
Berlin, Jerman
Kediaman Abqary
Abra memandang datar pada ketiga gadis yang kini sedang membuntuti istrinya kemanapun ia pergi dan lebih parah lagi ia diacuhkan garis bawahi diacuhkan.
Ia sungguh mengutuk ketiga gadis yang menganggu waktunya bersama sang istri.
"Grandpa, Grandpa, Grandpa kenapa?" tanya Elyza yang duduk di samping Abra yang kini memandang datar tv di depannya.
"Kenapa ke sini? Sana hus," usir Abra pada cucunya itu.
"Dih dianya ngambek, lagian ngapa di sini sih lebih baikkan Grandpa di ruangan Grandpa aja, kerja," cibir Elyza membuat Abra mengelus-elus dada, punya cucu kok gini banget deh ya.
"Grandma biarin Cia, Cae sama Ely tidur bertiga ya, Grandma sama Grandpa aja," ucap Felicia membuat Abra bebinar.
"Yah kok gitu Grandma kan mau sama kalian, biarin aja Grandpa kalian udah besar juga sendiri aja," ucap Zia membuat Elyza dan Caera sontak menahan tawa dengan Abra mendengus kesal.
"Gak istri, gak anak, gak cucu sama aja semua, durhaka emang," gerutu Abra kesal.
"Nah sekarang Cia duduk baik-baik dekat Grandpa biar Grandma bikin makanan dulu ya," ucap Zia tersenyum sambil mengelus sayang kepala Felicia lalu dengan hati riang pergi ke dapur.
Felicia duduk di samping Abra sambil memaninkan handphonenya dengan Elyza dan Caera yang sibuk menonton televisi dan Abra yang tak henti mengerutu.
"Grandpa, Grandpa tau lebih jauh tentang simbol-simbol ini?" tanya Felicia sambil melihatkan handphonenya pada Abra.
Abra melirik sekilas handphone Felicia, ia tau tentang simbol-simbol yang merupakan sebuah pesan itu namun ia lebih memilih bungkam, marah pada cucunya itu.
"Ish malah ngambek udah tua juga," gerutu Felicia kesal karena dikacangi, siapa juga yang gak kesal kalau dikacangi gitu coba?
"Grandpa jawab pertanyaan Cia tadi, Cia bujuk Grandma," ucap Felicia mencoba menawar.
"Omangan kamu mana bisa dipercaya," ucap Abra dengan cuek.
"Kalau nanti Cia bohong, Cia rela kalau ada misi Cia gak dibayar," ucap Felicia membuat Abra memandang lama cucunya.
"Kamu janji," ucap Abra diangguki oleh Felicia.
Abra berpikir sejenak lalu mengeluarkan handphonenya mengetik sesuatu di sana. Tak lama kemudian bunyi notifikasi terdengar dari handphone Felicia membuat gadis itu bebinar.
"Makasih Grandpa, Cia bujuk Grandma sekarang," ucap Felicia dan segera pergi setelah mengecup singkat pipi sang grandpa.
Waktu berlalu jam makan malam telah usai dan kini saatnya untuk tidur.
Felicia, Elyza dan Caera memasuki kamar mereka. Caera langsung meloncat dan berbaring di kasur bersama Elyza.
"Hm...empuk, nyaman," ucap Caera sambil memejamkan matanya.
"Kesayanganku," ucap Elyza sambil memeluk bantal empuk yang ada di kasur.
"Baiklah teman-teman kalian boleh menikmati alam mimpi setelah tugas kalian selesai," ucap Felicia.
"Hah!? Tugas?!" tanya Caera dan Elyza berseru kompak.
"Nona-nona kita ke sini bukan hanya sekedar bermain dan berjalan-jalan namun melakukan tugas penting jika kalian lupa masih banyak tumpukan dokumen yang harus kita selesaikan," ucap Felicia tersenyum dengan tumpukan dokumen yang ntah sejak kapan ada di tangannya.
"Yah, Ci, biarin kami istirahat dulu," rengek Elyza diangguki Caera.
"Lagian kami gak akan ngerti sama tuh dokumun," ucap Caera yang kali ini Elyzalah yang mengangguk membenarkan.
Felicia menghela nafasnya lalu duduk diantara kedua sahabatnya itu sambil memperlihatkan laptop yang ntah kapan di pegangnya.
Victim's Name :Agatha Christian
Date Of Birth : Berlin 20 August xxxx
Gender : Famale
Age : 17 Years
Citizenship : Jerman
Address : xxxxx
Phone Number : +43xx xxxx xxx
Information: found in the morning by students who heard screaming, the victim was found lying on the ground with blood soaking. Now in the hospital owned by H Group in a coma (Initial allegation of suicide)
"Hah? Maksudnya? Dia terjun dari atas gedung gitu?" tanya Caera.
"Ya dan belum ada yang mengambil ini, asal kalian tau, aku rasa ini ada kaitannya dengan B-08 bukan-bukan ini pasti yang lain," ucap Felicia.
"Dan kalau ini adalah pekerjaan B-08 pasti korbannya tak utuh bukan?" tanya Elyza diangguki Felicia.
Felicia menoleh pada Caera membuat gadis itu bingung. "Apa?" tanyanya dengan heran.
"Kau kenal A-02?" tanya Felicia membuat Caera mengerjapkan matanya binggung.
Mata gadis itu membulat tak percaya, "jangan-jangan ini kerjaan dia bukan?!" tanya Caera berseru.
"Menurutku ya, kau tau simbol-simbol ini bukan?" tanya Felicia sambil membuka gambar beberapa simbol di laptopnya.
"Simbol ini! Cuma A-02 yang bisa membuatnya!" seru Caera.
Elyza memicingkan matanya. "Apa maksud simbol-simbol ini?" tanya Elyza bingung.
"Setelah aku terjemahkan di gambar satu, 'Hai bagaimana menurutmu? Ini akan menyenangkan bukan?' di gambar dua, 'Hai Scarlett, semoga kita bertemu!' digambar tiga, 'Kau ingin tau tentang suatu informasi? Tentang sebuah chip?' begitulah dan apa maksud dari chip ini?" tanya Felicia.
"Chip? Aku rasa ini ada kaitanya dengan rencana DE," ucap Caera.
"Liat ada kiriman baru lagi apa makna simbol itu?" tanya Elyza.
Felicia memperhatikan simbol yang ada dilayar laptopnya dengan saksama.
"Ini dari tkp, 'tak ada yang tau, bagaimana jika aku bergabung dan menjadi penghianat DE? Sepertinya menyenangkan berada di tempatmu :)' ya itu maksudnya," ucap Felicia.
"Dia bercanda? Dia benar-benar ingin menghianati DE?" tanya Caera.
"jangan tanyakan padaku karena aku tak tau jawabannya," ucap Elyza.
"Eza hubungi Kak Atha suruh di kesini dan memeriksa siswi itu lagi pula kurasa ini ada kaitannya dengan chip yang di sebukan oleh A-02," ucap Felicia.
"Kita akan menyelesaikan kasus ini besok tentu dengan belajar," lanjut Felicia.
"Ok aku mengerti lagi pula waktu kita di sini hanya 2 hari jadi besok adalah hari yang panjang," ucap Elyza.
"Benar jadi ayo kita tid-"
"Maaf Nona-nona namun dokumen itu harus di selesaikan kini cukup bagian Jerman saja sedangkan Elyza segera telpon Kak Atha lalu ikut bergabung dengan kami," ucap Felicia tersenyum jahat.
Seketika wajah Caera dan Elyza muram seketika mereka memandang Felicia memeles namun Felicia malah memandang mereka dengan senyum polos sambil menyodorkan dokumen pada kedua gadis itu.
...****...
Keesokan harinya....
Setelah mendapatkan tatapan tajam dari Abra dan tentunya sarapan. Felicia,Caera,Eliza dan juga Zia pergi menuju sekolah yang merupakan tkp.
"Nyonya Abqary," ucap seorang pria yang umurnya berkisar 50 tahunan itu menunduk hormat pada Zia sepertinya pria itu adalah kepala sekolah,sekolah tersebut.
"Saya harap tak ada murid-murid yang menganggu nantinya Mr. Klein," ucap Zia.
"Tentu saja nyonya selama anda di sini para murid akan ada di kelasnya masing-masing," ucap Mr. Klein.
__ADS_1
setelahnya Zia,Felicia,Elyza dan Caera segera pergi menuju gedung yang merupakan tempat korban terjatuh.
"Bagaimana menurutmu Cia?" tanya Zia pada Felicia ketika mereka selesai menerusuri tempat kejadian tersebut.
Felicia terdiam sejenak tidak menjawab,Elyza dan Caera masih menerusuri tempat itu melihat kalau sekiranya ada yang bisa menjadi petunjuk.
"Ini bukan dari DE," ucap Felicia menoleh membuat Zia memandang lekat cucunya itu berpikir apa kiranya yang akan di lakukan cucunya itu.
"Ini murni petunjuk yang di berikan A-02, Cia tau tak seharusnya kita percaya omongan anggota DE namun Cia tau A-02 gak mungkin melanggar kata-katanya," ucap Felicia tersenyum.
"Kata-katanya?" tanya Zia dengan senyum yang melekat di bibirnya.
"Ci, kayaknya kita gak bisa mendapatkan informasi dari Kak Atha dengan cepat deh,soalnya dia juga bingung saat memeriksa korban, tapi aku nemukan ini," ucap Elyza menunjukan sebuah magnet pada Felicia juga Zia.
Felicia menyerengit heran memandang aneh elyza. "Itukan punya kamu," ucapnya. Elyza memandang jengkel sepupunya itu.
"Ih liat baik-baik dong di atasnya ada apa,aku juga tau kok ini punya aku," ucap Elyza kesal membua Felicia tertawa geli.
"Hahaha iya, iya maaf deh, lagian kayaknya itu gak bisa kita periksa di sini," ucap Felicia.
"Iyasih," balas Elyza mengaruk tekuknya yang tak gatal.
"Ci liat deh, ini tulisan yang aku temukan sama deh kayaknya sama simbol kemarin," ucap Caera sambil menunjukan layar handphonenya pada Felicia.
"Di mana tulisan itu sekarang?" tanya Felicia yang dibalas gelengan oleh Caera .
"Setelah aku foto tulisannya hilang gitu aja," ucap Caera.
"jadi maksud tulisan itu?" tanya Elyza.
"Sebuah petunjuk kalian tau nak, seprtinya dia ingin kita memabantunya," ucap Zia.
"DE akan membuat kekacauan di bank terkenal itu?!" tanya Felicia berseru kaget setelah berhasil mengartikan tulisan itu.
"Hm ya, Ely mau mencoba mempelajari beberapa trik?" tanya Zia pada Elyza.
"Ah, trik yang di ajari Grandma sama Grandpa tadi malam," ucap Felicia sambil mengangguk-angguk.
"Hah tadi malam?" tanya Caera heran.
"Iya tadi malamkan aku gak bisa tidur jadi keluar deh cari angin tau-taunya di luar aku nampak Grandma sama Grandpa yang berduan aku gangguin deh. jadi,untuk yang bank itu kalian berdua aja ya aku ngurusin korban," ucap Felicia enteng.
"Yah kok kayak gitu sih Ci!" seru Elyza tak terima.
"Iya kitakan bertiga terus kok sekarang kami berdua doang?" tanya Caera sama seperti Elyza tak terima.
"Iya kita bertiga terus kalau kalian lupan kemarin dua orang pergi tidur ninggalin aku yang ngurusin dokumen sendirian," sindir Felicia membuat Caera dan Elyza senyum peksoden.
"SCARLETT! GEMINI! LA TEMPESTA!" seru seorang cowok berteriak sambil menghampiri mereka bersama 2 temannya.
"Tuh ada tiga orang lagi," ucap Felicia sambil tersenyum.
"Kamu bercandakan Ci?" tanya Caera sambil memandang horor Felicia.
"Sayangnya aku lagi gak bercanda," ucap Felicia.
"Edwin!" seru Felicia melambai pada cowok itu.
"Wah kau benar-benar mengenal mereka," ucap salah satu teman cowok bernama Edwin tadi.
"Tentu saja," jawab Edwin dengan sombong.
"Scarlett, Gemini dan LA Tempesta perkenalkan ini Raymond dan ini Jarvis," ucap Edwin memperkenalkan kedua temannya.
"Hai agen Zia," ucap Jarvis menyapa Zia yang tentunya baru menyadari keberadaan wanita itu.
"Oh, maaf saya tak menyadari keberadaan anda," ucup Edwin
"Ya tak masalah Ed dan Raymond, Jarvis lama tak berjumpa," ucap Zia pada Jarvis dan Raymond.
"Maaf menyela tapi bisakah kalian menemani para nona ini menyelesaikan misi?" tanya Felicia pada ketiga cowok itu.
"Eh Ci jangan dibilang, walau aku gak ngerti bahasa Jerman aku tau ya apa yang kamu omongin," ucap Elyza.
"Iya lagian nyelesain misi sama mereka mana ngerti kami sama bahasanya," tambah Caera.
"Maaf Nona-nona sekedar info saya bisa berbahasa Indonesia," ucap Edwin sambil tersenyum.
"Ya Ed bisa berbahasa Indonesia, lagi pula kalian bisa menggunakan bahasa Inggris bukan?" tanya Felicia.
"Tap-,"
"Ap ah, tak ada kata tapi di sini aku masih punya pekerjaan lagi pula ini hari terakhir kita dan aku harus tau maksud dari pria satu ini," ucap Felicia.
"Baikalah Jarvis aku menunjukmu sebagai pemimpin misinya akan segera aku kirimkan," ucap Felicia.
"Tugas yang lumayan untuk latihanmu Jar," ucap Zia, "lagipula aku akan mengajari kalian beberapa trik."
Raymond dan Edwin berbinar trik baru? Dan itu dari agen Zia! Ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang terlupakan bahkan setelah mereka menjadi agen ternama nantinya.
"Baiklah aku pergi dulu, Grandma tenang saja aku punya mobil di depan gerbang sekolah," ucap Felicia.
"Cia jangan bilang kamu ngendarai mobil sendiri?" tanya Elyza.
"Ntahlah bye semua," ucap Felicia menggunakan bahasa Jerman.
"CIA, CAE MAU IKUT BALAPAN JUGA!" seru Caera berteriak.
"Apa maksudmu dengan balapan!" seru Elyza marah.
"Ya kan dia suka ngendarai mobil dengan laju sama aja dengan balapankan?" tanya Caera membuat Elyza kesal dengan Zia yang terkekeh.
"Dia benar-benar mirip dengan Elam keras kepala," ucap Zia.
"Grandma!" seru Elyza karena Zia malah tenang-tenang saja.
"Oh come girl dia hanya ingin bersenang-senang apa dari tadi kalian tak menyadari kalau ada yang mengintai kita?" tanya Zia sambil melempar sebuah pisau kearah pohon dan membuat seseorang jatuh dari sana.
"Lagi pula asal kalian tau di mobilnya itu pasti banyak senjata," ucap Zia membuat Caera kesal.
"CIA, CAE PINGIN IKUT!" teriak Caera menrengek.
Beda dengan mereka, Felicia kini malah mengendarai mobilnya dengan laju mengingat adanya letukan suara pistol yang mengarah padanya.
"Jika mobilku rusak aku tak akan memaafkan mereka," ucap Felicia sambil membelokan mobilnya dan menancapkan gas.
"Ck, ini di jalan raya," ucap Felicia kesal sambil menekan sebuah tombol yang ada di mobilnya.
Suara letukan lagi-lagi terdengar kali ini bukan dari mobil-mobil yang mengikuti Felicia damun memang dari mobil gadis tersebut.
Jalanan kota menjadi ramai, aksi temba-menembak itu menjadi tontonan publik namun syukurnya tak ada korban yang di temukan.
Bunyi kelakson terdengar membuat kota menjadi semakin hiruk apa lagi dengan bunyi letukan yang tak henti-hentinya mengema.
Felicia menyeringai saat sebuah truk menghalangi jalan, Felicia menancapkan gasnya dengan kecepatan max mobil itu melayang melompati truk tersebut.
Puahm~
Bunyi suara ledakan terdengar bersamaan dengan senyum puas dari Felicia, mobil-mobil yang mengikutinya tadi hancur bersama truk itu yang Felicia syukurkan pemilik truk itu selamat karena telah keluar terlebih dahulu sedangkan orang-orang yang mengikutinya? Sudah di pastikan tewas.
"Ya aku tak punya banyak waktu, lagi pula aku tak akan bersenang-senang sendiri tanpa kalian namun ini hanya pertunjukan kecil," ucap Felicia tersenyum samar.
Berlin, Jerman.
__ADS_1
Rumah sakit H grup.
Atha memeriksa pasien VVIP yang sempat kejang dengan beberapa perawat rumah sakit. Kini mereka sedang berada di ruangan Atha karena ini merupakan perintah atasan mereka lagipula hanya untuk hari ini saja dan lagi ruangan Atha juga lumayan besar diapun tak masalah jika saja pasien itu tinggal disana selama masa perawatan lagi pula disetiap rumah sakit perusahaan H grup pasti ada ruangannya dan ruangan pusat miliknya hanya ada di rumah sakit di Indonesia.
"Kalian boleh keluar!" pinta Atha pada para perawat setelah melihat pesan singkat dihandphonenya.
Para perawat dengan segera keluar dari ruangan. Atha menghela nafasnya kasar lalu duduk tempat duduknya berhadapan dengan monitor di depannya yang menampilkan sebuah hasil gambar yang membuat Atha sedikit pusing.
"Benda apa itu sebenarnya dan lagi kenapa gue ditugaskan disini! Inikan masalah si bocah ngapain gue yang nanganin!" seru Atha mengerutu kesal.
"Sudahlah lebih baik aku memeriksa lebih lanjut dan mencari cara mengeluarkan benda aneh itu dari tubuh korban," ucap Atha.
"Jadi di dalam tubuhnya ada benda aneh dan kamu belum bisa mengeluarkannya? Kemampuanmu sepertinya menurun Tarsier," ucap Felicia yang ntah sejak kapan ada di dekat Atha.
"Master," ucap Atha menunduk hormat walau dia sering kurang ajar sama boss karena Felicia masih kecil tapi tetap saja ia tau situasi seperti sekarang kali ini Felicia datang bukan sebagai adik seperti biasanya melainkan master dari Huriya terbukti dengan topeng dan cara bicaranya.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Felicia.
"Seperti yang anda ketahui ada benda aneh pada tubuh pasien dan benda itu memiliki serpihan kecil yang menyebar keseluruh tubuhnya," ucap Atha.
Felicia menghela nafasnya lalu menepuk-nepuk lengan Atha dengan mata amber yang berubah menjadi biru teduh membuat yang melihatnya bisa menjadi tenang.
"Kerja bagus Tarsier setidaknya kau bisa mengetahui masalah dengan cepat, istirahatlah biar aku mengurus sisanya," ucap Felicia.
"Tapi Master and-,"
"Kau meragukanku?" potong Felicia dengan cepat.
"Tidak ta-tapikan," ucap Atha ragu.
"Aku tau aku masih di tingkat menengah dan jika salah sedikit saja nyawa pasien bisa melayang aku masih gadis kecil yang masih berkembang sebelum menuju jenjang yang lebih tinggi. Kau tak perlu cemas aku bisa melakukannya dengan baik aku pastikan pasien aman," ucap Felicia.
"Tapi tetap saja! Jika nyawa pasien hilang karena kesalahan kecil saya akan merasa bersalah, bagaimanapun saya adalah dokter," lirih Atha.
"Ya kau seorang dokter jenius aku mengakui kemampuanmu dan aku tau kecemasanmu, menjadi dokter bukanlah hal yang mudah bukan? Aku mengerti perasaanmu," ucap Felicia memberi jeda.
"Tapi, Tarsier yang aku butuhkan adalah ya atau tidak, yes or no hanya itu, jadi apa jawabanmu?" tanya Felicia.
"Y-ya," ucap Atha ragu.
"Aku ingin bawahanku bersikap tegas tanpa keraguan saat memberi jawaban dari pertanyaan yang aku berikan," ucap Felicia tersenyum membuat Atha tersenyum tipis.
"Yes Master!" seru Atha dengan tegas.
"Very nice Tarsier! Aku menyukainya jaga terus seperti itu karena kau ketua ingat dibawahmu masih ada orang yang harus kau pimpin," ucap Felicia.
"Sekarang istirahatlah," ujur Felicia sambil tersenyu.
Atha mengangguk lalu pria itu menuju pintu yang merupakan tempatnya biasa beristirahat biasanya di setipa ruangan miliknya itu pasti ada.
Felicia tersenyum, ia mengingat kembali bagaimana Huriya berkembang. Benar organisasi itu sudah sangat berkembang kini anggota sudah semakin banyak tentu yang memimpinnya adalah Atha, Bima, Fiana, Dino, Arsen sedangkan Davian dan yang lainnya mereka tim khusus dan juga pelatih terkecuali Razi dan Ryung kedua remaja itu benar-benar harus dilatih.
Dan tentu pelatih mereka adalah Felicia tidak lebih tepatnya Alan kerena ia memang lebih cocok melatih dua bocah itu Felicia hanya sekali-kali saat Alan memiliki urusan yang katanya penting, juga jangan lupa dengan Fahad dan kawan-kawannya yang biasanya secara khusus Felicialah yang melatih mereka sedangkan Kakak Fahad dia dilatih oleh Damian
Felicia mengeluarkan sebuah Alat dari balik saku jaketnya dan meletakkannya di meja kecil yang ada di sebelah ranjang pasien.
Felicia juga mengeluarkan barang yang di temukan Elyza tadi ia memperhatikan serbuk yang ada di plastik kecil itu lalu memandang pasien.
Felicia meletakkan plastik itu di meja lalu mengambil sebuah alat lagi yang ada di sakunya.
"Ok Ci, ayo kita periksa," ucap Felicia lalu menempelkan alat tersebut kelengan pasien.
Felicia menekan sebuah tombol pada alat yang di latakkannya di meja tadi lalu muncullah sebuah layar transparan.
"Suhu tubuh korban normal dan menurut perkiraan dia sudah sadar beberapa hari yang lalu," gumam Felicia berfikir.
Felicia menoleh pada pasien ketika melihat adanya pergerakan, tangan pasien itu bergerak, Felicia memegang tangan itu, memeriksa nadinya juga nafas pasien.
Semua normal dan nafasnya teratur seperti orang tertidur.
"Tertidur," gumam Felicia berpikir mata gadis itu melebar tak kala menyadari sesuatu yang menganjal.
Felicia mengetik sesuatu di layar trasparan tadi ia mongatak atik sesuatu di sana. Felicia memandang pasien, membuka mulut pasien lalu memasukan suatu benda kecil kedalamnya.
Felicia kembali menekan-nekan sesuatu dilayar trasparant itu, setelah beberapa menit ia tersenyum lebar.
"Binggo bahan benda aneh itu sama seperti serbuk ini," ucap Felicia.
Felicia tersenyum sambil mengambil suatu benda dari sakunya dan memasangnya di tangan, Felicia memegangi mulut korban agar terbuka lalu melatakkan satu tangannya di depan pasien sedangkan satu lagi mengendalikan layar transparan itu.
Tring~ suara itu kecil namun suaranya terdengar nyaring, Felicia mengenggam benda yang ada ditangannya lalu mengambil tisu yang ada kedua tangan korban yang sengaja ia latakkan disana.
Gumpalan-gumpalan kecil berkumpul menyebar pada tisu itu membuat Felicia tersenyum lebar, ia mendapatkan titik terangnya.
Felicia meletakkan gumpalan itu di meja, memperhatikannya lama juga dengan benda yang ia dapatkan tadi.
Gumpalan-gumpalan itu berubah kini ia keluar dari tisu dan menyatu dengan serbuk tadi lalu membentuk sebuah kalimat.
'Aku tak mungkin membunuh orang, asal kau tau benda ini adalah ciptaanku dan merupakan bagian dari chip itu, benda ini mengendalikan,' tulisan dari serbuk-serbuk itu.
"Mengendalikan?" tanya Felicia lalu tersenyum.
"A-02 bukan? Apakah kita bisa bertemu?" tanya Felicia.
'Ya semoga kita bertemu Master S,' tulisan dari serbuk itu yang berubah.
"Agripnia, Amnesia, Hipnosis dan Aktina!" panggil Felicia lalu muncil dua orang wanita juga dua orang pria dari balik pintu.
"Yah ketahuan deh ya kalau dari tadi nguping, tapi kami gak dengar apa-apa kok Master," ucap wanita berambut blonde membuat wanita di sampingnya menyikut wanita itu.
"Maaf Master," ucap wanita yang menyikut wanita berambut blonde dengan hormat.
"Tak masalah Aktina dan Amnesia kamu harus lebih memahami situasi," ucap Felicia.
"Maaf Master," ucap wanita bernama Amnesia.
"Seperti biasa selalu mengikuti Tarsier. Aktina beberapa hari lagi ketua kalian akan datang," ucap Felicia.
"Ketua? Akan ada pengangkatan ketua baru?" tanya pria berambut kecoklatan dengan bingung.
"Ya dan satu lagi Agripnia tolong berikan ini pada Tarsier," ucap Felicia sambil memberikan benda aneh tadi pada pria itu.
"Ini benda apa?" tanya Agripnia bingung.
"Yang ada pada pasien, dia selamat dan dia juga sudah sadar hanya saja ia tertidur dan tolong antarkan dia keruangan VVIP kemarin," ucap Felicia.
"Pasien itu sudah sadar?" tanya pria yang sedari tadi terdiam, Hipnosis.
"Ya dan aku mau pergi dulu mereka mungkin sudah selesai sedari tadi dan jadwal keberangkatanku sebentar lagi, aku tak punya waktu banyak," ucap Felicia.
"Dan untuk kalian keputusan kembali ada di tangan Tarsier," ucap Felicia.
Keempat orang itu menunduk hormat pada Felicia yang melangkah pergi, di depan pintu Felicia membuka topengnya melihat pantulan kaca sambil tersenyum.
"Ya ayo kita selesaikan ini secepatnya," gumam Felicia sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.
^^^Bersambung....^^^
24 Februari 2020
27 Desember 2020
Jangan lupa klik tombol 🌟 dan comment ya walau itu hanya sekedar semangat saya sangat berterima kasih.
__ADS_1
Dukung terus cerita ini 😊 dan shaer pada teman-teman kalian yang lainnya agar mereka juga dapat menikmati cerita ini.