.


"Tentu di sini kami amat memerlukanmu bukan begitu Felicia?" tanya Neron pada Felicia.


"Ya, Neron betul dalam hal ini kau sangat diperlukan," balas Felicia.


"Baiklah aku serahkan pada kalian bertiga, lagi pula aku tak ingin berurusan dengan hiu yang mengamuk," ucap Caera lalu berpencar pergi.


"C-Ci kok hiunya ngikutin kita bertiga sih!" seru Elyza dengan takut.


"Tentu karena sasarannya adalah kita," ucap Felicia.


"Hei ayo kita gunakan cara yang menyenangkan," ucap Neron sambil menyeringai penuh rencana.


  Felicia yang dapat membaca seringai itu juga ikut menyeringai dengan licik. "Kau benar, ayo bersenang-senang," ucap Felicia.


"Kalian bercanda! Kita akan menemui hiu itu tanpa pengamanan sedikitpun!" seru Elyza tak percaya.


"Ya, kita akan bersenang-senang ingat, lagi pula aku percaya dengan kekuatanku," ucap Neron mengepal tangannya.


"Ingat Eza kita Abqary, tunjukan kalau kita benar-benar Abqary," ucap Felicia.


"Tap-tapi," ucap Elyza dengan takut-takut.


"Gak ada tapi-tapian ayo!" seru Neron menarik Elyza dan melompat memasuki air aquarium tempat hiu berada.


"Ini memang sedikit gila sih tapi mau bagaimana lagi," ucap Felicia lalu ikut melompat.


Mereka bertiga berenang memasuki aquarium itu lebih jauh mencari hiu yang mungkin juga sedang mencari mereka.

__ADS_1


    Elyza mendekat kearah Neron, kini gadis itu berada di tengah-tengah Felicia dan Neron, Elyza semakin takut saat melihat hiu yang melewati mereka dengan santai.


"Tenanglah mereka tidak akan memakan kita, lagi pula sepertinya di sini ada sesuatu yang tidak beres," ucap suara Neron yang terdengar dari alat di telinga Elyza.


   Neron memang tidak berbicara tapi itulah kelebihan yang ada di dalam alat itu, dia bisa menyampaikan batin seseorang yang memakainya jika orang tersebut mau.


"Ingat pada rencananya Neron," ucap Felicia.


"Rencana apa?" tanya Elyza.


"Ya nanti kami akan jelaskan pelan-pelan sebaiknya kita menyelamatkan diri dulu, hiu itu menemukan kita!" seru Neron.


  Hiu dengan mata merah itu memandang nyalang pada Felicia, Elyza dan Neron, ia berenang dengan cepat menghampiri ketiga orang itu.


"Neron sekarang!" seru Felicia.


   Neron mengangguk, matanya bercahaya tumbuhan yang ada dibawah hiu tersebut melilit hewan itu membuat hiu itu memberontak.


   Sama seperti Neron mata Felicia juga bersinar ia memandangi hiu tersebut, hiu itu berhenti memberontak matanya masih merah.


"Eza sekarang giliranmu, kami takkan bisa menahannya lebih lama!" seru Neron.


"Apa yang harus aku lakukan?!" tanya Elyza dengan panik.


"Tenang Eza ok, dekati hiu itu perlahan, jangan takut," ucap Felicia membuat Elyza agak tenang.


   Elyza mendekati hiu itu walau ia masih sedikit takut namun ia mencoba memberanikan diri.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Elyza.


"Tutup matamu dan bayangkan air adalah sebagian darimu," ucap Neron.


"Apa-apaan itu?! Kau kira ini film fantasi sihir apa!" seru Elyza.


"Ikuti saja arahannya! Jangan banyak protes," ucap Neron jadi kesal.


   Elyza hanya mendengus ia menutup matanya lalu membuka matanya, perlahan mata gadis itu bersinar dengan warna biru laut.


"Sekarang sentuh hiu itu tenangkan dia," ucap Felicia.


"Ok," ucap Elyza perlahan menyentuh hiu itu, awalnya ia kaku namun semakin lama, ia melunak dan mengelus hiu tersebut penuh kasih.


"Tenanglah sobat, tenang, jangan biarkan ada yang menguasaimu, tenanglah, air selalu jadi temanmu," ucap Elyza.


   Elyza agak menjauh dari hiu tersebut, perlahan mata hiu itu berubah menjadi normal membuat Felicia dan Neron bernapas legah.


   Neron melepaskan lilitan tanaman pada hiu itu dan matanya berubah seperti sedia kala begitu pula dengan Elyza dan Felicia.


   Hiu itu memandang sekilas mereka bertiga lalu berlalu pergi.


"Sudah hanya begitu saja?" tanya Elyza.


"Ya hanya begitu saja," jawab Neron.


"Tidak ini belum selesai, cukup dengan ini bukan? Apa yang kau inginkan?" tanya Felicia bukan pada Neron maupun Elyza namun pada wanita yang ada di balik batu karang.


"Permata scarlet apa lagi? Namun sudah cukup untuk ini kekuatanku untuk keluar hanya sedikit, aku bisa lenyap kalau berlama-lama dan juga aku tak bisa membalaskan dendamku bukan? Sampai jumpa lagi Abqary Ishan," ucap Wanita itu lalu menghilang.


  Felicia mengepalkan tangannya lalu berenang ke permukaan diikuti Elyza juga Neron.


   Elyza mengambil napas sebanyak-banyaknya ketika mereka sampai kepermukaan, sebuah tangan menjulur di depannya membuat ia menoleh mendapati Caera yang tersenyum lembut padanya.


"Kerja bagus teman-teman," ucap Caera sambil memberikan handuk pada Elyza, Neron dan Felicia.


"Begitu juga denganmu Cae," ucap Neron.


"Ya," jawab Caera.


"Ngomong-ngomong Ci, wanita tadi itu siapa? Dia bukan manusiakan?" tanya Neron.


"Bukan, dia yang mengincar permata scarlet yang berasal dari masalalu, kenapa dia bisa berkeliaran begitu!" seru Felicia.


"Cia...," lirih Caera, Elyza dan Neron.


"Maaf," ucap Felicia.


"Sudahlah ngomong-ngomong kenapa aku rasanya tadi bisa bernapas dalam air dan apa yang terjadi tadi, apa maksud dari mata yang bercahaya itu?" tanya Elyza dengan heran.


"Kamu ingat pil yang kita makan sebelum masuk ke air tadi?" tanya Neron dijawab anggukan oleh Elyza.


"Itulah guna pil tersebut membuat kita bisa menahan napas lebih lama dalam air dan juga merasa seperti bernapas padahal tidak," ucap Neron.


"Sedangkan tentang mata tadi kekuatan alami Abqary, kamu tau Neron tadi mencari kesempatan melempar sesuatu pada tumbuhan laut itu membuat tumbuhan tersebut dapat di kendalikannya melalui mata sedangkan aku itu karena permata scarlet dan kamu itu alami karena mata biru lautmu yang bisa lebih akrab dengan hewan di laut," ucap Felicia.


"Karena itu tadi kami sangat membutuhkanmu," ucap Neron.


"Bagaimana dengan keadaan orang-orang?" tanya Felicia pada yang caera.


"Tak ada masalah, aquariumnya juga tidak pecah," jawab Caera.


"Tapi aku merasakan ada yang ganjil, ada yang mengawasiku tadi," tambah Caera.


"Firasatku tidak baik tentang itu, baiklah cukup untuk hari ini, kita harus pergi pesawat kita akan melesat," ucap Felicia.


"Jadi tujuan kita selanjutnya ke bandara?" tanya Neron.


"Ya, aku telah menyuru orang membawa barang-barang kita," ucap Caera.


"Kerja bagus Cae, kau lebih sigap," ucap Elyza.


"Tentu saja," ucap Caera dengan bangga.


"Ok Ladies ayo kita berangkat!" seru Neron berjalan lebih dahulu diikuti Felicia, Caera dan Elyza di belakangnya sambil tergelak melihat tingkah laku cowok satu itu.


    Setelah berganti baju mengingat baju mereka yang basah kecuali Caera mereka segera pergi ke bendara.


"Apa kita benar-benar harus pergi tanpa mengunakan fasilitas WE?" tanya Caera.


"Ayolah Cae, kita akan menggunakan pesawat pribadi keluarga Avram," ucap Neron memutar bola matanya malas.


"Benar ini pesawat keluarga Avram, aku jamin fasilitasnya sangat mewah," tambah Elyza.


"Ok baiklah," ucap Caera pasrah.


"Alvaro? Kenapa kau ada di sini?" tanya Felicia heran melihat pria seumuran ayahnya yang merupakan asisten Elam itu ada di dekat pesawat.


  Langkah Elyza, Caera dan Neron terhenti sambil melihat Alvaro heran sama seperti Felicia.


"Nona, Tuan besar telah menunggu," ucap Alvaro membuat Felicia melebarkan matanya lalu berlari dengan cepat memasuki pesawat.


"Eh Cia tunggu!" seru Nerin lalu mengikuti Felicia bersama Caera dan Elyza.


    Napas Felicia terengah-engah ia memandang pria yang kini sedang fokus pada sebuah handphone di depannya dengan tak percaya.


"Ke-kenapa Ayah ada di sini?" tanya Felicia.


"Oh, kamu udah datang dan bagaimana kabarmu Neron lama tak berjumpa," ucap Elam sambil tersenyum pada Neron.


"Om Elam!" seru Neron tak percaya.


Bersambung....


6 Maret 2020


Now : 19 Mar 2023


don't forget like and conneb

__ADS_1


__ADS_2