
ZAIN AND TODAY
Assalamualaikum
Apa kabar? Moga sehat selalu ya.
Kemarinkan saya udah ngasih pilihan dan kalau saya ada waktu bakal saya bikin part bonus tentang para tokoh.
Ini saya kasih untuk NisrinaKha karena minta tentang Zain sama Felicia dan cuma ini yang terpikir oleh saya, Moga suka ya.
Happy reading
...****...
Siapa yang tak menyukai hari minggu? Hari di mana kita bersantai dan bermalas-malasan contoh saja Zain yang kini masih tetidur pulas padahal jam telah menunjukan pukul 12 siang.
"Ck, ck ini nih kalau di biarin aja bisa apes, udah jam 12 masih tidur aja, malah tugasnya dia apain ke aku semua lagi," ucap Felicia mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Kak cepat bangunin Bang Ainnya, Baim gak berani," ucap Baim yang berdiri di dekat pintu bersama Fani.
"Iya, Bang Ain kalau di ganggu nanti dia ngamuk," ucap Fani.
"Ck, sama si gajah kayak gini aja kalian takut, nih tengok nih cara banguninnya," ucap Felicia berdiri di atas kasur Zain.
Felicia mengitung jarinya hingga tiga lalu bersiap melompat-lompat di kasur Zain dan bruk! Felicia mendaratkan badan di badan Zain.
"Arg! SAKIT!" seru Zain, terbangun dari tidurnya dan langsung memegang pinggangnya tempat Felicia mendarat lagi.
"Wah Kak Ci! Seru gak!?" tanya Fani antusias.
"Seru banget malah!" seru Felicia.
Zain menatap nyalang kearah Felicia membuat Baim yang melihat itu meneguk salivanya dengan susah payah padahal Felicia yang buat ulah malah ia yang ketakutan.
"BUNDA! FELICIA KASAR!" seru Zain berteriak.
Khaina dengan berlari datang ke kamar Zain dan dengan cepat memegang tangan serta wajah dan rambut Felicia, 'Masih halus kok," batinnya dalam hati.
"Apanya yang kasar sih Zain masih halus gini juga adik kamu, tapi memang iya sih mukanya agak kasar kamu kurang perawatan nih Ci, nanti ikut Bunda kesalon, titik!" seru Khaina membuat Zain melongo.
"Lah kok masalah wajah Felicia sih? Kasar maksud Zain bukan itu Bunda!" seru Zain.
"Lah terus?" tanya Khaina heran.
"Tadi Kak Cia ngelompat ngendarat di punggung Bang Zain yang lagi tidur, tapi kayaknya asik deh Bun," ucap Fani membuat Zain melotot pada adik bungsunya itu.
Fani bersembunyi di balik tubuh Khaina, Khaina hanya terdiam berpikir sejenak lalu wajahnya menjadi datar.
"Oh, gitu," ucap Khaina membuat Zain memandang Bundanya tak percaya.
"Lah kok gitu sih Bun, patutnya Bunda marahin Cia dong!" kesal Zain.
"Untuk apa? Lagian yang di lakuin Cia benar kok, kamu kalau gak di gituin gak bakal bangun jadi bagus dong!" ucap Khaina.
"Sial benar sih nih hidup!" seru Zain.
"Gak boleh gitu Bang! Kita harus selalu besyukur jangan ngomong kayak gitu nanti apes benaran tau rasa," ujur Baim lalu berjalan pergi membiarkan para perempuan di keluarga mereka untuk mengurisi Abangnya.
Lagian dari pada ngeliatin Zain yang kenak marah mending dia makan es krim sambil nonton aja.
"Yaudah deh kalau Bunda gak mau Zain tidur di rumah, Zain pergi ke tempat Alan ya Bunda bye," ucap Zain beranjak dari kasurnya, mengambil jaket serta kunci motornya lalu melangkah keluar.
"Mau kemana kamu? Jangan pergi nanti kamu nganterin Bunda, Cia sama Fani perawatan," ucap Khaina.
"Kan ada Ayah," balas Zain.
"Zain anak Bunda yang ganteng, Ayah kamu capek biarin istirahat dulu, jadi kamu yang nganterin ya," ucap Khaina sambil tersenyum membuat Zain mau tak mau menganguki apa yang diinginkan sang bunda.
Zain terduduk lemah dikasurnya sambil menunduk setelah Khaina keluar dari kamarnya.
"Yang sabar ya bang Ain," ucap Fani mengelus punggung Zain lalu memukulnya membuat Zain berteriak kesakitan dengan cepat si bungsu kecil Fani pergi setelah Aksi jahilnya.
"Parah banget nih dua orang gak bisa diam, kencan-kencan palamu pe'ak, satu lagi ngajak belajar sama modus aja!" gerutu Felicia yang berguling di kasur Zain.
Zain menoleh pada adiknya itu dan ikut berguling di sampingnya sambil mengintip isi pesan yang Felicia dapatkan.
"Mereka ngejar kamu mulu ya," ucap Zain.
"Tau, capek lagian tuh dua orang napa deh kurang kerjaan banget," ucap Felicia masih kesal.
Zain tak mempedulikan Felicia yang kini sedang mengerutu dan malah memeluk adiknya itu dari samping.
"Bang, teman-teman Abang ngajak main nih, ini gimana?" tanya Felicia.
"Tulis aja mager mau manja-manja cantik sama Cia," ucap Zain.
"Bukannya mau ngantar Bunda ya?" tanya Felicia.
"Gak bakal jadi liat aja nanti, Ayah sama Bunda mau bikin adik baru," ucap Zain yakin.
Felicia hanya diam lalu mengetik apa yang di ucapkan Zain sebelumnya.
^^^Me^^^
^^^Tulis aja mager mau manja" cantik sama Cia^^^
Kerayon
Yaelah, manja" cantik apanya lo!
Bolu kuning
Mager bilang mager jagan bawa
Nama Fea lo
Sialan
Bocah" tuyul itu bukan Bajai
Yang nulis
Kerayon
__ADS_1
Lah terus?
100 % jadi angsa
Itu Fea yang nulis ogep!
Kerayon
Slow mbaknya jangan ngegas
Monyet
Berisik! Gue mau tidur aja
Gak bisa!
Burung Nuri
Tidur mulu kerjaan lo
Alambaka
Diam ilah gue sibuk ini
Bolu kuning
Sibuk apaan lo paling lagi
Nyandar sama Alankan
Alambaka
Sembarangan, gue benaran sibuk
Ini sibuk nonton
Kerayon
😑
Bolu kuning
(2)
Burung Nuri
(3)
100 % jadi angsa
(4)
Monyet
(5)
Sialan
(6)
"Udah Ci, Abang mau tidur jangan berisik," lirih Zain.
"Eh jangan tidur lagi dong! Mandi sana terus shalat siap itu kita main yuk!" ajak Felicia.
"Oh, come on," ucap Zain duduk sambil memejamkan matanya.
Felicia mendengus menggembungkan satu pipinya menarik Zain berusaha membuat abangnya bangkit.
"Ayo dong Bang Zain, Abang Cia satu-satunya yang terganteng di dunia," ucap Felicia.
"Yaiyalah kan Abang kamu cuma Abang doang gak ada yang lain," balas Zain.
"Ih ayo dong!" seru Felicia berusaha namun sekuat apapun ia berusaha membuat Zain berdiri hasilnya selalu gagal karena tenaga Zain lebih kuat darinya.
Felicia mencium satu pipi Zain, soalnya dari tadi abangnya mau itu tapi dianya aja yang malas.
"Satu lagi," ucap Zain, Felicia memutar bola matanya malas namun tetap mencium pipi abangnya itu.
"Ok tunggu sebentar tuan putri, Abang mandinya cepat kok," ucap Zain bangkit lalu pergi ke kamar mandi.
Felicia mendengus namun setelahnya ia tersenyum senang lalu berlari menuju kamarnya segera bersiap.
...****...
Pada akhirnya mereka hanya pergi berdua sedangkan sang bunda dilarang ayah mereka pergi dan Baim juga Fani tak ingin ikut, lebih memilih menonton dan main handphone di rumah, sebenarnya sih bukan itu alasannya hanya saja Zain telah menegaskan pada orang-orang rumah kalau hari ini 'minggu Zain dan Felicia' makanya kedua adiknya itu hanya diam di rumah dengan sang bunda dengan beribu rayuan dari ayahnya mau membiarkan Zain dan Felicia pergi berdua.
Zain dan Felicia memasuki mall dengan Zain yang mengengam tangan Felicia posesif bukan mengapa hanya saja ia takut adiknya itu jadi modusan para cowok mengingat betapa cantik dan manis adiknya itu padahal Felicia bisa beladiri diakan agen.
"Wah, kita main apa dulu bang!" seru Felicia bebinar.
"Main apa ya?" tanya Zain seakan bepikir.
Mereka saling lirik dan tersenyum bersamaan, "Habisin semuanya!" seru keduanya.
Zain dan Felicia berjalan kearah kasirnya untuk mengisi saldo permainan lalu mereka berdua benar-benar memainkan semua permainan yang ada di sana hingga membawa 3 buah boneka beruang satu gantungan kunci dan dua lagi boneka sedang pas untuk di peluk waktu tidur, rencana Felicia sih satu untuknya dan satu lagi untuk Fani sedangkan gantungan kunci akan ia simpan untuknya namun jika Fani mau ia akan memberikannya pada Fani.
Langit mulai berubah menjadi orange selepas dari mall dan puas bermain Zain dan Felicia pergi kemasjid untuk menunaikan ibadah shalat asar lalu setelahnya mereka berdua berkeliling di pusat kota mencari jajanan.
Zain duduk sambil memainkan handphonenya di sampingnya Felicia yang tengah menikmati es krimnya.
Zain tersenyum melihat komentar-komentar pada postingan instagramnya yang menampakan tangannya dan Felicia sedang bergadengan.
"Woi! Katanya mager tau-taunya malah kencan lo!" seru Abil yang datang bersama Ray, Faiyaz, Nuri, Alan dengan Alana yang mengandengnya juga Zaeem dengan muka bantalnya.
Zain menoleh pada teman-temannya dalam hatinya kesal kenapa mereka ada di sini padahalkan ia mau ngabisin waktu sama Felicia. Felicia hanya fokus memakan es krimnya sambil memainkan handphonenya tak mempedulikan kedatangan teman-teman Zain yang membuat mereka lebih menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Nganggu lo pada, hush sana gue mau ngabisin hari ini kencan sama Cia," ucap Zain.
"Zain gue kasihan sama lo, kelamaan jomblo jadi kalau mau kencan sama adik lo mulu," ucap Ray.
"Serah, Ci pergi yuk! Sini banyak setannya," ucap Zain.
"Ayo! Siap ini beli sate sama martabak terus kue siap itu coklat ya!" seru Felicia dengan binar mata berharap.
__ADS_1
"Ok," ucap Zain karena hari ini di benar-benar akan mengabulkan keinginan adiknya yang satu itu.
"Eh Ci sama Kakak aja yuk!" ajak Alan.
"Ye modus lonya!" seru Abil.
"Diam lo!" seru Alan kesal.
"Udah Ci pergi aja ayo gak usah di ladenin mereka," ucap Zain pergi sambil mengandeng tangan Felicia menbiarkan teman-temanya yang melongo melihatnya.
"Parah tuh bocah kita datang dianya pergi, tau gini mending gue tidur aja," ucap Zaeem kesal.
Alan memutar bola matanya, dalam hati kesal niat sih pengen berdua sama Felicia tapi di halang sama Kakaknya yang posesif itu.
"Udah yuk Lan kita pergi juga, hari ini hari Alan sama Alana!" seru Alan kesal lalu mengandeng Alana membawa kembarannya itu pergi.
"Lan lo sakit? Kok gak kayak biasanya," heran Alana.
"Adeknya Alan yang paling cantik nurut aja ya! Mau di jajanin kan?" ucap Alan sambil tersenyum yang memang bukan sepertinya yang biasa.
"Mau dong Kak Alan, Kak Alan hari ini ganteng deh udah pas kalau mau jadi suaminya Cia," puji Alana lalu menarik Alan pergi.
"Parah memang tinggal kita doang dong!" seru Ray.
"Ok guys gue duluan ya adek gue nunggu," ucap Zaeem berlalu pergi.
Dan tinggal lah Ray, Abil, dan Nuri lantaran Faiyaz juga ikutan pergi katanya sister time sama kakaknya.
Matahari kini telah tenggelam sepenuhnya, awan hitam memenuhi langit, bulan menyinari ditemani bintang yang betaburan di langit.
Setelah jalan-jalan seharian ini Zain dan Felicia memutuskan untuk pulang bukan mengapa hanya saja Khaina telah menelpon menyuruh mereka pulang katanya tak nyaman karena kehilangan satu anak gadisnyanya yang pergi di bawa sang Kakak bermain.
Ruang keluarga di penuhi oleh gelak tawa Baim dan Fani yang berhasil menjahili Zain sedangkan Felicia ia kini berguling di paha sang bunda bersama sang Ayah.
Khaina mengelus-elus rambut Elam walau ia merasa berat juga sih karena kepala anak gadis dan suaminya berguling di kedua pahanya.
"Ayah gulingnya sana gih, Bunda capek tuh," ujur Felicia pada Elam.
"Kamu aja yang pergi, enak aja ngusir Ayah kayak gitu, dosa kali Kak, sama Zain aja sana dari tadi kan sama Zain mulu bundakan punya Ayah," ucap Elam membuat Felicia mendengus kesal.
Felicia duduk lalu menarik hidung Ayahnya dan setelahnya ia berlari kearah Zain.
"FELICIA!" seru Elam dengan kesal sambil terduduk.
"Kenapa Yah? Tadikan Ayah nyuruh Cia ke Bang Zain, sekarang Cia sama Bang Zain kok," ucap Felicia dengan Watadosnya.
Elam mendengus lalu kembali berguling di paha Khaina memeluk isrinya itu. Khaina hanya diam tak mengangkat suara matanya masih fokus menonton tv dengan satu tangan masih mengelus kepala Elam dan satu lagi memakan keripik.
"Kak Ci, Fani ngantuk kita tidur bareng ya!" seru Fani.
"Gak boleh!" bukan Felicia yang membalas namun Zain.
"Ngapa sih Bang kan Fani ngomong sama Kak Cia bukan Abang," ucap Fani kesal.
"Tetap gak boleh, hari ini Kak Cianya punya Abang," ucap Zain keras kepala.
Elam memandang Zain heran, apa yang sebenarnya terjadi pada anak sulungnya itu? Hari ini dia terlalu posesif pada Felicia. Satu tangan Felicia memegang kening Zain dan satu lagi di keningnya mengukur suhu tubuh abangnya itu.
"Gak sakit, Abang hari ini kenapa?" tanya Felicia heran.
"Dia udah gila Ci, ucapan Bunda aja dia bantah kasihan Bunda sama calon mantu Bunda nantinya, kalau bini dia pasti selalu diposesifin kalau suami kamu nanti kamu di monopoli sama Abang kamu," ucap Khaina masih fokus menonton tv.
"Bunda ngomongnya kok gitu sih sama anak sendiri juga!" seru Zain tak terima.
"Siapa? Perasaan anak Bunda cuma 3, Cia, Baim sama Fani doang," ucap Khaina.
"Kayaknya benar deh gue anak pungut atau mending biarin aja gue di tembak mati dulunya," ucap Zain dengan kecil.
Khaina spontan melempar keripik yang di pegangnya dan tepat sasaran di kepala Zain, Khaina melotot pada anak sulungnya itu kesal, kayak gak tau terima kasih aja udah di lahirin penuh perjuangan malah ngomong kayak gitu.
"Kamu ngomong kayak gitu lagi awas kamu, nama kamu Bunda hapus dari KK, udah di lahirin penuh perjuangan, tiap malam begadang jagain kamu masa kamu ngomong gitu!" marah Khaina.
Zain hanya cemberut mendengar omelan Khaina, sedangkan Baim hanya diam memainkan handphonenya dengan Fani mencoba menjadi anak baik agar tak terkena sasaran marah sang Bunda.
Felicia diam-diam pergi kekamarnya namun tetap saja hal itu tampak oleh Elam, Elam hanya diam kalau saat ini dia angkat suara yang ada dia yang di omeli.
"Fuh...akhirnya, uh tidur aja ngantuk besok sekolah lagi, apa pura-pura sakit aja kali ya," ucap Felicia ketika ia sampai di kamarnya dan langsung menjatuhkan diri dikasur.
Tak butuh waktu lama Felicia telah terlelap menuju alam mimpi.
05:00 WIB
"Uh," gumam Felicia tak jelas.
Badannya kini seakan di timpah benda berat yang melilit perutnya, Felicia menoleh dan mendapati sang Abang yang kini sedang tertidur lelap di sampingnya.
Felicia memutar bola matanya malas lalu menyingkirkan tangan Zain. Namun, usaha untuk menyingkirkan tangan abangnya itu gagal karena Zain memeluknya dengan sangat erat.
"Bang, Bang, bangun Bang udah subuh sholat woi!" seru Felicia menepuk, nepuk pipi Zain.
"Uhm...," gumam Zain tak jelas.
Felicia mengeluh dalam hati juga kesal, kalau kayak gini dia cuma mau satu nih, Felicia mencium pipi Zain membuat Zain membuka matanya dan tersenyum.
"Ok, silakan duduk tuan putri, Abang mau sholat dulu!" seru Zain lalu berlari pergi keluar dari kamar Felicia.
Felicia memegang keningnya. "Gak panas kok, sebenarnya tuh orang kenapa sih aneh banget," ujur Felicia masih heran dengan tingkah Zain.
Sementara itu Zain di kamarnya sedang melihat kalender dan melingkari tanggal merah tepatnya minggu kemarin.
"Sip, tanggal ini hari Zain dan Felicia setiap bulan, titik!" seru Zain lalu tersenyum puas.
"Hari ini tanggalnya ngenjahil deh," ujurnya lalu dengan rencana jahil yang memenuhi kepalanya Zain berjalan ke kamar mandi sambil tersenyum.
Hari senin ini adalah hari di mana orang akan terkena kejahilan dari Zain.
...THE AND...
bonus nya cuma satu ini deng.
maaf jika ada kesalahan dalam cerita ini karena jujur cerita ini saya salin dari wp, yang udah baca di wp ya ngulang yang belum mohon pendapatnya ya!
ngomong-ngomong season atau bagian keduanya udah ada loh di ******* sampai episode 22 kalian boleh langsung baca kesana cari aja aku saya di wp, Alya_Mizs jangan lupa di vote dan di komentarin serta follow me okey!
__ADS_1
see you semuanya