
Lama rasanya Felicia berjalan namun tak kunjung menemukan ujung tangga tersebut ada kalanya Felicia merasa bahwa tangga itu seperti membawanya naik.
Felicia berhenti di undukan terakhir dan di depannya hanya ada dinding?! Jalan buntuh?! Felicia mengelengkan kepalanya tak habis pikir apa yang sebenarnya di maksud oleh ayahnya, namun setelah ia pikirkan lagi bukankah rumah ini ada banyak pintu rahasia jadi mungkin dinding itu merupakan pintunya, lepas dari pertama masuk yang kata sandi masuknya sangatlah mudah dan aneh.
Felicia meraba-raba dinding itu mencari sesuatu seperti tombol. "Oh ayolah."
Namun, sepertinya usahanya itu sia-sia, kembali berpikir, kalau tombolnya bukan di dinding berarti di bawah tempat yang ia pijak kini lantainya atau lisan, namun apa kiranya kata kuncinya, masa saya tidak tau juga?
"satu, dua, tiga aku naik atas tangga turun 50 naik 50, ada 100 undukan tangga lelah kaki, penat jiwa, pikiran menjadi buntuh jadi tolong pintu rahasia pada dinding terbukalah dan tunjukan padaku sebuah rahasia," ucap Felicia, walau aneh sih namun apa salahnya mencoba toh masuk tadi kata kuncinya juga aneh.
Bunyi pintu bergeser terdengar dinding itu ternyata memang sebuah pintu, ya pintu lift, Felicia masuk ke dalamnya dan pintu kembali tertutup kembali dalam hati dia mengerutu kesal, 'kalau memang di atas ngapain ada tangga sebanyak tadi!'
Lift itu berjalan menuju atas sekitar beberapa menit setelahnya lift itu berhenti dan pintunya kembali terbuka.
Mata Felicia berbinar ketika melihat isi di dalamnya yang ada di pikirannya kini adalah senjata dan informasi karena di ruangan di depan Felicia kini ia melihat senjata juga dengan peralatan pengintai yang lengkap.
Felicia menghampiri salah satu rak senjata melihat dan menyentuh sebuah pistol yang menarik perhatiannya.
"Apa yang kau lakukan, penyusup?" ucap suara berat yang diakhiri tekanan di belakangnya.
Felicia menoleh mendapati seorang pria yang usianya seperti 2 tahun diatasnya yang tam...pan? Ya hanya sedikit menurut Felicia, sedikit tampan. pria itu memandangnya tajam penuh intimidasi, Felicia membalas dengan tatapan yang sama juga protes.
"Siapa yang kau sebut penyusup?" tanya Felicia tajam.
"Jalan ke sini melewati ladang bunga rumahku, jangan sembarang tuduh lagian kenapa ada tempat seperti ini?" ucap Felicia menghilangkan pandangan tajamnya dan berubah menjadi bingung berpikir.
Pria tadi menghembuskan napasnya, memandang Felicia lebih tepatnya mata Felicia karena dari sana pria itu bisa memastikan identitas Felicia mengingat wajah gadis itu di tutupi topeng tak semua juga hanya sebagian dan masa iya dia harus mengenali gadis kecil bertopeng itu dengan bibirnya gak mungkin karena itu akan sulit.
"Ikuti saya!" pintanya sambil berjalan pergi melalui sebuah pintu, Felicia mengikutinya dari belakang masih bingung.
Selama perjalanan Felicia selalu memikirkan sesuatu yang mengagunya sebenarnya ini tempat apa bangunan dalamnya memiliki dinding besi dan ini sangat cangih.
Larut dalam pikirannya Felicia tak sadar jika kini pria yang ia ikuti dari belakang berhenti membuat Felicia menabrak punggungnya.
"Au, mengapa berhenti tiba-tiba sih!" seru Felicia dengan kesal.
Pria di depannya hanya terdiam lalu di depan mereka pintu terbuka menampakan ruangan santai namun canggih, Felicia terkagum melihatnya ruangan itu tampak agak mirip dengan ruang kerja di kantor ayahnya bedangnya ini seperti ruang keluarga.
"Oh, okaeri, Razi," ujur seorang pria berumur kisaran 20 pada pria yang Felicia temui tadi yang ternyata bernama Razi.
"Annyeong, Razi," ucap pria lainnya yang seumuran dengan Razi.
"Hm...aku membawa tamu," ucap Razi lalu berjalan pergi menuju sofa, meninggalkan Felicia yang berdiri ling-lung? atau canggung juga kesal.
'Hei aku tamu kenapa tak di biarkan duduk!' batin Felicia berseru kesal.
"Bojuar, Master S, apa saya benar, putri misterius keluarga Avram, Felicia Amira Lashira Avram," ucap seorang pria yang entah sejak kapan ada di samping Felicia membuat Felicia menoleh padanya dengan kaget.
"Sudahlah Damien kau membuat Nona kita menjadi kaget," ujur pria seumuran dengan Elam membuat Felicia memandangnya sama kagetnya.
orang yang ada di tempat itu semuanya membuat ia menjadi kaget, Felicia menggelengkan kepalanya karena bukan saatnya ia mempermasalahkan itu, tujuan awalnya mencari tau apa maksud dari perkataan Elam sebelumnya.
"Sebenarnya, anda datang karena di suruh Elam bukan?" tanya seorang wanita cantik berambut sepinggul.
"Kenapa kalian semua membuatku kaget!" seru Felicia berteriak dengan kaget padanya.
sungguh saat ini Felicia tak bisa menahannya ia sangat mempermasalahkan itu semua apa lagi pada wanita sepertinya Felicia harus meralat kata 'wanita' karena setelah dipikirkan lagi dia pasti pria.
semua yang ada di ruangan itu memandang Felicia kaget, sebelumnya tak ada yang berteriak pada mereka seperti itu rata-rata yang mengenal dan menemui mereka pasti takut bukan takut pada wajahnya namun pada aura mereka yang sangat ganas dan selalu seperti ingin membunuh, tapi kini? mereka kini diteriaki seorang gadis kecil! namun tak bisa dipungkiri kalau gadis kecil ini benar-benar putri Elam karena hanya pria itu saja yang suka bersikap bossy pada mereka walau memang Elam adalah bosnya.
"Jangan menganggu tamu, kalian seperti tidak pernah diajari sopan santun, apalagi kau Arlo apa-apaan dandanan seperti wanita itu!" tegur seorang pria parubaya seumuran dengan Abra pada wanita ralat pria yang memakai pakaian wanita yang bernama Arlo itu.
"Oh, ayolah Asher, aku habis kembali dari misi, lagi pula baju ini sangat nyaman," ujur Arlo, tiga kata untuk Arlo bagi Felicia, 'pria ini gila!'
"Setidaknya sopanlah pada new master kita," ucap pria yang dipanggil Asher tenang.
"WHAT?!" seru semua yang ada di sana dan langsung memandang Felicia tak percaya.
Felicia mengerutkan keningnya, ini pasti kerjaan ayahnya, namun ia bisa melihat keuntungan dari semua ini, ia bisa bebas dari tugas perusahaan, senyum ralat sebuah seringai licik terukir dari bibir Felicia saat beribu pikiran juga rencana licik menghampiri otak cantik dan cerdasnya.
"Elam gila! Dia menyuruh anak gadisnya yang masih kecil?!" tanya Arlo berseru tak percaya, Felicia mendengus mendengarnya.
"Ani, ani, ani! Aku tak terima!" seru pria yang seumuran dengan Razi.
"bagaimana mungkin gadis manja sepertinya memimpin kita!" seru Razi.
"First, aku bukanlah gadis manja! second, aku tak tau tentang ini. Third, aku tak akan ke sini jika saja, kata bahwa ada yang menjadi dukungan kuat ada di sini terucap dari Ayahku. And last, kata kunci yang kalian beri ke setiap pintu benar-benar buruk," ucap Felicia kesal, namun hal itu membuat semua orang yang ada di sana melotot pada kalimat terakhirnya.
"Jadi, Nona mari kita berbicara di dalam," ujur Asher menuntun Felicia.
Felicia mengikuti Asher menuju ruangannya meninggalkan Razi, teman seumurannya, pria yang menyapa Razi tadi, Damien, Arlo dan pria yang seumuran Elam, yang kini terdiam larut dalam pikiran masing-masing.
"Sebelumnya anda bisa melepaskan topeng anda terlebih dahulu Nona?" tanya Asher.
Felicia membuka topengnya juga dengan tudung hoodie yang menutup kepalanya terakhir headphonenya yang kini ia gantungkan pada lehernya.
"Jadi, Ayah yang memberi tau anda jika saya akan kesini Mr. Asher?" tanya Felicia sambil tersenyum ramah pada Asher.
"Ya dan tentang new master ini sudah sejak lama di beri tahukan oleh tuan Elam, pesannya jika anda ke sini maka posisinya akan langsung di berikan," ucap Asher.
"Oh, come on Daddy what are you really to up?" gumam Felicia.
"Sebenarnya aku ke sini hanya penasaran akan apa yang di katakan ayahku, lagi pula sepertinya bawahanmu yang lainnya tak menginginkan itu," ucap Felicia.
"Perintah terakhir dari Tuan, mau tak mau mereka harus menerimanaya," ucap Asher dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Aku mempunyai sebuah organisasi dan aku tidak akan menjadi master yang lain selain organisasi tersebut," ucap Felicia penuh peringatan, juga secara halus menolak apa yang di sebenarnya menjadi perintah dari sang ayah.
"Kami akan masuk organisasi itu, bukankah anda memerlukan informasi lagi nona?" tanya Asher membuat Felicia terdiam.
setumpukan kertas ditaruh Asher di depan Felicia, Felicia mengambil salah satu kertas tersebut dahinya mengerut melihat kertas yang berisi pemberitaan tentang Masked Women, sure jadi masalahnya ada dimana? Mata Felicia membulat sekilas melihat kertas paling atas yang ada di tumpukan kertas itu, Felicia mengambil kertas itu membaca dengan cepat dan cermat setiap tulisan yang ada di kertas-kertas tersebut.
ia tak percaya akan apa yang ia baca, semua pemberitaan itu, semua informasinya benar. Bukan hanya tentang Masked Women tapi kertas-kertas itu juga mencakup tentang identitas para bawahannya juga beberapa anggota WE dan beberapa organisasi kejahatan yang sangat sulit di dapat.
"Jadi, Nona bagaimana menurut anda dengan kemampuan kami?" tanya Asher sambil memberikan sebuah dokumen pada Felicia.
Felicia tersenyum tidak lebih tepatnya menyeringai, ya seringai licik penuh akan teka-teki, Felicia mengambil handphonenya dan mengambil dokumen yang di berikan oleh Asher membacanya dengan cepat namun cermat.
"Ya, kemampuan kalian hebat, aku jadi tertarik untuk meregut kalian, tapi...," ucapan Felicia sengaja di potongnya membuat Asher mengangkat satu alisnya bingung.
Sebuah pisau kecil melesat cepat ke arah pintu membuat pintu itu terbuka menampilkan Razi dan yang lainnya yang kini tengah berdiri tegang di sana apa lagi di susul dengan enam pisau lainnya yang hampir kalau salah-salah mengenai bahu mereka masing-masing.
"Mereka harus diajari sopan santun agar tidak menguping pembicaraan tuan dan ketuanya," ujur Felicia menatap tajam mereka semua.
"Aku kagum dengan kemampuan kalian, Mr. Devian anda telah bekerja bersama Ayah saya sejak lama, jadi kemampuan anda sudah tidak bisa diragukan lagi," ucap Felicia melihat pada pria yang seumuran dengan Ayahnya.
"Mr. Kenshin anda hebat dalam mencari informasi dan kegaduhan, namun yang harus anda perhatikan jika sedang melakukannya secara diam-diam, jangan sampai ada yang menyadari bahwa anda pelakunya," ucap Felicia membuat pria yang menyapa Razi tadi mengerjapkan matanya.
"Mr, Damien roti di toko anda sangat lezat namun saran dari saya jangan menjual informasi pada sembarangan orang," ucap Felicia pada Damien.
"Mr. Arlo anda ahli dalam menyamar dan saya sangat membutuhkan kemampuan itu," ucap Felicia membuat Arlo tersenyum bangga.
"Ryung dan Razi kalian anak yang didik Ayah saya, saya harap kemampuan kalian tidak mengecewakan saya," ucap Felicia pada Razi dan pria yang seumuran dengannya.
"Bukankah, masih ada satu lagi Aki?" tanya Felicia pada Asher.
"Aku kira kau akan selalu memakai pakai formal," ucap Asher terkekeh.
"Entahlah, menurutku tak usah memakai bahasa formal pada rekan kerja seperti ini," ucap Felicia.
"Lain dari yang lain bukan? Dan ya masih ada satu lagi Adrie," ucap Asher.
"Sesulit itukah mengorek data H grup hingga ia tak ada di sini?" tanya Felicia.
"Ya, siapa yang kau suruh membuat data keamanan perusahan itu ia sangat hebat," ujur Asher.
"Blue Dragon Ice, bukankah ini sangat menyenangkan?" tanya Felicia.
"Menantang bagi kami," balas Asher, "jadi, Master S apa tugas pertama kami?"
"Tunggu! Kami belum bilang setuju!" seru Ryung dan Razi bersamaan.
"Oh, ya? Setelah hal sulit yang kalian lalui dalam menjalankan misi?" tanya Felicia sambil tersenyum, membuat Ryung dan Razi terpaku.
"Ini perintah terakhir dari Elam bocah," ucap Arlo.
"Oui, merci, Damien. Y a-t-il quelqu'un d'autre qui accepte ou proteste? Je vais écouter vos opinions," balas Felicia.
"Sepertinya tidak, jadi siap untuk menerima misi pertama?" tanya Felicia setelahnya.
"Ucapan anda merupakan perintah, kami siap Master!" seru Damien, Arlo, Razi, Ryung, Arlo, Devian, Kenshin bersamaan.
"Baiklah cari informasi sebanyak mungkin, untuk Arlo dan Damien selidiki klub di hotel Axelle, Kenshin cari tau tentang identitas orang dari data yang aku kirimkan dan di mana tempat tinggal mereka," ucap Felicia dan tepat saat itu sebuah email masuk ke ponsen Kenshin.
"Hanya mencari informasi itu mudah," ucap Ryung.
"satu nasehat untuk kalian jangan menganggap semuanya enteng sebelum melakukannya, aku ingin informasinya sampai padaku secepatnya paling lambat pukul sepuluh pagi besok," ucap Felicia.
"GADIS GILA!!" seru Razi, Ryung dan Arlo bersamaan.
"Kata Ayahku, peliharalah disiplin sejak dini jadi silakan lakukan tugas kalian, oh, atau kalian tak bisa melakukannya dengan waktu sesingkat itu? Kalian payah," ujur Felicia membuat 3 pria itu melotot tak terima.
"Ini mudah Nona saya akan mengumpulkan informasi data ini jam satu dini hari," ucap Kenshin yakin.
"Kalau begini bukankah kami harus bergerak dengan cepat," ucap Damien diangguki oleh Davian.
Tring~ bunyi notif terdengar dari masing-masing handphone mereka membuat Razi, Ryung, Damian, Davian, Arlo, Kenshin dan Asher melihat ponsel mereka.
"Menerima misi dariku berarti kalian telah siap bergabung, selamat datang di organisasi Huriyah tempat di mana kau bisa bebas," ucap Felicia membuat 7 pria itu menoleh padanya.
"Jadi...," ucap Arlo sengaja memotong ucapannya.
"Kau Master organisasi itu!?" seru Razi dan Ryung bersamaan bertanya.
"Hm? Kukira kalian telah tau saat Damien menyebutku Master S," ucap Felicia.
Arlo, Razi dan Ryung spontan memandang Damien dengan mimik wajah bertanya.
"Apa? Aku baru mengetahuinya dan itu informasi baru dari identitas Scarlett yang baru ku temui," ucap Damien.
"Dan kau tak memberi tau kami!" seru ketiganya berteriak.
"Enough Man, peraturan yang harus selalu kalian ingat Maks Is Identity," ucap Felicia.
"Aku benci ini karena aku lebih suka mencari informasi di ruangan bukan turun langsung ke lapangan," ujur Ryung.
"Kini berbeda karena informasi di lapangan adalah keharusan," ucap Felicia.
"Hei, sang daisener ada di sini apa yang kalian takutkan? Aku yang akan merancang baju dan topengnya," ucap Arlo lalu memandang Felicia, "bagaimana jika aku yang merancang baju setiap anggota organisasi dan juga topengnya."
"Tawaran bagus Arlo data para anggota telahku kirimkan buat topeng dan bajunya sesuai karakter para anggota, bukankah itu yang kau inginkan?" tanya Felicia.
__ADS_1
"Yah, manusia memiliki bermacam-macam karakter dan itu menjadi inspirasi bagiku, jadi, Master serahkan saja semua padaku," ucap Arlo.
"Yeah itu bagus," ucap Felicia, bunyi handphone terdengar membuat Felicia mengambil dan mengangkat panggilan telpon.
"Ya, hallo kenapa?" tanya Felicia.
"Hei Cucu nakal apa kabar!" sapa suara Abra disebrang sana.
"Oh, come on jangan mulai dong, Cia ada di tempat penting ini," ujur Felicia membuat Abra menjadi paham.
"Hm...jadi ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Abra, membuat Felicia teringat karena tadi memang ia menelpon Abra namun kakeknya itu tak menjawab panggilan darinya.
"Batalkan misi tentang Masked Women pada tim Kak Juna dan Kak Ezra ganti dengan misi yang aku kirimkan dan tentang Masked Women biar aku mengurusnya," ucap Felicia.
"menemukan bantuan baru nona?" tanya Abra.
"Ya dan aku memiliki rencana tersendiri," jawab Felicia.
"Baiklah kalau gitu Grandpa tutup dulu nanti Grandpa telpon lagi," ucap Abra lalu panggilan terputus.
"Kebiasaan," gumam Felicia lalu tak lama kemudian handphonenya kembali berbunyi.
"Ya, hallo," ucap Felicia.
"Wa'alaikumsalam," balas suara Elam di ujung sana.
"Iya Ayah, Cia khilaf lupa," ucap Felicia.
"Itu harus di biasain Ci, udah cepat pulang Zain udah mau pulang bawa teman-temannya juga, Ely juga mau ke sini nanti mereka curiga lagi kamu gak ada di kamar," ucap Elam.
"Ayah pasti ngeliat dari ruang kerja Ayahkan, kebiasaan Ayah juga tuh ngintai mulu," balas Felicia.
"Serah kamu deh, cepat pulang nanti Bunda marah lagi," ucap Elam.
"Iya, iya ini juga udah selesai, udah dulu Ayah, assalamualaikum," ucap Felicia dan langsung mematikan sambungan telpon.
"Kenapa?" tanya Felicia pada Damien, Davian, Arlo, Razi, Ryung dan Kenshin yang menatapnya.
Keenam pria itu mengelengkan kepalanya bersamaan, Felicia hanya mengangkat bahunya acuh lalu memandang kearah Asher yang ternyata juga memandangnya.
"Aki, bukankah di sini ada pintu yang bisa langsung tembus ke kamarku?" tanya Felicia.
"Ya, tapi itu di kunci cuma Elam yang mengetahui kuncinya," ucap Asher.
"Oo...," balas Felicia, 'pantes aja Ayah sering terlihat ada di kamar aku saat malam ternyata ke sini toh sambil mantau aku,' batinnya.
"Kamu mau lewat sana?" tanya Asher dengan cepat di angguki Felicia.
Asher berjalan lebih dahulu lalu diikuti Felicia tapi sebelumnya gadis itu menatap 6 pria yang berbeda usia yang sedang menatapnya.
"Ingat jam 10 pagi dan sewaktu-waktu aku bisa mengurangi batasan jamnya," ujur Felicia.
Felicia berlalu pergi mengikuti Asher meninggalkan 6 pria yang kini melotot tak percaya, 'bocah licik menyebalkan!' batin mereka berteriak kesal.
"Ketika devil disatukan dengan devil inilah jadinya," ucap Davian tentu itu ditujukan untuk Elam dan Khaina.
"Sudahlah lebih baik kita mengerjakan tugasnya, kalian lihat ini," ucap Kenshin memperlihatkan pesan yang baru saja masuk dari nomor yang tak di kenal.
"Dari siapa itu?" tanya Arlo.
"Master lebih baik kalian menyimpannya, aku akan mengirimkan nomornya pada kalian," ucap Kenshin belalu pergi.
"Oh, ayo kerjakan tugas kalian masing-masing!" pinta Davian.
"What? Oh come on," keluh Ryung.
"Ne vous plaignez pas, ce sera amusant aussi," ucap Damien dengan bahasa prancisnya lalu berjalan pergi.
Ryung dan Razi dengan malas juga pergi, sedangkan Arlo telah pergi lebih dahulu membuat pakaian dan Davian yang bergerak setelahnya pergi mencari informasi yang setidaknya berguna.
..."Permainannya baru saja dimulai apa kalian siap DE? Kurasa kalian siap, ya siap untuk kalah!" - Felicia...
^^^Bersambung.... ^^^
23 Desember 2019
27 Desember 2020
Assalamualaikum
Gimana suka gak? Kalau suka tinggalkan jejak dengan menekan tombol 🌟.
Kalau kurang boleh beri saran di comment juga kalau yang mau kasih semangat comment aja.
Sekian dulu sampai jumpa senin depan.
Bye semua
Wassalammualaikum
Salam
PM05
Jangan lupa klik 🌟
__ADS_1
👇 👇 👇